Mr Love Love

Mr Love Love
Rumah Sakit



Dadaku berdebar sangat kencang, aku bahagia. Sangat bahagia sampai tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum.


Honey... Kau harus kerumah sakit. Kakak ipar Fatimah melahirkan.


Keponakan mu laki-laki. Selamat untuk mu.


Aku tidak bisa menelpon, jika aku sampai mendengar suara indah mu, aku takut tidak bisa fokus bekerja karena merindukan mu.


Kau harus datang dengan cepat. Aku menantikan mu. I love you!!! ❤❤❤


Mas Araf menutup pesan singkatnya dengan tiga gambar hati sebagai bentuk perasaan cintanya. Aku tersanjung, dan aku merasa bahagia.


"Hmm! Dimana semua taksi ini? Kenapa tidak ada satu pun yang lewat. Apa mereka di telan bumi?" Aku menggerutu sambil berdiri di depan gerbang kampus.


"Seharusnya aku menerima tawaran Adel dan Kristi untuk ikut di mobilnya. Kau benar-benar bodoh Sabina. Kau benar-benar bodoh. Besok-besok kau harus bawa mobil sendiri." Celoteh ku dengan nada suara pelan. Kali ini aku mendengus kesal, merutuki kebodohan ku sambil menatap tajam kearah jalan raya yang ramai oleh kendaraan pribadi.


Tin.Tin.Tin.


Aku terkejut. Sangat terkejut sampai tangan ku bergetar. Rasanya aku ingin memaki sosok tidak punya perasaan yang berani mengagetkan ku dengan klakson mobilnya.


"Sabina... Kau sedang apa disini? Apa kau tidak pulang?"


"Ma-mas Ikmal? Mmm tidak. Aaahhh bukan, maksud ku iya!" Ucap ku gugup sambil meremas jemariku. Entah apa yang ku pikirkan sampai aku merasa tidak nyaman.


"Dimana mobil mu?"


"Aku tidak membawa mobil, Mas!"


"Apa kau sedang menunggu jemputan? Dimana suami mu?"


"Mas Araf masih di rumah sakit, aku sedang menunggu taksi."


"Apa? Taksi?"


Wajah terkejut Mas Ikmal seolah menjelaskan kalau ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Iya, Mas. Aku sedang menunggu taksi. Aku harus ke rumah sakit, kak Fatimah melahirkan. Jika di lihat dari wajah Mas Ikmal, aku yakin Mas Ikmal juga sudah tahu, bukan begitu?"


"Iya, kau benar. Aku sudah tahu. Tadi Kakak menelpon dan meminta ku kerumah sakit. Mas Alan masih di pesantren, katanya jemput Fazila. Jika kau mau kau bisa pergi bersama ku. Bagaimana?" Mas Ikmal bertanya dengan sikap kehati-hatian, dia takut aku salah paham.


"Terima kasih, sebaiknya saya pergi dengan taksi saja. Takutnya jadi fitnah." Ucap ku cepat sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada agar Mas Ikmal tidak tersinggung.


"Kau tidak akan mendapatkan taksi. Hari ini, semua sopir taksi sedang mogok kerja. Mereka melakukan itu sebagai bentuk protes."


"Apa? Mas Ikmal yakin?" Aku bertanya tak percaya, netra ku membulat sempurna.


"Iya, aku yakin. Kau bisa melihat beritanya dari ponsel mu. Kau tidak perlu takut padaku, aku tidak akan memakanmu. Kau bisa duduk di kursi belakang." Ucap Mas Ikmal sambil tersenyum tipis.


"Aku meminta mu duduk di belakang bukan lantaran di kursi depan sudah ada yang punya. Aku melakukan itu untuk kebaikan kita berdua. Aku tidak ingin suamimu salah paham." Sambung Mas Ikmal lagi.


Jujur, mendengar ucapan Mas Ikmal aku merasa nyaman. Aku bahkan tidak pernah memikirkan duduk di kursi belakang, jika sudah seperti ini tidak ada alasan lagi bagiku untuk menolak.


Selama dalam perjalanan aku hanya bisa diam, aku tidak punya nyali untuk memulai percakapan. Aku tidak sedekat itu dengan Mas Ikmal sampai harus mengajaknya berbincang santai. Aku juga tahu batasan ku.


"Aku yakin kau pasti terkejut melihat ku tiba-tiba muncul di depan kelas mu sebagai Profesor baru." Ucap Mas Ikmal di tengah-tengah kesibukannya mengemudi. Mobil yang kami tumpangi berjalan pelan kemudian berhenti di lampu merah.


"I-iya. Aku terkejut." Balas ku singkat.


"Kenapa Mas Ikmal tidak cerita sebelumnya? Maksudku di rumah kak Alan waktu itu!" Sambung ku lagi.


"Bagus Mas Ikmal tidak menolaknya. Setiap sekolah dan perguruan tinggi membutuhkan sosok pengajar seperti Mas Ikmal.


