Mr Love Love

Mr Love Love
Gagal Romantis



"Ternyata kejutan romantis yang ku siapkan gagal total. Mas Araf lihat lilin-lilin itu? Seharusnya cahaya dari lilin-lilin itu menyinari wajah tampanmu. Dan lihat-lah apa yang terjadi?" Aku menunjuk kearah lantai yang menyisakan lelehan-lelehan lilin yang telah mengering.


Untuk sesaat aku dan Mas Araf sama-sama terdiam, kami saling menatap di temani cahaya Rembulan dan cahaya temaram yang bersumber dari lampu yang terletak di sisi kiri balkon.


"Aku minta maaf. Aku minta maaf." Entah sudah berapa kali Mas Araf mengulangi permintaan maaf-nya. Aku tidak keberatan jika dia melakukannya sekali atau dua kali. Tapi ini berkali-kali. Telinga ku terasa gatal mendengarnya.


"Iya, baiklah. Aku memaafkan mu, apa sekarang kita bisa duduk dan menyantap makanan ini dengan tenang?" Aku bertanya sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja kemudian menatap netra teduh mas Araf. Tidak ada balasan darinya selain anggukan kepala.


"Makanannya sudah dingin, aku harus memanaskannya!" Aku kembali membuka suara di antara senyapnya udara.


Baru saja aku akan beranjak dari tempat duduk ku, Mas Araf malah meraih pergelangan tanganku, sorot matanya berkaca-kaca. Aku bisa melihat masih ada penyesalan di balik tatapan indahnya.


"Biarkan saja seperti ini! Sebentar saja, tanpa perlu bicara. Saling merasakan degup jantung masing-masing. Sejak pagi aku sangat merindukan istri cantik ku, sayangnya posisi ku sebagai direktur rumah sakit telah mengikat tangan dan kaki ku untuk tidak berlari kearahmu." Ujar Mas Araf sambil memelukku dari belakang, ia mengeratkan pelukannya dan berbisik di telingaku dengan suara lemah lembutnya.


Aku tersenyum dalam diam sambil menatap cahaya Rembulan. Aku merasa bahagia karena pria tertampan di dunia berada dalam pelukan ku, dia berusaha keras merubah dirinya menjadi lebih baik dan itu sudah cukup untuk ku. Aku tidak ingin menatapnya dengan tatapan masa lalunya, karena itulah aku berusaha memupuk cinta di hatiku agar tidak ada kegelapan yang menyertai hubungan yang telah di bingkai dengan logo Halal ini.


Kriuk.Kriuk.


Aku tersenyum karena mendengar bunyi aneh yang bersumber dari perut ku.


"Karena menunggu ku pulang, Bidadari Surga ku bahkan rela menahan lapar. Aku merasa tersanjung mendapat cinta sebesar ini." Ucap Mas Araf lagi, masih dalam posisi berbisik di telinga ku.


"Apa kita bisa bicara nanti saja? Aku lapar!" Celoteh ku sambil membalik tubuh ku menghadap Mas Araf. Aku mencubit hidung bangir Mas Araf sambil menyebikkan bibir tipis ku.


Hahaha!


Mas Araf terkekeh melihat ekspresi lucu yang ku tunjukan, bukannya melepaskan tubuh ramping ku, dia malah membenamkan kepalaku di dada bidangnya di barengi dengan helaan nafas panjangnya.


"Kenapa menghela nafas? Apa aku membuat Mas Araf kesal?" Aku bertanya dengan hati-hati sementara tangan ku kembali melingkar di tubuh kekarnya.


"Aku merasa bahagia. Aku menghela nafas karena aku membayangkan buruknya masa lalu ku, kemudian karena kebaikan Allah aku memiliki istri yang cantik dan baik hati sepertimu. Entah kebaikan apa yang ku buat di masa lalu sampai mendapat Bidadari sempurna seperti Sabina ku!"


Aku bahagia. Aku tersanjung. Aku merasa terbang ke awan mendengar pengakuan manis Mas Araf.


Kriuk.Kriuk.


Suara aneh dari perutku kembali bergema indra pendengaran ku. Aku rasa aku benar-benar kelaparan karena sejak siang aku hanya sibuk di dapur menyiapkan makanan yang aku sendiri tidak tahu rasanya.


"Sepertinya aku tidak bisa menahan mu terlalu lama, jika aku sampai melakukan itu maka Mama Nani dan Papa Otis akan mulai mengutuk ku karena membuat putrinya kelaparan. Di tambah lagi Alan, dia pria yang kejam jika sedang marah!" Celoteh Mas Araf sambil mencubit pipi mulus ku. Ia tersenyum.


