Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Bab.27 Kedatangan Sonya



Dave berjalan cepat menuju lift untuk ke lantai atas, ia langsung berlari setelah lift itu terbuka di lantai empat, tepat nya lantai ruangan nya.


Dengan tidak sabaran ia membuka pintu nya kasar, nafas nya tidak beraturan setelah berlarian. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan tidak mendapati Ana di mana pun.


"Siall." Umpat Dave lagi saat dia sudah terburu-buru untuk berangkat tetapi orang yang sangat ingin di temui nya tidak ada di ruangan.


"Berani-berani nya kau meninggalkan ku Ana. Awas saja, aku akan menghukum mu." Geram Dave.


Tangan nya mengepal kuat, raut wajah nya terlihat sangat menyeramkan. Ia sangat tidak suka di abaikan seperti ini.


Lalu dengan sigap ia meraih ponsel yang ada di saku celana nya.


Benar, tidak ada satu pun pesan dari Ana. Ia membanting kasar hp nya ke atas meja.


Namun sedetik kemudian ia meraih ponsel nya kembali.


Dia seperti sedang berusaha mengetik pesan untuk Ana, tapi sesaat kemudian ia mengurungkan niat nya.


Dave menghapus kembali pesan yang telah di ketik nya. Lalu ia kembali mengetik lagi, tapi sekali lagi Dave kembali menghapus nya.


Rasa gengsi dalam diri Dave masih saja tidak mau ia hilang kan walau hati nya ingin sekali mengabari gadis yang saat ini di tunggu nya.


Ada rasa sesal dalam diri nya karena kemarin mengatakan sesuatu yang membuat Ana terluka, padahal sebelum nya Dave sudah memikirkan matang-matang dan memang ini lah keinginan nya, di jauhi gadis yang ia cintai.


Tapi setelah merasakan sendiri, Dave kembali menyesal.


Dave akui, dia juga tidak betah jika harus berjauhan dengan Ana terlebih gadis nya sampai mengacuhkan nya seperti ini.


Ia sangat menyesal karena tidak terus terang pada Ana, sehingga akibat nya menjadi seperti ini.


Ana, gadis milik nya menjauhi dia, mengacuhkan, mengabaikan, tidak memberi pesan atau kabar, dan ini sangat menyiksa.


Terlalu larut dalam pemikiran nya sendiri, Dave tidak menyadari kalau pintu nya di ketuk.


Orang yang sejak tadi mengetuk pintu tetapi karena tak mendapatkan respon dari dalam, wanita itu memberanikan diri untuk membuka nya.


"Dave." Panggil nya.


Dave mengerutkan dahi saat melihat wanita yang kemarin ia temui sudah berada di kantor nya se pagi ini.


"Sonya?" Panggil nya menatap tak percaya pada wanita yang memakai gaun berwarna peach, terlihat minim, bagian dada nya sedikit terbuka.


Dave meneliti penampilan wanita itu rasa nya sangat tidak enak di pandang. Terlebih saat melihat bagian tubuh yang seharusnya tertutup, tetapi justru terekspos.


Dave jadi tidak nyaman melihat ke arah nya, akhirnya mau tak mau Dave pura-pura melihat laptop di depan nya.


Bukan karena Dave tergoda, tetapi si manusia es itu merasa tidak nyaman sendiri melihat wanita yang berpakaian mini seperti ini.


"Ada apa kau kesini?" Tanya Dave tanpa melihat ke arah orang itu. Sebenar nya dave sangat penasaran dengan apa yang ingin di lakukan Sonya kemari, karena sebelum nya tidak ada janji temu dengan nya.


"Dave, ada sesuatu yang ingin ku beri tahu." Kata nya dengan mata sendu.


"Kau ingin bicara apa?" Tanya Dave lagi.


"Dave hiks ... "


"Sonya!" Sentak Dave saat tiba-tiba saja Sonya naik ke pangkuan nya lalu melingkar kan tangan nya di leher Dave, kepala nya ia telusup kan di dada bidang Dave sembari menangis.


