
16 jam berlalu, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dave sudah berada di bandara setelah melakukan penerbangan selama 16 jam lamanya.
Ana yang sejak tadi malam tidak sabar menunggu kedatangan Dave pun menunggu di bandara sejak dua jam lamanya.
Ana benar-benar tak bisa tidur nyenyak memikirkan kepulangan Dave, dan akhirnya waktu yang dinanti-nanti pun tiba.
"Kamu jahat tidak menepati janji!" Ana menggerutu sembari mendekap tubuh Dave erat-erat. Tentu saja Dave terkekeh saat mendapati calon istri nya marah tetapi sambil memeluk nya sangat erat seperti takut terlepas.
Saat ini mereka sudah bertemu di area bandara. Lebih tepatnya di sebelah mobil yang tadi ditumpangi nya untuk menjemput Dave.
Koper yang dibawa Dave lebih dulu dimasukkan oleh pak supir ke bagasi sedangkan Ana dan Dave masih melakukan sesi drama pertemuan antara sepasang kekasih yang penuh intrik.
"Aku benci kamu," Ana terus memukul-mukul bahu serta punggung Dave sembari menangis terisak.
"Aku cinta kamu." Sahut Dave cepat.
"Aku benci, Aku benci kamu,"
Ana masih berada dalam posisi semula dengan memukul dada Dave sebagai objek nya.
"Aku love you, and I miss you," Semakin tak jelas pula jawaban.
"Kau tahu kan, aku meminta mu pulang kemarin tapi kau batu datang sekarang. Dan itu artinya kita batal menikah." Timpal Ana cepat sembari menjauh dari tubuh Dave tetapi langsung ditahan oleh Dave.
"Tidak akan pernah ku biarkan pernikahan kita batal." Tegas Dave bersuara dingin.
"Tapi kau tidak mau menikah karena kau tidak menepati janji." Sahut nya sembari berusaha pergi dari Dave.
"Kita akan menikah sekarang juga." Dave berkata lantang.
"Kita ...," Ana tak jadi meneruskan perkataannya setelah menyadari apa yang di katakan Dave barusan.
"What??" Ana memekik terbengong-bengong mendengar nya. Antara tidak percaya atau memang telinga Ana salah mendengar perkataan Dave.
"S-sekarang?" Gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Dave.
Dave yang melihat ekspresi wajah wanita nya terkejut dan terlihat sangat lucu itu tak bisa menahan tawa nya. Namun sebisa mungkin Dave menahan agar tak menambah sulit keadaan.
"Ya, sekarang juga kita menikah. Aku sudah menyiapkan semuanya." Jelas Dave lagi. Memang Dave sudah menyiapkan semuanya untuk menikah hari ini. Setidaknya hari ini dia akan melangsungkan pernikahan secara agama dulu karena dia tak mungkin kuat bila tidak menyentuh wanita nya sampai hari pernikahan.
Itu sebabnya Dave sudah memiliki rencana pernikahan nya dan menyiapkan segala nya.
"Tapi, ..." Ana mengingat acara pernikahan nya memang sudah disiapkan oleh pihak keluarga dan akan dilaksanakan lusa. Tapi bila pernikahan dimajukan sekarang tentu saja belum siap 100% terutama tamu undangan yang jelas diundang dua hari lagi.
"Aku ingin pergi!" Sahutnya sembari berjalan pergi menjauh dari mobil yang tadi ditumpangi nya bersama sang supir.
"Kau mau pergi kemana?" Dave menatap punggung Ana yang sedang berlari menjauh darinya. "ingat baik-baik, mau sejauh apapun kau berlari aku tetap bisa menemukan mu, sayang."
Lalu dengan cepat Dave berlari mengejar Ana yang terlihat akan menyebarang jalan.
"Kau mau kemana?" Suara Dave terdengar berat dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh orang yang sedang ditatap nya.
"Dave, lepaskan dulu." Pinta Ana menatap wajah Dave memohon, berharap Dave menuruti permintaan nya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu. Kau tidak boleh pergi kemana pun, Ana!" Dave semakin mencengkram kuat tangan yang sedang di genggam nya, lalu merengkuh tubuh Ana sampai kedua tubuh itu menempel tak memiliki jarak sedikit pun.
