
Aauuuu!
Aku mendesah menahan sakit di perutku akibat cubitan kasar Sabina. Refleks aku langsung melepas pelukan ku dari tubuh rampingnya. Netra ku membulat tak percaya, di saat aku ingin bersikap manis aku malah mendapat cubitan keras darinya. Aku pikir perutku akan mengelupas akibat kuku tajamnya, aku yakin itu karena rasanya yang sedikit perih.
"Aauuuu!" Rintihku lagi sambil menyibak kaos putih yang ku gunakan, dan benar saja bekas cubitan Sabina meninggalkan warna merah di kulit putih ku.
"Apa kau ini kucing liar? Kenapa bekas cubitan mu terasa seperti terkena tumpahan minyak panas!" Ucap ku datar.
"Ma-maaf! Aku tidak sengaja. Coba kulihat!" Ucap Sabina di penuhi penyesalan. Ia menyibak kaos ku dan tanpa segaja jemari kami saling bertautan.
"Aku pikir aku sedang bermimpi, aku bahkan mencubit diriku sendiri. Karena masih belum yakin, aku mulai mencubit mu. Maaffff!" Sambung Sabina di penuhi penyesalan. Ia bahkan menjewer kedua telinganya.
"Tidak apa-apa!" Balasku sambil membalik tubuh ramping Sabina, kali ini aku memeluk tubuhnya dari belakang. Aku bisa merasakan tubuh Sabina menegang karena terkejut. Dan buruknya aku merasa lebih gugup di bandingkan dengan Sabina.
Ada apa dengan ku? Aku bergumam sambil mengeratkan pelukan ku di tubuh istri cantik ku, Sabina Wijaya. Mencium aroma bunga yang menguar dari tubuh indahnya serasa bagai duduk di taman bunga. Menyenangkan sekaligus bahagia.
"Jangan katakan apa pun, karena kali ini aku yang akan bicara. Kau cukup mendengarkan ucapan ku tanpa perlu membatah. Paham?" Aku berbisik di telinga Sabina yang kemudian di balas dengan anggukan kepala olehnya.
Untuk sesaat aku terdiam, berusaha mengatur degub jantung ku. Aku sadar, sebelumnya aku hanya seorang playboy yang menjalin hubungan dengan banyak wanita. Tapi jujur, aku tidak pernah melibatkan hatiku dengan wanita manapun kecuali satu orang. Aku juga menyadari, untuk pertama kalinya jantungku berdetak sangat cepat, aku merasa jantungku akan loncat keluar. Syukurlah itu tidak terjadi.
"Aku yakin kau mendengar banyak hal buruk tentang ku dari kakak mu! Aku juga mendengar Alan menolak menjadikan ku sebagai suami mu, aku bisa mengerti itu. Jika aku jadi dirinya aku pun akan melakukan hal yang sama, aku akan menolak pria mata keranjang yang mencoba mendekati adik ku!" Ucap ku dengan nada suara pelan.
Sabina benar-benar mengikuti perintahku, dia tidak mengatakan apa pun namun dia mengangguk untuk membenarkan ucapanku tentang penolakan Alan, kakaknya yang juga merupakan sahabat terbaik ku.
"Aku memang playboy, tapi jujur aku tidak pernah melewati batasanku terhadap wanita. Aku marah pada Papa, jadi aku berontak dengan cara memacari setiap wanita yang menurut ku menarik."
Uhuk! Uhuk!
Aku terbatuk karena tidak menyangka Sabina menghajar perutku dengan lengannya. Sontak aku melepaskan pelukan ku dari tubuh rampingnya.
"Mas Araf memacari setiap wanita yang Mas Araf anggap menarik? Lalu berapa puluh wanita yang sudah kau campakkan?" Sabina bertanya dengan wajah kesalnya.
Rasanya aku ingin tertawa lepas melihat Sabina menyebikkan bibir tipisnya, ia tampak seperti istri yang sedang cemburu. Dan aku sangat bahagia melihatnya bersikap seperti itu, itu artinya kami selanglah lebih dekat.
"Itu hanya masa lalu, dan kau masa depan ku!" Aku kembali menarik Sabina dalam pelukan ku.
Karena lelah berdiri akhirnya aku memegang jemari Sabina kemudian mengajaknya berjalan menuju sofa, disana aku tidak membiarkan Sabina menjauh dariku walau untuk seinci saja. Aku memangku Sabina dengan senyuman mengembang sempurna. Aku tahu, Sabina pasti berpikir aku pria mesum yang jahil. Apa pun hasil pemikirannya tentang diriku hanya satu hal yang saat ini ingin ku lakukan, tidak memperdulikan pendapat Sabina tentang ku dan tetap memilih melakukan hal yang kan mendekatkan kami berdua.
"Aku tidak menyangka ternyata aku terletak di urutan puluhan. Hhhmmm!" Sabina mendesah dengan suara sedihnya.
