
Pagi ini Ana kembali bersiap seperti biasa nya. Meski hati nya hancur, pikiran nya kacau, badan nya lelah dan tak semangat menjalani hari-hari, tapi dunia nya belum usai.
Ana harus bisa menghadapi nya demi kebahagiaan orang di sekitar. Ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan yang nanti pasti akan semakin membuat nya terpuruk dan menjadi sumber kesedihan daddy dan mommy nya.
Ia menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskan nya secara perlahan. Meski berusaha tegar, nyata nya hati nya tak sekuat itu.
Rasa sakit serta denyutan nyeri dalam dada masih terus ia rasakan. Air mata nya tak berhenti keluar hingga membuat kepala nya pusing.
Mata nya terlihat sembab, tapi sebisa mungkin ia harus menyembunyikan nya dari kedua orang tua nya.
Tak ingin membuat Daddy dan mommy curiga, Ana keluar kamar menggunakan stelan baju kerja lengkap dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung nya untuk menutupi mata sembab nya.
"Kamu kuat Ana." Ana menyemangati diri nya sendiri setelah berada di depan pintu luar kamar.
Perlahan ia menyusuri anak tangga, dari kejauhan ia bisa melihat daddy dan mommy nya menunggu di meja makan.
Ana memejamkan mata sejenak, lalu memaksakan bibir nya untuk tersenyum.
Ia tak ingin Daddy dan mommy nya tahu permasalahan nya kali ini.
Dengan elegan ia meneruskan langkah menyusuri anak tangga dengan bibir tersenyum seperti biasa.
"Pagi mom, pagi dad." Sapa Ana setelah di dekat meja makan. Lalu ia mencium pipi mommy serta daddy nya secara bergantian.
"Dad, mom. Sorry Ana nggak bisa ikut sarapan kalian, kebetulan pagi ini ada temen kampus Ana yang ingin bertemu di taman. Jadi Ana langsung pamit aja ya ..."
Pamit Ana setelah mencium pipi kedua orang tua nya.
"Loh, kenapa buru-buru sekali, sayang. Bukan kah Dave akan menjemput mu?" Tanya mommy. Karena memang biasa nya Dave yang menghampiri nya sebelum berangkat ke kantor.
"No, mom. Ana ada janji penting sama teman. Nanti kalau Dave kesini bilang aja Ana berangkat dulu."
"Terus kamu naik apa berangkat nya?" Tanya dad Alex sembari memasukkan roti ke dalam mulut.
"Ana bawa mobil sendiri, dah ya ... Ana pergi dulu, bye ..." Ana buru-buru pamit karena tak ingin orang tua nya curiga.
Bahkan Daddy dan mommy nya belum sempat mengizinkan anak nya pergi, Ana sudah lebih dulu berlalu dari hadapan mereka.
"Sorry dad, mom. Ana terpaksa berbohong." Gumam Ana dalam hati.
Untuk pertama kali nya Ana berbohong pada Daddy dan mommy demi kebaikan bersama.
Ana memang sengaja berbohong karena tak ingin mata sembab nya di ketahui Dady dan mommy.
Tidak mungkin juga dia makan sambil menggunakan kaca mata hitam nya, karena itu pasti akan semakin membuat orang tua nya bertanya-tanya atau bahkan mungkin di tertawakan karena tingkah konyol nya.
Bukan hanya itu, sebenar nya Ana memang pergi lebih dulu untuk menghindari Dave.
Ia juga ingin menjaga jarak dari Dave agar tak semakin membuat hati nya hancur.
Mulai sekarang ia harus terbiasa melakukan apapun sendiri, tidak ingin bergantung terlalu banyak pada Dave. Terlebih laki-laki itu kini sudah ada yang memiliki nya.
Tak lama kemudian setelah Ana berlalu meninggalkan pekarangan mansion, mobil Dave sampai di depan mansion.
Dengan cekatan ia mematikan mesin lalu masuk ke dalam mansion setelah di persilahkan masuk.
"Om, Tante." Sapa Dave sembari mencium tangan kedua orang itu.
"Di mana Ana?" Tanya Dave setelah selesai mencium tangan dua orang itu, ia melihat ke seluruh ruangan tidak mendapati Ana di sana.
