Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Terlambat



Di tempat lain, seorang pria berwajah datar dan dingin berjalan cepat terlihat tergesa-gesa keluar dari sebuah gedung perusahaan besar miliknya.


Dia baru saja mendapatkan laporan bahwa Anastasia Laurencia baru saja mengundurkan diri.


Hatinya bergemuruh hebat, niatnya hari ini akan menjadi hari kebahagiaannya karena sebentar lagi dia akan menyatakan cinta pada gadis itu. Namun hal tak terduga tiba-tiba saja terjadi.


Sejak pagi memang Ana sudah tidak berangkat bekerja, Dave pikir mungkin dia sedang ada keperluan. Tidak tahunya, gadis itu tiba-tiba saja mengundurkan diri.


Dan apa katanya tadi? Dia ingin melanjutkan studinya di luar negeri?


Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Ana tidak boleh pergi darinya!


Dave tidak akan membiarkan gadisnya pergi dari kehidupannya. Tidak! Dia tidak akan rela bila Ana menjauh dari nya.


Setelah sampai di basement, dia langsung menuju ke mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan cepat.


Sialnya jalanan ini sedang macet karena kebetulan saat ini sudah waktunya jam pulang kerja. Dan seseorang baru saja menyodorkan surat pengunduran diri Ana di waktu jam menjelang pulang kerja.


Shiitt! Andai saja surat itu sampai kepada nya lebih dulu, pasti dia sudah menemui Ana sejak tadi.


Meski hatinya bergemuruh tak karuan, tapi dia mencoba bersabar menunggu para pengendara di depannya agar tak membahayakan keselamatan nya.


Sepanjang perjalanan Dave terus saja mengumpat, dia kesal pada dirinya sendiri karena baru tahu tiba-tiba Ana mengundurkan diri. Padahal sejak kemarin tak ada tanda-tanda sedikitpun Ana akan berhenti dari pekerjaannya.


Setelah melaju beberapa kilometer, Dave kembali berhenti saat mendapati lampu merah. Lagi-lagi dia harus bersabar agar tidak terburu-buru.


"Shitt!" Dave kembali mengumpat saat kendaraan didepannya masih belum bergerak padahal lampu sudah menunjukkan warna hijau.


"Tinnnnn ...!" Dave membunyikan klakson keras, berharap mobil didepannya segera melaju.


Berhasil!


Mobil didepannya langsung melaju cepat tanpa hambatan, begitu pula dengan Dave yang ikut melaju dengan kecepatan tinggi saat lalu lintas tidak sepadat tadi.


Setelah membutuhkan waktu hampir satu jam, akhirnya Dave sampai di depan mansion Alexander.


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Dave segera masuk ke mansion setelah dibukakan pintu oleh pekerja mansion.


Dia langsung menuju ruang tamu tanpa dipersilahkan lebih dulu. Setelah menunggu beberapa saat, Tuan Alex terlihat baru saja datang bersama istrinya Jennifer.


"Dave? Sudah menunggu lama?" Tanya Tuan Alex saat menyadari ada Dave sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Selamat sore, om. Tidak terlalu lama." Sapa Dave lalu menjawab pertanyaan tuan Alex.


"Oh syukurlah. Saya tidak tahu kalau kau kemari. Oh iya, Ada perlu apa kau kemari? sepertinya sangat penting." Sahut tuan Alex melihat wajah Dave yang terlihat gusar.


"Begini, om. Saya ingin bertemu dengan Ana. Apa dia ada di dalam?" Tanya Dave sedikit sungkan, karena tidak biasanya dia menanyakan seorang gadis pada orang tuanya langsung.


"Memangnya Ana kenapa, om?" Tanya Dave begitu penasaran. Hatinya bertambah tidak enak, dia merasa seperti terjadi sesuatu pada Ana.


"Ana akan melanjutkan studinya di London, pesawat nya baru saja take off." Jelas Tuan Alex setelah menghela nafasnya.


"Apa??!!" Dave begitu terkejut dengan perkataan tuan Alex. "Tidak mungkin! Kenapa dia tiba-tiba pergi ke London? Kenapa tidak memberitahu saya? Kapan dia berencana melanjutkan studinya di sana? Bukankah dia sudah berjanji akan belajar bersama saya? Dan saya mampu untuk membimbingnya. Tapi kenapa dia tiba-tiba pergi tanpa pamit? Kenapa om??" Tanya Dave cepat memberondong pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikirannya.


