Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Penyesalan Billy



"Sonya?" Billy menepuk-nepuk pipi Sonya yang sudah tak memberikan respon apapun.


Seketika air matanya luruh saat melihat ke bawah ternyata cairan kental berwarna merah sangat banyak banyak hingga membasahi kaki nya.


Sprei yang seharusnya berwarna putih polos itu itu sudah berubah warna menjadi merah. Seketika ketakutan itu melanda Billy.


Hatinya ikut merasa sakit atas apa yang pernah diperbuat nya terhadap sang istri yang begitu tak berperikemanusiaan.


Dia mencabut milik nya yang masih bersarang di inti Sonya lalu meraih bokser lalu membawa istri nya yang belum terbungkus apapun keluar menuju mobil.


Tubuh Sonya hanya terbungkus selimut putih yang juga sudah terkena aliran darah dari dalam tubuh nya.


"Maafkan aku, Sonya. Maafkan aku. Ku mohon ... buka mata mu, sayang." Air mata itu terus saja keluar dari pelupuk nya, namun tak membuat Sonya membuka mata.


Billy terus merapal kan kalimat doa semampunya. Dia benar-benar takut kehilangan kali ini.


Pikiran nya begitu kalut antara sedih, kecewa, marah, serta menyesal pada dirinya sendiri.


Billy sangat marah pada dirinya sendiri melebihi marahnya pada Sonya kemarin. Rasanya dia ingin memukul-mukul tubuhnya, tapi hal itu juga tak mungkin dia lakukan karena saat ini yang terpenting adalah keselamatan Sonya dan bayi nya.


Sungguh, bila terjadi sesuatu pada darah dagingnya yang masih dalam kandungan, Billy tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Mengingat dia tidak pernah mengakui bayi itu adalah anak nya. Bahkan dia memiliki keinginan untuk membunuh bayi nya yang belum lahir ke dunia.


Billy merasa menjadi ayah paling jahat di dunia karena ingin membunuh anaknya sendiri.


"Sayang, ku mohon bertahanlah sebentar. Kita akan segera sampai di rumah sakit." Kata Billy sembari memeluk tubuh istri nya yang terbungkus selimut.


Sepertinya pendarahan itu belum juga berhenti, terbukti dari darah yang terdapat selimut yang di kenakan Sonya itu terus bertambah. Bahkan sampai ada yang menetes kebagian bawah mobil.


"Pak, tolong lebih cepat. Istri saya sedang membutuhkan pertolongan." Kata Billy karena saat ini mulai panik melihat wajah istri nya yang begitu pucat.


"Baik, pak." Pak sopir menancapkan gas dengan kecepatan tinggi. Dia terlihat sangat fokus karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat berkendara dengan kecepatan penuh.


Sepertinya Sonya kehilangan banyak darah hingga nafasnya pun terlihat sangat lemah. Luka-luka yang disebabkan pukulan nya pun sangat terlihat di seluruh tubuh istri nya.


Billy menyesal, benar-benar menyesal. Entah apa yang harus dia lakukan agar tubuhnya mendapatkan perlakuan yang setimpal atas apa yang telah dia perbuat terhadap istri nya.


"Maafkan aku, sayang. Telah membuat mu kesakitan." Kata Billy dengan suara serak nya. Dia ikut tak bertenaga melihat keadaan istri nya.


Ya tuhaaaan ... sungguh, Billy merasa menjadi laki-laki paling bodoh di dunia karena telah meragukan cinta serta ketulusan istri nya. Dalam hati tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri.


Rasa bersalah dalam hatinya saat ini benar-benar menyiksanya. Tak tahu harus berbuat apa untuk menebus semua dosa-dosa nya.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit terbesar di kota ini. Salah satu rumah sakit yang juga menjalin kerja sama dengan Billy, dia menjadi salah satu investor di sana.


Baru saja turun dari mobil, Billy sudah di sambut oleh beberapa tim medis yang menunggu nya membawakan brangkar lalu menempatkan istri nya di sana.


