
Netra indah ku menatap kedepan, mengunci pada satu sosok. Sosok rupawan yang saat ini masih berdiri di depan kelas. Aku tidak pernah menyangka kami akan bertemu dalam status berbeda, maksud ku menjadi Dosen dan mahasiswi. Aku tidak pernah membayangkan itu sebelumnya, dan mungkin tidak akan pernah.
Tadinya aku ingin mengalihkan tatapan ku dari wajah tampannya namun dia sudah terlanjur melihat ku, dan hal ini tentu saja tidak mungkin bisa di hindari. Sosok rupawan itu menatapku, untuk sesaat kami saling beradu pandang, aku tahu sebenarnya dia senang bertemu dengan ku, aku bisa melihat itu dari senyuman tipis yang ia pamerkan.
"Apa kau mengenalnya? Kenapa dia melihatmu kemudian tersenyum? Apa dia mantan kekasih mu? Kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau punya mantan seindah dirinya?" Ucap Kristi nyerocos seperti kereta cepat.
"Jika aku mengenalnya lebih awal aku pasti akan merebutnya darimu!" Sambung Adel sambil berbisik.
Aku memiliki dua sahabat akrab, diantara keduanya tidak ada yang bisa berpikir jernih, harus ku apakan kedua anak ini agar ucapan mereka tidak mudah meledak seperti mercon.
"Selamat pagi semuanya... Tanpa perlu memperkenalkan diri, kalian pasti sudah tahu bahwa aku Profesor baru yang menggantikan posisi Pak Damar." Ucap sosok indah yang berdiri di depan kelas, netranya menerawang kesegala arah yang ada di ruang kelas. Dia menatap semua orang entah laki-laki atau perempuan, berbeda dengan Dosen mesum sekelas Pak Damar, dia hanya melirik perempuan tanpa menghiraukan kehadiran mahasiswa laki-laki yang ada di kelas kami.
"Namaku Ikmal, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mengajari kalian. Dalam kelas ku, ada beberapa hal yang harus kalian ikuti dan tidak boleh kalian abaikan.
Aku tipikal pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Aku tidak suka ada yang terlambat, aku juga tidak suka meladeni omong-kosong.
Satu lagi yang paling penting, aku tidak akan membedakan laki-laki dan perempuan, kewajiban kalian sama dan cara ku memperlakukan kalian juga sama, untuk urusan nilai aku orang yang ketat. Dalam kamus ku, jika kalian gagal maka kalian tetap gagal. Tidak ada proses suap menyuap. Apa ada yang ingin bertanya? Atau diantara kalian ada yang keberatan dengan aturan ku?"
Glekkk!
Aku langsung menelan saliva mendengar tutur kata Mas Ikmal, dia sangat berkarisma. Ucapannya tegas, kalimatnya jelas, dia juga tidak bertele-tele. Entah mimpi apa aku semalam sampai Mas Ikmal menjelma menjadi Profesor baru di dalam kelas ku. Terakhir kali aku bertemu dengannya di rumah kak Alan, dia bahkan tidak mengatakan apa pun. Aku ingat, saat itu Mas Araf bahkan di liputi perasaan cemburu padanya.
Aku benar-benar bingung, entah apa komentar Mas Araf jika dia tahu Mas Ikmal adalah Profesor baru di kampus ku? Semoga saja dia tidak marah karena ini memang bukan kuasa ku untuk mengusir Mas Ikmal.
"Pak, aku ingin bertanya?"
Netraku langsung membulat mendengar ucapan Adel dan Kristi yang hampir berbarengan. Karena Adel yang lebih dulu mengangkat tangan maka Kristi terpaksa harus mengalah.
"Tanyakan apa pun yang ingin kau tanyakan. Tapi ingat, aku tidak meladeni pertanyaan yang berada di luar konsep pelajaran kita."
Untuk sesaat aku langsung tersenyum penuh kemenangan, aku merunduk sambil menutup bibir dengan tangan kanan ku. Jika di lihat dengan sak sama, aku yakin seratus persen Adel pasti ingin menanyakan apa Mas Ikmal sudah menikah atau belum.
"Apa bapak sudah menikah? Jika belum, apa aku boleh mendaftar di urutan pertama?" Adel bertanya dengan suara genitnya.
