
Kepala ku masih terasa sakit. Berkat perlakuan lembut Mas Araf, sebesar apa pun rasa sakit itu aku pasti bisa menanganinya tanpa keluhan. Suamiku memang seperti itu, dia sangat lembut dan baik hati.
Terkadang kesalah pahaman datang tanpa di undang. Jika sudah seperti itu, hal yang bisa ku lakukan hanya mengalah sambil berusaha memperbaiki keadaan agar semuanya tidak memburuk. Pernikahan adalah ikatan yang kuat, kami di persatukan dan di ikat dengan ikatan yang kuat sehingga sebesar apa pun badai yang datang aku akan tetap bertahan, bertahan dalam kesetiaan.
"Terima kasih untuk kebahagiaan ini. Dan terima kasih sudah datang ke dalam hidupku!"
"Mas Araf, berhentilah!" Ucap ku dengan penuh penekanan.
"Berhentilah mengucapkan terima kasih. Aku bahagia, dan kita berdua sama-sama bahagia. Maka itu sudah cukup untuk ku.
Sekarang aku malah membayangkan Mama dan Papa, aku tidak sabar memberitahukan kabar bahagia ini." Ucap ku lagi sambil mencubit hidung bangir Mas Araf. Sedetik kemudian aku kembali memperbaiki posisi dudukku, di bantu Mas Araf yang saat ini memegang pundakku dengan kedua tangannya.
"Bagaimana sekarang? Apa kau sudah merasa baikan?"
"Mmm!" Ujarku singkat sambil menganggukkan kepala. Aku tenggelam dalam pelukan Mas Araf.
"Sayang apa kau..."
Gdebukkk!
Kepalaku dan kepala keras Mas Araf saling berbenturan. Tanpa pemberitahuan, Mama Nani dan Mama Riska masuk kedalam ruang inapku.
Mama Nani membawa buket bunga, sementara Mama Riska membawa buah segar. Senyuman kedua wanita hebat itu menjelaskan segalanya kalau mereka sudah mengetahui segalanya, maksudku tentang kehamilanku.
"Sabina, sayang. Terima kasih. Hiks.Hiks!" Ucap Mama Riska sambil menangis.
Aku tahu Mama mertuaku sangat bahagia, karena itu aku hanya bisa diam sambil mengelus pundaknya dengan lembut.
"Sayang, apa kau tahu? Kau memberikan kami kabar yang sangat luar biasa. Tetap bahagia." Kali ini Mama Nani yang berucap, sedetik kemudian beliau mulai mencium keningku.
Di belakang Mama, berdiri Morgiana dengan wajah kesalnya. Entah apa yang dipirkan gadis anggun itu? Dia bahkan tidak menyapaku. Walau demikian aku hanya bisa tersenyum tipis menyambut kedatangannya. Aku tidak ingin Mama berpikir kami tidak dekat kemudian beliau akan mulai marah-marah.
"Hay Gi, apa kabar?" Ucap ku basa-basi.
"Baik. Kau sendiri bagaimana?" Balas Morgiana masih dengan senyum yang di paksakan. Sedetik kemudian ia menatap wajah tersenyum Mas Araf yang duduk di samping kanan ku.
"Hay, Raf. Apa kau bahagia?"
"Iya. Sangat. Sangat bahagia." Balas Mas Araf sambil merangkul tubuh lemah ku."
Morgiana yang malang! Bagaimana caraku menyadarkannya? Hidup yang ia jalani dulu dan saat ini berbeda. Sangat berbeda sampai ia tidak akan bisa untuk menggenggamnya lagi. Ayo Sabina, Gunakan otak cerdasmu. Pikirkan sesuatu, sesuatu yang akan membuat kalian bahagia tanpa perlu menyakiti siapa pun! Batin ku sambil menatap wajah bahagia Mama Nani dan Mama Riska.
"Araf, sayang. Bagaimana kalau kita merayakan pesta sekaligus mengumumkan pada semua orang kalau kau dan Sabina akan menjadi orang tua?"
"Mam. Ini masih terlalu dini. Biarkan Sabina istirahat dulu, jika nanti perutnya sudah mulai membesar baru kita umumkan pada semua orang! Apa Mama keberatan?"
Mama Riska terlihat kecewa, wajah yang tadinya memamerkan senyum kebahagiaan kini hanya memancarkan ketidak setujuan. Tidak setuju dengan pendapat putranya.
