Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Hari Pertama Kuliah



Setelah menghabiskan sarapan yang telah disiapkan Dave, Ana melanjutkan langkah nya keluar dari apartemen. Tujuan utama saat ini adalah ke kampus, meski jadwal nya masih sekitar dua jam lagi tapi lebih baik menghabiskan waktu ke kampus karena dia pun bingung pergi ke mana.


Sebelum nya dia berencana menghabiskan waktu nya di tempat sarapan sambil menunggu waktu mata kuliah tiba, tapi berhubung Ana sudah sarapan makanan yang di siapkan Dave, mendadak Ana membatalkan rencana nya.


Dia mengetik pesan pada teman barunya yang baru di temui nya beberapa waktu lalu saat dia berjalan-jalan mengelilingi kampus dan kebetulan berkenalan saat tak sengaja bertemu di taman belakang kampus.


Ting.


Satu pesan masuk, dan itu dari teman Ana yang bernama Rose. Dalam pesan itu, Rose mengatakan agar Ana menunggu nya di salah satu bangku taman belakang kampus tepat awal mereka bertemu.


Ana sudah sampai di lokasi, saat ini yang dia lakukan adalah menunggu teman baru nya yang bernama Rose di sebuah bangku panjang yang terletak di pinggir taman sembari memainkan ponselnya.


Saat membuka aplikasi ber-ikon hijau, dia menemukan serentetan panggilan dari Daddy serta mommy nya. Ana baru ingat, kalau sejak Dave berada di apartemen nya, dia belum menghidupkan kembali ponselnya. Dan saat membuka pesan masuk dari Daddy nya, ada banyak sekali pertanyaan serta larangan yang disampaikan Daddy nya.


Ana sudah menduganya bahwa saat ink sang Daddy sudah mengetahui akan kehadiran Dave yang ikut menyusulnya.


Dalam pesan itu, sang Daddy juga melarang Ana agar menjauh dari Dave, bahkan di dana sangat jelas Dad Alex mengatakan tidak merestui hubungan nya bersama Dave.


Dad Alex juga berpesan agar fokus pada kuliah nya dan jangan memikirkan apapun selain belajar demi masa depannya.


Dan yang paling mengejutkan! Pesan yang baru saja masuk itu berisi beberapa kalimat yang berbunyi "Dad Alex dan mom Jenni akan menyusulnya ke London!" Oh astaga ... Ana benar-benar shock membacanya. Dia bahkan sampai menepuk kening dengan keras dan berharap ini hanya lah mimpi.


Bila dad Alex dan mom Jenni ikut ke sini, maka bisa dipastikan dia tak akan lagi bisa bertemu Dave. Mengingat pesan dari Daddy nya yang terlihat bahwa sang Daddy begitu membenci Dave. terlebih setelah dad Alex mengetahui semua perlakuan Dave selama ini. Bahkan dad Alex terlihat begitu kecewa dalan pesannya karena Ana tak pernah menceritakan perlakuan-perlakuan buruk Dave terhadap nya.


Huft ... Ana hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, entah apa lagi yang akan menjadi halangan nya untuk bersatu dengan Dave.


Apakah memang mereka tak ditakdirkan hidup bersama? Sungguh miris rasanya bila membayangkan hal itu. Tidak! Ana tidak boleh pesimis, dia akan tetap memperjuangkan cinta nya bersama Dave.


Yah, Walau bagaimana pun perlakuan Dave terhadap nya, nyata nya dia tak bisa mengelak bahwa Ana jatuh cinta padanya dan tak bisa jauh darimua.


Jika boleh menentukan, maka Ana akan memberi kesempatan pada Dave lagi agar merubah dirinya dan bisa bersikap lembut terhadap nya. Apalagi setelah mendengar pernyataan cinta Dave terhadap nya, tentu saja hal itu benar-benar membuat Ana semakin ingin memperjuangkan Dave di hidup nya.


Terlalu larut menyelami benda pipih yang ada di genggaman nya, sampai-sampai tak menyadari kalau saat ini sudah ada seorang wanita disampingnya.


"Hi, Been waiting long?"


(hei, sudah lama menunggu?)