"Bapak terlalu tampan sebagai seorang manusia, rasanya aku ingin mendaftar jadi Bidadari saja. Jika bapak terlalu jauh untuk bisa di raih maka aku akan mengadu pada Tuhan, memintanya memberiku sayap agar aku bisa terbang bersama mu. Hanya bersama mu!" Kali ini giliran Kristi yang bertingkah sok manis.
Aku hanya bisa tersenyum sambil mengelus dada, aku sangat malu sampai tidak bisa menatap Mas Ikmal. Dua sahabat baikku mencari perhatian padanya. Dan yang lebih menyedihkan, Mas Ikmal bahkan tidak tergoda untuk menanggapi kekonyolan kami semua. Bukan hanya Adel dan Kristi saja yang bertingkah gombal, semua wanita di kelas ku pun melakukan hal yang sama, kecuali aku.
Sabina, apa yang akan kau katakan pada Mas Ikmal saat bertemu nanti? Kau dalam masalah besar! Aku bergumam di dalam hati sambil menatap kedepan.
...***...
Di rumah sakit, pagi ini aku di kejutkan oleh Mama Nani dan Papa Otis. Mereka berlari dengan perasaan was-was. Entah masalah apa yang membuat mereka ketakutan. Dan anehnya, di balik rasa takut yang terpancar dari wajah mereka, aku melihat beribu-ribu kebahagiaan di netra teduhnya.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Balas Mama Nani dan Papa Otis berbarengan.
"Apa ada masalah? Kenapa Mama dan Papa terlihat panik? Katakan padaku, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu!" Ujarku sambil menatap Mama Nani dan Papa Otis dengan perasaan was-was.
"Tidak ada masalah, nak Araf. Kami datang kemari karena Art di rumah Alan memberi kabar Fatimah di larikan kerumah sakit."
"Apa? Kapan, Ma?"
"Pagi ini, nak."
"Dimana Alan? Aku tidak melihatnya."
"Alan dalam perjalanan. Sebentar lagi dia sampai." Balas Mama Nani lagi.
"Apa kakak ipar baik-baik saja?"
Belum sempat Mama Nani menjawab pertanyaan ku, seorang perawat berjalan kearah kami sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku harap dia membawa kabar bahagia.
"Dengan keluarga Ibu Fatimah?"
"Iya Sus, saya Mamanya dan ini Suami saya." Jawab Mama Nani sambil memegang lengan kekar Papa Otis.
"Selamat Tuan dan Nyonya. Putri kalian, maksud saya Nyonya Fatimah, beliau melahirkan anak yang sehat berjenis kelamin Laki-laki. Kalian boleh menemuinya." Ucap suster itu sambil tersenyum, sedetik kemudian dia pergi meninggalkan kami bertiga.
"Selamat, Ma, Pa. Kalian jadi Oma dan Opa lagi." Ucapku sambil memeluk Papa Otis.
"Selamat untuk mu juga, Nak. Kau jadi paman lagi. Sekarang Mama tinggal menanti kabar baik dari mu dan Sabina!" Ucap Mama Nani sambil memeluk ku.
Kabar baik dariku dan Sabina! Aku merasa bahagia mendengar ucapan Mama Nani, aku juga berharap itu segera terjadi. Entah kapan berita baik itu akan menghampiri ku.
"Ma, Pa. Araf permisi sebentar, Araf mau menghubungi Sabina dan memintanya segera kerumah sakit begitu mata kuliahnya selesai."
"Pergilah, Nak. Mama yakin Sabina akan bahagia mendengarnya."
Tak butuh waktu lama, begitu aku sampai di kantorku, aku langsung meraih ponsel yang ku letakkan di laci meja kerja kemudian menekan nomor ponsel Sabina, berusaha memberi kabar bahagia hanya untuknya.
Sejujurnya aku sangat merindukan Sabina. Memberi kabar bahagia, itu hanya alasan saja. Bagaimanapun, aku sangat berterima kasih pada Allah untuk moment ini, setidaknya Sabina akan datang dan menemuiku di tempat kerja ku untuk pertama kalinya, membawanya kekantor dan mengajaknya menikmati Kopi hangat. Walau untuk sesaat, aku ingin moment ini tak kan terlupakan bagi kami berdua.
...***...