Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Pergi



"Sayang ...," Dave menatap nanar Ana yang ketakutan saat melihat nya. Dia tak pernah menyangka kalau perlakuan nya akan membuat nya trauma.


"Sayang, maaf kan aku. Aku tidak-"


"Berhenti di sana!" Serunya dengan tubuh bergetar.


Ana terlihat ketakutan saat Dave mendekati nya. Bukan hanya takut, dia seperti memasang tameng untuk tubuh nya sendiri dengan kedua tangan nya yang diletakkan di bagian depan tubuh menutupi dada nya.


"S-sayang, kau kenapa?" Mata Dave berkaca-kaca saat melihat tatapan Ana yang terlihat membenci nya dengan nafas naik turun.


"Pergi." Lirih nya dengan nada suara bergetar.


Dave mematung di tempat, dia benar-benar tak tahu harus melakukan apapun kali ini. Beberapa kali dia menggelengkan kepala, mencoba menepis fakta yang terjadi saat ini.


"Sayang, kenapa ka-"


"Aku bilang pergi!" Serunya lagi. Untuk kedua kalinya Dave diusir Ana.


Dave memejamkan mata sejenak, mencoba mendinginkan pikiran dan hatinya yang terasa sesak. "Apa dengan aku pergi kau akan merasa senang?" Seakan tenggorokan nya tercekat saat mengetakan hal itu. Sebelumnya dia tidak pernah menduga kalau reaksi Ana akan seperti ini padanya. Ternyata kenyataan ini lebih pahit dari semua kejadian yang akhir-akhir dia alami. Bahkan mendapatkan pukulan dari dad Alex pun tidak sebanding sakitnya dengan situasi kali ini di mana dia dihadapkan fakta, Ana ketakutan saat didekati nya.


"Ya, akan lebih baik jika kau pergi dari sini." Ana berkata tanpa melihat ke arah Dave. Sejujurnya dia pun tak tega melihat Dave yang sangat terluka, tapi untuk saat ini Ana perlu menangkan hati dan pikirannya sendiri. Dia kecewa pada Dave, dan dia hanya ingin memberikan Dave sedikit pelajaran. Ya, hanya itu saja. Bila hatinya sudah sedikit tenang, maka dia akan kembali menerima Dave.


"Baiklah jika itu yang kau mau. Ku harap, kau bisa menjaga diri meski sendiri."


"Aku bukan anak kecil yang masih harus dijaga." Sangkal Ana cepat dengan nada ketus.


"Tapi yang aku lihat kau seperti itu." Sahut Dave dengan.


"Itu hanya pemikiran mu." Sekali lagi Ana menyangkal.


Dave tak menanggapi lagi, karena dia tak jngun terjadi perdebatan diantara mereka untuk yang kesekian kalinya.


Dia lebih memilih berjalan keluar menuruti keinginan Ana. Tapi saat akan membuka pintu, Dave kembali menatap Ana dan berjalan mendekati nya lagi.


"Jaga dirimu baik-baik. Jangan telat makan. Jangan terluka. Maafkan aku ... aku pergi."


Cup


Dave mendaratkan kecupan di kening, jelas Ana tak bisa menolak nya karena tubuh Dave sudah mengunci tubuh nya.


Saat Dave berjalan menjauhi nya ada rasa di dada, tetapi tak urung untuk tidak menghentikan Dave karena terlalu gengsi.


Padahal sebenernya Ana hanya berpura-pura takut pada Dave, dia masih terlanjur dongkol. Maka dari itu Ana berinisiatif mengerjai Dave. Tetapi pada akhirnya dia pun sedikit tak rela saat Dave meninggalkan nya.


Setelah beberapa detik Ana melihat punggung kokoh itu yang mulai menghilang dibalik pintu. Kini dia termenung sendirian. Lalu dia mencoba mencerna semua kejadian yang belum pernah diduganya sejak kemarin.