"Kau itu kenapa sih?" Ana menarik pelan tubuh Dave yang sedang memeluk nya erat. "aku itu hanya ingin pergi ke sana membeli makanan itu?" Ana menunjuk ke tempat penjualan di seberang jalan sembari menahan tawa karena sudah berhasil mengerjai kekasihnya.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Seharusnya kau bilang saja biar aku yang membelinya." Sahut Dave setelah menghela nafas nya panjang karena sudah salah menduga.
"Karena kau tidak bertanya, jadi mana mungkin aku mengatakan nya?" Sahut nya tanpa dosa dengan tersenyum manis.
Lagi lagi Dave menghela nafas nya, sepertinya dia harus lebih ekstra sabar menghadapi Ana dengan segala tingkah nya.
"Kau tunggu di mobil saja, biar aku yang ke sana." Dave sedikit mendorong tubuh Ana agar menjauh dari nya.
"Tidak, aku ingin melihat nya langsung. Kalau kau tidak mau menemani ku, lebih baik kau yang di mobil saja. "
"Bukan begitu, sayang. Disini panas, lebih baik kau menunggu di mobil."
"Tapi aku ingin melihat nya, Dave. Please ...," Ana sengaja memasang wajah imut sembari mengedip-ngedipkam bola mata nya berkali-kali seperti anak kecil untuk merayu Dave.
Dan benar saja, Dave akhirnya mengajak Ana menghampiri pedagang kaki lima bdi seberang jalan.
Dengan hati-hati keduanya bergandengan tangan untuk menyebrang jalan raya, setelah melihat ke arah kanan kiri dan dirasa aman, akhirnya keduanya menyebarang.
Saat mereka sudah berada di tengah-tengah penyebrangan, tiba-tiba saja sebuah truk bermuatan besar melaju begitu cepat sembari menyalakan klakson.
Tinnnn ...
"Aaaaa..!" Ana menjerit histeris saat truk itu ada dihadapannya. Dengan sigap Dave mendorong tubuh Ana agar menjauh dari jalan, sedangkan diri nya yang belum sempat bisa berlari, truk itu lebih dulu menabrak tubuh nya hingga dia terpental jauh hingga puluhan meter.
Brukk
Darah bercucuran di mana-mana, orang-orang berlarian menghampiri korban sedang truk itu terus melaju dan tak lama setelah nya ikut menabrak dinding pembatas trotoar yang akhirnya terbalik setelah membentur keras trotoar.
Truk itu sepertinya mengalami rem blong hingga tak bisa melaju dengan kecepatan sedang.
Sedangkan di pinggir jalan, Ana yang baru saja tersadar dari keterkejutan nya langsung bangkit mengingat Dave tak ada lagi di samping nya.
Seluruh tubuh Ana yang terasa kaku dan perih akibat tubuh nya membentur tanah. Tapi rasa sakitnya tak dia rasakan saat melihat beberapa orang mengerubungi korban kecelakaan yang sedikit jauh dari tempat nya saat ini.
"D-dave." Pikiran nya sudah tak karuan saat tak mendapati Dave dimana pun. Tadi saat dirinya di dorong Dave seakan-akan tak sadar akan apa yang terjadi karena dalam sekejap tubuh nya terpental jauh ke pinggir jalan.
Meski tertatih, Ana tetap mendekati kerumunan itu. "Kau dimana, Dave?" Gumamnya.
"Tidak, tidak mungkin orang yang kecelakaan itu Dave kan?" Gumamnya lagi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat semakin dekat, tubuh Ana terasa semakin kaku digerakkan. Bahkan untuk melangkah pun seperti nya sangat lemas.
Sayup-sayup dia mendengar orang-orang berkata bahwa korban sudah tak bernyawa, dan Ana semakin cemas dibuat nya.
Sekuat tenaga Ana mendekat lalu menerobos diantara orang-orang di sana yang ternyata korban sudah di tutup koran.
Dengan segenap keberanian namun tangan bergetar hebat, Ana membuka koran itu untuk melihat wajah korban.
Tubuh Ana luruh di tanah sembari menangis histeris saat tahu Dave lah yang menjadi korban kecelakaan itu dan terbujur kaku dengan darah mengalir membanjiri jalanan.
"TIDAAAKK ....!! Dave....!" Ana meraung dihadapan tubuh Dave yang berlumuran darah dan tak lagi bisa membuka mata.
Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Aku pasti mimpi.
...TAMAT...
...tapi...
...BOHONG ...