
Pasien atas nama David Sanjaya Grey telah dinyatakan meninggal di lokasi kejadian.
Kata-kata itu masih terus terngiang di telinga Ana, seketika tubuh nya luruh ke lantai, dia menangis sejadi-jadinya.
Jenazah Dave sudah di pulangkan ke kediaman orang tuannya. Semuanya menyambut dengan tangisan. Tak ada yang menyangka umur Dave tutup sampai disini.
Tak ada yang menyangka, seorang yang terkenal genius dengan segala prestasi diraihnya, meninggal akibat korban kecelakaan.
Semua memori indah bersama Dave terus saja berputar-putar di pikiran Ana.
Tidak, ini pasti hanya mimpi.
Itu lah kata-kata yang selalu terlintas dalam benak nya.
Namun, kenyataan itu terpatahkan saat mendapati dirinya dirangkul oleh sang mommy, memberinya kekuatan. Dia harus tahu, bahwa ini bukan mimpi.
"Mom, ini mimpi kan? Dave ku tidak mungkin meninggal?" Tanya nya dengan wajah sudah bercucuran air mata.
"Tidak, ini bukan mimpi. Kamu yang kuat, sayang. Ini sudah kehendak takdir." Kata sang mommy juga dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk nya.
Mendengar jawaban sang mommy, Ana kembali meraung-raung di hadapan banyak orang hingga sampai di mana mereka mengantarkan Dave ke tempat peristirahatan terakhir, Ana kembali bangkit untuk mengantarkan sang kekasih.
Begitu banyak nya orang mengantarkan jenazah Dave ke pemakaman sampai-sampai dia tidak mendapati celah untuk mendekati makam.
Namun, sepertinya ini lebih baik dibandingkan dia harus menyaksikan jasad sang kekasih di benamkan menggunakan tanah.
Setelah prosesi pemakaman selesai, satu-persatu orang mulai meninggalkan tempat pemakaman hingga tinggal lah Ana seorang diri yang sejak tadi terduduk tak berdaya di bawah pohon tak jauh dari tempat peristirahatan Dave.
Dia mulai mendekat kearah gundukan tanah dengan hati yang teramat hancur dan sedih, namun dalam sudut hatinya dia berusaha mengikhlaskan kepergian sang kekasih.
Di sana Ana menumpahkan seluruh air matanya seorang diri lalu mendekapnya, memeluk erat nisan yang bertuliskan nama sang tambatan hati.
Sungguh tidak mudah percaya akan kenyataan ini, baru saja dia merasakan yang namanya cinta dan kebahagiaan akan indah nya cinta yang terbalas, tapi semudah itu Tuhan meruntuhkan segala kesenangan nya. Dia tak tahu akan permainan waktu yang sedang dimainkan Tuhan pada nya.
Seakan alam pun ikut berduka, hujan gerimis mulai menghinggapi dirinya hingga tak lama setelah nya hujan lebat pun turun mengguyur area pemakaman serta seorang wanita yang masih terduduk di dekat pusara.
"MR, DAVE ....! I LOVE YOU...!" Ana kembali meraung di atas pusara dengan tangisan yang begitu hebat. Dia teringat akan permintaan Dave sebelum kecelakaan, dia memintanya untuk mengucapkan cinta. Tapi karena Ana yang merasa malu, dia belum mengatakan nya.
.
Seusai itu senja jadi sendu awan pun meng-abu
Kepergian mu menyisakan duka dalam hidupku
Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu
Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
Ku mencintai mu
Kamu dan kenangan
"D-dave ...," Air mata Ana kembali luruh.
"Syukurlah, kamu sudah sadar, sayang."
Seketika Ana melihat kearah sumber suara. Dilihatnya ternyata sang mommy dan dan Daddy sedang duduk tak jauh darinya.
"Mom, Dad, kenapa aku disini?" Ana merasa kepalanya sangat pusing mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Namun sedetik kemudian dia kembali menumpahkan air mata setelah mengingat bahwa Dave sudah tak lagi di dunia bersama nya.
"Hei, sayang. Kenapa menangis?" Mom Jenni langsung panik melihat putri nya menangis.
"D-dave, mommy. A-aku, " Ana tak bisa meneruskan ucapannya dan justru kembali menangis tergugu. Dia tak setegar itu mengahadapi kenyataan.
"D-dave, mommy ... hiks ..hiks ...,"
"Iya, sayang. Mommy mengerti, kamu berdoa semoga Dave baik-baik saja. Dia sedang ditangani dokter saat ini." Perkataan mom Jenni seketika berhasil membuat Ana menghentikan air matanya lalu menatap sang mommy penuh tanya.
"M-maksud, mommy?" Tanya Ana penasaran.
"Dave masih ditangani dokter, sayang. Luka di kepala nya cukup parah jadi dia memerlukan penanganan khusus. Dan sepertinya akan dilakukan operasi bila pendarahan di kepalanya tak kunjung reda. Kamu yang kuat ya," Mom Jenni menambahkan.
"Jadi, aku hanya mimpi?" Ada rasa bahagia yang menyelinap di hatinya. Meski mereka mengatakan keadaan Dave begitu parah, tapi setidaknya masih ada harapan hidup.
"Syukurlah Dave masih hidup," Ana tak bisa mengembangkan senyum mendengar berita ini, membuat mom Jenni dan dad Alex saling pandang menatap tak percaya.
Mereka tak mengerti apa yang dipikirkan putri nya hingga mendengar Dave keadaan nya sangat parah justru dia tersenyum.
"Aku sangat bahagia mendengar Dave masih hidup, mom. Tadi aku bermimpi Dave sudah meninggal dan itu sangat mengerikan karena seperti kenyataan." Ana berkata antara menangis bercampur bahagia.
Sekarang dad Alex dan mom Jenni pun mengerti arti senyum sang putri, ternyata putri nya begitu khawatir dengan keadaan Dave hingga memimpikan Dave sudah tiada.
"Sekarang, di mana Dave, mom? Aku ingin ke sana untuk melihat keadaan nya." Ana langsung bangkit dari brangkar mencoba turun dari sana, tapi dia menyadari bahwa ternyata tangan nya terhubung oleh selang infus.
"Tapi keadaan mu masih sangat lemah, sayang. Sebaiknya kamu istirahat saja." Cegah mom Jenni.
Mom nya memang sangat mengkhawatirkan Ana, terlebih Ana pun mendapatkan luka lecet di beberapa tubuh nya meski tak separah Dave.
"Tidak, mom. Ana harus melihat nya. Ana ingin memastikan Dave baik-baik saja."
"Tapi Dave masih dalam penanganan dokter, sayang. Lebih baik nanti saja setelah Dave dipindahkan ke ruang rawat. Karena lagi pula saat ini tidak ada yang diijinkan masuk." Jelas nya lagi.
Akhirnya Ana hanya bisa pasrah menuruti perkataan sang mommy. Dia kembali berbaring di brangkar.
Klek
Tiba-tiba Ana melihat mom bulan masuk ke dalam ruangan.
"Mom," Panggil Ana tak jadi tertidur, dia kembali menyandarkan tubuhnya di atas brangkar yang sedikit dinaikkan. "bagaimana keadaan, Dave? Dave baik-baik saja kan? Tidak ada luka serius?" Ana bertanya penasaran.
Ana merasa suhu atmosfer nya kembali tidak enak saat melihat mom bu menjawab nya dengan sebuah tangisan .
...TBC...
Maaf kalo part ini kurang ada nyawanya, nggak tahu kenapa feel-nya kurang dapat.