Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Mencari Suasana Baru



Dave berjalan gontai melangkah ke dalam mansion setelah lagi-lagi dia mendapatkan penolakan permintaan maaf dari Tuan Alex.


Sehari yang lalu tepatnya kemarin malam, Dave pergi berkunjung ke kediaman Tuan Alex untuk menjelaskan serta meminta maaf pada keluarga mereka. Namun, sedikitpun Tuan Alex tak memaafkan kesalahan yang diperbuat Dave.


Mungkin, bila hanya sebuah kesalahpahaman tentang penjebakan yang terjadi apa Dave, Tuan Alex akan mudah memaafkan nya. Tetapi, yang dilakukan Dave benar-benar sudah membuat Tuan Alex meradang, bagaimana tidak?


Putri satu-satunya pewaris keturunan Alexander di perlakukan kejam oleh laki-laki itu. Memaki nya dengan seenak bicara, bahkan tak segan-segan membuat nya menangis. Dan Alex baru saja mengetahui apa yang menimpa putri nya.


Tuan Alex benar-benar tidak memberi kesempatan Dave untuk memperbaiki kesalahan nya.


"Dave," Panggil papi Ello yang berjalan di belakang nya dengan tangan nya yang masih setia merangkul erat pinggang mami Bulan.


"Ya, Pi." Dave membalikkan badan, menatap wajah papi nya.


"Papi harap, kau jangan pernah putus asa dan patah semangat untuk meminta maaf pada keluarga Alex. Kau tidak perlu memikirkan tersangka dibalik penjebakan mu, karena papa dan adik-adikmu yang akan menangani nya. Lebih baik fokuskan saja perhatian mu pada Ana. Kalau perlu temui lah Ana, dan kejar dia. Pasti dia akan lebih mudah menerima penjelasan mu dari pada meminta langsung pada Alex." Saran sang Papa.


Memang itu lah yang sedang dipikirkan Dave, setelah mendapatkan penolakan dari Tuan Alex, pikiran Dave langsung tertuju pada Ana. Dia berniat untuk mengejar gadis itu. Namun ternyata, papi nya pun memiliki pemikiran yang sama.


"Baik, Pi. Besok pagi, Dave akan langsung mengejar Ana ke London."


Papi Ello hanya mengangguk untuk memberi jawaban pada putra sulungnya. Mereka kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti menuju kamar masing-masing.


Setelah sampai di kamar, Dave tak langsung membersihkan diri atau pun berganti pakaian. Dia terlihat merebahkan tubuh nya di atas ranjang dengan posisi tubuh terlentang, kedua tangan nya di lipat diletakkan di bawah tengkuk dengan tatapan mata nya menatap langit-langit.


Baru beberapa waktu dia tak bertemu dengan Ana, tetapi dia sudah tak bisa menahan rindu.


Dia rindu akan kecerewetan gadis itu, dia rindu dengan semua tingkah konyolnya. Ah, bukan konyol, lebih tepat nya bodoh. Tapi meski begitu, Ana tetap saja memiliki keistimewaan bagi orang-orang yang memperhatikan nya, termasuk Dave.


Begitu banyak tingkah konyol yang diperbuat Ana di setiap waktu, benar-benar membuat Dave terbayang-bayang oleh wajah Ana dengan segala perilaku nya.


Membuatnya tak bisa memejamkan mata meski sebentar saja. Hubungan mereka memang terkesan konyol, tidak memiliki status hubungan apapun tetapi saling mencintai. Bukan hanya saling cinta, tetapi mereka sama-sama tak ingin ada kesalahpahaman.


Bila jauh selalu bertengkar, tetapi bila jauh saling merindu. Ah ... seperti sebuah syair lagu.


.


.


.


Di belahan bumi lain, seorang gadis baru saja keluar dari kampus. Hari ini masih menunjukkan pukul 14.00 waktu setempat, dia berencana untuk pergi ke salah satu market terdekat untuk membeli keperluan yang belum ada.


