
Saat ini Dave dan Ana sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit menjenguk asisten serta sekertaris Dave setelah perdebatan panjang. Karena Ana menolak untuk berangkat ke rumah sakit bersama.
Akhirnya mereka pergi bersama, meninggalkan sahabat-sahabat Ana yang sejak tadi sudah menunggu. Tapi mereka tidak mempermasalahkan karena pertemuan mereka tidak lebih penting dari pada menjenguk asisten serta sekertaris Dave yang saat ini di rawat di rumah sakit.
Ternyata asisten pribadi nya berbohong ketika mengatakan bahwa tidak ada yang terluka parah.
Kenyataan nya dua orang kepercayaan nya itu sama-sama terluka akibat dari kecelakaan itu.
Asisten Dave yang bernama Leo mengalami luka robek di dahi serta pelipis nya hingga harus mendapatkan 12 jahitan. Meski begitu, asisten Leo masih sadar sepenuhnya. Itu lah sebabnya dia mengatakan tidak apa-apa pada Dave agar tidak membuat boss nya panik. (Saya tidak ingat apakah di part sebelumnya pernah memberikan nama untuk asisten Dave/ belum. Jadi anggap saja namanya Leo 🙏😆)
Sedangkan Belva yang menjadi sekertaris Dave mengalami luka yang lebih parah. (Sama juga ya, tidak tahu kemarin sekertaris sudah diberi nama/belum. Sorry kalo namanya keliru dengan part sebelumnya🙈)
Dia mengalami luka parah di kepala serta patah di kaki kiri akibat terjepit saat mobil itu menghantam keras sisi kiri pembatas jalan.
Sampai saat ini kesadaran Belva belum kembali, dia masih di rawat di ruang ICU dengan selang oksigen yang yang menempel di hidung untuk membantu pernafasan nya.
"Ana." Dave tiba-tiba membuka suara memanggil nama Ana setelah setengah perjalanan dari restoran menuju rumah sakit tidak ada yang membuka suara.
Gadis itu tak menatap sedetik pun pada Dave, pandangan nya masih lurus ke arah jalanan dengan tatapan menerawang jauh.
"Ana, Aku minta maaf atas kejadian tadi." Kata Dave lagi saat tak mendengar ada jawaban dari Ana saat di mencoba menyapa.
"Maaf karena membuat mu shock, tiba-tiba menunjuk kamu menggantikan prestasi." Kata Dave dengan tatapan mengiba. Dia juga merasa bersalah karena dengan seenaknya sendiri menunjuk Ana untuk mewakili presentasi.
Padahal awal nya tidak ada rencana sama sekali. Dave sengaja menyuruh Ana ikut hanya sekedar menemani nya. Bukan seperti ini, tiba-tiba di suruh presentasi tanpa persiapan apapun.
"Ana, kamu marah?" Tanya Dave lagi saat tidak mendapati respon sedikit pun dari nya.
Ana tidak merespon, pandangan nya masih ia luruskan ke depan tanpa berniat melihat ke arah samping untuk menatap wajah Dave yang saat ini sedang menatap nya.
Gadis itu terlihat merapatkan bibir dan enggan untuk menjawab apalagi tersenyum pada nya.
"Ana." Dave sengaja meraih tangan kanan Ana untuk ia genggam.
"Sorry ..." Kata nya lagi dengan wajah sendu
Dia benar-benar merasa bersalah karena membuat gadis nya tertekan tadi.
Bukan hanya itu, dia juga menyesal karena hubungan nya dengan Ana akan semakin memburuk. Padahal saat ini dia sedang mencoba mencari jalan keluar untuk masalah nya agar bisa cepat menyatakan cinta pada Ana.
Tapi itu semua tidak mudah, terlebih saat ini dia belum memiliki bukti kuat bahwa dirinya tidak bersalah.
Semua cctv di tempat itu sudah di hancurkan oleh orang yang sengaja menjebak nya. Lalu bagaimana dengan nasibnya kali ini?
