Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Meminta Bantuan Papi Ello



Dave berjalan keluar mansion dengan langkah gontai, pikirannya buntu. Tak tahu harus bagaimana memperbaiki hubungannya dengan Ana.


Hubungan yang belum sempat terjalin itu lebih dulu terputus akibat keegoisannya sendiri.


Andai bisa memutar waktu, Dave tak akan melakukan hal ini. Dia akan mengatakan yang sejujurnya meski takut Ana tak akan menerima kenyataan sebelum mendapatkan bukti nyata.


Tapi ya sudahlah, menyesal pun tak ada gunanya. Saat ini yang harus dipikirkan nya adalah bagaimana caranya untuk bisa membujuk orang tua Ana.


Tuan Alex maupun Nyonya Jenni sangat murka mendengar fakta yang sebenarnya.


Satu-satunya orang yang bisa membujuk mereka adalah Papi Ello. Ya, Dave harus membujuknya untuk mewakili meminta maaf pada mereka.


Dave bergegas ke mobil, lalu melajukan mobil itu menuju ke arah mension.


Dia tak ingin membuang waktu lagi, secepatnya Dave akan bertindak. Bila perlu dia akan segera menyusul Ana ke London.


Sebelum melanjutkan melajukan kendaraannya ke mansion, Dave lebih dulu memastikan posisi Papinya saat ini.


Dia mengambil ponsel lalu menghubungi Papinya.


"Halo, pi." Sapa Dave saat panggilan itu sudah terhubung pada Papinya.


"Ada apa kau menghubungi papi?" Tanya papi Ello tanpa basa-basi. Dia tahu, anaknya yang satu ini tidak mungkin menghubunginya bila tidak ada sesuatu yang urgent.


"Apa papi sudah di mansion?" Tanya Dave.


"Tidak. Papi masih di kantor. Sepertinya hari ini Papi lembur." Jawab papi Ello menjelaskan.


"Apa papi bisa meluangkan waktu sebentar untuk ku?" Tanya Dave sedikit sungkan. Masalahnya dia tahu kesibukan Papinya yang tak bisa ditinggalkan.


"Apa ada hal penting?" Tanya papi to the poin.


Jarang sekali anak sulungnya memintanya meluangkan waktu untuknya. "Tidak biasanya kau meminta papi meluangkan waktu untuk mu, nak. Katakan saja, papi akan membantumu." Jelas papi Ello.


Dia kira, anaknya yang mandiri ini bisa mengatasi segala permasalahannya sendiri dan tak membutuhkannya lagi. Ternyata seorang anak tetaplah anak, dia akan mencari perlindungan dari orang tuanya.


Begitu pula Dave saat ini, dia masih membutuhkan orang tuanya. Sehebat apapun dia, Dave tetaplah seorang anak, Dave tetaplah manusia yang masih membutuhkan sesama manusia dalam menyelesaikan masalahnya.


"Bila papi tidak keberatan, aku ingin meminta bantuan papi untuk menemui Om Alex dan Tante Jenni." Bujuk Dave hati-hati. Dia tak ingin ayahnya tahu permasalahan yang dihadapinya saat ini. Walau pada akhirnya papi Ello tetap akan mengetahui, tapi setidaknya bisa Dave tunda sampai papinya pulang ke mansion.


"Memangnya ada keperluan apa? Kenapa tidak kamu sendiri yang menemuinya? Apa ada masalah serius?" Tanya papi Ello penasaran.


"Sebaiknya aku jelaskan saat papi di mansion. Sekarang lebih baik papi pulang, aku tunggu di mansion, Pi." Sahut Dave cepat. Dia tak ingin semakin di interogasi Papinya melalui sambungan telepon, karena menurutnya itu kita efektif.


"Oke, papi matikan penggilannya." Kata papi Ello.


"Baik, Pi." Sahut Dave.


Papi Ello mengakhiri panggilan itu setelah mendapatkan persetujuan dari Dave.


Sedangkan Dave kembali meneruskan mengendarai mobilnya hingga menuju mension.


Saat tiba dai mansion, keadaan di sana masih sepi. Sepertinya papi Ello belum sampai di mansion. Begitu pula dengan dua saudara kembarnya.


Bila Davio sibuk merayu para wanita, berbeda dengan Davian yang pasti sedang sibuk mengutak-atik gadgetnya untuk membobol situs-situs yang memiliki lapisan keamanan tinggi. Bisa dibilang Davian adalah seorang hacker profesional yang tak meninggalkan jejak sedikitpun sehingga pihak terkait tak mengetahuinya.


Meski begitu, Davian tak pernah mencuri data rahasia dari pihak manapun jika tidak memiliki masalah padanya dan orang-orang disekitarnya.


