
Setelah acara mandi selesai, Dave membawa Ana ke sisi ranjang dan mendudukkan nya di sana.
Dengan telaten Dave menggunakan baju Ana, mulai dari be-ha dan ce la na da lam sampai gaun tipis tanpa lengan melekat di tubuh nya.
Jika ditanya apakah mereka melakukan sesi percintaan di kamar mandi atau tidak? Jawabannya adalah tidak!
Karena saat Dave ingin memasuki Ana kembali, dia berteriak keras kesakitan. Sehingga Dave gagal memasuki kembali karena tak ingin membuat Ana sakit.
Alhasil, sampai detik ini senj-ata tem-pur nya masih menegang karena belum sempat dijinakkan. Dave lebih memilih mengurus semua keperluan Ana tanpa memperdulikan ha-srat nya yang membuat nya cenat cenut kepala bagian bawah maupun kepala bagian atas.
"Sudah, sekarang kamu sarapan dulu. Aku akan menyelesaikan urusan ku."
Dengan sigap Dave membopong tubuh Ana keluar kamar ala bridal style. Sebab, dia takut jika membopong dengan cara sembarangan, akan menyakiti area lub-ang sur-gawi nya.
"Ada urusan apa?" Ana menatap Dave penasaran.
"Ada pokoknya, tidak perlu banyak tanya sekarang nikmati makanan mu dulu." Dave memposisikan Ana duduk di kursi pantry, lalu mendekatkan piring yang berisi makanan yang sudah dia pesan.
"Oh iya, kenapa kau tiba-tiba bisa masuk ke sini? Dari mana kau tahu nomor password aparateman ku?" Tanya Ana penuh selidik. Sebenarnya sejak kemarin dia ingin sekali bertanya, tetapi karena ada kegiatan yang lebih penting, Ana mengesampingkan rasa penasaran nya dan lebih memilih menikmati setiap sentuhan Dave.
"Yakin? akses kunci pintu mu menggunakan password?"
Dave menyadarkan Ana, sifat pelupa, bodoh, dan ceroboh nya memang sudah melekat dalam diri nya.
Lalu Ana mengingat-ingat kembali, ternyata dia lupa belum sempat mengganti kunci pintu nya menggunakan password.
"Dapat dari mana kartu akses aparateman ku?"
Ana memicingkan mata menatap Dave, membuat Dave tak bisa menahan tawa. Wajah Ana benar-benar lucu saat berekspresi seperti itu.
"Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan akses masuk aparateman, sayang. Kamu lupa siapa aku?" Dave sengaja memasang wajah arogannya di depan Ana.
Wanita nya hanya bisa mendengus kesal sembari mencebikkan bibir melihat nya.
"Sudahlah! Cepat menjauh dari sini!"
Ana yang sudah terlanjur dongkol, sengaja mengusir Dave agar cepat-cepat keluar dari ruangan itu.
Dave hanya tersenyum menanggapi kekesalan Ana, dan sebelum melangkah keluar, Dave berhasil mencuri ciuman di bibir Ana dan sedikit melu-mat nya.
"Davee...!" Teriak Ana kesal. Selalu saja begitu! Mencuri ciuman disaat Ana lengah.
"Hahaha ... bibir mu sangat manis, sayang. Aku jadi gemes ingin terus menikmati nya..!" Teriak Dave sambil berlari keluar dari dapur.
"Menyebalkan!" Dengus Ana sembari mencebikkan bibir.
Tangan nya mengacak-acak makanan yang belum sempat dia nikmati. Mood nya jadi turun setelah berulang kali Dave mengerjai nya. Bukan hanya mengerjai, tetapi juga menipu.
Ya, Ana sudah menyadari kalau semalam dia ditipu oleh Dave yang mengatakan Ana harus bertanggung jawab bila sudah mendapatkan keperjakaan nya. Padahal Ana tahu, mana mungkin laki-laki meminta tanggung jawab setelah di ambil keperjakaan? Tidak ada bekas untuk laki-laki, jadi apa yang harus diberi tanggung jawab?
Seharusnya dia yang mengatakan hal itu, tetapi karena otak Ana yang tak terlalu suka banyak berpikir, jadi dia mengiyakan saja apa yang Dave katakan. Dia percaya-percaya saja, terlebih saat ekspresi Dave sangat dibuat-buat seperti orang yang sangat sedih. Membuat nya percaya begitu saja, dan akhirnya menyerahkan keperawanaan nya.
