Mr Love Love

Mr Love Love
Terpaksa Berpisah!



Setelah mendapatkan panggilan darurat dari Sabina, aku mulai berlari menuju area parkir, mengendarai mobil dengan perasaan kalut. Sungguh, aku merasa jantungku akan loncat keluar, mendengar Sabina menangis membuat sekujur tubuhku bergetar. Aku takut, sangat takut melebihi kehilangan nyawaku.


Dan disinilah aku sekarang, berdiri di depan pintu rumah megah Mama mertuaku, entah ada apa dengan hari ini? Bahkan sejak membuka mata, aku merasakan ketakutan, ketakutan besar. Perlahan, aku melangkahkan kaki dan menyusuri ruang tengah.


Deg.


Langkah kakiku terhenti, netraku membulat, aku terkejut sampai hampir terjatuh. Di sofa, aku menatap Mama dan Papa sedang duduk lesu. Di dekat Papa mertua, aku mendapati Sabina sedang menangis, entah apa yang di katakan Mama sampai wajah Sabina ku terlihat lesu, benar-benar tak bertenaga. Melihat kondisi ini membuatku semakin frustasi. Aku berpikir keras, kesalahan apa yang telah ku buat sampai Sabinaku sesedih itu? Apakah sepatal itu sampai Mama terlihat sangat marah? Entahlah, sekaras apa pun aku berusaha mencari jawabannya, tetap saja aku tidak bisa menemukannya.


"Mas Araf! Hiks.Hiks!" Sabina menatapku dengan tatapan pilu, Ia berlari kedalam pelukanku dengan tangisnya yang terdengar menyayat ulu hati. Sungguh, tubuhku terasa mati rasa. Melihat Sabina menangis dan tatapan membunuh yang di tunjukkan Mama mertua membuatku tak bisa berpikir lagi. Aku tampak seperti pria tidak berguna, karena secara tidak langsung aku telah membuat belahan jiwaku menangis. Dan ini untuk pertama kalinya aku mendengar tangisan pengharapan Sabina, pengharapan agar hubungan kami selalu baik-baik saja.


Ayo Araf, pikirkan sesuatu! Aku bergumam di dalam hati sambil berpikir keras, ada apa sampai Mama mertua terlihat murka? Aku berperang dengan pikiranku sendiri, ada banyak pertanyaan di benakku, sayangnya tidak ada yang bisa terjawab, mendengar tangisan Sabina membuatku semakin hilang akal, tubuhku terasa lemas.


"Bagus, kau sudah sampai."


"Jadi aku bisa mengatakan secara jelas. Ceraikan putriku. Dan jangan pernah tunjukkan wajah mu di hadapan ku atau di hadapan keluargaku lagi."


Duarrr!


Bagai di sambar petir di siang bolong, ucapan Mama Nani begitu kuat menghancurkan diriku. Berpikir kehilangan Sabina saja membuatku hilang akal. Sungguh, aku akan tiada jika sampai kehilangan Sabina.


"Ma, Sabina mohon. Jangan berkata seperti itu, Mama tahu, kan? Mas Araf adalah nyawaku. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan ku. Aku akan tiada tanpa dirinya." Ucap Sabina sambil menangkupkan kedua tangan di depan Dada. Tak terdengar lagi suara isakannya


"Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan barusan? Kau berani menentang Mama, Sabina? Dan hanya untuk dirinya? Mama benar-benar kecewa padamu!"


"Jika kau ingin pergi, maka pergilah. Tapi, ingat, jangan pernah tunjukan wajahmu di hadapan Mama lagi, bahkan jika Mama tiada."


Mendengar ucapan Mama, tubuh Sabina meluruh. Tangisnya tak terdengar lagi, ia membisu seolah nyawanya telah hilang.


Kau sangat buruk, Araf. Kenapa kau tidak tiada saja sebelum hari ini tiba. Apa yang telah kau lakukan dengan hidupmu? Kau bahkan tidak bisa melindungi wanita yang sangat kau cintai. Batinku lagi sambil meraih lengan sabina, membantunya berdiri.


