Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Takut



"Sayang ...," Sekali lagi, Dave berusaha membangunkan wanita nya. Tangan nya berusaha meraih bahu Ana dan sedikit menggoncang nya. Tetapi, tak ada pergerakan sama sekali.


Hah, Dave hanya bisa menghela nafas nya dengan berat. Dia menjadi orang yang serba salah kali ini, tidak dibangunkan maka Ana akan kelaparan karena sepanjang hari belum makan. Sedang bila berusaha membangunkan nya, Ana akan terganggu tidurnya.


Setelah berusaha berpikir sejenak, Dave akhirnya memutuskan untuk membangunkan kembali wanita nya karena tak ingin dia sakit.


"Sayang, bangun dulu, hm?" Kepala dave sudah mengendus-endus area leher dan tengkuk Ana. Gadis itu yang memang tidak tidur tentu saja merasakan geli, tetapi dia berusaha untuk tetap tidak bergerak.


"Aku tahu kamu masih marah, tapi jangan hukum dirimu juga. Kamu harus makan, nanti sakit." Dave sedikit melihat pergerakan Ana, dia tahu saat ini Ana sudah sadar dari tidurnya tetapi masih enggan membuka mata. "sayang, aku tahu kamu sudah bangun. Kalau kamu tidak ingin berbicara dengan ku tidak apa-apa, aku akan diam yang penting kamu bangun dan makan dulu." Dave menatap sendu Ana yang masih terus meringkuk di atas ranjang padahal sudah sudah terbangun dari tidurnya.


Satu detik,


dua detik,


tiga detik, Ana sama sekali tak bergerak dari posisi nya.


"Kamu ingin aku pergi dari kamar? Kalau memang iya, akan ku lakukan asal kau makan dulu, hm?"


Tak ada respon apapun dari Ana, Dave menghela nafas nya panjang. "Baiklah, ku anggap diam mu adalah tanda setuju. Aku pergi, jangan lupa makan habis dan minum vitamin nya."


Cup.


Dave mendaratkan kecupan lembut di kening Ana hingga beberapa detik, sepertinya Dave enggan sekali menyudahi kecupan di kening Ana, tetapi karena keadaan yang memaksa nya akhirnya mau tak mau Dave menyudahi kecupan itu lalu beranjak dari tempat.


Perlahan Ana membuka mata setelah merasakan pergerakan Dave yang beranjak dari tempat tidur, dia mengamati punggung kokoh yang mulai menghilang di balik pintu.


Setelah mengamati pintu itu benar-benar tertutup rapat, perlahan Ana bangun dari tempat tidur. Andai perutnya tidak berontak sejak tadi mungkin dia tidak akan makan, tetapi karena dia juga tidak kuat menahan banyak cacing mengamuk dalam perutnya, akhirnya dia tetap memakan makanan yang disediakan Dave.


Ana mulai memakan dengan sedikit terburu-buru, selain karena lapar dan perut nya ingin segera terisi, juga karena tak ingin Dave melihat dia makan. Ana berharap, saat Dave masuk ke dalam kamar dia sudah kembali tidur di tempat nya.


Gluk gluk gluk...,


Setelah menghabiskan seluruh makanan di piring tanpa sisa, Ana meminum air di gelas yang sudah di sediakan tanpa sisa juga.


Setelah semuanya tandas, Ana kembali menenggelamkan dirinya ke dalam selimut tanpa memberi waktu pada makanan yang baru saja masuk ke usus agar diproses dalam saluran pencernaan lebih dulu.


Setelah menunggu beberapa menit, Dave tak kunjung beranjak dari tempat tidur. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu di luar kamar membuat Ana penasaran. Tetapi dia juga tak mungkin ikut keluar, membuat Ana tak kunjung bisa menyelami alam mimpi karena memikirkan Dave.


Ana bahkan sampai bolak-balik memposisikan tidur nya mencari tempat yang nyaman, tetapi matanya tetap tak bisa terpejam. Entah ini hanya faktor kekenyangan atau karena tak ada Dave di samping nya.


