
Cinta adalah lambang keakraban antara dua manusia di mana masing-masing saling menjaga keutuhan bersama. Cinta adalah lautan tak bertepi, langit hanyalah serpihan buih belaka. Cinta adalah satu-satunya bunga yang dapat tumbuh dan berbunga tanpa bantuan musim. Cinta adalah seberapa pandai kau menghapus air matanya.
Cinta adalah merasakan seluruh emosi jungkir balik dan berbaur menjadi satu, merasa segalanya akan baik-baik saja selama berpegangan tangan dengannya, seperti sedang bermimpi dengan kedua mata terbuka lebar-lebar.
Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan.Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajarkan kita menghinakan diri. Tapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat tapi membangkitkan semangat.
Ada begitu banyak hal yang sudah ku rencanakan dalam otakku saat aku akan menemui kekasih hati ku, jiwaku berteriak memanggil-manggil namanya. Tapi lihat lah diriku, karena kebodohan ku, aku bahkan terlelap sangat pulas sampai tidak menyadari kehadirannya.
Dia bermain hujan? Dia tersenyum? dia bertingkah seperti anak lima tahun? Apa bahagia sungguh sesederhana itu? Bagi orang lain mungkin jawabannya akan berbeda. Tapi bagi Sabina ku jawabannya hanya satu. Iya, bahagia itu sederhana, sesederhana tarikan dan hembusan nafasnya. Dia mudah sekali merasakan bahagia karena rasa syukurnya melebihi rasa sakitnya.
Gdebukkk!
Aku menarik Sabina dengan tarikan pelan, karena terkejut dia malah membentur dada ku cukup keras, tanpa ku duga kami malah terjatuh ke lantai, untunglah dada bidang ku berperan sebagai landasan tubuh ramping Sabina saat kami berdua sama-sama terjatuh.
Cesss!
Dadaku berdebar sangat kencang saat netra kami saling beradu pandang, tak sepatah kata pun keluar dari lisan Sabina, namun aku tahu saat ini dia pasti sedang merasakan debaran yang sama, debaran seperti yang kurasakan.
"Aaahhhh... Punggung ku!" Sabina berucap sambil memejamkan mata.
Melihat ekspresi wajah menahan sakit yang di tunjukan Sabina membuat ku benar-benar panik, dengan cepat aku langsung membantunya untuk duduk.
"A-apa sangat sakit? Biarkan aku melihatnya!"
"Mas Araf, tenang!"
Sabina memegang kedua lengan ku sambil menatap ku dengan tatapan heran.
"Tenanglah, aku tidak apa-apa! Ini hanya sakit sedikit. Lihatlah!" Sabina berdiri sambil berputar-putar pelan.
"Kau tidak berbohong? Bukankah tadi kau sangat kesakitan?"
"Sekarang tidak apa-apa! Dan yang harus Mas Araf khawatirkan bukan aku. Tapi diri Mas Araf sendiri, tadi aku menimpa tubuhmu. Aku terlihat kurus tapi sebenarnya aku memiliki tubuh yng kuat. Apa kau baik-baik saja?" Sabina bertanya dalam satu tarikan nafas.
Sungguh aneh, aku yang mengkhawatirkannya, sekarang malah Sabina yang terlihat sepuluh kali lipat lebih khawatir di bandingkan dengan ku.
"Ayo bangun!" Sambung Sabina lagi sambil menyodorkan tangannya.
Tanpa berpikir panjang aku langsung meraih tangan Sabina, bibirku kembali mengukir senyuman.
"Lihat, aku bahkan membantu Mas Araf berdiri. Bukankah aku sangat manis?"
"Bagaimana putranya Alan? Apa kau menyukainya?"
Mendengar pertanyaan aneh ku, Sabina terlihat heran. Ia melepaskan tanganku dari pinggang rampingnya kemudian menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Sedalam apa pun perasaan cintaku padanya, tetap saja aku tidak bisa memahami setiap gerakannya.
"Kenapa Mas Araf bertanya seperti itu? Jawabannya sudah pasti, kan? Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku punya dua keponakan yang super menggemaskan." Celoteh Sabina sambil memicingkan mata.
"Jika kau sangat menyukainya, lalu kapan giliran kita? Aku juga ingin memiliki anak dengan mu! Hanya kau yang berhak menjadi ibu dari anak-anak ku.
