
Aku tersenyum sambil menuruni anak tangga. Langkahku sedikit tertatih, jatuh dari tangga semalam masih meninggalkan rasa sakit. Aku tersenyum bukan tanpa sebab, melihat wajah takut Mas Araf membuat ku ingin tertawa lepas, dia terlihat menggemaskan saat sedang terkejut, dia juga terlihat tampan saat netra teduhnya membulat. Aku tidak bisa berhenti menggodanya.
"Aku sudah membersihkan seluruh rumah, Mbok! Baju Tuan dan Nyonya juga sudah selesai di cuci. Apa kita masuk kamar atau menunggu disini sampai Tuan dan Nyonya datang?"
Aku menghentikan langkah kakiku begitu mendengar percakapan singkat dari beberapa orang asing yang sedang duduk di sofa.
"Bu, Tuti berharap pemilik rumah ini orang baik. Saya tidak mau kejadian sebelumnya terulang lagi. Maksud Tuti, Tuti tidak mau mereka memecat kita karena kita membawa Rima."
"Tuti, jangan khawatir. Mas Amri bilang pemilik rumah ini orang baik, Ibu yakin mereka pasti tidak akan memecat kita. Jika pemilik rumah ini menolak kehadiran Rima, Ibu terpaksa harus menitipkannya pada panti asuhan."
Aku masih berdiri mematung di dekat lemari kecil yang tidak terlalu jauh dari sofa, entah apa yang ketujuh orang di depanku itu pikirkan, mereka bahkan tidak menyadari kehadiranku.
Mmmmmm!
Aku berdeham sambil berjalan pelan, enam orang yang tadi duduk di sofa dengan kekhawatiran itu mulai berdiri menyambut kedatangan ku. Mereka menatapku untuk sesaat kemudian sama-sama merunduk dalam diam.
"Aku tidak bisa berdiri karena kaki ku sakit. Kalian boleh duduk. Aku tidak mau kalian berpikir aku tidak sopan karena membiarkan kalian berdiri sementara aku duduk santai." Ucapku begitu aku duduk di sofa.
"Siapa kalian? Kenapa kalian ada di dalam rumah tanpa seizin ku?" Aku bertanya dengan suara datar. Orang yang ku ajak bicara hanya bisa diam. Entah mereka takut atau karena tertekan, tak satu pun dari mereka yang berani membuka suara.
"Apa aku harus menunggu kalian bicara? Sampai kapan? Tolong katakan sesuatu!" Aku kembali membuka suara di antara senyapnya udara.
"Ka-kami... Kami."
"Iya, kalian semua. Kenapa kalian ada di dalam rumahku?" Aku kembali bertanya karena tidak sabar.
"Selamat pagi, Nyonya. Mereka adalah ART baru di rumah ini. Mereka akan melayani Nyonya seperti keinginan Tuan." Ujar Amri begitu dia datang.
Bibirku membulat membentuk huruf O. Sementara yang ku ajak bicara hanya bisa duduk mematung di sofa.
"Kalian tidak perlu takut padaku, aku juga tidak akan menggigit kalian. Selamat datang di rumah ini. Jika kalian merasa lelah istirahatlah, tidak perlu memaksakan diri untuk bekerja.
Jika kalian lapar makanlah, kalian boleh memakan makanan yang aku dan suamiku makan. Kalian tidak perlu menahan air liur kalian, tidak perlu takut padaku karena aku bukan seorang pemarah atau singa yang akan menerkam kalian." Ucapku panjang kali lebar. Aku yakin ketujuh orang yang duduk di depanku merasa tidak nyaman karena itu aku ingin segera mengakhiri percakapan pembuka ini.
"Hal yang paling penting, bekerjalah dengan kejujuran. Aku tidak suka pembohong, pencuri dan penggosip." Ucapku lagi sambil memperbaiki posisi duduk ku.
"Aku minta maaf karena tadi aku mendengar percakapan kalian, maksud ku tentang anak kecil yang bersembunyi di balik punggungmu." Aku menunjuk wanita separuh baya yang berdiri sendirian.
