Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Menjalankan Hukuman



"Kau...?"


Ana keget bukan main, bagaimana tidak kaget jika ternyata dosen mata kuliah kali inj adalah si biang kerok. Ya, dia adalah Edo si manusia sok akrab padahal tidak memiliki hubungan apapun dengan Ana sama sekali. Akibat kunjungan nya pula, Dave menjadi marah besar hingga akhirnya mereka bertengkar akibat ulahnya yang tiba-tiba mencium nya.


Belum hilang keterkejutan nya, dia kembali dikejutkan dengan suara Edo yang kembali mengangetkan nya. "Kita bertemu lagi, baby." Bisik Edo tepat di depan telinga kiri Ana dengan seringai tipis dibibir nya. Ternyata saat ini posisi Edo sudah berada di dekat tubuh nya. Spontan Ana menjauh dari Edo.


Ehem!


Edo berdehem keras setelah posisi tubuhnya sedikit berjauhan dengan Ana dan kembali memasang wajah cool di depan mahasiswa nya.


"Kenapa telat?" Dia kata itu meluncur dari tenggorokan Edo yang terdengar begitu dingin dengan bola tajam melirik pada Ana.


Ana yang diperlakukan seperti itu sedikit bingung, tetapi sedetik kemudian dia kembali tersadar bahwa saat ini Edo sedang berstatus sebagai dosen.


"Sorry, Mr." Ana hanya mampu mengucapkan kata-kata itu kemudian menundukkan kepala. Seakan-akan suaranya tertahan di tenggorokan saat akan berbicara ketika bola matanya bertatapan dengan bola mata Edo yang memandangnya begitu tajam.


"Hm, seperti biasanya. Saya tidak memberikan toleransi pada siapapun yang datang terlambat. Jadi, bersiaplah untuk mendapatkan hukuman dari saya. Setelah mata kuliah selesai, kamu ikut ke ruangan saya."


Edo masih terus menatapnya tajam hingga membuat Ana benar-benar tak bisa berkutit dari tempat nya.


Dan saat mendengar perintah Edo, Ana semakin dibuat ketakutan terlebih saat menyuruhnya ke ruangannya. Pikiran Ana sudah melanglang buana, dia takut Edo akan berbuat macam. Karena sebelumnya dia sedikit memiliki firasat bahwa Edo bukanlah laki-laki baik.


Dia tak tahu harus bagaimana kali ini, apakah dia mengiyakan perintah Edo atau melawan. Tetapi jika dipikir-pikir, tak mungkin juga Ana bisa mengindahkan perintahnya, terlebih perintah itu sebagai hukuman Ana.


"Apa kau tuli, hm?" Sekali lagi, Edo berkata dengan nada suara dingin. Mungkin orang-orang disekitarnya sampai dibuat membeku saat mendengar nya.


"B-baik, Mr." Meski dengan hati yang dongkol, Ana tetap mengiyakan perkataan Edo si manusia sok akrab karena saat ini status sedang menjadi dosen.


Dalam hati Ana akan membalas sikap Edo yang menurutnya sangat tidak mengenakkan.


Padahal sebelum Edo bertanya kembali, Ana sudah berencana akan bertanya hukuman apa yang akan didapatkannya saat di ruangan Edo. Tetapi lebih dulu didahului oleh suara dingin Edo, hingga membuat konsentrasi serta pikiran Ana hilang. Dan mau tidak mau dia mengiyakan saja supaya tidak ribet.


"Baguslah kalau begitu, sekarang kau boleh duduk."


Ana mulai berjalan mencari salah satu atau salah dua bangku yang masih kosong. Saat mengedarkan seluruh padanya, dia melihat ada satu bangku kosong di pojok belakang bagian kanan.


Di depannya ada mahasiswa laki-laki yang memakai hoody lengkap dengan penutup kepalanya. Dia terlihat begitu fokus melihat kebawah, saat Ana semakin memerhatikan, ternyata pria itu sedang fokus menatap layar ponselnya.


Sedang di sebelah kirinya ada mahasiswa perempuan, tubuhnya sedikit gempal tetapi terlihat cantik dengan mata sipit nya serta hidung mancung yang dimiliki oleh nya.


Tanpa ingin membuang banyak waktu, Ana mendudukkan di sana. Setelah sampai di tempat duduk, Ana mencoba menyapa perempuan berbadan gempal di sebelah kirinya. "Hi," Ana menyapa dengan suara pelan karena takut mendapat hukuman dari Edo yang sedang menjelaskan materi.