"Aku tahu aku pria brengsek, mata keranjang dan juga lamban. Tapi, kau juga harus percaya padaku, di antara semua gadis yang ku kenal dan yang pernah ku kencani hanya kau yang sanggup membuat jantung ku berdetak sangat kencang, kau satu-satunya gadis yang membuat darahku mengalir sepuluh kali lebih cepat saat memangku mu seperti ini." Celoteh ku sambil menempelkan dahiku di dahi mulus Sabina. Tidak ada balasan darinya selain suara deru nafasnya yang mulai tak beraturan, kami sangat dekat. Sangat dekat sampai bisa mendengar degup jantung masing-masing.
Aku tidak membual, aku juga tidak sedang bersendiwara, semua yang ku katakan murni datang dari lubuk hati terdalam ku. Melihatmu bahagia rasanya seluruh dunia milikku, dan melihatmu bersedih seolah dunia ku telah runtuh.
Tetaplah bahagia sayang ku, karena bahagia ku terletak dalam bahagia mu, dan dukaku terletak dalam dukamu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu melebihi nyawaku sendiri!" Ucapku panjang kali lebar.
Tanpa ku sangka dan tanpa ku duga Sabina mendaratkan kecupan singkatnya di bibirku, aku merasakan sekujur tubuh ku panas dingin akibat perlakuan manisnya. Dan bukannya memperdalam ciumannya, dia malah kembali menempelkan dahi mulusnya di dahiku, pelukannya pun semakin erat di tubuh kekarku.
"Terima kasih untuk cinta yang kau berikan, cintamu sebening embun di pagi hari dan cahaya cinta mu menghangakan lubuk hati terdalamku. Aku berjanji padamu akan setia sampai nafas terakhir ku, I love you suami ku!" Ucap Sabina dengan suara pelan.
Aku menggenggam jemari lentik Sabina kemudian memakaikan cincin bertahtakan berlian dengan motip bunga mawar merah yang sengaja ku rancang menurut kesukaan Sabina. Cincinnya terlihat berkilau di terpa cahaya lilin yang bersumber dari nakas dekat sofa tempat kami duduk.
"Cincin Berlian? Untuk apa semua ini? Aku tidak membutuhkannya, yang ku butuhkan adalah cintamu, kesetiaan, dan juga kepercayaan darimu."
"Kau tidak membutuhkan ini, tapi aku yang membutuhkannya, aku butuh ini untuk mengikatmu dalam cintaku, aku juga butuh ini sebagai tanda kalau kau satu-satunya wanita terspesial dalam hidupku." Balasku tanpa ada kebohongan di dalamnya.
Muacchh.
Sabina kembali mendaratkan kecupan singkatnya, kali ini di kelopak mata kiri dan kanan ku.
"Aku memberikan tanda disini agar kau tidak menatap wanita lain selain diriku."
Jujur, aku tersenyum sangat lebar. Mendapat perlakuan manis dari Sabina membuat ku seolah berada di taman Surga.
Muacchh!
"Aku juga memberikan tanda disini, aku ingin mengabarkan pada dunia bahwa kau hanya milikku dan tidak ada yang boleh mengambilmu dariku." Sambung Sabina lagi setelah melayangkan kecupan singkatnya di bibirku, kecupan singkat untuk kedua kalinya.
"Kau sangat nakal, kenapa mencium ku jika hanya sebatas embusan angin? Aku ingin kita melakukannya lebih dalam lagi sehingga seluruh dunia akan merasakan iri terhadap keintiman kita." Celotehku saat Sabina menutupi bibirnya dari terkamanku.
"Mas Araf mulai nakal, mungkin karena alasan ini kak Alan menolak menjadikan mu adik iparnya. Sekarang katakan, berapa banyak gadis yang sudah kau tandai dengan bibir seksimu ini? Katakan, karena aku ingin mengetahuinya?" Ujar Sabina sambil memainkan jemari lentiknya di bibirku.
Pertanyaan Sabina tiba-tiba mengubah suasana hatiku, suasana yang tadinya romantis berubah menjadi sedikit tegang. Jawaban apa yang harus ku berikan? Aku tahu jawabannya, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Jika aku mengatakannya, sudah di pastikan Sabina akan memandangku sebagai pria mesum.
Rasanya aku ingin pingsan, aku tidak bisa menatap netra teduh Sabina. Pertanyaan yang ia lontarkan seolah menuntutku untuk segera memberikan jawaban. Disaat seperti ini aku juga berharap pagi akan segera datang.
Akhirnya rayuan malamku berubah menjadi masalah untukku. Akankah aku bisa melunakkan hati Sabina lagi? Hati gadis polos ku akan terluka jika dia sampai mendengar jawabanku. Sabina ku ngambek? Aku tidak bisa melihatnya kesal dan bersedih. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap Sabina yang mulai melepaskan pelukannya dan beranjak bangun dari pangkuan ku.
...***...