Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Hamil



Sesampainya di rumah sakit, Dave dan Ana terburu-buru menuju ke ruangan sekertaris Bella.


Saat dalam perjalanan menuju ruangan tersebut tiba-tiba tubuh Ana terhuyung ke belakang karena menabrak seseorang dan...


Brukk


"Aaaa...!"


"Ana..!" Dave dengan sigap menarik pinggang Ana hingga gadis itu tak sampai terjatuh ke lantai.


Namun orang yang menabrak Ana saat ini sedang kesakitan karena terjatuh.


"Dave ..." Panggil seseorang yang dengan suara sendu nya.


Secara serentak, Ana dan Dave menoleh ke sumber suara.


Setelah melihat siapa orang yang ditabraknya buru-buru Ana melepaskan diri dari bekapan Dave.


"Lep-pas!" Sentak Ana.


Dave yang menyadari sedang memeluk Ana buru-buru melepaskan nya karena tak ingin membuat Ana merasa tidak nyaman.


Namun berbeda dengan Ana, dia mengira Dave buru-buru melepaskan nya karena saat ini, di depannya sedang ada calon istri Dave.


"Sonya?" Panggil Dave. Ingin sekali mendekat ke arah Sonya namun ia urungkan saat melihat Ana sedang bersama nya.


Dave tidak ingin semakin membuat kesalahpahaman mereka. Karena secepatnya Dave akan berbicara jujur pada Ana agar tidak semakin menyiksa keduanya.


"Sorry, Sonya. Aku sedang terburu-buru." Kata Dave lalu langsung menarik tangan Ana agar berlalu dari nya.


Dengan langkah tergesa-gesa, Dave membawa Ana menjauhi Sonya. Entah apa yang dipikirkan Dave, tapi sepertinya Dave tak ingin Ana mengetahui rahasia yang dia sembunyikan.


"Kenapa kau tidak menolong calon istri mu? Dia terjatuh." Kata Ana menekankan setiap kalimat nya.


"A-aku..."


Dave menghentikan langkahnya sejenak, seperti sedang berpikir sesuatu.


"Kenapa? Kau tidak bisa menjawab? Apa sekarang profesi mu sudah beralih menjadi laki-laki yang suka mempermainkan wanita?" Tanya Ana dengan wajah sinis. Dia tak menyangka Dave akan bersikap dingin seperti itu pada calon istri nya sendiri. Bahkan terkesan sangat menghindari nya.


Mungkin Ana akan merasa sakit hati bila melihat Dave menolong wanita itu, tapi setidaknya Ana melihat ada keseriusan dalam diri Dave.


Bukan malah sebaliknya, Dave selalu bersikap dingin terhadap wanita itu. Tetapi sekarang justru memperlakukan Ana dengan hangat.


Entah apa yang ada di pikiran Dave, kenapa dia bisa berubah-ubah?


Begitu pun Ana yang ikut menghentikan langkahnya, merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Dave tapi terlalu enggan untuk bertanya.


"Ana, bisakah kau tidak memikirkan yang pernah ku katakan padamu?" Tanya Dave dengan tatapan sendu.


"Maksud kamu apa?" Tanya Ana. Sebenarnya dia tidak ingin menanggapi perkataan Dave, tapi dia juga penasaran dengan maksud yang dikatakan nya.


"Suatu saat kau akan mengerti kebenaran nya mengapa aku menolak mu saat itu. Tapi percayalah, aku pun merasakan hal yang sama padamu." Kata Dave lagi.


Kedua tangan Dave mengarahkan satu tangan Ana ke dada kiri nya.


"Rasakan detak jantung ku, Ana. Jantung ku selalu bekerja seperti ini bila berada di dekat mu. Apa kamu tahu apa artinya?"


Ana menggeleng pelan, bukan berarti dia tidak tahu maksud Dave. Hanya saja dia tidak ingin berspekulasi terlalu tinggi, yang akan semakin membuat nya merasa kecewa.


"Ana, Aku mencintai mu." Ingin sekali Dave berteriak mengatakan itu, tapi dia tak berani dan hanya bisa berkata-kata dalam hati. Dave tahu saat ini belum saatnya mengungkapkan rasa cintanya pada Ana disaat dia belum memiliki bukti.


"Apa benar kamu tidak mengetahui apa maksudnya?" Tanya Dave lagi menatap lekat mata indah gadisnya.


Ana tetap menggeleng.


Dave mendesaah pelan. "Sudahlah, tidak perlu dipikir. Suatu saat nanti kau akan mengetahui nya." Kata Dave sembari mengusap rambut Ana dengan sayang dan menampilkan senyum manisnya.