Entah kenapa wajahnya tiba-tiba pucat. Aku tidak mengatakan hal yang berbau kriminal lalu kenapa dia sangat ketakutan?
"Tidak perlu menyembunyikannya, aku tidak keberatan dengan kehadirannya. Aku akan bicara dengan suamiku. Insya Allah dia tidak akan keberatan." Ucap ku lagi sambil beranjak bangun.
Aku ingin memanggil Mas Araf namun dia sudah turun terlebih dahulu, dia terlihat segar. Wajah tampannya bersinar, senyuman tipis yang ia pamerkan membelai lembut lubuk hati terdalamku. Aku terpesona lagi oleh paras rupawannya.
"Selamat pagi semuanya!"
Tanpa ku duga Mas Araf melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepalaku, rasanya aku ingin meninju wajah mas Araf, aku sangat malu. Seharusnya dia tidak melakukan itu di depan semua orang. Melihat tingkah Mas Araf aku hanya bisa mengelus dada. Ku perhatikan wajah semua orang yang duduk di depanku, mereka hanya bisa tersenyum tipis dengan kepala tertunduk.
"Apa ada yang keberatan aku melakukan itu pada istriku?" Lagi-lagi Mas Araf memperlihatkan tingkah konyolnya. Aku segera menarik lengannya dan duduk di sebelah kiriku.
"Aku Tuan kalian dan ini Nyonya kalian. Kalian harus menghormati istriku sama seperti kalian menghormatiku. Soal gaji, kalian tidak perlu risau. Hal terpenting yang harus kalian miliki agar bisa bertahan di rumah ku hanya kejujuran. Jika aku tahu kalian malas-malasan dan membuat istriku bekerja maka saat itu kalian akan memgetahui sisi buruk ku! Kalian paham?" Ucap Mas Araf menegaskan.
Aku hanya bisa diam mendengar ucapan ketus Mas Araf, setiap huruf yang ia rangkai menjadi kata-kata terdengar sangat menyakitkan di telinga pendengarnya. Berbeda dengan ku, setiap ucapan mas Araf terdengar sangat merdu, semerdu syair-syair cinta.
Kenapa merdu? Karena dalam ucapannya terkandung betapa besar rasa cintanya untuk ku, dia tidak ingin aku melakukan apa pun selain duduk diam. Tapi sayangnya aku bukan gadis semanja itu. Aku tidak akan membebani orang lain untuk pekerjaan yang masih bisa ku kerjakan. Itulah diriku.
"Sudahlah, Mas. Jangan menakuti mereka seperti itu, itu tidak cocok dengan gayamu. Aku sangat lapar, apa kita bisa sarapan sekarang?"
Aku menunjukan wajah cemberutku, aku bahkan menarik kemeja Mas Araf, entah kenapa pagi ini aku bertingkah seperti anak kecil. Apa karena semalam terlalu meneganggang, dan sekarang aku butuh hiburan? Iya, itu mungkin saja.
Tidak ada balasan dari Mas Araf selain anggukan kepala kecil. Melihat itu aku semakin menghormatinya.
Ya Allah... Aku sangat malu. Aku bergumam di dalam hati sambil berjalan menuju meja makan yang terletak bersebelahan dengan dapur.
...***...
"Rasanya aku tidak ingin pergi! Bagaimana kalau aku merindukanmu saat sedang bekerja?"
Jatuh cinta hanya sekali dan menikah pun cukup sekali. Ucapan itu yang sering ku dengar dari kak Fatimah. Keromantisan yang di tunjukannya dengan kak Alan selalu membuatku merasa takjub.
Dan kali ini? Si nakal Araf atau tepatnya suamiku sedang bersikap manja padaku, keromantisan yang sering ku lihat dari kak Alan untuk kakak ipar Fatimah, hari ini aku pun melihatnya dalam sosok suamiku.
Mungkin hanya persamaan ini yang di miliki kak Alan dan Mas Araf, aku rasa kekoyolan mereka berdualah yang membuat mereka mudah akrab.
"Honey, kau tidak akan merindukanku karena aku sudah memberikan semuanya padamu. Maksudku, aku sudah menandai di seluruh wajahmu, dan terakhir aku juga sudah memberikan tanda di dadamu. Itu artinya kemanapun kau pergi aku akan selalu ada bersama mu.
