Mr Love Love

Mr Love Love
Pelukan



"Aku tidak marah padamu! Aku juga tidak membencimu karena apa yang sudah ku dengar malam ini.


Iya, aku tahu. Itu bisa saja terjadi karena kau tinggal di luar Negri. Tapi, jika itu aku. Itu pasti tidak akan pernah terjadi. Aku minta maaf karena memaksamu mengungkapkan segalanya. Aku melakukan itu bukan karena aku tipe wanita jahil yang akan mencampuri kehidupan pribadimu. Tidak, aku tidak seperti itu." Aku kembali membuka suara di antara senyapnya udara.


Aroma terapi yang bersumber dari lilin-lilin yang Mas Araf nyalakan terasa menenangkan jiwaku yang tadinya sedikit memanas.


Tampan, baik hati, disiplin, murah senyum, ramah, penyabar, tegas, bertanggung jawab. Mas Araf yang ku kenal adalah sosok yang seperti itu, selama ini aku tidak memiliki keluhan apa pun tentang dirinya.


Melihatnya rapuh dan menangis sambil sesegukan membuatku merasakan sedih luar biasa. Aku tidak tahu harus berkata apa, dan aku pun tidak tahu cara menghiburnya. Aku masih shock, penuturannya bagai peluru yang terus menerus melubangi jantungku, aku masih merasakan sakit.


Jika aku tidak bisa menghibur diriku sendiri lalu bagaimana caraku menghiburnya? Ini bukan masalah sederhana, melihat Mas Araf putus asa aku merasa terluka. Aku bahkan duduk sedikit bergeser dan menjauh darinya karena aku tidak mau dia mengetahui kalau aku sangat terluka.


Kakiku yang tadi terkilir pun tidak mau membantuku, semakin aku berusaha menahan dukaku agar tidak meledak semakin kakiku terasa berdenyut.


"Aku tahu mengungkapkan masa lalu pada pasangan itu tidak di perlukan. Terima kasih karena sudah jujur padaku.


Aku semakin menghormati mu! Bukan karena kau melakukan kesalahan, tapi karena kau mau mempertanggung jawabkan semua kekacauan yang sudah kau buat. Itu saja." Sambungku lagi, wajah mas Araf masih tertunduk. Air matanya pun tak berhenti menetes.


Aku mengangkat dagu Mas Araf dengan hati-hati, matanya terlihat bengkak. Malam ini bukan hanya aku yang menangis, mas Araf pun terlihat prustasi dengan kisah kelam masa lalunya.


"Siapa pun gadis itu, entah dia terhubung dengan reem Mobil, reem Motor atau reem Sepeda sekalipun, aku sama sekali tidak memperdulikannya. Jadi jangan siksa dirimu karena luka lama." Kali ini aku berbisik di telinga Mas Araf, aku memeluknya, aku berusaha menenangkannya, aku juga berusaha mengelus rambut ikalnya. Tetap saja suara tangisnya masih memenuhi indra pendengaranku. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku melihat pria lain menangis di depanku selain Kak Alan.


"Jika kau masih menangis aku janji aku akan meninggalkanmu, berhentilah menangis!" Kali ini aku menggoda Mas Araf dengan suara meyakinkan.


Tak butuh waktu lama, Mas Araf langsung melepaskan diri dari rangkulanku, dia menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Kami saling tatap, tatapan penuh cinta dan rasa hormat yang semakin besar.


"Kau masih marah padaku, aku tidak bisa menatap wajahmu." Ucap Mas Araf pelan, ia kembali merunduk sambil memengang erat jemariku.


"Jika kau tidak menatapku dalam hitungan ketiga aku pasti akan mencari pengganti yang jauh lebih baik di bandingkan dengan dirimu." Lagi-lagi aku menggoda Mas Araf dengan ancaman kosong, tawaku hampir pecah namun aku menolah kearah kiri sambil berusaha keras manahan tawa.


