
Malam terasa berjalan sangat lamban, aku tidak pernah menyangka akan mengalami malam seburuk ini. Sejak pembicaraan terakhir dengan Sabina, tepatnya dua jam yang lalu, aku benar-benar tidak berani menegurnya. Untuk pertama kalinya aku merasa kesal pada diri ku sendiri, dan untuk pertama kalinya juga aku mengutuk diri ku sendiri.
Aku berbaring di samping Sabina namun tak sedetikpun aku bisa memejamkan mata, membayangkan tetesan air matanya membuat ku merasakan luka, luka mendalam.
Aku tidak sadar sejak kapan aku mulai terlelap, aku juga melupakan kesedihan yang semalam membuat jantung ku berdegup sangat kencang. Apa semudah itu aku melupakan derita ku?
Perlahan, aku mulai membuka mata. Betapa terkejutnya diri ku saat mendapati malam telah berlalu dan Sabina tidak ada lagi di samping ku. Dengan sekuat tenaga aku loncat dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Mencoba memastikan apakah pakaian Sabina masih ada di tempatnya atau tidak?
Aku khawatir dia akan bersikap seperti istri dalam serial drama, karena kesal pada suaminya lalu ia pergi membawa kopernya. Bukankah aku sangat konyol? Iya, itu mungkin saja. Membayangkan sikap Sabina semalam, aku memang pantas untuk di tinggalkan. Tapi, semoga saja itu tidak terjadi.
Waktu menunjukkan pukul 8.00 saat aku terbangun, aku sangat yakin Sabina masih kesal padaku, buktinya ia tidak membangunkan ku untuk salat Subuh berjama'ah bersamanya, menyadari fakta itu membuat ku merasakan sedih luar biasa.
"Araf, ayo minta maaf padanya! Jangan di tunda lagi. Menunda hanya akan semakin memperkeruh suasana." Ucap ku pelan sambil menepuk wajah dengan kedua tangan.
Tok.Tok.Tok.
"Honey... Apa kau di dalam." Aku berucap sembari mengetup daun pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Dua menit.
Tak ada jawaban sehingga aku mengambil inisiatif untuk membuka daun pintu, tidak ada siapa pun di dalamnya. Tidak mendapati sosok yang sangat ku rindukan membuat ku mulai menghela nafas kasar.
"Dimana Sabina ku? Ini masih pagi dan dia tidak ada di sini, apa dia ke rumah Mama dan mengadukan segalanya?"
Hhhmmmm!
Aku kembali menghela nafas kasar, jantung ku berdegup kencang. Sabina memang pantas mengadukan ku pada Mamanya dan juga Mama ku. Aku tidak takut mendapat amukan dari kedua wanita hebat itu, hanya satu hal yang ku takuti yakni mereka berdua memisahkan ku dengan Sabina. Sungguh, itu lebih buruk dari kematian.
Aku berlari meninggalkan kamar dan menuruni anak tangga dengan terburu-buru, hampir saja aku terjatuh namun untungnya tangan ku bisa meraih pegangan tangga sehingga hal yang tidak di inginkan bisa di hindari.
"Tuan tampan hati-hati. Kakak cantik bilang jika naik turun tangga tidak boleh lari, takut jatuh." Ucap anak kecil yang berdiri di dekat sofa. Boneka yang ia pegang terjatuh dari tangannya karena terkejut.
Kakak cantik!
Anak manis yang tidak ku ingat namanya itu memanggil Sabina dengan panggilan kakak cantik. Awalnya aku tidak terlalu suka dengan anak-anak, namun anak di depan ku ini berbeda. Dia sangat manis dan tidak pernah membuat ulah.
"Siapa nama mu?" Aku bertanya dengan nafas terengah-engah seolah habis lari maraton.
"Rima."
"Berapa usia mu?" Aku kembali mengurai tanya agar semakin dekat dengannya dan dia pun tidak perlu merasa takut pada ku.
"Empat." Ucap anak manis itu sembari menunjukan lima jari-jari kecilnya.
Aku tersenyum sambil menyentuh pipi mulusnya, sebenarnya aku tahu usianya sekitar tiga setengah tahun. Namun aku pura-pura bertanya hanya untuk mendengar suara cadelnya. Sekilas terbayang aku dan Sabina yang memiliki anak semanis anak di depan ku ini. Sungguh, rasaya tidak sabar lagi menanti saat anak ku dan Sabina memanggil kami Mommy dan Daddy.
