
"Shitt!! Bagaimana mungkin kalian belum menemukan bukti??!! Sudah selama ini aku memberi waktu kalian, tapi hanya me-retest cctv saja kalian tidak becus??!?" Bentak Dave dihadapan tiga orang pria suruhannya. Kilatan penuh amarah itu sangat terpancar di kedua mata tajam nya.
Nafas nya terlihat memburu, wajah nya terlihat memerah karena menahan amarah.
"Maafkan kami Tuan, kami sudah bekerja semampu kami. Tapi memang keamanan di sana sangat sulit untuk kami tembus. Bahkan saya sudah bekerja sama dengan peretas terbaik di kota ini." Jelas nya dengan penuh ketakutan.
Brak
"Saya tidak menerima alasan!!! Dalam waktu setengah jam aku minta kau sudah memberikan bukti nya, kalau tidak maka kau dan teman-teman mu akan menerima akibatnya!" Ancam Dave penuh ketegasan.
Seketika ketiga orang itu menegang di tempat. Padahal memang mereka sudah bekerja keras siang dan malam untuk menembus keamanan cctv di sana. Tapi rupanya me-retest cctv di tempat itu tidak semudah yang di bayangkan.
Seperti nya ada yang sengaja melindungi nya, tentu orang yang sangat berpengalaman dalam bidang itu.
Sebelum nya tiga orang itu selalu mengerjakan tugas kliennya dengan sangat baik. Baru kali ini, mereka melakukan pekerjaan hingga memakan waktu hampir dua bulan tetapi belum juga mendapatkan hasil.
"Mohon maaf tuan, seperti nya kami menyerah." Kata salah satu dari ketiganya. "silahkan Anda menghukum kami. Kami memang sudah berusaha semaksimal kami. Bahkan siang dan malam kami terus berusaha menembus cctv yang ada di sana tetapi memang sangat sulit." Jelas nya lagi.
Laki-laki itu terlihat pasrah dengan ancaman Dave. Bahkan guratan di wajah nya memang sangat terlihat menandakan kalau mereka kurang tidur.
Dave kembali mengurungkan niatnya untuk menghukum mereka. Dave masih diam sembari memutar otak agar bisa mendapatkan bukti.
"Sudahlah! Cepat pergi dari sini sebelum kesabaran ku habis!" Usir Dave seraya mengibaskan tangan memberi kode pada tiga orang itu untuk keluar dari ruangan.
Dengan segera ketiga orang itu keluar. Akhirnya mereka bernafas lega karena ternyata bos nya masih memiliki belas kasih hingga tak mendapatkan hukuman.
Sedangkan Dave tidak terlalu mempersoalkan orang-orang yang tak becus bekerja dengan nya karena saat ini masih ada yang lebih penting di urusi dari pada menghukum orang-orang itu.
Ternyata bayangan tidak sesuai ekspektasi. Dia mengira me-retest cctv itu sangatlah mudah seperti yang ada di film-film atau cerita online. Tapi saat dia mengalami nya sendiri ternyata sangat lah sulit.
Kali ini Dave menyimpulkan bahwa uang memang bukan lah segalanya. Buktinya dia membayar ketiga orang itu beserta tim nya tidak lah murah. Tetapi tetap saja hasilnya nihil.
Baiklah, dia akan mencari bukti sendiri. Seperti nya memang dia harus bertindak lebih keras untuk mencari bukti sekaligus mencari dalang dibalik semua kekacauan ini.
Dave memang terlahir dengan kepintaran di atas rata-rata. Tapi untuk masalah it bukan lah ahlinya. Sejak kecil dia lebih suka meracik obat dan racun sehingga dia tidak terlalu mahir dalam masalah ilmu teknologi yang rumit.
Dave teringat saudara kembar nya yang begitu tengil itu memiliki kelebihan dalam bidang ilmu teknologi. Ya, dia tahu harus meminta bantuan siapa kali ini.
"Davian." Gumam Dave sembari mengelakkan kedua tangan nya. Akhirnya dia memiliki setitik cahaya untuk menghilangkan kegelapan nya saat ini.
