
Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih 16 jam, akhirnya dad Alex bersama putrinya sampai di bandara.
Di sana sudah ada supir yang menunggu mereka hingga tak perlu menunggu waktu lama mereka meninggalkan bandara menuju Mansion.
Di sepanjang perjalanan London Indonesia, Ana masih terus mendiami sang Daddy. Bukan hanya diam, Ana bahkan lebih terkesan menghindar. Dia tak ingin lagi terjadi perdebatan dengan sang Daddy yang hanya akan semakin memperkeruh keadaan. Itu sebabnya dia memilih tak bertemu dad Alex.
Sedangkan dad Alex sejak pertengkaran itu mencoba mendekati putri ya karena ingin minta maaf, tapi tak pernah memiliki kesempatan karena hanya beberapa kali bertemu Ana dalam waktu singkat karena Ana lebih memilih menghabiskan waktu di kamar yang ada di pesawat.
"Sayang," Dad Alex mencoba menyapa sang putri yang sedang duduk di samping mya dengan bibir terkatup rapat.
Dad Alex pun menyadari bahwa dia memang sudah keterlaluan dengan sang putri sampai membentak nya. Sejak kemarin dia ingin minta maaf tapi tidak memiliki kesempatan, mungkin ini saatnya dia meminta maaf. Pikir dad Alex.
"Sayang, I'm sorry."
Seketika Ana menatap kearah sang Daddy dengan tatapan tertegun. Dia tak menyangka sang Daddy meminta maaf padanya.
"Maafkan Daddy, Daddy sudah keterlaluan pada mu. Apa kau mau memaafkan Daddy?" Tanya nya menatap wajah sang putri yang juga sedang menatap kearah nya.
"Apakah Daddy sungguh-sungguh ingin meminta maaf?" Tanya nya menatap intens wajah dad Alex.
"Of course, Dad sungguh minta maaf, sayang. Daddy salah sudah membentak mu dan berkata kasar." Kata nya penuh penyesalan.
Ana menarik salah satu sudut bibirnya, menampilkan senyum licik yang hanya di ketahui olehnya.
"Jika Daddy benar-benar ingin minta maaf maka dad harus menuruti satu kemauan Ana." Ana menatap intens wajah sang Daddy yang terlihat sedikit terkejut. "bagaimana? Apakah Daddy menyetujui?"
"Apakah memberi maaf harus bersyarat? Atau jangan-jangan kau sengaja memanfaatkan kesalahan Daddy untuk mencari berhubungan dengan Dave lagi?" Tanya dad Alex penuh selidik karena dia sedikit mencium bau-bau kecurangan dari senyum putri nya.
"Bukan itu syarat nya. Tapi ya sudah, kalau Daddy tidak mau tidak masalah." Kedua tangan Ana disilangkan di depan dada lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Dia pura-pura merajuk karena dad Alex tak menyetujui syarat nya.
Mengetahui sang putri kembali merujuk, dad Alex menghela nafas nya panjang.
"Memang nya apa syarat yang kau inginkan?" Tanya dad Alex hati-hati. Dia tak ingin putri nya kembali marah lalu mendiami nya terus-menerus karena itu sangat menyiksa.
Seketika Ana menatap wajah Daddy nya dengan senyum ceria.
"Aku hanya ingin Daddy mendengarkan semua cerita ku, tanpa memotong perkataan Ana sebelum menyelesaikan cerita nya."
"Hanya itu saja?" Dad Alex hanya terbengong mendengar permintaan sang putri.
Dia kira Ana akan memintanya untuk menghubungi Dave untuk mengetahui keadaan nya. Bahkan dia sempat berpikir kalau putri nya ini akan meminta kembali ke London menemui Dave. Ternyata syarat yang diajukan Ana begitu mudah dan sederhana.
"Ya, dad. Ana hanya minta Daddy mendengarkan cerita ku. Apa Daddy setuju?" Tanya nya penuh harap.
