
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh sepasang manusia yang sebentar lagi akan menyandang status berbeda.
Ya, tepat hari ini menepati seminggu usia kelahiran baby D, Ana dan Dave akan melangsungkan pernikahan.
Semua persiapan sudah 99% selesai, tinggal menunggu pendeta untuk menikahkan dua mempelai itu.
Dan ... saat yang ditunggu-tunggu tiba. Ana dan Dave sudah masuk ke mimbar lalu tak lama setelah nya sang pendeta mengucapkan ikrar suci lalu diikuti Dave dan Ana saling mengucapkan janji pernikahan.
Semua orang bersorak gembira serta bertepuk tangan saat Dave mencium Ana di depan banyak nya tamu undangan. Mereka ikut bahagia melihat betapa romantisnya sepasang suami istri itu.
Di tengah kebahagiaan orang-orang menyambut pernikahan Ana dan Dave, ada seseorang yang merasakan sakit nya hati ini saat orang yang begitu dicintai sebentar lagi akan menjadi kakak ipar.
Tak ada yang mengetahui kesedihan nya, tak ada yang mengetahui betapa besar nya rasa cinta Vio terhadap Ana, hingga dia rela melepaskan orang yang di cintai untuk mengejar kebahagiaan.
"Selamat, Dave. Selamat, Ana. Kalian sudah menjadi sepasang suami-istri. Semoga tuhan memberkati kalian, bahagia selamanya dan tetaplah bersama hingga maut memisahkan kalian." Pesan yang di lontarkan Davio saat menjabat tangan sang kakak kembarnya untuk memberi selamat keduanya.
Dave bukan nya tak mengerti kesedihan yang tercetak di raut wajah sang adik, tapi apa mau dikata. Dia pun tak mungkin melepaskan orang yang dicintai nya untuk adiknya. Dave masih bersikap biasa seolah tak ada apapun yang dirasakan adik nya.
"Terimakasih, Aku harap sebentar lagi kau bisa menemukan seseorang yang bisa mendampingi mu dan menyusul kami." Dalam hati Dave berdoa untuk kebahagiaan sang adik. Dia berharap Davio akan segera menemukan pengganti Ana.
"Aku tidak berani berharap sejauh itu bro." Kata nya dengan tawa hambar tercetak di senyum wajah itu. Senyum yang penuh luka, dan semua itu tak lepas dari pantauan Dave maupun Ana. Meski dia pura-pura biasa saja, nyata nya kesedihan itu tetap terlihat jelas di wajah tampan Davio.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Ana yang sedari tadi diam kini ikut menimpali. "kau tampan, Vio. Kau juga memiliki segalanya, kecerdasan, harta, dan pangkat. Tidak ada wanita yang dapat menolak pesona mu. Kau harus yakin kau akan mendapatkan yang kau inginkan."
"Tapi kau tak bisa ku dapatkan, Ana. Kau menolak ku, kau menolak pesona yang ku miliki." Tentu saja kata-kata itu hanya mampu Davio ucapkan dalam hati sembari menatap lekat wajah cantik wanita yang dicintainya dan kini semakin cantik dengan riasan wajah penuh dan balutan gaun pengantin yang memanjang hingga mata kaki tak terlihat sedang bagian atas nya terbuka, sangat cantik!
Ehmm!
Dave berdehem keras saat melihat tatapan Davio tak kunjung dialihkan setelah menatap Ana. Tentu saja dia tak rela istri nya dipandang orang lain terlalu lama seperti ini. Terlebih orang yang menatap nya juga mencintai istrinya.
"Jaga mata mu, Vio." Dave berkata dingin sembari menarik pinggang istrinya hingga tak ada jarak di antara kedua nya.
Vio yang menyadari Dave sedang cemburu hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum melihat ke posesif an Dave. Kini dia yakin Dave benar-benar bisa membahagiakan nya. Dan dia bisa melepaskan Ana dengan lega tanpa takut dia tak bahagia.
Dan setelah perbincangan mereka selesai, kini gantian orang lain dan tamu undangan memberi selamat kepadanya mereka hingga malam hari.
Kaki Ana sudah tak tahan menopang tubuh nya setelah seharian ini berdiri menyambut orang-orang memberi selamat.
Dave yang melihat nya pun menjadi kasihan dan berinisiatif meminta izin papi nya untuk meninggalkan aula lebih dulu. Setelah diperbolehkan meninggalkan ballroom, Dave langsung menggendong Ana memuji kamar ala bridal hingga terdengar suara riuh di sana.
Mereka mengatakan Dave sudah tak tahan ingin melakukan malam pertama, padahal ini bukan lagu malam pertama tetapi malam ketiga yang sudah bisa di pastikan tak akan dilakukan sekarang karena Ana masih dalam masa nifas.
"Hubby, malu." Ana menelusup kan wajah nya di dada bidang Dave. Dia malu melihat para tamu yang sedang menatap ke arah mereka.