Jika kau masih saja merindukan ku, pejamkan matamu sebut nama ku dalam doa maka Allah akan mendekatkan kita berdua. Jika Allah sudah berkehendak bahkan semesta akan membantumu. Kau mengertikan maksudku?" Aku bertanya sambil menautkan jemariku di tangan kokoh mas Araf.
Tidak ada sahutan darinya selain anggukan kepala saja.
Perlahan, semakin dekat, semakin dekat dan semakin mendekat, Mas Araf menempelkan keningnya di kening mulusku, aku bisa merasakan hembusan nafas hangatnya yang mulai menyapu wajah cantik ku.
Tegang!
Satu kata itu memenuhi rongga dadaku, aku khawatir Mas Araf akan mendengarkan detak jantungku yang semakin tak karuan. Untuk sesaat aku menatap netra teduh Mas Araf, sorot matanya memancarkan cahaya penuh cinta. Aku merasa bahagia dia mencintaiku sebesar itu, tapi aku berharap cintanya padaku tidak akan melebihi perasaan cintanya pada Tuhan yang menggenggam jiwanya.
Kali ini Mas Araf mulai memiringkan kepalanya, hampir saja bibirnya dan bibirku bertemu dalam satu tarikan nafas.
Tok.Tok.Tok.
Suara ketukan yang bersumber dari kaca mobil Mas Araf membuatnya terkejut luar biasa. Bukannya bibir yang bertemu namun kepala kami malah saling membentur.
Aaahhhhh!
Aku mendesah menahan sakit karena kepala keras mas Araf membentur puncak kepalaku. Sungguh, melihat Ekspresi kesal Mas Araf membuatku ingin tertawa lepas, namun sebisanya aku menahan diri untuk tidak tertawa.
"Entah dari mana datangnya penjahat pengganggu ini." Gerutu Mas Araf sambil membuka pintu mobilnya.
"Ma-mama?" Ucap Mas Araf gugup. Ia terkejut. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, aku yakin dia merasa menyesal karena tadi sempat bicara omong kosong.
"Iya, ini Mama. Kenapa kalian masih ada di luar? Apa kau akan menahan menantu Mama disini?" Mama Riska bertanya sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Tadinya ada hal penting yang ingin Araf sampaikan pada menantu Mama ini, sayangnya Mama datang secara tiba-tiba."
Aku hanya bisa tersenyum dalam diam melihat Mas Araf yang mulai membual.
"Jika kau sudah selesai, biarkan menantu Mama masuk." Ucap Mama lagi kemudian berjalan pelan memasuki rumah megahnya.
"Apa aku boleh masuk?"
"Honey, rasanya aku tidak ingin berpisah dengan mu! Seandainya hari ini tidak ada oprasi penting, sudah di pastikan aku akan menempel padamu seperti permen karet."
"Bukan Mas Araf yang akan menempel seperti permen karet, tapi aku!" Balasku sambil memeluk Mas Araf, aku tahu hanya dengan pelukan ku hati Mas Araf akan merasa tenang. Dan aku tidak keberatan dengan semua ini, inilah untungnya menjadi kekasih halal, dalam setiap sentuhan maupun ucapan yang terlontar tidak ada yang bernilai haram.
"Pergilah, aku akan menunggumu di rumah. Aku memang tidak ahli dalam memasak, tapi malam ini aku akan memasak untuk kita berdua. Jika nanti kelebihan garam dan rasanya keasinan, tolong maafkan aku, semalam Papa tidak hadir dalam mimpiku, jadi pembalasan soal menaruh garam dalam tehnya belum tersalurkan." Celotehku dengan wajah datar.
Hahaha!
Mas Araf terkekeh mendengar ucapanku. Sungguh, dia lebih tampan saat sedang tertawa. Dia melayangkan kecupan singkatnya di puncak kepalaku kemudian beranjak pergi sambil melambaikan tangannya meninggalkan rumah megah kediaman Mama Riska dan Papa Wilan.
...***...