"Apa kau masih berhubungan dengan gadis itu? Jawab dengan jujur!" Kali ini aku mendesak Mas Araf dengan jawaban singkatnya.


"Tidak! Aku tidak pernah memikirkannya apa lagi sampai berhubungan dengannya. Kami tidak pernah bicara setelah pristiwa buruk itu."


"Maka itu sudah cukup bagiku! Tidak perlu lagi menahan luka lama, biarkan aku menjadi penawar bagi hatimu. Aku akan secara suka rela menyembuhkannya.


Satu pintaku, jika Mas Araf merasa bosan dengan ku Mas Araf harus mengatakan semuanya di depanku, dengan begitu aku bisa bersiap-siap untuk pergi dari hidupmu." Celotehku sambil menangkup wajah tampan Mas Araf dengan kedua tanganku.


"Sampai aku tiada aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Itu janjiku padamu, janji seorang pria yang sedang jatuh cinta."


"Aku percaya padamu, Honey. Aku juga janji akan berusaha melakukan yang terbaik bagi hubungan ini. Semoga hubungan kita tidak hanya di dunia tapi sampai ke Surga." Mas Araf yang mendengar ucapanku terlihat sangat bahagia. Bahagia yang aku sendiri tidak bisa mengukur kedalamannya.


Muacchh!


Aku mendaratkan kecupan singkat di mata kiri dan kanan Mas Araf dengan penuh cinta. Tiba-tiba Aku merasa malu melihat ekspresi terkejut Mas Araf.


"Aku memberikan tanda disini dan disini dengan maksud, jangan pernah menatap wanita lain selain diriku." Ucapku pelan sambil menyapu kelopak mata Mas Araf dengan jemari lentikku.


Muaacchh!


Aku kembali melayangkan kecupan kecil di wajah Mas Araf, di mulai dari keningnya, kemudian turun menuju pipi kiri dan kanannya, dan berakhir di bibir indahnya.


"Aku juga memberi tanda di setiap sisi wajahmu, aku berusaha menghilangkan jejak wanita yang telah berani mendekati pangeranku. Mulai saat ini kau bersih dari semua hal yang berkaitan dengan gadis centil yang pernah singgah di hatimu. Dan terakhir..."


Untuk sesaat aku terdiam, aku kembali menatap mas Araf penuh cinta, tersenyum padanya sambil sesekali memainkan hidung bangir miliknya.


Sedetik kemudian aku melayangkan kecupan lagi, kali ini berbeda bukan di wahjah Mas Araf melainkan di dada bidangnya. Mas Araf terkejut mendapati perlakuanku, hampir saja dia jatuh dari sofa namun dengan cepat aku meraih kedua lengannya.


Mas Araf tak kalah bahagianya di bandingkan denganku, dia tersenyum sangat lebar. Senyumannya seindah purnama dan hal itu semakin membuatku jatuh cinta.


"Terima kasih untuk segalanya. Aku mencintaimu Bidadariku, sangat mencintaimu."


Aku berusaha melepaskan tubuhku dari pelukan erat Mas Araf.


"Jika kau Sangat mencintai ku apa aku bisa meminta sesuatu darimu?" Aku bertanya sambil melipat kedua lengan di depan dada.


"Semuanya milikmu. Aku akan melakukan segalanya untukmu!" Balas Mas Araf tanpa keraguan. Dia menatapku, netra teduhnya terlihat bengkak karena menangis sejak tadi, walau seperti itu ketampanannya tak luntur sedikit pun.


"Malam semakin larut, apa kita bisa masuk kekamar dan istirahat? Aku tidak mau jalan, Mas Araf harus menggendong ku, jangan bilang aku istri manja karena bertingkah seperti anak kecil. Salahkan kakiku karena tidak mau mendengarku untuk tidak bersikap manja padamu!" Celotehku sambil menunjuk pergelangan kaki ku yang masih terbalut perban.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Mas Araf, dia langsung menggendongku tanpa aba-aba, wajahnya di penuhi senyuman, berjalan menaiki akan tangga kemudian berakhir di kamar kami yang terletak di lantai dua.


