Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Laurensius Devans Grey



"M-maafkan aku, Dave. sepertinya aku sudah tidak kuat lagi." Setelah bergumam mengatakan hal itu seluruh pandangan nya menggelap dan akhirnya dia menutup mata.


Orang-orang yang ada disekitar nya menjerit memanggil namanya tetapi dia sudah tak lagi bisa menyahuti.


"Ana," Seorang pria yang sudah lama ditunggu akhirnya kembali membuka mata. Sedang wanita yang selalu menunggu pergerakan pria itu justru berganti memejamkan mata. Jari-jemari nya perlahan bergerak seirama dengan kata yang keluar dari bibir nya. Dan lata pertama yang keluar adalah memanggil nama Ana.


Wanita yang begitu dicintainya hingga dia berusaha melawan maut hanya untuk menghapus jejak air mata yang terus-terusan tumpah dari pelupuk nya.


"Tidak, Ana! Jangan tutup matamu, kamu pasti kuat, nak. Berjuanglah untuk cucuku ..!" Mom Jenni yang sejak tadi menemani persalinan Ana berteriak histeris dengan wajah yang sudah berlinangan air mata, tak kuasa melihat putri nya berjuang melahirkan hingga menutup mata. Sungguh, dia tak sanggup bila putri nya pergi secepat ini.


"Sayang, bangunlah. Jangan buat mommy khawatir. Maafkan mommy kalau selama ini mommy memperlakukan mu buruk, huhuhu ..." Mommy Jenni terus mendekap kepala Ana hingga dokter terpaksa mencegah nya.


"Mohon maaf Nyona, sebaiknya Anda keluar ruangan dulu." Bujuk dokter yang menangani persalinan. Karena di ruangan itu memang tinggal mom Jenni, sedangkan yang lain sudah keluar dan menunggu di depan ruangan.


Dokter pun tak kalah paniknya saat melihat pasien tak sadarkan diri.


"Ana," Gumam laki-laki yang ada di brangkat sebelah Ana. "Tidak Ana, kamu harus kuat." Batin nya lalu berusaha bangkit meski tubuhnya masih sangat lemah.


"Bertahan lah, sayang. Bertahanlah demi kita." Gumamnya lagi seraya melangkah tertatih-tatih menuju brangkar disebelah nya.


"Dave?" Mom Jenni terkesiap saat menyadari Dave ada di sebelahnya. "Kau benar-benar Dave? Atau arwahnya?" Tanya nya tak masuk akal. "Dave, tolong jangan ajak Ana jika memang kau ingin pergi, biarkan putri ku hidup lebih lama lagi huhuhu..."


Andai yang berkata seperti itu bukan lah calon mertua nya mungkin Dave sudah menggeplak kepala nya lebih dulu. Sekarang Dave tahu dari mana sifat bar-bar serta bodoh Ana, yang ternyata menurun dari sifat mommy nya.


"Bagaimana keadaan istri ku, dok?" Tatapan Dave beralih pada dokter yang sibuk menangani Ana tanpa menjawab pertanyaan bodoh dari mommy calon istri nya.


Dave sengaja mengatakan istri, karena yang melekat dalam ingatan nya Ana sudah menjadi istri untuk nya. Mungkin kecelakaan hingga menyebabkan koma berbulan-bulan membuat otak nya terlalu berhalusinasi.


"Keadaan nya sangat tidak baik-baik saja. Pingsan saat melahirkan adalah suatu yang sangat langka dan saya baru menangani pertama kali ini. Untuk penyebab nya sendiri karena kekurangan pasokan darah ke otak hingga membuat nya tak sadarkan diri. Kami tetap berusaha semampu kami, dan semoga segera siuman. Kami akan berusaha mengeluarkan bayi nya menggunakan metode ekstraksi vakum." Jelas sang dokter panjang lebar. Dan hak itu berhasil membuat Dave semakin lemas tak berdaya mendengar nya.


Sedangkan mom Jenni yang sejak tadi masih terduduk di lantai masih terbengong-bengong melihat percakapan dua orang itu. Mom Jenni masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, sosok arwah bisa berbicara dengan dokter. Ini mustahil! Batinnya. Lalu pandangan mom Jenni diarahkan ke belakang menatap brangkar tempat tidur Dave semula yang ternyata sudah kosong.