"Araf, biarkan Mama mu melakukan apa pun yang di inginkan hatinya! Jangan mencegahnya. Ini cucu pertamanya dan beliau berhak bahagia." Mama yang duduk di sofa berjalan mendekati ranjang pasien yang ku tempati sejak lima jam yang lalu.
"Mas... Apa yang Mama ucapkan itu benar. Biarkan Mama melakukan apa pun yang beliau inginkan. Mungkin dengan melakukan ini Mama akan merasa semakin bahagia. Aku tidak akan mencegah Mama melakukannya, selama hal itu membuat Mama bahagia. Mas Araf sayang pada Sabina, kan? Maka biarkan semuanya berjalan sesuai keinginan Mama!" Ucapku merayu Mas Araf. Tidak ada bantahan darinya selain anggukan kepala pelan.
Tanpa menghiraukan semua orang, Mas Araf kembali mencium puncak kepalaku. Aku tersenyum, Mas Araf tersenyum, dan kedua orang tua kami juga tersenyum. Kecuali satu orang, Morgiana.
Tok.Tok.Tok.
"Selamat sore dokter, maaf mengganggu. Ada masalah darurat di Ruang ICU. Dokter Parmes meminta anda agar segera datang."
Dua jam yang lalu, Suster itu datang membawa makanan untuk ku dengan wajah yang memamerkan senyuman, kini dia datang dengan membawa beban. Dia terlihat takut. Entah masalah apa yang terjadi di Ruang ICU. Semoga saja itu tidak membawa dampak buruk bagi semua orang.
"Ma. Araf akan pergi sebentar, tetap disini."
"Hati-hati sayang." Balas Mama Nani dan Mama Riska bersamaan.
Dret.Dret.Dret.
Setelah Mas Araf pergi, di saat Mama Nani dan Mama Riska membahas masalah pesta, tiba-tiba ponsel yang ku letakkan di atas nakas bergetar. Ku tatap layar ponsel itu dengan tatapan heran. Dengan jelas aku melihat nama Morgiana terpampang disana, sosok yang mengirim pesan padaku.
Ada apa dengannya? Dia ada disini kenapa malah mengirim pesan? Tak bisakah dia bicara secara langsung? Aku bergumam sambil menatap wajah cemas Morgiana. Pelan aku membuka pesan yang dia kirimkan untukku, hanya satu kata.
Atap!
Apa Morgiana ingin bicara dengan ku di atap? Tentang apa? Apa aku harus pergi? Atau aku biarkan saja tanpa menghiraukannya? Aku kembali bergumam sembari menatap tubuh ramping Morgiana yang mulai meninggalkan ruang inapku.
...***...
Butuh waktu sepuluh menit agar aku bisa sampai di atap seperti keinginan Morgiana. Entah apa yang akan di bicarakan gadis aneh itu? Semoga saja ini hal yang penting. Jika tidak, aku pasti akan marah padanya.
"Hay Bi... Aku pikir kau tidak akan datang?"
"Kau memintaku, maka aku datang." Balasku sambil melipat kedua lengan di depan dada. Angin di atap lumayan kencang, pasmina yang ku gunakan bahkan tidak bisa diam sampai aku terpaksa mengikatnya. Sama dengan Morgiana, rambut lurusnya pun menutupi sebagian wajah cantiknya sampai ia memutuskan untuk mengikatnya dengan ikat rambut yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kau mungkin bertanya-tanya kenapa aku memanggilmu kesini? Aku ingin menceritakan kisah cinta tulus seorang gadis cantik dan pria tampan." Ucap Morgiana di antara senyapnya udara.
Hhmm!
Aku menghela nafas kasar. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung.
"Dahulu ada seorang gadis yang sangat mencintai kekasihnya. Di kampus, mereka benar-benar tidak bisa di pisahkan.
Kau tahu, Bi? Semua orang sangat iri pada pasangan itu. Tak sedetik pun pasangan itu bisa hidup tanpa saling melihat satu sama lain. Hubungan sepasang kekasih itu semakin hari semakin erat saja, mereka bahkan tidak malu-malu lagi untuk mengumbar kemesraan mereka di depan publik." Ucap Morgiana dengan mata berkaca-kaca.
"Sampai akhirnya pasangan kekasih itu..."
"Aku tahu, jadi jangan di teruskan." Ucap ku sambil menatap Morgiana dengan tatapan penuh pengharapan, berharap agar Morgiana tidak lagi menyimpan cinta untuk dia yang sudah sangat jauh darinya.
...***...