...***...


Allahu Akbar...


Allah Akbar...


Aku terbangun tepat ketika Azan subuh berkumandang di seluruh seantaro kota, aku tersenyum, aku bahagia, dan aku merasakan haru luar biasa. Aku terbangun di pagi hari dan menyadari diriku berada dalam pelukan pria tertampan di dunia.


Semalam adalah saat terberat bagi kami berdua, walau berada di kamar Mas Araf tetap tidak bisa diam, dia terus meminta maaf, meminta maaf sampai dia terlelap.


Aku menatap wajah tampan Mas Araf sambil tersenyum, mengangumi betapa indah maha karya Tuhan di depanku ini. Mengusap wajahnya dengan jemariku kemudian melayangkan kecupan singkat di puncak kepalanya.


Sedetik kemudian aku beranjak menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu menghadapkan wajah pada Tuhanku. Sungguh, moment Shalat Shubuh adalah moment yang paling ku sukai di pagi hari. Bagaimana tidak, di saat sebagian orang sedang terlelap aku sebagai umat Rasulullah, Muhammad SAW terbangun seberat apa pun rasa kantuk mendera dan sedingin apa pun air di pagi hari hanya untuk mendekatkan diri pada yang Kuasa.


Assalamu'alaikumwarahmatullah...


Aku menoleh kearah kanan dan kiri pertanda Shalat Shubuhku telah usai, kini ketenangan terasa memenuhi rongga dadaku, dan aku bersyukur untuk itu.


"Mas, Mas Araf. Bangun. Waktunya Shalat Shubuh." Aku mengguncang tubuh kekar Mas Araf setelah aku menyelesaikan do'a dan duduk di dekatnya.


"Lima menit lagi, Honey." Ucap Mas Araf dengan suara pelan khas bangun tidur. Bukannya segera bangun dia malah meletakkan kepalanya di pangkuanku. Dia benar-benar manja.


"Ini terasa nyaman!" Ucap Mas Araf lagi, matanya masih terpejam.


"Aku tidak suka pria pemalas, jika kau berani meninggalkan Shalat mu maka suatu hari nanti aku pasti akan meninggalkanmu." Celotehku sambil memainkan jemari lentikku di rambut hitam Mas Araf.


Bagai tersengat listrik, Mas Araf langsung mengangkat kepalanya dari pangkuanku. Ia mengucek kedua mata dengan jemarinya. Sedetik kemudian dia mulai menatapku dengan tatapan tajam.


"Jangan pernah mengancam ku seperti itu, aku lebih baik lompat dari gedung setinggi seratus lantai dari pada membayangkan kehilanganmu. Aku janji, aku tidak akan meninggalkan Shalatku walau aku berada di medan perang."


"Aku hanya ingin mendengar itu darimu. Mandi, Shalat, dan bersiaplah. Setengah jam lagi aku akan berkunjung kerumah Mama Riska, tadi beliau telpon memintaku datang kerumahnya, beliau bilang ada hal penting.


Mas Araf tidak perlu mengantarku jika Mas Araf sibuk. Aku bisa pergi bersama Amri." Ucapku sambil bangun dari tempat tidur.


"Aku yang akan mengantarmu. Tunggu aku." Balas Mas Araf cepat, sedetik kemudian dia masuk kekamar mandi. Tidak ada balasan dariku selain anggukan kepala.


Aku tersenyum melihat tingkah manis Mas Araf, apa lagi yang ku butuhkan? Semua hal yang di inginkan setiap wanita ada dalam diri Mas Araf. Masa lalunya memang sangat di sayangkan, aku tidak bisa mundur lagi, yang bisa ku lakukan hanya memegang tangannya kemudian berjalan bersama di jalan yang di berkahi Tuhan.


Pagi ini aku terbangun dalam pelukannya, aku berharap moment indah ini akan selalu terulang sampai aku menutup mata.


...***...