Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Berkelahi



Tanpa menanggapi kedatangan tamu yang menurut Dave asing, dia langsung membawa Ana ke dalam. Saat ingin menutup pintu, ternyata laki-laki ikut masuk. Membuat Dave geram, tetapi dia lebih memilih membiarkan saja karena tak ingin membuang-buang energi dengan mengeluarkan suara.


"Sayang, apanya yang sakit? Apa daerah inti mu masih sangat sakit? Akan ku pesan kan obat salep untuk mengurangi rasa sakit nya, kamu sabar ya?"


Dave menunjukkan rasa khawatirnya pada wanita nya, sedangkan Edo hanya bisa berjalan mengikuti mereka sembari mendengarkan pembicaraan Dave tanpa mengerti arti perkataan nya karena tidak memahami bahasa Indonesia.


Untuk percakapan selanjutnya menggunakan bahasa Inggris, tetapi karena author tidak paham bahasa Inggris, jadi tetap menggunakan bahasa Indonesia. But, anggaplah itu percakapan dalam bahasa Inggris wkwkw.


"Hei, baby girl. Apa yang terjadi dengan mu? Apanya yang sakit? Perut mu sakit? Atau bagian tubuh yang lain ada yang terluka? Kita ke dokter aja ya? Atau mau ku panggil kan dokter? atau ..."Edo memberondong dengan banyak pertanyaan tanpa menghiraukan Dave yang sedang menatap nya dengan tajam.


"Apakah laki-laki ini menyakiti mu?" Tatapan Edo menatap Dave penuh selidik, sedangkan Dave semakin menatap nya tajam dengan rahang yang sudah mengeras.


"Siapa kau?" Suara yang terdengar begitu dingin hingga membuat Ana merinding. Tetapi tidak dengan Edo, dia bahkan sedikit menaikkan satu sudut bibirnya dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya.


"Aku?" Tunjuk nya pada diri sendiri. "aku adalah orang pertama yang menemani my baby girl Cia disini. Oh, jangan lupakan aku adalah calon kekasih nya." Senyum sinis itu tak surut. Dia tetap menatap remeh Dave.


Sedangkan Dave semakin dibuat geram dengan tingkah laki-laki yang sok akrab dengan Ana, terlebih nama panggilan "Cia" lalu menyebut nya lagi dengan kata "baby girl" benar-benar membuat Dave sangat muak dan geli mendengar nya.


"Jelaskan! Siapa dia?" Dave kini berubah menatap Ana dengan tatapan sulit di artikan.


"Di-dia bukan siapa-siapa." Ana menjawab nya dengan sedikit terbata-bata karena takut melihat tatapan wajah Dave yang sangat tidak bersahabat.


"Jangan bohong." Kata-katanya mungkin terdengar sederhana, namun nada suara yang begitu dingin dan tatapan Dave yang begitu tajam membuat tubuh Ana bergetar karena takut. Dia merasa terintimidasi oleh manusia itu, padahal Ana memang tidak tahu siapa laki-laki itu.


"Sungguh, aku tidak tahu siapa dia. Hanya pernah bertemu saat aku datang kemari dan membantu ku membawa koper." Jelas Ana tanpa kebohongan. Ana yang sudah terlanjur takut, sampai meneteskan air mata.


"Hei, Apa yang kau katakan padanya? Kenapa Cia sampai menangis seperti ini?" Tangan Dave yang masih menyentuh lengan Ana tiba-tiba di sentak oleh laki-laki asing yang baru saja masuk.


Rahang Dave semakin mengeras, menatap nyalang pada laki-laki di sebelah nya. Demi apapun saat ini Ana benar-benar sangat takut.


"Da-dave ..."


Dave tak bergeming sedikitpun dengan panggilan lembut wanita nya. Dia masih menatap tajam laki-laki itu.


"Dave ... jangan marah." Nada suara Ana yang sudah bergetar karena tangis nya, kembali menyadarkan Dave. Akhirnya laki-laki itu tersadar bahwa dia sudah membuat takut wanita nya.


"Sebaiknya kamu ke kamar dulu." Tanpa meminta persetujuan, Dave menggendong Ana untuk membawa nya ke kamar.


"Hei, Cia mau dibawa kemana?!" Teriak Edo tak terima saat Ana di bawa masuk begitu saja. Padahal saat ini yang ingin dia temui adalah Ana sekaligus meminta penjelasan siapa laki-laki yang berada di apartemen nya.


Dave tak menghiraukan sama sekali pekikan laki-laki yang menurut nya tidak waras itu.


"Jangan coba-coba keluar atau akan menerima hukuman ku bila kau tetap nekad keluar!" Ancaman Dave benar-benar membuat nya semakin takut. Ana hanya bisa meringkuk di atas ranjang tanpa berani menatap Dave.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Dave kembali ke ruangan di mana di sana ada seorang laki-laki asing yang masuk ke apartemen Ana.


"Siapa kamu sebenarnya? Untuk apa kamu kesini?" Dave duduk di sofa dengan angkuh, menunjukkan sifat arrogant serta kepemimpinan nya pada laki-laki yang saat ini berada hadapan.