Dan maaf, soal teman-teman ku tadi. Mereka memang sedikit aneh, tapi hati mereka baik. Aku benar-benar tidak habis pikir gadis-gadis di kelas ku menggombali Mas Ikmal tanpa rasa takut sedikit pun." Ucap ku sambil menatap kedepan, kearah kursi kemudi.


"Tidak apa-apa. Aku sudah lebih dulu melewati semua itu di bandingkan dengan mu. Masa muda memang indah, dan semua itu tergantung bagaimana kita ingin menjalaninya."


Mendengar ucapan Mas Ikmal aku hanya bisa mengangguk pelan, aku setuju dengan ucapannya tentang masa muda memang masa yang sangat indah. Sedetik kemudian kami kembali terdiam, mendengarkan Murottal Al-qur'an yang Mas Ikmal putar, setidaknya bisa menghilangkan ketegangan ku.


...***...


"Ma. Pa. Assalamu'alaikum." Begitu sampai rumah sakit, aku berjalan mendekati Mama dan Papa kemudian memeluk mereka dengan perasaan haru. Dua minggu tidak bertemu membuat ku merasakan kerinduan luar biasa, untunglah rasa rindu ku bisa terobati, semua ini berkat keponakan kecilku yang baru saja datang kedunia ini.


"Kakak, apa kabar?" Aku menggenggam jemari lentik kak Fatimah tanpa melepas senyuman dari bibir tipis ku.


"Alhamdulillah baik, dek. Kau sendiri apa kabar? Mama bilang kau tidak pernah berkunjung selama dua pekan ini, apa ada masalah?" Kak Fatimah bertanya sambil memeluk Baby menggemaskan.


"Alhamdulillah, kabar ku juga baik, Kak. Dua pekan ini kegiatan kampus lumayan sibuk. Banyak Tugas dari Dosen, dan hal itu membuat ku sedikit kewalahan. Untunglah aku punya suami yang cerdas dan pengertian." Balas ku sambil menyentuh wajah Baby menggemaskan.


"Dimana Fazila, kak? Apa dia belum datang? Aku pikir dia menantikan saat-saat adiknya datang!"


"Iya, kau benar. Fazila sangat menantikan kehadiran adiknya. Tadi pagi sebelum kakak mu berangkat kekantor, dia bilang akan menemui Fazila di pesantren.


Perkiraan dokter aku akan melahirkan minggu depan, ternyata adik bayi juga sangat merindukan kakaknya sampai dia tidak sabar untuk keluar. Kakak mu dan Fazila masih di jalan, Sebentar lagi mereka pasti sampai." Ucap Kak Fatimah sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Apa aku boleh menggendongnya? Dia sangat tampan. Hidungnya terlihat seperti hidung Kak Alan." Mendengar ucapan ku kak Fatimah hanya bisa tersipu malu.


"Kau boleh menggendongnya. Kau berhak untuk itu karena kau tante cantiknya." Balas kak Fatimah tanpa melepas tatapannya dari netra teduh ku. Kami sama-sama tersenyum bahagia menyambut kedatangan Baby menggemaskan.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda, aku berdiri mematung di balkon kantor ku, menatap kebawah atau tepatnya menatap ke area parkir, berharap Bidadari ku segera datang. Tiga jam berlalu sejak aku memberinya kabar, entah dimana dia sekarang.


"Ini gara-gara si payah Amri, kenapa dia terus-terusan meminta cuti, lihat saja nanti aku pasti akan memecatnya." Gerutu ku sambil meletakkan carkir kopi di meja.


Wajah tampan ku langsung mengukir senyuman begitu aku melihatnya turun dari mobil. Aku sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata. Aku ingin berlari kearahnya, memeluknya dan mengabarkan pada dunia kalau wanita tercantik yang ada di semesta ini adalah milik ku, hanya milikku!


Glekkkk!


Aku langsung menelan saliva begitu melihat sosok yang datang bersamanya. Aku tidak menyukainya, melihat sosok itu membuat ku ingin mengepalkan tangan kemudian meninju wajah sok tampannya. Tapi tunggu dulu, bukan wajah sok tampan, dia memang benar-benar tampan.


Kesal!


Satu kata itu kini memenuhi rongga dada ku, sosok yang ku nantikan kehadirannya sejak tadi membuat ku merasa takut. Aku sangat takut dia dekat dengan pria lain selain diriku. Apa aku cemburu? Yahh, itu memang kenyataannya.


Honey... Aku menunggumu di kantor ku!


Datanglah! Aku sangat, sangat merindukan mu!


Aku meminta seseorang menjemput mu!


Aku kebali mengimkan pesan singkat untuk Sabina karena aku tidak ingin bertemu dengan Arab kesasar, maksud ku Ikmal.


Aku yakin Bidadari Surga itu pasti sudah membaca pesan ku, kekesalan ku seolah menguap ke angkasa dan semuanya hanya tinggal cerita. Kini yang ada hanya perasaan bahagia. Aku bahagia menanti kedatangannya.


...***...