Tuan Alex terlihat menarik nafas panjang. "Saya juga tidak tahu. Tiba-tiba saja Ana meminta izin untuk melanjutkan studinya ke sana. Dia ingin menjadi wanita tangguh dan bisa membanggakan kami. Jadi kami terpaksa melepaskan anak kami satu-satunya demi masa depannya." Tuan Alex merangkul bahu sang istri yang juga masih merasa sedih karena berpisah dari anaknya.


Mom Jenni memang sejak tadi berbicara karena bila dia mengeluarkan suara sedikit saja, dia tidak yakin bisa menahan air matanya.


Sejujurnya Tuan Alex dan Mom Jenni sangat tidak setuju atas keputusan putri nya. Selama ini Ana tidak pernah lepas dari pantauan nya. Dia selalu hidup didekat kedua orang tua nya. Menjadi anak satu-satunya dari keturunan Alexander membuatnya selalu dijaga over protective oleh kedua orangtuanya.


Itu lah sebabnya selama ini Ana selalu bersekolah di area tempat tinggalnya karena memang mom Jenni dan Dad Alex tidak bisa jauh-jauh dari anaknya.


Tetapi, tadi malam tiba-tiba hal tak terduga terlontar dari mulut putrinya. Ana meminta izin untuk melanjutkan studinya di London agar bisa lebih mendalami ilmu.


Dia memohon kepada mom Jenni dan Dad Alex untuk mengizinkan kepergiannya, dia ingin menggapai cita-citanya tanpa ingin merepotkan orang-orang disekitarnya.


Meski hatinya begitu berat melepaskan anaknya, akhirnya dad Alex mengizinkan. Sedangkan mom Jenni terus menahan anaknya, dia tidak ingin berjauhan dengan putri nya.


Tetapi mau tak mau mom Jenni pun akhirnya mengizinkan dia pergi, dia tidak boleh egois karena ini demi masa depan putrinya.


"Ja-jadi dia sudah pergi ke London?" Tanya Dave merasa masih tak percaya. Tubuhnya luruh seketika di lantai, bahunya terlihat bergetar. Sungguh dia tidak pernah menyangka, ternyata sikap dinginnya selama ini membuat gadis yang selalu terlihat ceria itu menjauhinya.


"Tidak mungkin, Ana tidak mungkin pergi. Katakan yang sebenarnya, om, Tante. Pasti kalian berbohong kan? Jangan sembunyikan Ana dari saya. Saya mohon, om." Dave tiba-tiba berlutut di depan Dad Alex dan mom Jenni.


Mereka berdua terlihat saling pandang dengan reaksi yang diberikan Dave, seperti tidak wajar menurut mereka.


Bahkan Dave sampai mengeluarkan air matanya. Entahlah mengapa Dave sampai seperti ini. Mungkin karena Dave memiliki rasa pada putrinya? Batin Mom Jenni dan Dad Alex.


"Kami tidak berbohong, Dave. Ana memang sudah pergi ke London. Dia tidak ingin merepotkan mu, Ana bilang ingin menjadi wanita mandiri dan bisa bermanfaat bagi orang-orang. Dia tidak ingin menjadi gadis bodoh, dia tidak ingin menyusahkan orang lain terus-menerus." Mom Jenni kini gantian berbicara. Dadanya begitu sesak mengatakan alasan putrinya pergi.


Air matanya kembali mengalir mengingat dia sudah tidak bisa melihat putri nya dalam waktu dekat.


"Ini semua salah saya. Ini salah saya, om, tante. Maafkan saya karena selalu menyakiti hati nya. Saya selalu berkata-kata kasar padanya." Dave terlihat meneteskan air mata. Dia terlihat begitu menyesal pada diri sendiri.


Sudah terlalu banyak luka yang diberikannya pada gadis itu. Selalu mengatainya bodoh, tidak berguna, dan kata-kata kasar yang lain.


Tapi Ana tak pernah terlihat tersinggung dengan semua kata-kata pedasnya. Namun ternyata dibalik itu semua, Ana memendam rasa sakit hingga dia memilih pergi melepaskannya.


Dave terlambat menyadari bahwa hati wanita itu rapuh, mudah retak. Hati wanita itu ibarat kaca, dibanting satu kali dua kali akan pecah.


Tapi dengan begitu teganya Dave membantingnya berulangkali seakan-akan Ana bukan seperti wanita lainnya.