Segera ia raih gawai yang berada di atas nakas. Lalu mulai mendiel nomor telepon adik kembarnya.
"Halo, Apa kau mulai merindukan ku?." Terdengar suara adik kembarnya yang ada di seberang sana dengan nada jahilnya.
Davian memang sangat berbeda di antara Dave maupun Davio.
Bisa di bilang kalau Davian itu memiliki tingkat humor yang sangat tinggi. Namun justru terkadang membuat kakak-kakaknya merasa di jahili oleh nya, padahal niat nya hanya melawak.
"Aku butuh bantuan mu." Kata Dave datar seperti biasa.
"Hm ... Aku sudah bisa menebak nya. Tidak mungkin seorang David Sanjaya Grey menghubungi ku di jam kerja jika tidak penting. Memang nya ada hal penting apa sampai kau menghubungi ku?" Tanya davian.
Memang benar, Dave tidak mungkin menghubungi nya bila tidak penting apalagi masih jam kerja. "atau kau jangan-jangan kau menghamili seorang gadis?" Kelakar nya. Membuat Dave mendengus mendengar pertanyaan konyol adiknya yang tentu saja hanya bercanda.
"Bantu aku me-retest cctv di hotel xxx tanggal xxx." Kata Dave tanpa basa-basi.
"Memang nya apa yang akan kau berikan jika aku mendapatkan nya?" Tanya Davian. Tentu saja dia harus memanfaatkan keadaan. Dia tidak mau usahanya tidak mendapatkan imbalan apapun.
"Apa saja yang kau inginkan!" Kata Dave cepat tanpa pikir panjang.
Di seberang sana, Davian menyunggingkan senyum lebar-lebar mendengar perkataan itu. Sudah bisa ditebak sebelumnya, bila Dave sedang terdesak maka akan mengatakan hal seperti itu. "Baiklah kalau begitu aku ingin BMW terbaru mu yang belum pernah kau pakai." Kata Davian.
"Hm." Dave hanya menanggapi dengan gumaman karena menurutnya mobil itu tidak terlalu penting. Yang terpenting saat ini adalah bukti sudah berada di tangan nya.
"Oke deal." Kata Davian sembari terkekeh.
"Aku ingin Jam 2 siang kau sudah menemukan nya." Tekan Dave. Dia tahu saudara kembar nya yang satu ini sangat lihai dalam masalah teknologi. Tapi sayang nya, otak bodoh Dave tak berpikiran sampai ke sana untuk meminta bantuan saudara nya karena takut keluarga nya akan mengetahui.
"Beri waktu aku dua jam, brother." Kata Davian sembari melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan kiri.
Saat ini sudah menunjukkan pukul 13.03, jadi tak mungkin dia mendapatkan rekaman dalam waktu yang sesingkat itu.
"Baiklah, aku tunggu sampai jam 4 sore. Dan ingat! Jangan katakan pada siapapun tentang hal ini." Kata Dave tegas. Dia tak ingin orang lain sampai mengetahui masalah ini karena pasti nya papi dan mami nya akan terbebani dengan hal ini.
Orang tuanya pasti akan ikut memikirkan dalang dibalik penjebakan ini. Terlebih Dave tidak memiliki satu orang pun yang menjadi musuh. Dan hal itu akan semakin menyulitkan nya untuk memprediksi siapa yang menjadi musuh nya.
"Oke, beres. Asalkan..." Davian sengaja menggantung kan perkataan nya.
Tapi Dave yang terlanjur pea langsung memotong perkataan nya.
"Mau apalagi?" Tanya Dave tidak sabaran. Dia ingin Davian secepatnya melakukan tugas nya.
"Hm.. ternyata kau tahu saja Kemauan ku. Aku ingin ( ....)"
"Baiklah." Dave menyanggupi saja permintaan adiknya. Lagi pula itu bukanlah hal yang sulit untuk Dave lakukan.
Lalu menutup panggilan itu tanpa meminta persetujuan Davian.