Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Dunia terbalik



Satu bulan berlalu setelah kejadian di mana Dave menyatakan telah memiliki kekasih bernama Sonya dan akan segera menikah.


Ana menjadi pribadi yang lebih pendiam jika bersama orang lain, namun tetap menampilkan senyum ceria nya bila bersama daddy dan mommy nya.


Sehingga mommy dan daddy Ana tak pernah menaruh curiga sedikit pun kalau putri satu-satunya calon pewaris keluarga Alexander sedang patah hati.


Ana memang sangat pandai menyembunyikan kesedihan di hati nya dengan menutupi nya menggunakan senyum ceria nya.


Meski begitu, serasa ada yang hilang dalam diri nya. Dia tak lagi menjadi gadis cengeng, cerewet, serta manja.


Sekarang Ana berubah menjadi gadis tangguh, mandiri, serta tak bergantung pada siapa pun.


Bahkan dalam masalah pekerjaan pun, Ana sudah sangat maju dari sebelum-sebelumnya.


Benar kata orang, segala kejadian yang terjadi di hidup nya pasti akan memberikan hikmah yang tak terduga sebelumnya.


Walau awalnya begitu berat dan enggan menerima kenyataan tentang kisah cinta nya yang harus kandas sebelum di mulai, tapi itu semua ternyata berdampak positif pada karakter dan sikap nya.


Dia tak akan lagi meminta bantuan pada siapa pun selama diri nya mampu, dia tidak akan menyerah dengan usahanya walau harus mengulangi seribu kali percobaan dalam melakukan sesuatu.


Namun di balik perubahan sikap yang di tunjukkan Ana, ada seseorang yang merasa kehilangan sosok nya yang dulu.


Meskipun Dave baru mengenal Ana beberapa bulan lalu, tapi dia sudah terbiasa dengan sikap manja serta rengekan gadis itu. Dan setelah gadis itu bisa merubah sikap nya, entah mengapa serasa ada yang hilang.


Terlebih Ana berubah menjadi gadis dingin tak tersentuh, membuat hati nya semakin tersayat saat melihat mata sendu itu.


Mata sendu yang mencoba dia sembunyikan dengan tatapan dingin nya kali ini.


"Ana." Sapa Dave saat mendapati Ana sejak tadi sibuk dengan berkas-berkas nya.


Bahkan tak menghiraukan sedikit pun kegiatan Dave yabg sejak tadi hanya memandang wajah nya.


"Ana!" Panggil Dave lagi saat gadis yang di sapa nya tak menjawab panggilan nya. Dia masih sangat sibuk dengan pekerjaan nya sehingga tak mendengar ada orang yang memanggil nya.


"Ah iya, pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ana formal.


Selama satu bulan ini Ana sudah terbiasa berbicara dengan Dave menggunakan bahasa formal. Bahkan bersama Davio pun dia merubah cara bicara nya, namun itu justru di respon dengan tertawaan saat pertama kali Ana berkata formal pada Davio.


Tentu saja Davio menolak Ana berkata formal pada nya, tetapi karena Ana yang keras kepala akhirnya mau tak mau Davio mengiyakan saja keinginan Ana jika mereka berada dalam lingkup kantor.


Akan tetapi, jika mereka sedang di tempat lain atau mereka hanya sedang berdua maka Davio tidak mengizinkan nya meski itu masih berada pada jam kerja.


"Kenapa kau tak menjawab panggilan ku?!" Tanya Dave kesal saat Ana masih juga terluka cuek dan terlihat sibuk dengan kertas-kertas nya padahal sudah tahu sejak tadi Dave memanggil nya.


"Maaf, pak. Saya terlalu fokus terhadap pekerjaan sampai tidak mendengar panggilan Anda." Kata Ana menjelaskan.


Sedangkan Dave semakin memberengut kesal melihat nya. Sebegitu fokus kah, sehingga ia tak melihat kalau sejak tadi Dave sudah memanggil nya hingga empat kali.


"Sorry, pak." Lagi lagi Ana hanya menjawab dengan kata maaf. Tentu ia tidak tahu harus menjawab apa.


