
Ana terus berjalan cepat menyusuri ruangan demi ruangan hingga sampai di pintu keluar kantor.
Tanpa menunggu banyak waktu dan tanpa menghiraukan pekikan dari seseorang di belakang nya yang sejak tadi memanggil nya, Ana masuk ke dalam mobil.
"Berhenti, Ana!!!" Bentak seseorang yang sejak tadi berlari menyusul di belakang nya.
Seperti tadi, Ana tak menghiraukan sedikit pun panggilan orang itu.
Meski orang yang memanggil nya terlihat begitu marah, tapi Ana tak takut sama sekali.
Ia membiarkan orang itu terua memanggil serta mengetuk-ngetuk kaca mobil saat di dekat nya.
Ana lebih dulu menyalakan mesin mobil dengan pandangan lurus ke depan. Padahal Dave ada di samping pintu kursi yang di duduki nya saat ini.
"Ana, turun!! Jangan memancing amarah ku!!" Dave berkata dingin sembari menatap tajam Ana dari luar mobil yang tak terlalu terlihat karena kaca mobil itu terlihat hitam dari luar mobil.
"Ku bilang turun, Ana." Kata Dave lagi. Kini kata-kata nya berkali-kali lebih dingin dari yang tadi.
Akan tetapi Ana masih tak menghiraukan nya. Ia bahkan terlihat cuek dengan wajah datar nya.
Tanpa menghiraukan orang di luar mobil nya, Ana menghidupkan mesin mobil nya begitu saja.
Dave beralih menghadang mobil Ana dari arah depan, sehingga mau tak mau Ana tak jadi menancapkan gas jika tak ingin menabrak orang.
Ana hanya bisa menghela nafas berat sembari memejamkan mata. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana dengan keadaan nya kali ini.
Kenapa seakan Dave mengejar nya?? Tapi saat Ana yang mengejar, dia justru berlari menjauh dari nya.
Dave itu bagaikan seekor kupu-kupu bagi Ana, Jika di dekati dan mencoba menangkap nya dia akan menjauh, tetapi saat Ana berusaha melepaskan tanpa di minta dia datang sendiri.
Tinnnn
Ana yang kesal melihat Dave tak mau menyingkir dari depan mobil nya, ia berinisiatif meng klakson dengan suara keras. Namun itu sama sekali tak mempengaruhi Dave sedikit pun.
Bahkan ia tak beranjak sedikit pun dari hadapan nya.
"Sebenarnya apa yang kau ingin kan, Dave?" Kata Ana dalam hati sembari menatap nanar wajah Dave yang saat ini sedang menatap tajam ke arah nya dengan kedua tangan nya di lipat di dada dan kedua kaki nya sedikit di buka.
Menurut nya Dave tak akan bisa ia gapai, maka dari itu Ana sudah mengikhlaskan jika memang ia tak bisa bersama.
Ana akan pergi membawa hati dan cinta nya. Berusaha agar menerima se ikhlas-ikhlas nya. Agar tak akan terus-terusan menggenggam duka yang begitu lara.
Mencinta tanpa di cinta memang lah sebuah duka. Duka yang begitu lara, hingga semua orang tak kan tega melihat betapa hancur nya jiwa yang terluka karena cinta.
"Ana, stopp!!"
"Dave!"
Suara lengkingan seorang wanita yang memanggil nama Dave itu berhasil membuat Dave mengalihkan perhatian nya dari gadis yang saat ini ada dalam mobil.
"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Dave sedikit tak suka saat melihat wanita bernama Sonya ini masih di sini. Padahal Dave sengaja meninggalkan nya sendiri agar dia bisa pulang lebih dulu sebelum ia kembali ke ruangan.
Namun dugaan bh ya salah karena ternyata wanita itu masih ada di kantor nya.
"Aaah Dave tolong aku..!"Rintih Sonya sembari memegang perut nya yang terasa keram.
Meski awal nya terlihat ragu, tapi Dave tetap menghampiri wanita itu. Walau begitu, Dave terlihat berpikir sejenak, mengingat jika ia berlalu dari depan mobil yang sedang di kendarai Ana, maka gadis nya akan segera pergi.