Adik yang satunya itu memang sangat pandai dalam bidang situs internet. Tak heran jika saat meretas cctv sebagai barang bukti Dave dan Sonya itu hanya membutuhkan waktu beberapa jam.


Sedangkan Dave sendiri memiliki kelebihan dalam meracik obat maupun racun. Suatu hal yang sangat jarang diketahui manusia pada umumnya, namun Dave dengan sedemikian detailnya dapat meracik sebuah zat kimia hingga menemukan sebuah inovasi dalam bidang obat-obatan ampuh maupun racun paling mematikan.


"Dave, tumben pulang cepat, nak. Mommy senang kami bisa ikut makan malam bersama." Mommy Buu terlihat menyambut anaknya dengan begitu antusias. Sedangkan yang disambut hanya memberikan senyuman paksa.


Tiba-tiba saja bola mata mom Buu terbelalak sempurna melihat wajah anaknya. "Dave, apa yang terjadi dengan mu??" Tanya mom Buu begitu panik. Tubuhnya langsung mendekat kearah anaknya lalu merengkuh dan memeluknya.


"Sayang, kamu kenapa?? Kenapa bisa ada luka lebam seperti ini?? Apa kamu baru saja berantem?? Berantem dengan siapa??" Tanya mom Buu memberondong dengan segelintir pertanyaan.


"Ini hanya luka kecil karena tadi bantu orang kena jambret, mom." Dusta nya. Tak mungkin dia mengatakan hal sebenarnya untuk saat ini.


Meski dia berusaha untuk tersenyum tapi nyatanya tetap tak bisa. Bibirnya terlalu kelu untuk memberikan senyuman indah seperti biasa, kali ini Dave sedang kehilangan penyebab dirinya bisa tersenyum. Oleh sebab itu, dia benar-benar sedang tidak bisa menampilkan senyum meski itu sebuah kepalsuan.


"Ya ampun, Sayang. Kenapa kamu sampai terluka seperti ini? Apakah tidak ada yang membantu mu? Lalu bagaimana dengan pencopet itu? Apakah dia tertangkap dan masuk ke penjara? Seharusnya penjahat seperti itu sudah tak bisa lagi berkeliaran di negeri ini." Sungut mom Buu tak terima melihat anaknya mendapatkan luka lebam di wajahnya. Bahkan sudut bibirnya terkuat mengeluarkan darah namun sudah mengering.


"Aku tidak apa, mom. Sudah jangan bahas itu lagi ya?" Tutur Dave bertanya namun mengandung perintah.


Tatapan Dave kembali kosong saat pandangan matanya menuju sebuah pigura besar berisi fotonya bersama dua saudaranya ketika masih kecil. Dia ingat sekali perdebatan kala itu yang menurutnya sangat berkesan.


Andai waktu bisa diputar, dia ingin mengatakan cinta disaat itu pula dan tak akan pernah menyakitinya.


Walau bagaimanapun, tidak dibenarkan mencintai atas dasar sebuah kebohongan hingga pada akhirnya menjadi bumerang untuk diri sendiri. Dave tersiksa dengan kebohongan yang dibuatnya. Dia terbelenggu dengan sebuah kata dusta hingga akhirnya menyakiti orang yang dicinta sampai pada akhirnya dia menyerah dan memilih menjauhinya entah sampai kapan itu tiba hingga tuhan menyatuka mereka.


"Dave, are you okay?" Tanya mom Buu khawatir melihat kecemasan dari sorot mata anaknya. Terlebih melihat bibirnya yang terlihat kelu untuk menampilkan senyum serta mata sendu nya yang begitu kentara. Membuat siapapun tahu dan bisa menebak jika Dave sedang mengalami tekanan dan masalah berat kali ini.


"Hm, I'm okay, mom. Jangan khawatirkan Dave, aku sudah besar dan bisa menjadi diri sendiri, mom." Tutur Dave memastikan. Dia tak ingin mommy nya bersedih akibat dirinya.


"Tapi bagi mommy, kamu tetaplah bayi tampanku yang paling baik. Jangan pernah sekali-sekali menutupi rahasia dari mommy, nak. Berbagilah keluh kesah dengan mommy, pasti akan mommy dengarkan." Kata mommy memberi nasehat.


"Thanks, mom. Mommy yang terbaik." Tiba-tiba Dave melabuhkan kepalanya di pundak sang mommy, tangannya dia lingkarkan di pinggang mom Buu.


Untuk kali ini saja, biarkan seperti ini. Dave sedang membutuhkan sandaran agar kuat menghadapi kenyataan. Jika bisa, Dave ingin sekali berteriak dan berkata seperti itu, sayangnya kesehatan sang mommy masih menjadi pertimbangan. Dia tak ingin menjelaskan semuanya dan membuat mommy nya shock bahkan sampai drop.


Tidak, hal itu tidak akan pernah ia lakukan supaya tidak terjadi apapun pada mommy nya.