Padahal dia belum memaafkan kesalahan Dave sebelum nya, tapi karena terhanyut dalam rayuan si bayi buaya, Ana lebih dulu memberikan keperawanannya sebelum memproklamirkan bendera damai.
"Issh ... sebel, sebel, sebel!" Ana mengacak-acak makanan nya. Tak ada niatan sedikit pun untuk memasukkan makanan itu ke mulut, karena rasa kesal nya pada Dave lebih mendominasi dari pada rasa lapar yang mendera sejak tadi pagi.
Kepalang tanggung, dia sudah turun dari kursi nya. Jadi mau tak mau Ana lebih memilih melanjutkan langkah nya meski cara jalan nya harus seperti pinguin dan sedikit tertatih-tatih.
Tak biasa merasakan sakit, jadi saat mendapati rasa sakit sedikit saja membuat nya tak tahan. Jadi wajar saja jika Ana sangat tak tahan dengan rasa sakit di sela-sela paha nya.
"Sayang ... Mau kemana?" Tiba-tiba suara Dave mengagetkan nya hingga badan nya menoleh ke belakang.
Dia bisa melihat Dave yang sudah berganti menggunakan kimono milik nya yang sangat kekecilan di tubuh Dave.
"Dave ...!" Ana tersentak kaget saat lagi dan lagi tubuh nya di gendong Dave.
"Kenapa tidak memanggil ku jika ingin berjalan?" Omel Dave. Nada suara nya sangat jelas terdengar begitu khawatir. Membuat Ana merasa tersentuh, hatinya merasa nyaman. Dan rasa sesal dalam dirinya karena sudah kehilangan keperawanan menguap begitu saja. Sekarang Ana benar-benar yakin kalau Dave akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan nya.
"Kenapa kau sangat romantis?"
Perkataan yang terlontar itu sontak membuat Dave menatap wanita nya. Diam sejenak sembari memandang wajah indah wanita yang berhasil menduduki tahta tertinggi dalam hatinya.
"Apa aku terlihat seperti itu?" Dave menatap intens. Membuat jantung Ana semakin tak karuan dibuat nya.
"Issh ... lupakan!" Ana yang tak kuat dipandangi seperti itu, lebih memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Dave sembari memukul pelan lengan Dave
"Kenapa, sayang?"
Dave sengaja menggoda Ana yang sedang malu diiringi dengan kekehan.
Setelah sampai di sofa, dia mendudukkan tubuh Ana dengan hati-hati lalu menyalakan televisi yang ada di depan nya.
"Sudah habis makan nya?" Dave meneliti wajah Ana yang terlihat masih pucat.
Di tanya seperti itu membuat Ana gelagapan.
"A-aku ... belum lapar." Cicitnya.
Mau berbohong pun tak bisa karena makanan yang tadi di siapkan Dave masih itu di piring, hanya mengacak-acak nya menjadi berantakan tetapi ukuran nya belum berkurang.
"Kalau aku yang suapi pasti lapar." Dave bergegas masuk ke dapur sebelum Ana sempat menyahuti perkataan nya.
"Dave ..!" Teriak Ana saat melihat punggung Dave sudah hilang dibalik pintu.
Dia hanya bisa menghela nafas nya berat sembari memejamkan mata. Dia teringat kalau sejak kemarin belum mengecek ponselnya. Dan saat ini dia tidak bisa bergerak bebas, sedang ponsel nya berada di kamar.
"Sayang, ayo buka mulut mu." Perintah Dave mengagetkan Ana saat tiba-tiba sudah berada di sebelah Ana.
"Kenapa belum dimakan, hm? Seharusnya kamu bisa menjaga dirimu sendiri, apa makan mu selalu tidak teratur saat kamu sendiri? Aku tidak ingin kamu sakit."
Perhatian yang diberikan Dave benar-benar membuat Ana tersentuh. Ternyata seperti ini rasanya diperhatikan oleh orang yang dicintai. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perut nya.
...Tamat...
Ini beneran tamat ya, aku lagi anu an dari kemarin yang baca nggak sampe seratus orang.😆
Bikin aku mau nulis aja males nya minta ampun.🤣
Kalo kalian emang baik hati, tidak sombong dan setia kawan ma aku, promoin ke teman-teman kalian dong, ntar aku usaha buat update sehari tiga kali deh.😆😆✌️