
...✨✨✨...
...🍁Aku akan selalu mencintaimu di setiap langkah ku. Kemanapun aku melangkah, tak akan pernah meninggalkan rasa cintaku padamu.🍁...
...~David Sanjaya Grey~...
...🥀🥀🥀...
POV David Sanjaya Grey
Kala itu, Aku mengunjungi sebuah pesta besar yang khusus dihadiri oleh para kolega bisnis.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka mengunjungi pesta seperti itu. Karena biasanya ada banyak para penjilat yang menawarkan putrinya menjadi kekasih ku, mereka tahu aku belum memiliki pasangan.
Tapi karena saat itu mommy sedang sakit, begitupun Davian maupun Davio yang sama-sama sibuk dengan kegiatannya, akhirnya aku ikut hadir dalam pertemuan itu daripada papi tidak ada yang menemani.
Aku masih ingat dengan jelas saat itu aku merasa sangat muak pada semua orang memperlakukan ku dengan baik. Bukan karena perlakuannya yang baik yang membuat ku muak, tapi karena kepura-puraan mereka.
Ya, aku tahu mereka hanya berpura-pura baik karena memiliki maksud tertentu seperti biasa, menawarkan anak gadisnya. Aku jengah dan merasa sangat bosan. Aku memutuskan untuk meninggalkan pesta yang bahkan belum dimulai.
Namun saat aku berbalik dan bersiap untuk melangkah pergi, aku melihat papi sedang bercengkrama dengan sahabatnya. Aku tahu beliau adalah tuan Alex, sahabat baik Papi.
Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian ku, melainkan gadis cantik disampingnya menggunakan gaun selutut tanpa lengan berwarna baby blue yang sedang berjabat tangan dengan papi menampilkan senyum lembut.
Sangat Cantik!
Itulah kesan pertama saat aku melihatnya, senyuman manis menghias bibirnya, serta mata teduhnya begitu mendamaikan, sepertinya aku tak ingin melepaskan pandangan darinya.
Aku terpana, seolah tak ada objek lain yang dapat ku pandang selain dia, waktu seakan berhenti, ku pandangi senyumannya yang begitu menawan serta memabukkan.
Entah mengapa tiba-tiba hatiku berdesir melihat senyuman itu.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku menggeleng-gelengkan kepala menyadarkan diri sembari menepis perasaan yang tiba-tiba menyelinap dalam hati.
Tapi hati ini tak bisa mengelak. Ya, aku mengakui jatuh cinta padanya. Dalam hati, aku bertanya-tanya apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
Namun pertanyaan itu tak mampu ku ucapkan, hanya bisa berputar dalam otak untuk mencari jawaban pada diri sendiri.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, lucu sekali menurut ku. Aku jatuh cinta pada seorang gadis yang baru pertama kali melihatnya.
Tanpa terasa aku sedikit menyunggingkan senyum, sedikit sekali! hingga orang lain tak menyadari kalau aku sedang tersenyum.
Namun sedetik kemudian aku tersadar, aku langsung mengubah raut wajahku menjadi dingin tak tersentuh seperti biasa.
Tak berselang lama, papi mengedarkan pandangan. Saat matanya bertatapan dengan ku, papi langsung memanggil menyuruhku mendekatinya.
Aku tahu papi akan memperkenalkan mereka padaku, dengan langkah tegas dan penuh wibawa aku berjalan kearahnya.
Sengaja ku buat raut wajahku se datar mungkin agar tak ada orang yang mengetahui aku mencintai gadis yang ada di sana.
Saat aku sudah berada diantara mereka, papi langsung memperkenalkan ku pada Tuan Alex beserta istrinya, lalu yang terakhir putrinya yang sudah berhasil mencuri hatiku bahkan sebelum dia melihat ke arahku.
Gadis itu terlihat memandang ku dengan tatapan kagum, tapi aku membalasnya dengan tatapan dingin karena aku sadar aku tak ingin menyakiti hatinya. Maka aku harus membentengi hatiku sekuat mungkin, jangan sampai kita menjalin sebuah ikatan yang nantinya akan semakin membuat dia merasa kehilanganku.
