Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Kemurkaan Dave 1



Dia sudah tidur dengan ku!"


"Aku tahu," Sahutnya datar, tanpa ekspresi keterkejutan sedikit pun.


"Aku akan segera membuat nya hamil." Sahut Dave cepat. Mencoba agar laki-laki itu menyerah. Tetapi perkiraannya salah, dia justru tersenyum menatap Dave.


"Dan aku akan ikut menyumbangkan sper-ma milikku." Ujarnya begitu santai. "Aku juga akan melakukan hal sama, aku akan menyemburkan sper-ma ku dalam rahim nya."


"Kurang ajar!"


Bugh


Bugh


Dave menghadiahkan bogem mentah pada mulut Edo yang sudah berani lancang mengatakan sesuatu yang sangat membuat Dave murka.


"Jangan pernah kau katakan itu lagi atau aku akan merobek mulut mu!!" Dave benar-benar sudah murka, akhirnya tak dapat mengendalikan emosi dalam jiwa.


Ana yang mendengarkan keributan dari luar, akhirnya tak keluar dengan langkah tertatih-tatih tanpa memperdulikan ancaman Dave.


Saat sampai di ruangan itu, Ana langsung berusaha menghentikan pukulan-pukulan dari dua orang itu karena semakin memanas. Kini bukan hanya Dave yang melayangkan bogem mentah, tetapi Edo pun membalas pukulan Dave karena merasa tak terima. Akhirnya, terjadilah saling pukul.


"Dave...! Hentikan!" Ana berteriak keras saat melihat Dave berada di atas tubuh Edo, dan memukuli nya dengan membabi-buta.


"Dave, sudah! Ku mohon hentikan! Dia bisa mati!" Ana berteriak histeris. Tetapi Dave sama sekali tak memperdulikan teriakan nya.


Ana berinisiatif mendekat dan memeluk tubuh Dave dari belakang. "Dave ... hentikan."


Detik berikutnya, Dave tersadar dari apa yang baru saja dia lakukan. Bukan karena Ana memeluk nya, tetapi karena merasa ada cairan yang berada di punggung nya hingga membuat kain yang membalut tubuh nya terasa basah, membuat nya tersadar telah membuat seseorang ketakutan, terlebih saat merasakan tubuh dibelakang nya bergetar hebat, Dave semakin merasa bersalah.


Tetapi, yang dilakukan Dave justru sebaliknya. Dia membalikkan tubuhnya lalu menatap dingin wanita nya.


"Sudah ku bilang jangan keluar kamar!!"


Ana tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, dia menggeleng-gelengkan kepala menatap tak percaya pada Dave karena sudah membentak nya.


"Kamu jahat, Dave!" Pekik Ana. Tanpa memperdulikan Dave, Ana menghampiri Edo yang terlihat kesulitan untuk bangun.


Dave sangat tidak percaya pada tindakan Ana yang lebih memperdulikan laki-laki lain, di saat dia sendiri membutuhkan nya. Dave juga terluka, seharusnya Ana lebih memperdulikan nya dibanding laki-laki asing itu. Dan hal ini semakin membuat Dave cemburu.


"Thanks, baby girl." Kata Edo di sela-sela desisan nya karena seluruh tubuh terasa sakit semua.


"Sebaiknya kamu segera pulang dan obati luka mu." Ana berkata ketus pada Edo yang sudah berhasil berdiri dengan dibantu Ana.


"Ssshh ... Baiklah, lain kali aku akan kesini lagi. Aku pergi."


Cupp


Duarr


Mata Dave membulat sempurna bahkan hampir terlepas dari tempat nya saat dengan lancang nya Edo mengecup bibir Ana.


"Kurang ajar!"


Bug


"Brengsek!"


Bug.


"Sialan kau! Berani-beraninya menyentuh milikku!!"


Bug bug bug.


"Akan kuu bunuh kau!!"


Bug bug bug.


"Dave, hentikan!!" Ana berlari menghampiri Dave dan berusaha menghentikan laki-laki itu. Tapi tetap saja, tenaga nya tak sebanding dengan tenaga Dave yang sudah kesetanan.


"Minggir!!" Tanpa sadar Dave menyiku tubuh Ana hingga terjerambat ke lantai. Luka di area paha nya yang tadi masih terasa perih sudah hilang begitu saja saking takut nya dengan keadaan ini.