Sebenernya Ana juga berfikir, apa yang dilakukan Dave padanya tak sepenuhnya salah Dave. Dia tahu Dave melakukan hal itu karena rasa cemburunya pada Edo, tetapi tak seharusnya pula dia bersikap kasar, Ana sungguh tidak suka pada orang yang bersikap kasar. Terlebih orang itu adalah Dave, orang yang dia cintai dengan sepenuh jiwa dan raganya. Tentu dia tak pernah menyangka Dave akan berbuat seperti itu.


Setelah menunggu hampir setengah jam, Dave tak kunjung masuk ke kamar. Perlahan rasa kantuk mulai menyerang, lama-kelamaan dia kembali ke alam mimpi.


Sedikit menguap membuat nya tergerak untuk melihat jam yang berada di pergelangan tangan, saat melihat jam di sana dia baru mengingat kalau jam itu masih waktu Indonesia dan belum mengatur nya dengan waktu London. Akhirnya dia memilih untuk masuk ke dalam dan mencari penunjuk waktu.


Saat berada di depan pintu kamar Ana, Dave sedikit ragu untuk masuk tapi dia juga penasaran dengan apa yang sedang Ana lakukan. Akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu itu secara perlahan, saat melihat di dalam ternyata Ana masih dalam posisi semula. Dave lagi lagi menghembuskan nafas kasar, apakah kau se-benci itu pada ku? sampai-sampai kau lebih memilih mengabaikan perutmu yang lapar dari pada memakan makanan ku? Dave bergumam dalam hati.


Saat semakin mendekati ranjang, mata Dave menyipit saat melihat makanan yang disiapkan ternyata sudah habis tak bersisa. Seketika Dave mengembangkan senyum, dia terlihat begitu bahagia mengetahui Ana telah memakan makanan yang dia siapkan.


Dave semakin mempercepat langkahnya menuju tempat tidur dan duduk di sebelah Ana. "Terimakasih, sayang." Dave kembali mendaratkan kecupan di kening Ana sedikit lama seperti tadi. Dia begitu bahagia rasanya hanya mengetahui Ana sudah makan, setidaknya dia tidak akan khawatir Ana sakit.


Meski sekarang dia sendiri yang merasakan lapar karena sejak tadi juga belum makan, tapi Dave tak ingin meninggalkan Ana sendiri.


Dia kembali merebahkan tubuh nya di samping Ana dan memeluk erat tubuh mungil nya. Entah sadar atau tidak, Ana ikut membalas pelukan Dave dan menenggelamkan wajah nya ke dada bidang Dave.


Akhirnya mereka kembali menyelami alam mimpi, dan kegiatan hat ini sepertinya hanya tidur, tidur dan tidur hingga esok hari.


.


.


.


Matahari sudah menampakkan diri, bahkan cahaya nya menerangi sebagian permukaan bumi yang memasuki pagi hari.


Dave sudah terbangun dari tidur nya lebih dulu, sedang Ana seperti nya masih begitu nyaman dengan selimut tebal yang membungkus tubuh nya, terlebih suhu udara di luar masih terasa begitu dingin membuat nya ingin terus berlama-lama di dalam selimut.


Dave yang sejak tadi menatap wajah wanita nya yang masih terus saja terlelap, rasanya gatal sekali jika tidak membangunkan nya. Akhirnya Dave memutuskan untuk membangunkan wanita nya.


"Sayang, bangun. Sudah siang,"


Dave mencoba memberi usapan lembut di rambut dan kulit Ana agar terbangun.


Tak lama setelah nya, Ana benar-benar terbangun dari tidur.


Saat membuka mata, pertama kali yang dilihat nya adalah Dave sudah berada di depan nya dengan senyum tersungging di bibirnya.


Ana yang merasa kaget karena melupakan kejadian kemarin, langsung bangkit dan memegang tembok seraya menatap takut pada Dave.



"Sayang ...,"