Padahal biasanya Ana sudah menunggu nya di ruang tamu, atau kalau tidak pasti sedang di ruang makan.
"Mengabari apa ya, om?" Dave balik bertanya karena memang ia tidak mendapati satu pesan pun dari Ana setelah kejadian kemarin.
Padahal biasa nya anak selalu mengiringi nya pesan di setiap waktu, bahkan hampir setiap menit nya Dave mendapatkan pesan dari gadis cerewet nya. Yang hanya akan di baca tanpa berniat membalas nya.
"Ana berangkat dulu karena ada janji dengan teman kampus nya di taman dekat kantor." Jelas Daddy Alex.
Dave masih berdiam diri di tempat, merasa bingung sendiri dengan Ana.
Biasa nya sebelum Dave berangkat, Ana lebih dulu mengabari nya agar jangan lupa sarapan, hati-hati di jalan, jangan ngebut, aku sudah menunggu mu.
Atau tidak jarang pula dia memberikan gambar hasil foto selvi nya untuk penampilan yang di pakai nya.
Kemudian Dave di minta memberi komentar tentang penampilan nya, apakah ini bagus, Dave? Apakah ini jelek, Dave? Apakah ini pas di tubuh ku? Apakah ini cocok? Apakah aku cantik? dan pertanyaan-pertanyaan apakah yang lain.
Terkadang Dave sampai pusing sendiri mendapat kan pesan konyol itu.
Tapi entah mengapa saat ia tidak mendapatkan pesan lagi dari gadis nya yang cerewet, Dave merasa ada yang kurang.
Hidup nya terasa hampa, tidak ada lagi perihal yang membuat nya kesal, tidak ada lagi sebab yang membuat nya tertawa, tidak ada lagi hal yang membuat nya semangat bekerja.
"Kalau begitu saya berangkat dulu, om, Tante." Pamit Aldi sembari membungkuk hormat.
Setelah orang tua Ana mengizinkan nya, Dave buru-buru keluar. Ia ingin mencari keberadaan Ana saat ini.
Aldi menancapkan gas nya, ia berlalu dari mansion dengan kecepatan penuh.
Ia ingin segera menemui Ana dan memarahi nya karena telah berani meninggalkan nya.
Terlebih dia tidak mengabari untuk berangkat lebih dulu.
Sepanjang perjalanan Dave merasa kesal karena Ana tidak menunggu nya. Ia merasa di acuhkan.
Ternyata seperti ini rasa nya di abaikan. Padahal biasa nya Dave sendiri yang selalu mengabaikan Ana, tapi saat diri nya sendiri yang di abaikan rasa nya sangat tidak enak.
Berkali-kali Dave membanting stir mobil saat mendapati jalanan macet sehingga ia harus menghentikan mobil nya.
"Shiitt." Umpat nya kesal sembari menggebrak stir mobil nya saat melihat jam di pergelangan tangan nya hampir pukul setengah delapan.
Itu artinya dia terjebak macet hampir seperempat jam. Memang biasa nya juga macet, tapi kali ini rasa nya berbeda.
Dave rasa nya ingin marah-marah tapi tidak tahu ingin marah kepada siapa. Yang jelas saat sampai di kantor, Dave akan meluapkan kemarahan nya pada Ana dan menghukum nya karena telah berani meninggalkan nya dan memilih berangkat sendiri.
Tak berselang lama akhirnya mobil nya kembali berjalan, dengan kecepatan penuh ia mengendarai mobil nya.
Tak sampai 7 menit, mobil itu sudah sampai di parkiran gedung perkantoran.
Tanpa banyak membuang waktu, Dave langsung keluar dan melemparkan kunci mobil nya pada satpam yang menjaga di sana.
Pak satpam merasa heran dengan tingkah Dave yang tidak biasa nya bersikap seperti itu.
Meski Dave orang nya kaku dan dingin, tapi tidak pernah bertingkah yang tidak sopan.
Saat ingin meminta tolong, Dave pasti mengatakan nya dengan baik-baik. Tapi tidak tahu kenapa pagi ini Dave berbeda dari biasa nya.
...💙💙💙...
...TBC...
See you next chapter 👋🙂