"Kenapa masih malu, hm? Bahkan sudah ada Baby D di antara kita,"
"Issh ... Aku bukan malu karena itu ... tapi malu dilihat orang-orang." Kesal nya. Karena pikiran Dave hanya tertuju pada kegiatan yang satu itu.
Dan Dave hanya terkekeh mendengar gerutuan sang istri.
"Iya, istri ... Jangan cemberut ya ... kita awali hari baru kita penuh kebahagiaan."' Kata nya. Sengaja memanggil Ana dengan sebutan istri karena menurut nya lucu.
"Kok istri?"
"Karena kau memang istri ku. Dan mulai sekarang, aku akan memanggil mu dengan sebutan istri."
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan kamar pengantin yang sudah di sediakan pihak hotel.
Dave membuka nya perlahan laku membaringkan Ana di atas kasur yang dihiasi kelopak bunga mawar membentuk hati dengan penuh kelembutan. Lalu dengan telaten membuka high heels yang sejak pagi di pakai.
"Biar aku sendiri." Ana mencegah saat Dave akan membuka sepatu nya. Dia merasa tak enak karena seharusnya istri yang membantu suami bukan sebaliknya.
Sebelum Dave membuka resleting, lebih dulu dia mengecup punggung Ana yang terekspos lalu beralih ke tengkuk nya hingga menimbulkan sensasi geli.
"Hubby tahu kan kalau kita belum bisa ..." Ana tak menyelesaikan ucapannya karena bibir nya lebih dulu di bungkam oleh bivur Dave.
"Aku tahu, sayang. Kita belum bisa membuat adik untuk baby D. Tapi biarkan seperti ini, aku merindukan nya."
Suara Dave sudah berubah serak, bibir nya terus menjelajah ke seluruh permukaan kulit wanita nya.
Andai Ana tak melihat bagaimana bernaf su nya Dave kali ini, mungkin dia akan kesal mendengar Dave ingin memberikan adik untuk baby D sedang baby D saja baru berusia satu minggu.
"Sayang ...,"
Ana menganggukkan kepala saat tatapan Dave begitu memohon meminta izin untuk menikmati bagian yang menjadi favorit nya ini, meski saat ini masih harus berbagi dengan putra nya.
Dan tanpa basa-basi Dave langsung melahap habis aset berharga dari istri nya. Dia begitu merindukan kegiatan ini, dan begitu mendamba nya.
Ana pun memaklumi keinginan Dave karena dia tahu kebutuhan nya sebagai laki-laki dewasa yang pasti menginginkan lebih dari ini tetapi belum bisa dia penuhi karena keadaan.
"Terimakasih, sayang. Sudah menjadi bagian dari hidup ku. Terimakasih sudah memberi kebahagiaan yang teramat dalam hidup." Ucapnya setelah melepaskan bibir nya dari aset berharga sang istri dan beralih mencium kening sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.
"Terimakasih juga sudah membalas cinta ku, manusia kulkas." Ana tersenyum jahil menatap nya.
"Kau mengatai ku apa, hm?" Dave pura-pura memasang wajah garang, menatap sang istri dengan tatapan maut nya.
Ditatap seperti itu membuat Ana takut, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menghindar dari tatapan itu.
"Katakan, kau mengatakan apa tadi?"
"Tidak ada," Sahut nya.
"Jangan bohong."
"Aku hanya bilang aku mencintaimu." Ucapnya berbohong.
"Benarkah? Tapi aku tidak mendengar nya. Ulangi!"
"Mr. Dave, I Love You!" Ucap nya spontan. "apa itu cukup?" Tanya nya jengkel.
"Kurang keras, sayang. Aku ingin kau mengatakan nya dengan keras."
Ana hanya mendengus tetapi tak menolak permintaan sang suami. Lalu dia menarik nafas dalam-dalam dan berteriak tepat di telinga Dave. "MR. DAVE ...! I LOVE YOU..!"
"Astaga, sayang. Kenapa kau menyakiti telinga ku." Gerutu nya sembari mengusap-usap telinga nya. "kau harus di hukum karena telah membuat telinga suami mu sakit." Lalu tanpa aba-aba dia menyerang tubuh Ana hingga tubuh nya menindih tubuh sang istri.
Dan akhirnya mereka melanjutkan permainan nya tanpa melakukan penyatuan.
...❤️💛💙...
...ENDING...
Terimakasih kepada teman-teman yang sudah mengikhlaskan cerita ku sampai disini. Untuk cerita Ana selanjutnya akan ada di Mr. Dave I Love You! season 2.
Di sana bukan hanya menceritakan kisah rumah tangga Ana dan Dave, tetapi juga menceritakan kisah Davio yang mencari cinta sejatinya.
Tunggu kisahnya ya ...
Papayyy👋🤗❤️🙏