
"Sayang ... "
"Jangan panggil aku sayang!" Kini suara Ana mulai meninggi, nafasnya sudah naik turun tak seperti tadi. Menandakan dia mulai terpancing emosi pada laki-laki yang ada dihadapannya ini.
"Sayang, Aku-"
"Stop , jangan bicara lagi! Sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku muak mendengar semua omong kosong mu!"
"Kenapa kau bicara seperti itu? Please dengar kan aku dulu." Bola mata Dave terlihat sendu, menatap Ana dengan begitu mengiba. Dia tak tahu caranya harus bagaimana agar Ana mau mendengarkan penjelasan nya.
"Aku tak mau mendengar penjelasan apapun dari mu!" Sahut Ana cepat, satu jari telunjuk nya diacungkan ke depan wajah Dave. Mata nya terlihat memerah, dadanya naik-turun menandakan nafasnya tak beraturan.
"Dengarkan aku dulu!" Kini suara Dave pun mulai meninggi. Satu tangan nya memegang jari jemari Ana yang ada dihadapannya.
"Aku tidak akan mendengarkan." Ana menatap ke arah lain saat tiba-tiba tubuh Dave bergerak semakin mendekat hingga dua wajah itu saling berdekatan. Mungkin bila di ukur menggunakan alat kualitatif, maka wajah keduanya hanya berjarak lima centi meter.
Hembusan nafas Dave menerpa leher jenjang Ana yang terekspos, menimbulkan gejolak aneh dalam dirinya.
Tiba-tiba saja Dave mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Lihat lah ini." Dave tak menghiraukan penolakan Ana. Dia sudah menyodorkan sebuah rekaman video di depan wajah Ana.
Selama beberapa menit, gadis itu bisa melihat dengan jelas isi dari video itu. Dia tak bisa berkata-kata, yang dilakukan nya hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Karena meskipun terkejut dengan apa yang menimpa Dave, tapi dia akan menyembunyikan nya. Karena dia tak ingin terlihat berempati pada Dave.
Hati nya seperti berbunga-bunga begitu senangnya melihat fakta yang sebenarnya. Itu artinya, dia belum kalah. Ana. masih bisa mendapatkan Dave.
Tapi kali ini, dia tak akan lagi mengejar laki-laki itu. Jika memang Dave mencintai nya, biarlah Dave yang berjuang untuk mendapatkan nya.
Tapi tak dapat dipungkiri, kalau saat ini hatinya benar-benar lega. Rasanya semua pikiran yang mengganggu selama beberapa hari ini, lenyap begitu saja seiring terpatahkan nya persepsi buruk pada laki-laki yang begitu dicinta.
"Menjauh dariku." Perkataan Ana masih terdengar ketus meski dia sudah melihat semua dengan jelas apa uang yang ada di video itu.
Dalam video itu bukan hanya tentang rekaman cctv, ada beberapa rekaman tentang pembicaraan nya dengan Sonya dan juga suaminya, bahwa Dave tak pernah menyentuh perempuan itu. Sehingga Ana tak bertanya apapun lagi, karena semua yang ada di video itu sudah sangat menjelaskan kalau Dave tidak pernah menyentuh wanita itu.
Tapi tetap saja, hati Ana masih sakit saat mengingat perlakuan Dave selama ini. Tidak, dia tak akan memaafkan Dave begitu saja setelah apa yang Dave lakukan padanya.
"Lepaskan Tangan ku!"
Tangan Ana berusaha melepaskan cekalan Dave, juga dengan tubuh nya yang berusaha menjauh tetapi tidak bisa karena saat ini tubuh nya sudah dikunci oleh Dave.
"Kalau aku tidak mau?" Pertanyaan Dave terkesan berbisik di telinga Ana. Dave benar-benar sengaja menghembuskan nafas nya di depan telinga Ana. Membuat Ana semakin memejamkan mata.
Bukan tanpa alasan Dave melakukan ini, pakaian yang dikenakan Ana begitu minim dan terkesan sangat se-ksi. Paha mulusnya terekspos sempurna karena dia tak mengenakan bawahan, sedang kancing baju nya tak menutupi sempurna tubuh atas Ana, hingga dari jarak dekat seperti ini Dava dapat melihat dengan jelas dua gundukan berukuran sedang mencuat dari tempat nya.