Aku pria beruntung karena bisa mendapatkan wanita terbaik seperti mu! Dan aku pun ingin menjadi pria beruntung yang memiliki anak-anak baik dari mu.
Ucapan ku mungkin terdengar seperti gombalan tak berguna karena aku terlalu sering mengatakannya pada orang lain. Tapi kali ini berbeda, aku bersungguh-sungguh, jika aku berbohong biarlah aku tiada dalam cinta. Yakni cinta mu." Entah kenapa setiap kali bicara cinta di depan Sabina hati ku merasa tercabik-cabik.
Aku menyesal karena tidak bertemu dengannya lebih awal, aku juga merasa kesal dengan masa lalu. Seandainya aku bertemu dengannya lebih cepat pasti hidup ku tidak akan sekacau lembaran buruk yang telah mengering itu.
Dan setiap kali aku mengungkapkan perasaan ku pada Sabina, mata ini seolah menghianati ku, mata ini tidak membiarkan ku menatap Sabina tanpa meneteskan bulir-bulir hangatnya. Aku yang dulunya merasa terbang ke awan dan membanggakan diri dengan sikap playboy kini seolah sayap-sayap itu telah patah, karena hati ini telah menemukan pelabuhan terakhirnya.
"Tidak perlu mengatakan apa pun, kau berhak atasku. Semua yang ku miliki adalah milikmu. Kau juga berhak melakukan apa pun pada tubuh ini. Jangan menangis untuk hal yang tidak perlu di tangisi.
Aku tahu kau masih kesal tentang masa lalumu. Dan aku berusaha memberimu waktu untuk memperbaiki hati dengan cara berjalan bersamamu melewati setiap dukamu. Jika kau sudah siap aku pun siap.
Aku, Sabina Wijaya memberimu izin melakukan semua hal yang telah di halalkan bagi pasangan yang telah menikah. Aku tidak akan mencegahmu." Ucap Sabina pasrah. Dia menghapus mataku yang masih basah dengan jemari lentiknya. Kami saling tatap tanpa bicara, mata dan hati kami menjelaskan segala rasa yang ada.
Aku menangkup wajah cantik Sabina dengan perasaan bahagia luar biasa. Menempelkan keningku di kening mulusnya. Mendaratkan ciuman singkat di kelopak mata kiri dan kanannya. Kemudian berakhir di bibir tipis yang menjadi canduku.
Terima kasih Allah untuk nikmat cinta ini. Aku bergumam di dalam hati tanpa melepas bibir ku dari bibir selembut kapas milik wanita tercantik di dunia, Sabina Wijaya.
...***...
"Jaga dirimu, Mas. Kau harus pulang dengan selamat. Jangan ngebut saat menyetir, jangan melamun saat menyetir, jangan main ponsel saat menyetir. Aku menanti kedatangan mu di rumah kita." Ucap ku tanpa melepas pandangan dari netra teduh Mas Araf.
Aku meraih tangannya dan menggenggam jemari hangatnya. Aku benar-benar berat untuk melepasnya pergi. Sayangnya, Mama Riska lebih membutuhkannya di bandingkan dengan ku.
"Aku akan pulang dengan cepat setelah memeriksa kondisi Mama." Balas Mas Araf sambil mencubit hidung bangir ku. Sedetik kemudian ia mulai melayangkan kecupan singkatnya di keningku. Dia pergi sambil melambaikan tangan.
"Hmm! Hidup ku terasa hampa tanpa kehadiran Mas Araf disisi ku. Seharusnya aku ikut saja bersamanya kerumah Mama Riska." Celoteh ku sambil berjalan pelan meninggalkan area parkir lantai dasar.
"A-apa yang dia lakukan disana? Kenapa dia bertingkah aneh? Apa ada yang salah?" Netra ku membulat, aku sangat terkejut melihat Morgiana tiba-tiba muncul dengan pakaian basah kuyup. Tubuhnya terlihat menggigil namun wajah cantiknya mengukir senyuman.
Melihat kondisi Morgiana aku benar-benar ketakutan, bertemu dengannya di area parkir rumah sakit terasa sedikit aneh. Walau demikian, aku hanya bisa berharap, semoga dia baik-baik saja.
...***...