Tepukan di punggung serta suara itu berhasil membuyarkan konsentrasi Ana, dan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Tatapan Ana beralih pada seorang wabit cantik yang memiliki rambut berwarna pirang asli yang dibentuk curly, sedang matanya berbentuk hazel dengan bola mata berwarna sedikit kebiruan semakin terlihat cantik, terlebih kulit nya yang putih seperti susu membuat nya semakin terlihat sempurna.


(Itu tidak benar. Baru beberapa menit lalu."


Ana sedikit sungkan mengatakan nya dengan senyum canggung yang tersungging di bibirnya, membuat Rose pun ikut menyunggingkan senyum. Dia sebenernya tak menyangka akan mendapatkan teman secepat ini padahal mereka baru bertemu satu kali. Namun hal ini semakin membuat Ana bersyukur karena diantara ketidaktahuan nya, ada seseorang asli penduduk kota ini yang siap mengantarkan dan menemani kemanapun dia pergi.


Setelah acara sapaan itu berlalu, akhirnya Ana dan Rose berbincang-bincang ke kanan dan ke kiri mengatakan pengalaman apa saja yang membuat mereka terkadang tertawa dan terkadang kesal saat mendengar nya.


Mereka bahkan terlihat sangat akrab dan antusias menceritakan pengalaman masing-masing, tak ada kecanggungan sama sekali. Pembawaan Rose yang tak sungkan-sungkan pada orang, serta Ana yang juga kerap akrab pada orang membuat mereka benar-benar menjadi teman yang saling mencurahkan hati satu sama lain.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama, kini tibalah mata kuliah perdana Ana yang sebenarnya sudah sejak kemarin, tetapi dia tidak berangkat.


Kebetulan sekali, Rose dan Ana satu fakultas tetapi beda jurusan, Jadi meskipun mereka tak satu kelas tetapi masih falam satu lingkup fakultas yang terletak di gedung yang sama.


Mereka berjalan beriringan dengan Ana yang menuju ke lantai tiga di mana kelas nya berada. Sedangkan Rose masih harus naik satu lantai lagi untuk bisa ke kelas.


Saat ini Ana sudah berada di lantai tiga, dia berjalan sendiri menyusuri kelas demi kelas. Akibat terlalu asyik mengobrol sampai-sampai dia melupakan mata kuliahnya hingga terlambat beberapa menit.


Saat tiba di depan kelas yang terlihat tertutup, Ana mencoba menarik nafas nya dalam lalu menghembuskan kembali agar tidak terlihat terlalu gugup. Setelah itu dia berinisiatif mengetuk pintu.


Sayup-sayup Ana mendengar suara laki-laki yang sedang menjelaskan di depan kelas, ekor matanya melirik sekilas ke arah seorang yang sedang menjelaskan materi. Dia tahu itu siapa, tentu saja orang yang sedang menjelaskan di depan kelas adalah dosen nya untuk mata kuliah siang ini.


Dari sedikit lirikan saja Ana sudah mengetahui kalau dosen yang saat sedang berceramah adalah dosen laki-laki. Meksi día berani melihat baju yang dikenakan nya, tetapi dia tak berani menatap wajah sang dosen. Ana takut bayangan nya akan menjadi kenyataan, dimana dia di hukum oleh seorang dosen killer yang memiliki perut buncit juga kumis tebal dengan warna kulit hitam sempurna. Oh astaga, Ana benar-benar tak menginginkan orang seperti itu yang menjadi dosennya.


"Excuse me, Sir. May I come in?"


(Permisi, pak. Bolehkah saya masuk?)


Ana sedikit ragu-ragu mengatakan nya. Bahkan di terus menundukkan kepala karena takut menatap sang dosen. Dia takut dosen itu sedang menatap tajam kearah nya.


"Masuklah, sebelum saya berubah pikiran!"


Deg


Suara itu?


Bermodalkan menarik nafas dalam-dalam, Ana mencoba memberanikan diri untuk mengangkat wajah nya. Perlahan namun pasti Ana mengangkat wajah hingga tatapan dua pasang mata itu bertemu dengan mulut Ana yang sudah terbuka lebar hingga air liur nya ikut menetes.


"Kau ...?"