Badannya sedikit lelah, setelah seharian ini sibuk berkeliling kampus dan berkenalan mencari teman baru dengan berjalan kaki.


Bahkan meski jarak dari apartemen yang ditinggali dengan kampus nya cukup jauh, tapi Ana tetap berjalan kaki sembari melihat-lihat alam sekitar .


Sang supir yang kemarin menjemput Ana ditempatkan tidak jauh dari unit apartemen Ana karena memang sengaja untuk mengawasi Ana atas perintah Tuan Alex.


Ana memang jauh dari jangkauan kedua orang tua nya, tetapi tetap saja dia tak lepas dari pengawasan sang Daddy.


Begitu berarti nya sang anak di mata Tuan Alex dan nyonya Jenni, membuat mereka tak membiarkan anak nya luput dari pengawasan mereka.


Hari ini sebenarnya memang belum ada jadwal kuliah, tetapi Ana sengaja datang untuk melihat-lihat dan mencari teman baru di sana. Sebenarnya hal ini dia lakukan untuk mengurangi kebosanan, dari pada berdiam di apartemen sendiri yang justru membuat nya selalu teringat akan kenangan-kenangan nya di negeri kelahiran nya.


Dan usaha yang dilakukan Ana ternyata berhasil, melihat lingkungan kampus serta berkenalan dengan banyak anak-anak membuatnya tak lagi memikirkan orang-orang yang ditinggalkan nya.


Pikiran nya saat ini hanya lah fokus pada kegiatan yang dilakukan serta rencana kedepannya saat dia sudah resmi menyandang sebagai mahasiswa di sini.


"Huh." Ana menghembuskan nafas kasar ketika dirinya benar-benar merasa lelah setelah berjalan kaki lumayan jauh.


Untung saja cuaca disini tidak seperti di Indonesia yang hanya ada musim panas dan panas sekali.🤣


Yah, walau pun musim hujan, tapi kalau di Indonesia tetap panas bila hujan belum tiba. Jadi sangat tidak cocok jika keluar rumah berjalan kaki.


Sedangkan disini, selain hawa nya yang sejuk, jalanan disini juga kebanyakan sangat nyaman untuk berjalan kaki sembari melihat-lihat aliran sungai di pinggir nya, membuat Ana lebih betah untuk berjalan kaki.


Setelah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menitan, Ana tiba di salah satu market terdekat. Market itu tidak terlalu besar, tetapi menyediakan semua perlengkapan, jadi Ana tak perlu repot-repot pindah ke market lain untuk membeli keperluan lain.


Dia terlihat mencari beberapa makanan cepat saji, dan perlengkapan sabun.


Setelah dikiranya cukup, Ana memutuskan untuk membawa nya ke kasir.


Tak perlu membutuhkan waktu lama, Ana mendapatkan barangnya lalu membawa keluar.


Tak ada yang spesial untuk kegiatan hari ini, tetapi dia cukup menikmati bisa menyibukkan diri. Setidaknya, dia tidak lagi bersedih atau memikirkan hal-hal yang memang seharusnya tidak perlu dipikirkan Ana. Seperti memikirkan Dave dan wanita itu misalnya. Dan Ana sudah berhasil mengatasi nya.


Semoga kedepannya Ana bisa seperti ini lagi.


Sepertinya hari ini Ana sudah merasa cukup menguras energi. Dia tak mampu lagi berjalan kaki sampai ke apartemen. Jadi Ana memutuskan untuk memanggil pak supir untuk menjemput nya.


Ana merogoh ponsel nya di dala tas yang sejak tadi sengaja dia matikan.


Saat baru saja menghidupkan layar, beberapa notifikasi masuk berupa panggilan tak terjawab dari beberapa orang yang dia cintai.


Ana sempat tertegun melihat nya, lalu ia baru mengingat kalau sejak kemarin dia belum menghubungi Daddy dan mommy nya kalau dia sudah sampai di sini dengan selamat.


"Bodoh, Ana. Kenapa kau melupakan daddy dan mommy?" Ana menepuk-nepuk keningnya dengan pelan.