Tidak ada lagi percakapan di antara aku dan Mas Araf, kami duduk di meja sambil menikmati makanan yang sudah ku sediakan sejak sore. Sungguh, menikmati waktu berdua seperti ini benar-benar menyenangkan.


...***...


Detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan dalam tempo satu jam, waktu yang sangat singkat itu aku berusaha menahan gejolak di hati ku, semakin aku menolak untuk membenarkan keinginan itu semakin besar pula tekanan yang ada dalam tubuh ku.


Aku bagai pencuri yang tertangkap basah. Begitu mudahnya Sabina mengetahui jalan pikiran ku, usianya masih sangat muda tapi dia berpikir sangat matang.


"Apa kau serius? Kau tidak akan menyesal?" Aku bertanya dengan kepala tertunduk. Aku benar-benar tidak sanggup menatap netra teduh sabina.


"Iya, aku akan menyesal." Balas Sabina tegas.


Mendengar ucapan Sabina aku langsung mengangkat kepala, aku menatapnya inten, aku tahu dia pasti akan mengatakan itu karena itulah aku tidak pernah melewati batasan ku.


"Aku akan menyesal jika membuat suamiku marah padaku. Aku lebih takut saat melihatnya kehilangan senyumannya dari pada aku kehilangan nyawaku." Sambung Sabina lagi.


Rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di hati ku, mendengar ucapan Sabina yang seperti lampu hijau aku tidak ingin lagi menahan hasrat di hatiku. Aku menggendong Sabina, berjalan pelan meninggalkan balkon kemudian membaringkannya di tempat tidur berukuran besar dengan hati-hati. Aku takut menyakitinya karena kakinya masih terbalut perban.


"Terima kasih sudah menerima ku apa adanya dan dengan sepenuh hati mu. Aku merasa mabuk dalam buaian cintamu, dan aku tidak ingin kehilangan dirimu." Celoteh ku lagi begitu mengetahui Sabina pasrah dengan apa yang akan terjadi di malam yang panjang ini.


Tidak ada balasan dari Sabina selain anggukan kepala. Ia menangkup wajahku kemudian mendaratkan kecupan singkatnya di pipi kananku. Dia selalu melakukan itu agar aku merasakan kenyamanan setiap kali berada di dekatnya. Aku pikir setelah mengurai masa laluku dia akan memutuskan untuk meninggalkan ku kemudian mencari sosok lain yang seribu kali jauh lebih baik di bandingkan dengan ku, nyatanya dia tidak melakukan itu dan ketakutan ku seolah menguap ke angkasa.


Aku bahagia. Sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata. Di saat aku ingin balas melayangkan kecupan di bibir tipis Sabina, suara gaduh yang bersumber dari pintu kamar kami menghentikan aktivitas ku.


Tok.Tok.Tok.


"Tu-tuan. Nyonya. Hiks.Hiks!"


Suara nyaring tangisan yang bersumber dari depan kamar membuat ku terkejut luar biasa. Aku membantu Sabina untuk bangun kemudian saling tatap tak mengerti dengan keadaan yang ada.


"Mas Araf, ayo kita keluar. Sepertinya ada masalah di bawah." Ucap Sabina sambil berusaha berdiri.


"Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa kau ingin mengundurkan diri di hari pertama mu bekerja?" Aku bertanya dengan tatapan membunuh. Melihat tingkah dingin ku Sabina langsung menautkan jemari lentiknya di tangan kokoh ku, dia memberikan isyarat agar aku tidak perlu bicara omong-kosong di depan orang yang sedang tertekan.


"Ada apa Tuti? Kenapa kau menangis? Apa ada yang mengganggumu?" Sabina bertanya sambil memegang lengan Art yang bernama Tuti, aku tidak menyangka Sabina akan semudah itu akrab dengan Art baru rumah kami.


"Nyonya... Hiks.Hiks."


"Kenapa kau menangis? Apa kau ingin menunjukan kalau kami majikan yang kejam? Jika kau tidak bicara lebih baik kembali kekamar mu!" Gerutuku sambil berbalik hendak masuk ke kamar.


"Nyonya Rima sakit, Rima terkena tumpahan air panas di dapur. Hiks. Hiks."


"Apa? Kenapa itu bisa terjadi?" Sabina terkejut, dan ucapan singkatnya menghentikan langkah kakiku.


Rima? Siapa lagi yang bernama Rima? Kenapa semuanya harus terjadi sekarang? Karena kekacauan ini aku bahkan gagal romantis dengan Bidadari cantik ku Sabina Wijaya. Aku ingin mengamuk namun sebisanya aku berusaha mengendalikan amarah ku setelah melihat netra teduh Sabina yang seolah meminta ku mengambil tas medis di kamar.


...***...