Tidak mungkin juga ia berjanji untuk tidak mengulangi lagi karena menurut Ana lebih baik seperti itu, pura-pura tidak mendengar perkataan Dave, dan dia akan melakukan itu sampai seterus nya.


"Sudah lah, sekarang kau bersiaplah. Ikut aku meeting di hotel H." Kata Dave sembari melihat jam tangannya yang berada di pergelangan tangan sebelah kiri.


"Kenapa saya ikut, pak?" Tanya Ana sedikit tak suka, dia tidak ingin terus-terusan banyak berinteraksi dengan Dave.


Meski di luar baik-baik saja, tapi sebenarnya hati Ana masih belum bisa menerima nya.


"Sudah, jangan banyak bicara. Sekarang juga kita pergi." Putus Dave yang tak mau mendengar kan penolakan dari Ana.


Dia tahu Ana pasti akan menolak seperti hari-hari sebelumnya. Tapi kali ia tak akan membiarkan Ana menolak ajakan nya lagi.


"Kenapa harus bersama saya? Bukan kah lebih baik hanya di temani sekertaris dan Asisten Pribadi Anda? Saya hanya manusia bodoh yang akan semakin membuat acara meeting nya berantakan." Kata Ana menohok yang menurut Dave mengandung sebuah sindiran. Senyum sinis terlihat menghiasi di bibir mungil nya.


Sedangkan Dave tak bisa lagi berkata apa-apa mendengar perkataan Ana.


Dulu memang Dave pernah mengatakan hal itu saat Ana terus merengek meminta nya agar ikut ke sebuah pertemuan bersama klien.


Dengan tega Dave mengatakan tidak membutuhkan manusia bodoh seperti nya yang nantinya akan membuat acara meeting nya gagal.


Dave hanya membutuhkan asisten pribadi nya serta sang sekertaris yang sudah berpengalaman serta kompeten dalam menjalani jalannya meeting.


Sayang nya waktu itu Ana masih terlalu bodoh mengharapkan cinta dari seorang laki-laki dingin dan datar yang tak mungkin tergapai.


Ana terus saja merengek meminta nya untuk ikut, seperti anak kecil yang merengek pada ibu nya, tetapi dengan kejam nya Dave meninggalkan nya agar tak membuat acara meeting nya kacau.


"Kenapa kau mengatakan hal itu lagi? Dulu kau memang bodoh dan tak mengerti apapun. Tapi sekarang aku sudah melihat perubahan mu, kau sudah banyak peningkatan. Kurasa ini lah saat nya kau harus mencoba berbicara di depan umum. Kau harus berlatih lebih dulu sebelum benar-benar terjun ke perusahaan om Alex dan menjabat sebagai CEO." Jelas Dave panjang lebar.


Untung saja otak dave yang cerdas ini mendapat kan ide yang cukup masuk akal agar Ana mau ikut dengan nya.


Sebenarnya Dave hanya ingin nanti bisa makan berdua bersama Ana. Semenjak kejadian satu bulan lalu ia tidak pernah mendapatkan kesempatan makan berdua dengan gadis itu.


Ana selalu saja memberikan alasan masuk akal untuk menolaknya saat Dave mengajak nya makan berdua.


Bahkan meski Dave sudah berusaha mengurang nya dalam ruangan saat makan siang, tapi Ana tetap bisa mengibuli nya sehingga Ana bisa keluar dari ruangan.


Seakan dunia nya terbalik, jika dulu Ana yang selalu mengejar-ngejar Dave. Sekarang justru Dave yang terkesan mengejar-ngejar Ana.


Meskipun Dave tak pernah mengatakan mencintai Ana, tapi tindakan nya seolah mengatakan kalau Dave tak mau kehilangan Ana.


Dan hal itu semakin membuat Ana muak dengan semua sikap Dave yang begitu perhatian. Dia tak mau menaruh harapan lagi pada laki-laki dingin dan kaku itu yang justru akan membuat hati nya terluka untuk kedua kali.