Bahkan celana bokser yang di kenakan Billy pun sudah terkena cairan darah karena memangku istri nya.


Meskipun Billy hanya mengenakan bokser, tetapi tak ada yang berani menegur ataupun memandang nya karena orang-orang yang melihat nya pun mengerti kepanikan Billy saat ini.


Mata Billy memerah karena terlalu banyak mengeluarkan cairan bening, serta wajah ketakutan nya yang begitu terlihat membuat orang yang melihatnya merasa iba.


Sonya langsung di bawa ke ruang pemeriksaan khusus. Billy tidak bisa mendampingi istri nya, dia hanya berjalan mondar-mandir di depan pintu yang baru saja tertutup itu.


Seluruh tubuhnya seakan-akan mati rasa, kakinya seperti tak berpijak pada bumi karena saking takut nya.


Dia merasa peristiwa ini seperti mimpi buruk yang sedang menimpanya.


"Ya Tuhan, ku mohon selamat kan istri ku. Sungguh, aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri bila terjadi sesuatu pada istri ku." Air mata yang baru saja berhenti, kini kembali mengalir di pipi Billy tanpa suara.


Perlakuan kasar, pukulan demi pukulan dilayangkan pada istrinya, bahkan makian yang di berikan Billy pada Sonya terus terngiang-ngiang di benaknya.


Ketakutan-ketakutan akan hal yang tidak diinginkan pada Sonya terus menghantuinya. Seakan psikis nya terganggu kali ini.


Billy tak sanggup lagi berdiri, dia meringkuk di depan pintu, tangan nya memeluk dua sisi lutut nya yang di tekuk sembari menangis tersedu-sedu.


Tak ada yang tahu kesedihan yang dirasakan nya. Dia adalah laki-laki paling bodoh, tak percaya akan cinta istri nya, tak percaya dengan kesetiaan serta kesucian istri nya.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Billy terus memukul-mukul kepala nya sendiri menggunakan kepalan tangan nya.


Kemudian dia bergeser dari duduknya lalu membentur-benturkan kepala nya pada dinding di sebelah pintu.


"Hahaha ...! Aku laki-laki bodoh! Aku bodoh! Bodoh!! Dasar manusia tak berguna! Mati saja kau Billy!! Mati saja kau!!" Kepala Billy terus saja di benturkan ke tembok hingga mengeluarkan darah segar.


Dua perawat yang sedang berjalan di sana langsung menghentikan aksi Billy. Dua orang itu terlihat kuwalahan menghentikan Billy karena mereka berdua sama-sama perempuan. Lalu salah satu perawat berlari untuk memanggil orang lain agar membantunya.


"Tolong pak, hentikan! Jangan melukai diri Anda sendiri!" Cegah perawat yang sedang kuwalahan memegang tangan Billy dan menyeret nya agar menjauh dari tembok.


"Hahaha...! Bagaimana aku bisa menghentikan nya??!! Aku sudah menyakiti istri ku lebih dari ini!! Seharusnya aku pantas mendapatkan siksaan yang lebih berat dari ini!!" Teriak Billy diiringi dengan tawa keras namun kelopak matanya terus saja mengeluarkan lelehan cairan bening.


Billy terlihat sangat kacau, bahkan jika orang yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira dia adalah orang gila.


Setelah beberapa saat, Dua orang perawat laki-laki berjalan terburu-buru kearahnya. Lalu dengan sekuat tenaga menyeret Billy agar menjauh dari tembok itu. Akan tetapi, tenaga dua orang itu masih kalah dengan tenaga Billy.


Akhirnya mau tidak mau perawat itu menyuntikkan cairan pada lengan Billy hingga beberapa detik kemudian Billy tak sadarkan diri.


Dengan sigap, tiga orang itu menangkap tubuh Billy yang hampir tumbang. Mereka membawa Billy menuju ruangan untuk mengobati lukanya.