
"Sudah lah, Dave. Kau tidak perlu berbicara seperti itu. Ini semua memang akibat kesalahan papi. Dulu papi sangat bodoh hingga meninggalkan kalian berempat dengan kehidupan serba kekurangan. Sedangkan papi tak berusaha mencari kalian, justru waktu papi hanya dihabiskan untuk mencari hiburan dengan bergonta-ganti wanita. Forgive me, son." Kata papi dengan tertunduk lesu, menyesali semua perbuatannya dulu.
"It's oke, pi. Dave sudah memaafkan papi sejak dulu Dave menerima papi sebagai ayah ku." Jelas Dave. Dia merasa kasian pada papi nya yang kembali mengingat semua kesalahan nya di masa lampau.
"Mom, bisakah mommy melupakan semua perbuatan papi?" Tanya Dave hati-hati seraya menatap mata sendu mommy nya yang berlinangan butiran air.
Mommy Buu menghembuskan nafas pelan, lalu menghapus jejak air matanya di pipi.
"Mommy sudah berusaha memaafkannya sejak dulu, tapi memang mommy sudah berpikir hal ini sejak lama. Apapun yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasannya. Mommy sangat takut, perbuatan papi di masa lalu akan berdampak bagi pernikahan kita tapi ternyata kamu yang mengalami hal buruk, Dave."
"No, mom. Sudah Dave bilang semua ini tak ada kaitannya dengan kesalahan papi di masa lalu." Sanggah nya.
"Bagaimana kau bisa sangat yakin? Apa kau pernah berpikir bagaimana nasib para wanita yang ditinggalkan begitu saja oleh papi? Apa kau yakin mereka tidak akan balas dendam?" Tanya mom bulan dengan nada emosi.
Sedari tadi putra sulungnya tak sekalipun mengindahkan perkataan nya. Padahal apa yang dikhawatirkan mom Buu bukan berarti karena dia belum memaafkan suaminya. Tetapi memang mom Buu yang sudah berpikir sejak dulu, suatu saat musuh-musuh suaminya pasti akan menyerangnya. Dan mom Buu sangat yakin, penjebakan Dave saat ini pasti ada kaitannya dengan musuh papi Ello di masa lalu.
Baik papi Ello maupun Dave saling terdiam, terhanyut dalam pemikiran masing-masing.
Dave tak bisa mengelak lagi karena perkataan mommy nya memang lah masuk akal.
Sedangkan pikiran papi Ello saat ini sedang terjebak dalam rasa penyesalan yang teramat dalam. Dia baru menyadari dirinya memang memiliki banyak sekali musuh. Meski tak sedikit pula yang menjadi sekutunya, tetapi dia tak bisa mengelak bahwa dirinya memang laki-laki yang dibenci banyak orang terkait masa lalunya.
"Sayang, Maafkan aku. Semua ini salah ku, seandainya aku bisa menjadi laki-laki baik-baik seperti yang lain. Anak kita tak akan mendapatkan karma nya." Kata papi Ello sendu tampak sejuta gurat penyesalan di wajah nya.
"Apa kau sudah menyadari kesalahan mu?" Tanya mom Buu tak suka.
"Ya, aku menyadari. Aku memang salah, aku lah penyebab dari semua permasalahan yang di hadapi anak kita." Ujarnya lagi.
"Baguslah kalau kau sadar. Dan aku tidak hanya membutuhkan kesadaran mu, tapi kau harus mengembalikan semua kepercayaan dari orang-orang yang telah menganggap buruk putra kita! Bila kau tidak bisa mengembalikan semua kepercayaan orang pada putra kita, jangan harap kau akan mendapatkan maaf dari ku." Tegas nya penuh ancaman.
Perkataan istrinya bagai sebuah sayatan pedang yang begitu dalam dan panjang bagi papi Ello. Sakit sekali mendengar kata tak ada maaf dari istrinya.