AHA! Davian. Ya, Davian! Dia baru mengingat kalau saudara kembar nya itu sangat ahli di bidang teknologi, pasti dia bisa me-retest cctv yang ada di sana. Dengan begitu masalah nya akan segera selesai dan dia bisa bersama Ana tanpa ada yang mengganggu nya lagi.
Dave tersenyum-senyum sendiri mengingat permasalahan nya akan segera terselesaikan.
Dia akan segera melamar gadis yang berada di samping nya untuk menjadi istri. Dia tidak ingin banyak membuang waktu lagi, Dave sudah sangat tidak sabar untuk memiliki Ana sepenuhnya.
"Sayang ..." Panggil Dave tanpa sadar dengan tangan masih menggenggam tangan Ana.
Sedangkan gadis di samping nya dibuat melongo dengan perkataan Dave yabg tiba-tiba memanggil sayang.
Apa benar Dave memanggil nya seperti itu? Atau dia hanya berhalusinasi saking berat nya melupakan sosok laki-laki di samping nya?
Seketika Ana menatap wajah Dave yang juga sedang menatap ke arah nya.
"Eum ... Sorry." Kata Dave lagi, dia tiba-tiba merasa canggung setelah salah memanggil dengan sebutan sayang.
Dave mengalihkan pandangan nya untuk fokus melihat ke depan, karena sejak tadi dia tidak fokus. Pandangan nya beberapa kali ia alihkan ke samping.
"Apa kamu marah?" Tanya Dave lagi. Tangan nya sibuk menyetir dan matanya sibuk melihat jalanan di depan nya.
Ditanya seperti itu Ana hanya bisa menghela nafas panjang, di bilang marah dia tidak marah, dibilang tidak marah tapi memang dia marah.
Ana tahu kalau Dave melakukan nya karena dalam kondisi urgent, bukan karena ingin menjebak nya. Saat mengingat hal ini juga bukan kemauan nya, Ana tidak marah sedikit pun pada Dave.
Tapi saat mengingat betapa kacaunya prestasi tadi, Ana benar-benar ingin membentur-benturkan kepala Dave ke tembok.
"Sudah lah. Tidak perlu di bahas lagi." Kata Ana membuka suara untuk pertama kali nya setelah Dave terus berbicara pada nya tanpa ditanggapi satu patah kata pun.
"Apa itu artinya kau tidak marah?" Tanya Dave lagi untuk memastikan Ana benar-benar tidak marah. Entah mengapa akhir-akhir ini Dave berubah menjadi cerewet, sedangkan Ana berubah menjadi dingin. Seperti nya dua manusia itu sedang tertukar kepribadian nya, mungkin karena terlalu sering berinteraksi.
"Sudah ku bilang, tidak perlu di bahas lagi. Kenapa kau cerewet sekali?" Kata Ana sembari mendengus kesal.
Dulu dia memang sangat ingin mendengar Dave yang sering berbicara, tapi tidak tahu mengapa sekarang dia lebih suka tidak banyak berbicara dengan Dave setelah penolakan yang di lakukan nya.
Ana tidak ingin hati nya yang belum sembuh kembali terjatuh pada Dave. Maka dia harus lebih berhati-hati dan tidak mudah goyah pendirian nya karena perlakuan Dave yang lebih menghangat.
"Sorry, tapi aku hanya khawatir kau akan semakin marah pada ku." Sahut Dave sendu. Dia memang sangat khawatir Ana semakin membenci nya. Tapi tidak mungkin pula dia mengatakan kamu akan semakin membenci ku, karena hati merasa nyeri bila mengatakan dengan jujur Ana membenci nya.
Meski dia tahu Ana sangat membenci nya, tapi sebisa mungkin dia pura-pura Ana tidak membenci nya. Dia harus yakin pada diri sendiri kalau Ana tidak membenci, hanya sedang marah pada nya.
Dan Dave yakin, setelah Ana mendengar kan penjelasan nya, maka Ana tidak akan marah lagi.