Dave adalah laki-laki normal, tentu dia sangat berna-fsu melihat tubuh seksi di depan nya, apalagi pemilik tubuh indah itu adalah gadis yang sangat dicintainya, dan itu semakin membuat nya tak tahan untuk tidak menyerangnya.
"Apa yang kau lakukan? Cepat, menyingkir lah dari ku!" Ana berusaha berontak saat tubuh Dave semakin menempel padanya. Bukan hanya menempel, bahkan saat ini tubuh kekar Dave sudah menindih nya. Hingga posisi nya saat ini, Ana sudah berada di bawah Dave.
"Memang nya apa yang ingin aku lakukan, hm?" Jari-jemari Dave mengelus lembut wajah dave dengan hembusan nafas yang masih setia menerpa kulit nya sembari memandangi wajah itu. "kau benar-benar sangat cantik. Dan juga ... " Dave menghentikan ucapan nya bersamaan dengan tangan nya yang mengehentikan usapan lembut nya. Membuat jantung Ana semakin tak karuan saat tatapan mata Dave tertuju pada bibir nya.
"Se-ksi." Kata terakhir yang keluar dari mulut Dave terdengar seperti bisikan.
Ingin sekali Ana memaki-maki Dave, tetapi tidak bisa karena bibir Ana sudah lebih dulu dibungkam oleh Dave. Membuat Ana tak bisa berkata-kata, tubuh nya hanya mematung seperti tak bisa digerakkan.
Tak membalas ataupun melawan ciumaan yang diberikan Dave. Dia masih terlalu terkejut saat bibir nya lagi-lagi di nikamti Dave.
Dia lah laki-laki satu-satunya yang selalu berhasil mencuri ciuman nya. Entahlah, Ana pun semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Dave yang selalu seenaknya sendiri.
Semakin lama ciuaman itu semakin menuntut, bahkan menimbulkan gelanyar aneh pada tubuh keduanya. Hingga tanpa sadar, Ana ikut membalas ciuman itu. Dave semakin merapatkan tubuhnya diatas tubuh Ana. Hingga tanpa sadar, ciuman itu menimbulkan ga-irah lebih. Bahkan tangan dave dengan begitu lancang nya mengelus benda menonjol yang sejak tadi begitu membuatnya tersiksa.
Dave baru menyadari kalau Ana tak memakai penyangga di area itu, mungkin karena akan tidur dan Ana tak memakai beha nya. Sangat jelas dia rasakan saat menyentuh nya, dia berhasil memegangi dan mengelus lembut bulatan kecil yang masih tertutup oleh sehelai kain yang dipakai Ana.
Baik Dave maupun Ana dibuat semakin menggila setelah Dave memegangi benda sensitif itu. Hawa di ruangan itu lama-lama semakin panas. Mendorong Dave untuk membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan Ana, hingga terpampang lah dua buah pir berukuran sedang yang sangat indah di pandang.
Mata Dave semakin berkabut gairah saat melihat nya. Tanpa pikir panjang, dia langsung melahap benda di depannya itu dengan begitu rakus. Seakan-akan dia adalah sosok bayi yang sangat kelaparan hingga dia menye-sap buah pir itu dengan ses-apan yang sangat kuat. Membuat Ana semakin tak terkendali, bibir nya terus meracau tak karuan sembari memejamkan mata menikmati setiap ses-apan yang dilakukan Dave.
Tangan Ana meraih benda apapun yang bisa di jadikan pegangan saat tubuhnya seperti tersengat listrik tetapi menimbulkan gelanyar yang begitu nikmat.
OTHOR: DAVEE...! Aku sunat kau kalau sampai macam-macam ke Ana!😒
DAVE: Gapapa, nyoba dikit aja. Itung-itung nyicil thorrrrrr 😆😆
OTHOR: Awas kau! Jangan sampai kebablasan!😒
DAVE: Kebablasan juga ngga apa-apa, aku bakal tanggung jawab. Lagian tanggung, udah separo masa berhenti?😆😆
OTHOR: Isssh ... Terserah kau saja lah!😒
DAVE: Lebih baik tanya ke reader aja deh, enak nya mau berhenti apa lanjut. Tapi sepertinya kalau berhenti udah tanggung banget ini.😫