"Kakak cantik pergi, kakak cantik memberikan ini!" Ucap Bocah manis itu lagi.
Netra ku membulat menatap kearah kertas putih yang di sodorkan anak manis itu.
Aku masih ingat, Sabina selalu bilang jika kita bertengkar jangan sampai masalah kita keluar dari kamar. Apa ini tanda-tandanya Sabina mulai mengabaikan ku? Jika dia mau dia bisa memberikan pesan melalui ponselnya. Aku sangat takut, dada ku berdebar sangat kencang seolah jantung ku akan loncat keluar.
Perlahan aku mendekati anak manis itu dan meraih apa yang di tinggalkan Sabina untuk ku.
Mas Araf... Aku minta maaf karena semalam aku bersikap kekanak-kanakan. Aku sudah memikirkan semuanya, aku mengaku salah karena aku terlalu terburu-buru memberikan penilaian.
Seharusnya aku lebih mempercayai suami ku sendiri dari pada apa yang ku lihat yang kebenarannya belum tentu bisa di pastikan.
Aku juga minta maaf karena tidak memberikan mu kesempatan, kesempatan untuk membela diri. Percayalah pada ku, aku sangat-sangat menyesal. Ponsel ku tertinggal di rumah Mama jadi aku tidak bisa mengirimkan pesan apa lagi sampai memberikan panggilan.
Aku juga minta maaf karena pagi ini aku pergi tanpa seizin mu. Kondisi Opa Ade kembali drop. Mama meminta ku datang dan aku di jemput oleh sopirnya. Mungkin saat Mas Araf membaca surat ini aku sedang berada di rumah sakit.
Sebelum aku pergi aku sudah memasak sesuatu untuk Mas Araf sarapan, jangan lupa Salat Subuh walau aku tidak berada disisi mu.
^^^I love you...!^^^
Tutup Sabina dalam pesan singkatnya. Aku tersenyum sendiri membaca surat yang Sabina tinggalkan, karena bahagia aku bahkan sampai memeluk bocah manis yang berdiri di depan ku.
Masalah semalam akhirnya terselesaikan dengan mudah. Sabina tipe istri yang penuh kasih sayang dan pemaaf. Dia bukan seorang pendendam, dia juga bukan seorang pemarah, sikap lemah lembutnya selalu menarik ku padanya. Bukan hanya itu, semakin hari cinta ku pada wanita saliha itu semakin berlipat ganda. Kedalaman perasaan cinta itu tidak dapat di ukur walau dengan sekedar kata-kata.
Sabina bilang dia mencintai ku dengan sepenuh hatinya, padahal sebenarnya aku lah yang lebih mencintainya.
"Kakak cantik bilang apa? Sepertinya itu surat cinta? Apa itu benar?" Bocah manis itu tersenyum pada ku sambil melipat kedua lengan di depan dada.
Surat cinta? Kata itu terlalu mudah keluar dari bibirnya. Entah dari mana anak manis itu mempelajari kata-kata yang seharusnya tidak keluar dari lisannya.
"Kau anak yang manis! Surat cinta? Dari mana kau belajar kata-kata itu?"
"Rima tahu dari drama yang Ibu tonton." Balas anak itu sambil tersenyum manis.
"Baiklah, karena Rima sudah memberikan surat cinta dari kakak cantik untuk Tuan tampan, Tuan tampan mengucapkan terima kasih." Ucap ku sambil bangun dari sofa yang ku duduki sejak dua menit yang lalu.
Aku bersiap akan kembali kekamar. Baru saja aku beranjak, langkah kaki ku terhenti karena ART separuh baya yang ku tahu sebagai neneknya Rima memanggil ku dari belakang.
"Ada apa Mbok?"
"Ada panggilan dari rumah sakit, katanya ada hal penting Tuan."
"Terima kasih." Balas ku sambil menerima panggilan telpon dari tangan ART separuh baya.
Duarrrrr!
Bagai di sambar petir di siang bolong, sekujur tubuh ku bergetar hebat. Mendapat panggilan dari rumah sakit membuat sekujur tubuh ku bergetar. Tanpa menghiraukan apa pun aku berlari sekuat tenaga. Masuk kekamar kemudian mengambil kunci mobil di atas nakas. Meninggalkan rumah berlantai dua yang ku tinggali bersama Sabina selama enam bulan ini.
...***...