"Hei, aku Eliza." Perempuan bertubuh gempal itu menyodorkan tangan sembari menampilkan senyum, membuat hati Ana sedikit menghangat. Dari wajahnya terlihat seperti orang Asia, tapi Ana tak bisa menebak pasti negara mana.


"Aku Ana." Tak ingin kalah, Ana ikut menampilkan senyum semanis mungkin. Dan setelah nya mereka sedikit berbincang-bincang menggunakan suara pelan. Dan betapa kagetnya Ana, ternyata wanita ini berasal dari Indonesia.


"Jadi, kami dari Indonesia?" Tanpa sadar Ana keceplosan berkata sedikit meninggi hingga tatapan orang-orang tertuju pada dua wanita yang sedang mengobrol.


"Ana, Eliza! Silahkan lanjutkan obrolan kalian diluar!" Dosen Edo mengatakannya dengan tatapan mengintimidasi, membuat Ana dan Eliza dibuat seperti seorang tersangka.


Melihat tatapan tajam dari Edo membuat dua manusia itu tak bisa berkata-kata.


"Tapi, Mr."


Ana menelan saliva nya susah payah, akhirnya Eliza mengajaknya keluar ruangan.


.


.


Setelah diusir dari ruangan, tujuan utama mereka adalah kantin. Mereka memesan makanan sembari berbincang-bincang ringan. Baik Ana maupun Eliza sama-sama antusias menceritakan pengalaman nya selama disini. Ternyata Eliza juga baru saja ke sini, karena saat S1 di Indonesia.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.10 waktu setempat, yang artinya mata kuliah hari ini sudah selesai. Satu mahasiswa menggunakan Hoody itu mendekati Ana dan Eliza.


"Kau di suruh Mr ke ruangan." Laki-laki berwajah datar pemakai hoodie itu mendekati nya.


Ana baru mengingat kalau dia mendapatkan hukuman dan harus ke ruangan. Setelah berpamitan pada Eliza, Ana melangkahkan kakinya menuju ruangan Mr. Edo.


Dalam sudut hatinya dia terus bertanya-tanya hukuman apa yang akan didapatkannya karena sejatinya Ana begitu takut kalau Edo bermacam-macam, tetapi dia pun tak memiliki kuasa untuk menolak.


Setelah tiba di depan ruangan, Ana sedikit ragu untuk membuka pintu. Belum sempat melakukan apapun, terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.


"Masuk!"


Ana sedikit kaget, tapi dengan segera dia mengendalikan ekspresi nya dan membuka pintu penuh keraguan.


"Permisi, Mr. Hukuman apa yang saya dapatkan?"


"Rapikan tumpukan buku-buku itu, dan susun di rak sesuai tempat nya." Edo masih berkata dengan nada datar dan dingin, dan hal itu membuat Ana lega. Karena dia lebih baik mengahadapi Edo yang dingin seperti ini dari pada Edo yang sok akrab padanya.


"Baik, Mr." Tak ingin membuang banyak waktu, Ana langsung melaksanakan perintahnya.


Dengan telaten Ana mengumpulkan buku satu persatu dan merapikannya sesuai jenisnya.


Seperempat jam kemudian.


Ana terlihat lelah tetapi karena banyak nya tumpukan buku yang berserakan di lantai dan masih harus dibereskan, dia tetap melakukan pekerjaan nya.


Hingga sudah lebih dari dua puluh menit, akhirnya buku-buku itu sudah tertata rapi di rak sesuai jenis buku.


Huft, Ana terlihat menghela nafas lega sembari menyeka keringat yang mengalir di pelipis.


"Mr, Saya sudah merapikan seluruh buku. Boleh saya keluar?" Tanya Ana. Dia sudah tidak sabar ingin segera membeli minuman dingin dan menghabiskan nya.


"Tunggu dulu. Karena kamu sudah membantu pekerjaan saya, maka saya akan traktir kamu makan siang."


...💙💙💙...


...TBC ...


Ada yang salah mengira kalau dosennya Dave?🤣


Btw aku tekankan sekali lagi, untuk percakapan antara mereka harusnya kebanyakan menggunakan bahasa Inggris tapi berhubung othor nya kagak mengerti bahasa Inggris jadi tetep ditulis Indonesia. But, kalian anggap aja itu bahasa Inggris yak🤣✌️