"Dave, berhenti! Dia bisa mati." Ana berusaha bangkit dari lantai. Sudut bibir nya sedikit mengeluarkan darah, karena siku Dave tepat membentur sudut bibir nya.


Meksi merasa sakit, tapi Ana berusaha untuk tetap kuat dan harus segera meleraikan pukulan-pukulan Dave, bila tidak maka bisa saja Edo tak bisa tertolong.


Bug bug bug.


Edo benar-benar sudah tak sadarkan diri, tetapi Dave seakan-akan buta akan penglihatan nya, dia masih saja memukuli Edo tanpa melihat laki-laki yang dipukulinya sudah tak membuka mata.


"Dave, ku mohon jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik." Ana bahkan sudah berderai air mata, tetapi Dave seakan tak mendengar Ana atau melihat nya ada.


"Dave hentikan!!" Pekik Ana keras sembari mendekap tubuh Dave dari belakang seperti tadi, berharap Dave akan luluh. Tetapi percobaan yang dilakukan nya gagal, Dave benar-benar tak menghiraukan sama sekali perkataan dan pelukan Ana.


"Ku bilang minggir, jangan hentikan aku!!"


Bukan nya menghentikan pukulan nya, Dave justru semakin memkuli nya dengan sangat brutal.


Ana sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi jika seperti ini. Diri nya sudah tak berpengaruh di mata Dave. Yang bisa dia lakukan hanya lah mencari bantuan.


Ana berlari keluar meski dengan langkah tertatih-tatih karena menahan sakit. Dia berjalan menuju lift, tujuan nya adalah memanggil scurity di bawah.


Seharusnya dia tidak perlu kebawah untuk memanggil scurity karena dia bisa memanggil nya melalui telepon. Tetapi, karena keadaan nya yang begitu panik membuat nya tak bisa berpikir jernih hingga tak ingat akan hal itu.


Setelah sampai di lobby, Ana sedikit menjelaskan kekacauan yang terjadi pada mereka lalu segera menuju ke sana.


Saat sampai di apartemen, Dave masih saja memukuli Edo padanya keadaan nya benar-benar sudah tak baik-baik saja.


Yang bisa dilakukan Ana adalah menangis, dia tak mampu berbuat apapun saat Dave diliputi amarah.


Bukan takut karena Edo yang terluka, lebih tepat nya Ana takut bila Edo sampai terluka parah dan pada akhirnya Dave akan masuk penjara. Apalagi saat ini berada di negara lain, yang tak memiliki hak kuasa apapun.


"Dave ku mohon, hentikan. Dia bisa mati." Suara Ana terdengar parau, matanya sembab, tenaganya habis karena lelah.


Dua scurity itu masih berusaha memisahkan Dave, tetapi tetap saja kuwalahan. Bukan karena mereka tak kuat, tetapi memang tenaga Dave yang sangat kuat terlebih sedang dihinggapi amarah.


Satu scurity berinisiatif keluar untuk mencari bantuan yang lain. Saat masuk kembali, sudah membawa seorang pria yang ikut membantu.


Tiga orang itu bekerja sama memisahkan tubuh mereka. Dua orang bertugas membawa tangan Dave menjauh dari tubuh Edo, sedang satu orang lagi menyeret tubuh tak berdaya Edo dari jangkauan Dave. Saat orang yang membawa Edo berhasil keluar, kini dua orang yang lain pun ikut beranjak dari apartemen itu.


Namun, sebelum mereka pergi Ana sempat berpesan agar membawa ke rumah sakit, dengan seluruh biaya akan ditanggung nya.


Ana juga berpesan agar tidak melaporkan hal ini pada pihak berwajib sebelum Edo sendiri yang meminta. Setelah mengatakan hal itu, Ana memberikan beberapa lembar uang sebagai tips. Orang itu terlihat menerima dan tak membantah dengan apa yang dikatakan Ana. Bahkan mereka terlihat cuek bebek dengan situasi yang baru saja terjadi.


Mampir juga ke karya temen Kuy



JANGAN LUPA RITUALNYA, GERAKIN JARINYA.😂


LIKE


KOMEN


HADIAH


VOTE


FOLLOW AKUNKU🤣


Nunggu satu bab lagi.


Seharusnya udah nulis dari tadi, but karena nonton film malah jadi terbengkalai.