"Sudah ku bilang, aku ini calon kekasih nya. Kami sudah bertemu saat pertama kali Cia datang kemari.


"Jangan dekati dia lagi." Tegas Dave.


"Cih! memang nya siapa diri mu berani mengatur ku?"


Tatapan Edo benar-benar terlihat meremehkan Dave. Dan Dave semakin tak suka dengan sikap arogansi nya.


"Aku?" Dave menunjuk diri sendiri. "adalah calon suami nya. Sebentar lagi kami akan menikah! Jadi jangan coba-coba untuk mendekati nya atau aku akan buat perhitungan untuk mu." Ancaman Dave benar-benar tak membuat Edo takut sedikitpun. Tatapan nya justru sangat meremehkan Dave, seakan-akan dia lebih unggul dari nya.


"Coba saja kalau kau bisa?" Tantang Edo dengan senyum sinis nya. " tapi aku gak akan pernah menyerah mendekati Ana. Dia adalah wanita yang sudah berhasil membuat ku jatuh cinta, jadi mana mungkin aku menyerah hanya karena ancaman yang tidak seberapa?" Tantang Edo.


"Apa? apa kau saat ini ingin menghajar ku? Cih! Cara yang sangat kuno." Edo berdecih di depan Dave.


"Aku ingat kan sekali lagi, jangan coba-coba dekati kekasih ku!" Dave mencoba meredamkan emosi. Dia tak ingin terlalu terbawa omongan laki-laki itu.


"Itu urusan ku! Aku tidak akan menyerah sampai bisa mendapatkan nya. Meskipun Cia sudah memiliki kekasih atau tidak, aku tidak perduli."


"Dia sudah tidur dengan ku!"


"Aku tahu," Sahutnya datar, tanpa ekspresi keterkejutan sedikit pun.


"Aku akan segera membuat nya hamil." Sahut Dave cepat. Mencoba agar laki-laki itu menyerah. Tetapi perkiraannya salah, doa justru tersenyum menatap Dave.


"Dan aku akan ikut menyumbangkan sper-ma milikku." Ujarnya begitu santai. "Aku juga akan melakukan hal sama, aku akan menyemburkan sper-ma ku dalam rahim nya."


"Kurang ajar!"


Bugh


Bugh


Dave menghadiahkan bogem mentah pada mulut Edo yang sudah berani lancang mengatakan sesuatu yang sangat membuat Dave murka.


"Jangan pernah kau katakan itu lagi atau aku akan merobek mulut mu!!" Dave benar-benar sudah murka, akhirnya tak dapat mengendalikan emosi dalam jiwa.


Ana yang mendengarkan keributan dari luar, akhirnya tak keluar dengan langkah tertatih-tatih tanpa memperdulikan ancaman Dave.


Saat sampai di ruangan itu, Ana langsung berusaha menghentikan pukulan-pukulan dari dua orang itu karena semakin memanas. Kini bukan hanya Dave yang melayangkan bogem mentah, tetapi Edo pun membalas pukulan Dave karena merasa tak terima. Akhirnya, terjadilah saling pukul.


"Dave...! Hentikan!" Ana berteriak keras saat melihat Dave berada di atas tubuh Edo, dan memukuli nya dengan membabi-buta.


"Dave, sudah! Ku mohon hentikan! Dia bisa mati!" Ana berteriak histeris. Tetapi Dave sama sekali tak memperdulikan teriakan nya.


Ana berinisiatif mendekat dan memeluk tubuh Dave dari belakang. "Dave ... hentikan."


Detik berikutnya, Dave tersadar dari apa yang baru saja dia lakukan. Bukan karena Ana memeluk nya, tetapi karena cairan yang berada di punggung nya hingga membuat kain yang membalut tubuh nya terasa basah, membuat nya tersadar telah membuat seseorang ketakutan, terlebih saat merasakan tubuh dibelakang nya bergetar hebat, Dave semakin merasa bersalah.


Tetapi, yang dilakukan Dave justru sebaliknya. Dia membalikkan tubuhnya lalu menatap dingin wanita nya.


"Sudah ku bilang jangan keluar kamar!!"


Ana tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, dia menggeleng-gelengkan kepala menatap tak percaya pada Dave karena sudah membentak nya.


"Kamu jahat, Dave!" Pekik Ana. Tanpa memperdulikan Dave, Ana menghampiri Edo yang terlihat kesulitan untuk bangun.


Dave sangat tidak percaya pada tindakan Ana yang lebih memperdulikan laki-laki lain, di saat dia sendiri membutuhkan nya. Dave juga terluka, seharusnya Ana lebih memperdulikan nya dibanding laki-laki asing itu. Dan hal ini semakin membuat Dave cemburu.


"Thanks, baby girl." Kata Edo di sela-sela desisan nya karena seluruh tubuh terasa sakit semua.


"Sebaiknya kamu segera pulang dan obati luka mu." Ana berkata ketus pada Edo yang sudah berhasil berdiri dengan dibantu Ana.


"Ssshh ... Baiklah, lain kali aku akan kesini lagi. Aku pergi."


Cupp


Duarr