"Kosong?" Mom Jenni bergumam sembari berpikir sejenak. "itu artinya ..."


"Dave, kau sudah sembuh? Ternyata kau masih hidup? Dan ini bukan arwah mu?"


Mom Jenni langsung bangkit dari lantai dan berteriak memberondong pertanyaan sembari mendekati Dave.


"Iya, mom. Aku masih hidup." Jawabnya singkat namun matanya terlihat teduh.


Saat ini Dave masih belum ingin banyak bicara karena melihat keadaan Ana yang belum terbangun membantu nya tak bisa tenang.


"mom? Benarkah kau memanggilku mom?" Sahut mom Jenni yang membuat Dave sedikit kesal karena dalam situasi seperti ini mom Jenni masih menanyakan hal-hal yang tak berguna menurut nya.


"Ya, bolehkah aku memanggil mu mommya seperti Ana?" Tanya nya. Meski sebenarnya Dave enggan menyahuti pertanyaan calon mertua nya tetapi dia tetap berusaha bersikap baik, dan tak berkata kasar apalagi sampai melukai hati calon mertua nya.


"Ya, tentu saja."


"D-dave, aku tidak kuat."


Semua orang yang ada di sana langsung menolak ke arah Ana, ternyata Ana kembali siuman.


"Sayang, akhirnya kamu sadar. Terimakasih, sayang, terimakasih mau berjuang untuk ku." Dave tak kuasai menahan air mata. Air mata antara bahagia dan sedih. Bahagia karena Ana kembali membuka matanya, dan juga seduh melihat kondisi wanita nya yang sangat lemah.


"Syukurlah Anda sudah siuman. Sekarang mengejan lah sebisa Anda, kami akan membantu nya menggunakan alat pacu." Jelas dokter paruh baya itu.


"Tidak, dok. Tidak perlu menggunakan alat itu, saya akan berusaha mengeluarkan bayi dengan sekuat tenaga yang saya punya." Tolak Ana.


Sedikit banyak nya Ana tahu bagaimana resiko melahirkan dibantu menggunakan alat yang bisa menyebabkan bayi nya cidera kepala dan otak. Ana tidak akan membahayakan bayi nya.


"Topi, Nona. Tenaga Anda tidak akan mungkin cukup untuk mengeluarkan bayi."


"Saya bisa dokter, akh ...!" Sahut Ana lalu menjerit saat merasakan perutnya kembali sakit.


"Ikuti aba-aba saya, Nono."


Dokter mengarahkan Ana untuk menarik nafas nya dalam-dalam lalu mendorong bayi nya untuk keluar tanpa bantuan alat pacu.


Setelah tiga kali melakukan nya berturut-turut akhirnya suara tangis bayi mulai terdengar ditelinga semua orang.


Dave tak kuasa menahan rasa bahagia nya, dalam hati tak henti-hentinya dia mengucap rasa syukur atas anugrah terindah yang diberikan Tuhan untuk nya. Satu sosok bidadari indah yang rela berjuang memberinya sosok malaikat kecil yang begitu berharga melengkapi hidup nya.


Kini lengkap sudah kehidupan Dave, akhirnya setelah perjuangan panjang dia menikmati segala rasa manis setelah menelan pahitnya perjuangan hidup.


Terimakasih, Tuhan. Kau telah memberikan segalanya untuk ku. Gumam Dave seraya menatap Ana yang dan bayi yang sedang dibersihkan secara bergantian.


"Selamat Tuan, Nona. Bayi kalian laki-laki dan sehat dan sempurna tanpa Caca sedikit pun." Dokter yang sudah selesai membersihkan serta memakaikan pakaian bayi itu menyerahkan pada Ana namun langsung di terima Dave dengan hati bahagia.


"Welcome my baby Laurensius Devans Grey." Kata Dave sembari merentangkan tangan menerima sang Baby tanpa memperdulikan jarum infus yang masih menempel di tangan.


Ana pun tersenyum mendengar Dave mengucapkan nama putra nya yang menyematkan nama Laurensius di depannya.


" Kenapa kau memberi nama Devans?"


"Katena Baby kita anak dari Dave dan Anastasia." Sahutnya sembari tersenyum menimang-nimang baby Devans.


"Terimakasih,


...💙💙💙...


...END...


...TAPI...


.......


.......


.......


...BESOKNYA LAGI....


SEE YOUUUU👋