Diperlakukan seperti itu rasanya Ana ingin terbang ke awan, tapi dia tetap tidak ingin berharap lagi pada laki-laki itu.


"Aku harap di saat kebenaran itu terungkap kau masih memiliki rasa padaku." kata Dave dalam hati.


Setelah keduanya saling terdiam selama beberapa saat, akhirnya mereka melanjutkan langkah menuju ruangan Belva.


Keduanya berjalan beriringan tanpa ada yang membuka suara. Mereka sama-sama terhanyut dalam pikiran masing-masing.


Tak berapa lama akhirnya mereka berada di ruangan Belva. Di lihat dari segi manapun, sekertaris Dave ini tidak baik-baik saja. Dia banyak mengalami luka di sekujur tubuhnya, terbukti ada beberapa kain kasa yang melekat di tubuh nya.


Mulai dari kepala, siku, hingga kaki. Semuanya terbalut oleh kain kasa.


Ana dan Dave sempat terdiam di depan brangkar itu. Entah saat ini Belva sedang tertidur atau memang belum siuman yang jelas gadis itu tidak membuka mata nya.


Ana melihat ke sekeliling ruangan, tidak ada satu orang pun yang menemani nya disini.


"Dave." Panggil Ana.


Dave menoleh kesamping, tepatnya menatap wajah gadis yang sangat dipujanya dalam diam.


"Apa Sekertaris Belva tidak ada yang menemani?" Tanya Ana dengan suara pelan, takut mengganggu Belva yang sedang memejamkan mata.


"Seperti nya tidak ada yang menemani, dia yatim piatu. Tidak tahu masih ada kerabat dekatnya atau tidak." Kata Dave merasa bersalah karena semua kejadian ini terjadi saat menjalani pekerjaan di kantor.


"Lalu, apa kau akan membiarkan nya disini sendiri?" Tanya Ana penuh penasaran. Dia tidak tega melihat Belva terbaring lemah seorang diri tanpa ada yang menunggunya.


"Sepertinya aku harus minta bantuan seseorang untuk menemani nya." Sahut Dave. Dia berpikir sejenak memikirkan untuk mencari orang yang dapat dipercaya menunggu Belva disini.


"Kalau begitu, biar aku saja." Sahut Ana cepat.


Seketika Dave menatap kearah Ana dengan tatapan dalam.


"Apa kamu yakin?" Tanya Dave tak percaya.


"Tentu saja! Aku tidak masalah menunggu kak Belva disini. Lagian aku sudah menganggapnya sebagai kakak ku sendiri."


"Benarkah?" Tanya Dave memastikan.


Saat Ana ingin membuka suara, ponsel Dave tiba-tiba berdering.


Dave melihat nama panggilan yang tertera di ponsel. Tapi setelah melihat nya, sepertinya Dave enggan untuk mengangkat nya. Terlihat saat tiba-tiba Dave kembali memasukan ponselnya ke kantung celananya dengan tangan sedikit gugup.


"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Ana sembari mengerutkan dahi.


"Ah, tidak apa-apa. Bukan hal yang penting." Kata Dave terlihat sangat gugup.


"Benarkah kau tidak..."


Dave tidak melanjutkan perkataannya karena ponsel itu kembali berdering, hingga akhirnya Dave memutuskan untuk mengangkat nya.


"Sorry, Aku keluar sebentar. Kamu jaga Belva." Kata Dave bersiap keluar dengan air muka yang terlihat sangat gusar.


Saat melewati Ana, tangannya kembali mengelus kepalanya. Membuat hati Ana kembali berdesir.


"Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini, Dave?" Batin Ana.


Ana memandangi tubuh Dave yang menjauh darinya, Sebenarnya dia sedikit penasaran dengan Dave. Terlebih gelagatnya sangat aneh saat mendapatkan panggilan itu.


Dengan penuh pertimbangan Ana memutuskan untuk menguping pembicaraan Dave dengan orang di seberang sana.


Dengan hati-hati Ana berjalan menuju pintu lalu bersembunyi di balik pintu itu.


"Dave ... hiks ... Dave, bagaimana ini? Aku hamil.." Kata Sonya di sela-sela tangisan nya.


Duarrr


Bagai tertimbun berton-ton batu, sekujur tubuh nya kaku tidak bisa di gerakkan, lututnya lemas tak berdaya, bibirnya kelu, tenggorokan nya tercekat, mata nya mulai berembun.


Ana tidak kuat mendengar berita ini. Sungguh, dia tidak sekuat itu.


Seluruh tenaga nya entah hilang kemana, tubuhnya merosot ke lantai.