Dave datang ke London dengan tujuan untuk menyusul nya dan mengatakan dia mencintai nya? apakah sebesar itu cinta Dave pada nya? Dai bukan nya tidak tahu kesibukan Dave di kantor, bagaimana pun dia pernah menjadi partner kerja nya, tentu Ana tahu jadwal Dave yang selalu padat. Tapi sekarang dia merelakan meniggalkan pekerjaan demi menemui dirinya? Sulit dipercaya, mengingat semua perlakuan Dave yang sangat dingin dan ketus padanya lalu tiba-tiba datang mengatakan cinta. Dan satu hal lagi yang tak pernah diduganya, Dave menyentuh nya. Entah lah, Ana semakin dibuat bingung dengan semua ini.


Dia memijit pelipisnya yang sedikit sakit, lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak membutuhkan waktu lama Ana kembali dengan wajah yang sudah lebih segar. Dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan ditubuh nya lalu berjalan ke arah walk in closet.


Setelah berpakaian tapi dan sedikit memberi polesan make up di wajah nya. Ana mengambil tas jinjing nya, tak lupa memasukan ponsel yang sedari kemarin tidak dihidupkan.


Tujuan utama nya saat ini adalah mencari sarapan, dan setelah itu langsung menuju kampus. Sebenarnya mata kuliah sudah mulai dilaksanakan sejak kemarin, tetapi karena ada hal tak terduga membuat nya meninggalkan mata kuliah perdana nya. Dan saat ini dia tak ingin ketinggalan lagi, untuk itu Ana memilih berangkat pagi meski jam mata kuliah nya masih siang.


Ana berjalan menyusuri ruangan demi ruangan aparateman. Ana mengerutkan kening saat melihat kondisi apartemen nya terlihat sangat rapi, padahal sebelumnya dia melihat apartemen nya begitu berantakan. Terlebih setelah pertengkaran antara Edo dan Dave membuat apartemen nya semakin berantakan.


Apa Dave yang membersihkan nya? Ana berkata dalam hati. Sejenak dia mengedarkan pandangan ke arah meja makan yang terlihat ada piring berisi makanan.


Kaki Ana tergerak untuk melangkah ke arah meja. Saat di dekati nya ada sepotong sandwich dan segelas susu di sebelah nya. Lalu pandangan nya mengarah pada secarik kertas yang diletakkan di sebelah gelas dengan ujung nya yang sedikit dihimpit oleh gelas itu.


...I'm sorry, my first love. I love you now, tomorrow and forever. I promise I won't repeat myself. Forgive me, please ...,...


....·´¯`(>▂<)´¯`·....


Kata-kata yang tertulis dalam secarik kertas itu tak berhasil membuat nya berempati, dia bahkan lebih tertarik dengan emot yang terletak dibawah tulisan itu dan fokus nya hanya ke sana.


Ana bahkan terkekeh melihat emot yang sengaja Dave gambar di kertas itu. Menurut nya itu adalah ekspresi yang sangat lucu, dia bahkan sampai membayangkan wajah Dave yang akan berekspresi seperti itu.


Kira-kira seperti apa ya? Ana tersenyum geli membayangkan nya. dia bahkan sudah melupakan kekesalannya pada Dave saat beberapa menit tadi.


Memang seperti itu lah sufat Ana, dia tidak bisa membenci orang dalam waktu yang lama. Entah hati Ana yang memang baik dan tidak pendendam atau memang karena Ana yang terlalu bodoh, tapi saat mood nya kembali membaik dia akan memaafkan orang yang sudah membuat nya terluka.


Dan hal itu tidak hanya terjadi sekali dua kali, tetapi sudah berkali-kali. Bahkan saat Ana sekolah, semua teman-teman nya sering mengatainya bodoh, dia akan marah dan kesal disaat itu pula. Tapi setelah dirinya merasa tenang, maka dengan mudah nya dia memaafkan teman-teman nya. Dan