"Ma, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Semuanya hanya masa lalu. Aku janji tidak akan membuat Mama kecewa lagi." Aku berucap sambil menangkupkan tangan di depan dada, aku meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara. Sungguh, waktu ini terasa mencekikku. Dadaku mulai merasakan sesak.


"Surat perceraian kalian akan di serahkan oleh pengacara ku, dan kau bisa menunggu di kantormu. Jika kau mau kau bisa bicara dengan kedua orang tuamu karena aku tidak ingin mengatakan apa pun lagi." Ujar Mama Nani sambil menunjukku dengan jari telunjuknya. Netra beliau memerah, bisa di bayangkan betapa besar amarah Mama kepadaku.


"Ma, aku mohon. Jangan lakukan ini, aku sangat mencintai Sabina."


"Diam, aku bilang diam."


"Tenang, Ma. Mama tidak perlu semarah itu, Mama bisa sakit." Papa Otis, Papa Mertua ikut nimbrung kedalam pembicaraan kami. Sejak tadi beliau tediam karena tidak ingin membantah istrinya.


"Cinta apa yang kau maksud, hah? Cintamu hanya membawa masalah untuk putriku. Kau mencintainya, tapi di belakang punggungmu kekasihmu bermain api dengannya. Dia dan banyinya hampir saja tiada. Mulai hari ini, Sabina akan tinggal di rumahnya, bukan dengan pria sepertimu." Ucap Mama Nani lagi.


Kelu! Hanya itu yang kurasakan. Kenapa Mama Nani tega ingin memisahkanku dengan putrinya? Tak bisakah beliau menatapku dengan tatapan kasih sayang? Bagaimana aku akan hidup tanpa kehadiran Sabinaku? Aku ingin berteriak, namun mendengar helaan nafas kasar Papa mertua membuatku menahan dukaku.


"Ma... Sabina mohon, tolong maafkan Mas Araf seperti Mama memaafkan Kak Alan." Sabina menatap Mama Nani. Bukannya mendengar permintaan putrinya, amarah Mama Nani kembali tersulut.


"Demi membelanya kau bahkan membanding-bandingkan Kakak mu dengannya." Mama kembali menunjukku, tatapannya sangat tajam. Aku mulai merinding, inilah alasannya seorang laki-laki tidak boleh meremehkan wanita, mereka terlihat menakutkan saat sedang marah.


"Kalian sama saja, kau membuat putriku berada dalam masalah karena perbuatan burukmu. Dan putraku?" Ucap Mama Nani dengan suara beratnya, Ia tidak sanggup bicara lagi.


"Fazilaku yang malang, Ayah dan pamannya sama-sama tidak berguna. Mereka membuat wanitanya terluka. Mama tidak ingin melihatmu lagi."


"Antar Mama ke kamar, Pa."


"Satu lagi Sabina, Mama tidak menggertakmu atau sekedar mengatakan omong-kosong belaka. Kau bisa pergi bersamanya, tapi jangan harap kau akan melihat Mama lagi." Ucap Mama sambil menatap Sabina dengan tatapan tak terbaca. Setelah memuntahkan amarahnya, Mama masuk kekamar di temani Papa yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja.


Araf, bisakah kau menjalani semua ini tanpa kehadiran Sabina disisimu? Berpisah? Bagaimana aku bisa melakukannya? Dan untuk berapa lama perpisahan ini? Jika ini adalah ujian cintaku, maka aku harus menerimanya dengan lapang dada, aku akan meluluhkan hati Mama mertua. Maafkan aku Sabina, kita terpaksa harus berpisah. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap Sabina yang terlihat meneteskan air mata. Aku ingin menghapus air mata itu, memeluknya dengan erat sambil berucap 'semuanya akan baik-baik saja'. Sayang sekali, ucapan itu hanya bisa tertahan di tenggorokanku hingga aku meninggalkan Mansion Wijaya. Meninggalkan Sabina dengan kesedihannya.


...***...