Tetapi, sekali lagi ia mendengar rintihan kesakitan dari wanita yang ada di depan nya maka Dave mau tak mau menolong nya.
Dave berjalan mendekat ke arah Sonya yang saat ini sedang dalam posisi sedikit berjongkok sembari memegangi perut nya.
"Kau kenapa?" Tanya Dave pada wanita di hadapan nya.
Tetapi dari lontaran kata-kata itu itu tak menunjukkan kecemasan sedikit pun. Bahkan Dave terlihat menatap dingin pada Sonya.
"Dave, perut ku sakit." Sonya mencoba meraih tubuh Dave lalu memeluk tangan nya erat karena memang sejak tadi ia merasa tubuh nya sudah sangat lemah serta tak bertenaga untuk berjalan sendiri. Ia takut akan tumbang di lantai jika tak berpegangan apapun.
"Pe_perut ku sakit sekali, Dave. Tolong antar kan aku ke rumah sakit." Kata nya dengan nada suara mulai melemah dan sedikit terbata-bata.
Keringat dingin mulai keluar di pelipis serta dahi nya, wajah nya terlihat sangat pucat.
Akhirnya Dave tak tega melihat nya. Ia berusaha membantu Sonya, ia memapah tubuh Sonya berjalan hingga sampai di mobil nya.
Dave tak tahu jika interaksi nya bersama wanita itu sedang di perhatikan oleh gadis begitu tulis mencintai nya. Ya, Ana memang sedang memperhatikan Dave dan wanita yang kata nya adalah calon istri Dave.
Mereka terlihat serasi karena sama-sama dewasa, apalagi saat melihat Dave begitu perhatian memapah wanita itu hingga ke dalam mobil, membuat Ana kembali membuka pikiran nya. Dave memang bukan untuk nya, sudah seharusnya dia pergi jauh dan tak perlu menghiraukan nya.
Perlahan namun pasti, Ana kembali menyalakan mesin lalu mengendarai mobil nya dengan pelan. Pikiran nya belum stabil, ia tak mau membahayakan keselamatan nya.
Jadi Ana lebih memilih untuk berkendara dengan pelan agar tak terjadi sesuatu hak yang di inginkan.
Saat mobil itu sudah berlalu sedikit jauh dari kantor, Ana bingung ingin pergi kemana. Hati nya terlalu larut dalam kesedihan, apalagi saat melihat interaksi dua orang yang sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri membuat hati nya kembali merasa sesak.
Tangan nya terulur menghidupkan musik untuk menghilangkan sedikit kesedihan nya.
Lagu itu mulai mengalun indah di indra pendengaran nya.
Lirik demi lirik, bait demi bait dalam lagu itu seakan mengekspresikan semua yang ada di hati nya.
Ia begitu menikmati kalimat demi kalimat lagu itu, lalu tanpa sadar ia ikut bernyanyi.
Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah.
Anugerah cinta yang pernah ku punya.
Kau buatku percaya ketulusan cinta.
Seakan kisah sempurna 'kan tiba.
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat.
Seakan semua tak mungkin menghilang.
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan.
Tak tersisa lagi waktu bersama.
Mengapa masih ada.
Sisa rasa di dada.
Di saat kau pergi begitu saja?.
Mampukah ku bertahan.
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya.
Masih jelas teringat
Pelukanmu yang hangat.
Seakan semua tak mungkin menghilang.
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan.
Tak tersisa lagi waktu bersama.
Mengapa masih ada.
Sisa rasa di dada.
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan.
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya.
Oh, masih tersimpan.
Setiap kеnangan.
Semua cinta yang kau beri.
Kau takkan terganti.
Mеngapa masih ada.
Sisa rasa di dada.
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan.
(Tanpa hadirmu, sayang?)
Tuhan, sampaikan rindu untuknya.
Sampaikan rinduku untuknya.
Terlalu menikmati lagu yang ia nyanyikan, tanpa terasa air mata nya mengalir dalam pipi nya.