Dave yang sejak tadi berusaha melepaskan Sonya dari atas pangkuan nya jadi terdiam, ia tak tahu harus melakukan apa.


"Tapi aku tidak nyaman Sonya." Kata Dave sembari melepaskan tangan Sonya yang melingkar di leher nya. Namun wanita itu masih enggan melepaskan nya.


"Sonya, tolong jangan seperti ini!" Dave terlihat geram, ia sedikit mengeraskan suara nya.


"Hiks ... Dave, bagaimana dengan nasib ku setelah ini?" Tanya Sonya di sela-sela tangis nya. Membuat Dave kembali terdiam, ia pun tak tahu harus melakukan apa.


"Apa ada perkembangan?" Tanya Dave pada Sonya sembari menatap ke arah lain serata berpikir.


Sonya menggeleng-gelengkan kepala sembari mengusap air mata nya. "Tidak, Dave. Justru sekarang menjadi semakin rumit." Kata Sonya dengan suara bergetar.


"Memang nya apa yang kau_"


Cklek


Ana mematung di tempat melihat pemandangan yang sangat tidak sedap di lihat nya. Tapi ia harus kuat, karena dia tidak ada keterkaitan apapun pada orang yang sedang memangku seorang wanita di atas paha nya.


Dua orang itu terlihat sangat intim, apalagi melihat wanita itu yang menggunakan pakaian sangat minim hingga bagian-bagian tubuh nya terpampang nyata serta lekuk-lekuk tonjolan pada tubuh nya terlihat sangat jelas.


"Maaf, saya permisi." Ana menutup pintu kembali karena tak ingin semakin membuat hati nya sakit.


"Berhenti!" Pekik Dave sembari berdiri hingga orang yang ada di pangkuan nya terjatuh ke lantai.


"Shitt." Umpat Dave saat Ana tak menanggapi pekikan nya. Gadis itu tetap keluar dari ruangan itu lalu berlari entah kemana.


Dengan segera Dave menyusul Ana tanpa memperhatikan rintihan Sonya yang kesakitan karena terjatuh dari pangkuan nya akibat ulah Dave.


"Berhenti, Ana!!" Panggil Dave menggelegar di tempat itu.


Sekali lagi Ana tak menghiraukan ucapan Dave, dia terus berlari hingga menuju lift.


Saat pintu lift itu akan tertutup, Dave lebih dulu menghalangi menggunakan tangan nya lalu menyusul Ana masuk ke dalam lift.


Dave meraih pinggang Ana lalu meremas kuat pinggang nya hingga kedua tubuh itu menempel sempurna.


"Kenapa kau keluar lagi?" Dave menatap tajam wajah Ana. Di lihat nya lamat-lamat wajah itu, mata nya terlihat sendu, membuat Dave sedikit menyurutkan mata tajam nya.


Ia jadi tega ingin memarahi gadis nya yang saat ini ada dalam pelukan nya.


"Saya takut mengganggu kalian, jadi lebih baik saya keluar." Kata Ana dengan wajah datar. Tidak ada lagi suara cerewet atau rengekan manja nya.


"Kenapa kau berbicara seperti itu?" Tanya Dave sangat tidak suka.


"Bicara apa, pak?" Tanya Ana datar, wajah nya terlihat biasa-biasa saja. Tak menyiratkan kesedihan sedikit pun.


"Sejak kapan kau memanggil ku dengan sebutan pak! Lalu apa tadi kata mu?! saya??" Tanya Dave menekan kan setiap kalimat nya sembari melotot tajam.


"Saya pikir sangat tidak sopan jika memanggil atasan dengan sebutan yang lain. Maaf selama ini saya sudah tidak sopan, tapi mulai saat ini saya akan belajar memanggil Anda seperti para staf yang lain." Kata Ana lugas tanpa keraguan sedikit pun di sorot mata nya.


...💙💙💙...


...TBC...


See you next chapter 👋🙂