"Tentu saja dad setuju. Ceritakan lah!"Perintah dad Alex sembari mengelus puncak kepala sang putri penuh sayang.
"Baiklah, jika Daddy setuju aku akan memulai cerita."
Saat Ana menceritakan hal itu, jari-jari dad Alex terkepal kuat, bahkan gigi nya bergemulutuk hebat. Dia tak akan membiarkan Edo lolos dengan mudah.
Dan setelah menceritakan semuanya, kini dad Alex tak lagi membenci Dave, bahkan kini dia merasa bersalah karena sudah membuat nya terluka parah padahal dialah yang sudah menolong sang putri.
Tapi dad Alex juga tak sepenuhnya membenarkan Dave, karena bagaimanapun dia telah bersalah menyandera para pengawal yang sengaja untuk menjaga Ana. Andai saja para pengawal nya ada, mungkin hal itu tak akan terjadi.
Tapi dalam sudut hatinya dia juga tak yakin, karena saat itu pun Ana masih berada dalam pengawasan Dave. Jika hanya ada para pengawal mungkin dia tak tahu nasib putri nya akan bagaimana. Apakah Ana akan menyerang salah satu pengawalnya saat obat perangsang itu bereaksi atau ... putri nya masih baik-baik saja?
"Jadi, Dave tidak bersalah?" Gumam dad Alex namun masih di dengar oleh Ana.
"Ya, dad. Dave tidak bersalah. Karena Ana lah yang meminta Dave menyentuh tubuhku. Maafkan Ana, dad." Ana tiba-tiba tertunduk lesu karena merasa bersalah pada dad Alex. Bukan merasa bersalah karena sudah melakukan hub ungan int im, tetapi karena dia sudah menutupi satu kebenaran dan tak mungkin untuk di ceritakan. Karena Ana tahu bila dia menceritakan bahwa mereka melakukan bukan yang pertama pasti Dave akan semakin dibenci oleh daddy nya, jadi Ana lebih memilih menutupi kebenaran itu agar lebih aman.
"Tidak perlu minta maaf, sayang. Kejadian itu bukanlah sepenuhnya salah mu. Maafkan Daddy yang sudah salah menduga dan tak mau mendengarkan penjelasan mu dulu." Sahut Dad Alex penuh penyesalan juga.
Dad Alex juga sangat merasa bersalah pada anak dan calon menantu nya karena telah bersikap egois tak mau mendengarkan penjelasan mereka lebih dulu.
"It's okey, dad. No problems. Yang penting sekarang Daddy sudah mengetahui kebenaran nya." Ana tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di lengan sang Daddy.
Dad Alex pun tersenyum akan tingkah putri nya yang masih saja manja. "Kau sudah besar, bahkan sebentar lagi akan menikah tapi masih saja manja." Kata dad Alex yang di akhiri dengan kekehan kecil.
Sebenarnya dad Alex masih belum ikhlas bila harus melepaskan putri nya secepat ini, tapi sebagai orang tua dad Alex juga tidak ingin egois. Karena yang paling utama adalah kebahagiaan sang putri.
Ting.
Bunyi ponsel di saku celana dad Alex berhasil menarik perhatian mereka.
Dad Alex membaca pesan masuk itu sekilas lalu tampak memberi balasan.
Tak lama setelah nya terdengar suara dering telepon dari ponsel yang masih dalam genggaman dad Alex.
"Halo,"
"...,"
"Ya, pulang lah. Aku menunggu mu. Jangan membuat kami menunggu lama." Suara dad Alex tampak datar, tak sehangat tadi saat bicara pada sang putri.
Tut.
Tanpa mendengar jawaban orang di seberang sana, dad Alex lebih dulu mematikan panggilan secara sepihak.
"Siapa, dad?" Tanya Ana penasaran setelah mendengar kata menunggu.
"Memangnya siapa yang dad tunggu kedatangan nya?" Gumam nya dalam hati.
"Bukan siapa-siapa." Kata dad Alex sembari tersenyum penuh arti.