Dia tak tahu, apakah ini memang disebabkan oleh musuhnya di masa lalu atau tidak. Tapi bila mengingat-ingat semua anak nya tidak ada yang memiliki musuh. Maka satu-satunya penyebab orang yang memiliki musuh di keluarga nya adalah dirinya sendiri.
"Aku akan berusaha berbicara pada Alex dan menjelaskan nya. Sekali lagi, maafkan aku atas semua kesalahan ku di masa lalu." Kata nya sendu. Dia sangat sedih, bahkan lebih sedih dari yang di bayangkan orang lain saat dirinya tak lagi mendapatkan kepercayaan dari istrinya.
Padahal suaminya ini merasa sangat letih setelah seharian penuh bekerja, dan baru saja pulang ke rumah belum melakukan apapun sudah di suruh untuk keluar lagi.
Sungguh malang nasib nya harus terjebak dengan keadaan seperti ini, namun papi Ello berusaha sadar dan apa yang menimpa nya kali ini dia anggap sebagai karma di masa lalu.
"Mi, sebaiknya papi bersih-bersih dulu dan istirahat. Kita ke kediaman om Alex kalau sudah jam 7 saja. Lagian ini masih sore." Kata Dave memberi masukan.
Dia tak tega melihat papi nya menjadi sudah akibat permasalahan nya.
Huh, Mom Buu menghela nafas berat. Merasa masih jengkel dengan suaminya.
"Baiklah, Mommy setuju pendapat mu. Tapi, nanti kita pergi bersama. Mommy akan ikut untuk melihat seberapa keras perjuangan papi membujuk tuan Alex!" Sahut mom Buu menggebu-gebu.
Setelah mengatakan hal itu, mom Buu langsung beranjak dari sana. Meninggalkan suami dan putra sulungnya yang kebingungan dengan tingkah sang mommy sembari menatap punggung yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan.
"Sabar, Pi. Jangan terlalu dipikir perkataan mommy, mungkin mommy sedang emosi saat ini maka nya seperti itu." Kata Dave mencoba memberi pengertian pada papi nya yang masih menatap punggung istri nya padahal sudah tidak terjangkau dari penglihatan nya.
"Tentu, Dave. Papi sangat mengerti dengan perasaan mommy saat ini. Papi hanya sedih karena mengingat masa lalu papi yang buruk." Kata papi Ello pandangan nya menerawang jauh seperti mengingat akan masa lalu nya.
"Papi sangat beruntung memiliki putra seperti mu. Papa bangga dengan mu, Dave. Kau tak pernah membuat ulah sedari kecil. Masa remaja mu hanya di habiskan dengan buku-buku mu serta praktikum yang kau buat sendiri. Papi bangga, nak."
"Teruskan perjuangan mu, papi selalu mendoakan yang terbaik untuk mu dan juga untuk adik-adik mu. Papi tidak ingin kalian menjadi seperti papi di masa muda nya. Karena itu akan menumbuhkan penyesalan yang teramat dalam diri." Jelas papi Ello merasakan apa yang di rasakan saat ini.
"Iya, Pi. Dave akan selalu mengingat semua nasehat papi. Meski sebenarnya Dave pun sudah sangat bersalah pada seorang gadis yang sangat Ello sayangi." Sahut Dave. Arah mata nya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Sudah lah, Dave. Jangan terlalu larut dalam penyesalan. Sebaiknya kita memikirkan cara untuk membujuk Alex agar bisa kembali mempercayai mu." Jelas papi Ello.
"Sekarang kamu kembali ke kamar dan obati luka mu. Apa itu hadiah dari Alex?" Tanya papi Ello yang ingin ia utarakan sejak tadi.
"Papi pasti mengetahui nya."
"Hm, tak apa. Cepat lah kau kembali ke kamar. Papi tunggu jam setengah tujuh harus sudah siap."
Dave pun mengangguk lalu pergi dari ruangan itu menuju kamar.