Dia mengulurkan tangannya memperkenalkan diri sembari tersenyum manis, senyum yang mampu memporak-porandakan seluruh rongga dada hingga ke ulu hatiku.
"Ha_hai, Aku Ana." Dia tampak grogi saat memperkenalkan diri. Pandangannya sedikit menunduk, sepertinya dia takut melihat tatapanku yang dingin.
"Dave." Aku membalas sapaannya dengan singkat, kemudian melepaskan tangan.
Setelah proses perkenalan itu, tuan Alex mengajakku mengobrol tentang masalah bisnis. Sama seperti yang lain, tuan Alex juga memuji tentang kehebatan ku dalam mengelola bisnis Farmasi ku yang semakin pesat.
Kali ini aku merasa nyaman dengan obrolan tuan Alex, karena meski dia memuji tetapi tak ada maksud lain di balik pujiannya. Aku tahu dari raut wajahnya serta tak berusaha untuk mendekatkan anaknya padaku meski putrinya juga ada disini, didekat ku.
Terlalu lama perbincangan kami, hingga merembet ke masalah pribadi. Papi menawarkan jamuan makan malam kepada mereka.
Dan beberapa hari kemudian, Tuan Alex beserta keluarganya mengunjungi kediaman kami.
Saat itu aku belum tahu akan kedatangan mereka, di malam itu saat aku keluar dari ruang kerja tiba-tiba melihat sosok gadis menggunakan dress berwarna hitam.
Aku mengerutkan dahi melihat gadis itu sedang meraba-raba fotoku dan kedua saudara ku saat masih kecil yang terpajang di dinding dekat tangga.
Dari belakang sangat terlihat dia sedang tersenyum menatap foto itu. Aku mendekat kearahnya kemudian memegang pundaknya.
"Sedang apa kamu disini?" Suara beratku mampu mengagetkannya.
Sebenarnya bukan gadis itu saja yang kaget, aku juga merasa terkejut saat melihat gadis yang beberapa hari ini mampu memenuhi otakku ada disini.
"Dave?" Panggilnya dengan mata berbinar.
Aku bukan orang bodoh yang tidak peka dengan tatapannya. Aku tahu dia menaruh perasaan padaku.
Benar kata orang, cinta itu tak bisa disembunyikan. Meski segala tindakannya bertolak belakang, namun matanya tak bisa berbohong.
Dan aku melihatnya dari sorot matanya, dia menatapku dengan tatapan cinta sama sepertiku.
Namun aku begitu pandai menutupi perasaan ku padanya. Aku begitu pandai mengubah tatapan cintaku menjadi tatapan yang tajam dan dingin.
"Sedang apa kau disini?" Tanyaku dingin.
Aku tahu gadis itu takut dengan suara berat ku yang terkesan dingin. Dia menundukkan kepala, matanya terlihat sendu.
Entah mengapa aku merasa bersalah dan ikut merasa nyeri di dalam dada saat melihat mata sendunya.
Ingin sekali aku meraih tubuh mungil itu lalu mendekapnya, namun aku tak seberani itu.
"Aku datang kesini bersama Daddy." Cicit nya. Dia masih menundukkan kepala, namun aku dapat melihat dia mengedip-ngedipkan matanya lucu.
Astaga ... dia menggemaskan sekali, rasanya tangan ku ini gatal ingin sekali mencubit pipinya.
Tak lama kemudian seorang nany datang kearah kami lalu menyuruh kami untuk segera ke ruang makan.
Namun saat nany itu akan pergi, Ana mencegahnya dia seperti ingin meminta diantar ke sana.
Sebelum Ana menyelesaikan perkataannya, reflek aku langsung meraih tangannya dan membawa ke ruang makan.
Senang sekali bisa bergandengan tangan dengan gadis ini. Tetapi tak lama kemudian aku tersadar, aku telah melakukan kesalahan dengan berdekatan dengannya.
Saat akan memasuki ruangan aku langsung menarik tanganku darinya, dia terlihat kaget saat aku menyentak tangannya sedikit keras.
Padahal niatku bukan seperti itu, tapi karena baru tersadar menggandengnya reflek menarik tanganku dengan keras.
...💙💙💙...
...TBC...
See you next chapter 👋🙂