Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Merestui



"Dad, sakit." Ana meringis kesakitan saat tangan dad Alex tak kunjung melepaskan cengkraman nya, air matanya mengalir begitu saja tanpa diminta.


Disini semuanya merasa kecewa, dad Alex yang kecewa terhadap putri nya, sedang Dave dan Ana kecewa pada diri sendiri.


sampai kuku-kuku nya menancap di sana.


"Sakit? Kau bilang sakit?!" Dad Alex menatap tajam Ana dan Dave bergantian. "lalu bagaimana dengan mommy bila mengetahui semua ini?! Bagaimana perasaan nya bila mengetahui putri yang sangat dicintainya, putri yang selalu dijaga, dan putri yang menjadi kebanggaan kami melakukan perbuatan yang sejak dulu kami larang?! Apa kau memikirkan perasaan mommy saat melakukan perbuatan ini?!" Dad Alex mengatakan ini dengan intonasi keras tetapi nada suaranya terdengar bergetar.


Tiba-tiba saja dad Alex menjatuhkan lutut nya di atas tempat tidur sembari menangis tergugu. Wajahnya dia tundukkan ke bawah, tetapi Ana masih bisa melihat bahwa papinya saat ini sedang menangis, terlihat punggung kokoh itu bergetar hebat.


"Ini semua salahku, sebaik mungkin aku menjaga putri berharga ku, tapi karma itu tetap datang pada putri ku. Kenapa harus putri ku, Tuhan?!" Dad Alex menjambak rambut nya frustasi lalu mengacak-acak nya dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


"Ya, Tuhan. Dia tidak bersalah, tapi kenapa kau berikan hukuman atas perbuatanku padanya? Di tak bersalah, Tuhan." Lirihnya, tapi air mata itu tak berhenti menetes.


Bahkan Ana yang melihat nya pun ikut semakin menangis. Dia tak pernah mengira, kesalahan yang diperbuat nya menyebabkan daddy nya menyalahkan diri sendiri. Dia tahu bagaimana masa lalu dad Alex karena dulu mom Jenni sering menceritakan nya, bahkan tak ada yang ditutup-tutupi tentang masa lalu kedua orang tuanya. Tetapi Ana tak pernah mengira, bahwa penyesalan dad Alex ternyata masih begitu terasa sampai sekarang.


Meski dad Alex terlihat baik-baik saja, tetapi rasa takut akan karma yang menimpa putri nya terus menghantui diri. Itu sebabnya pula sejak kecil selalu dilimpahi perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua nya agar putri nya tak mencari kesenangan di tempat lain.


"Dad, maafkan Ana. Maafin Ana yang sudah melanggar janji mu, Ana bukan anak baik. Hiks ... hiks ... Sungguh Ana menyesal telah membuat mu kecewa, dad." Ana berkata disela-sela tangisan nya dengan suara parau. Kedua tangannya masih setia mencengkeram selimut yang sejak tadi menjadi penutup tubuh nya.


Dad Alex masih setia menatap kebawah, menumpahkan seluruh air mata yang sedang mengantri keluar menunggu tiba waktunya.


"Kau memang salah, nak. Tapi kesalahan mu itu adalah akibat dari perbuatan buruk daddy di masa lalu. Maafkan Daddy."' Ungkap nya dengan suara lirih. Isak tangis antara Dady dan putri nya itu bahkan lebih mendominasi suara di ruangan itu.


Ternyata sedalam itu kah cinta sang Daddy pada putrinya? Bahkan disaat dad Alex kecewa pada Ana, tapi tetap saja dia menyalahkan diri nya sendiri. Dia menganggap semua yang menimpa putri nya adalah karma di masa lalu.


"Daddy kenapa bicara seperti itu? disini Ana yang bersalah, tidak seharusnya Daddy menyalahkan diri sendiri." Sahut Ana tak terima dengan perkataan sang Daddy.


"Tapi itu lah kenyataannya, ketakutan yang selama ini Daddy khawatirkan akhirnya terjadi." Dad Alex berusaha menghentikan air mata, karena tak ingin terlihat cengeng dihadapan sang putri dan laki-laki yang sudah merenggut kesucian sang anak.


"Apa kau mencintai pria itu?" Dad Alex menatap tajam Dave dengan kedua tangan nya yang memegang pundak anaknya, "apa kau benar-benar menyukai laki-laki yang sudah lancang merenggut kehormatan mu?" Tanya nya lagi setelah mengalihkan pandangan ke arah putri nya.


"M-maksud, Daddy?" Tanya Ana sedikit terbata-bata karena merasa takut dengan apa yang akan dad Alex katakan.


"Jawab dulu pertanyaan Daddy." Tegur dad Alex dengan nada suara yang terkesan dingin.


"A-aku mencintai nya, dad." Cicit Ana. Kepala nya dia tundukkan karena tak berani menatap sang Daddy.


Terdengar hembusan nafas kasar dari jalur pernafasan dad Alex.


"Apa kau benar-benar mencintai putri ku?" Sekarang giliran Dave yang ditanya oleh dad Alex. Suaranya bahkan terkesan lebih dingin dari pada saat bertanya pada sang putri. Tatapan nya begitu tajam, membuat orang lain yang menatap nya akan terkesan seperti terintimidasi.


Tetapi bukan Dave nama nya bila gugup hanya karena ditatap tak wajar oleh daddy dari wanita nya. Dia bahkan ikut menatap lekat dua bola mata dad Alex.


"Saya sangat mencintai putri Anda." Jawab Dave tegas.


"Cih, katanya cinta tapi merusak." Ejek dad Alex.


"Apa kau berjanji akan menjaga putri ku?"


"Ya saya berjanji akan berusaha menjaga putri Anda. Bahkan bila harus mempertaruhkan nyawa, saya siap melakukan nya."


"Cih, kau membual lagi." Dad Alex menatap sinis Dave. "maka buktikan kata-kata mu itu, supaya saya percaya."


"Dengan saya membuktikan nya?"


"Dengan ...," Dad Alex tampak berpikir sejenak. Tidak mungkin juga dia menyuruh anaknya menabrakkan diri pada kendaraan yang sedang melaju lalu Dave menyelamatkan nya. "ah, sudahlah; Lupakan!"


"Dan satu lagi, apa kua benar-benar bisa membuat putri ku bahagia?" Tanya dad Alex lagi. Menatap intens Dave seperti seorang terdakwa narapidana.


"Saya akan terus berusaha membahayakan putri Anda dengan cara saya sendiri." Sahut Dave datar tanpa ekspresi namun mengandung kesungguhan.


"Hufft, ya sudahlah! Daddy tidak bisa melarang hubungan kalian lagi." Dad alex tampak menghembuskan nafas pasrah. "jadi, kapan kau akan menikahi putri ku?"


"M-menikah?"


"Menikah?"


Ana dan dave berkata bersamaan, terkejut mendengar perkataan sang Daddy.


"Jangan bilang kau tidak ingin bertanggung jawab setelah merenggut mahkota putri ku?!" Bentak dad Alex sembari berdiri mendekati Dave.


"Bukan begitu, om. Apa itu artinya anda merestui hubungan kami?" Tanya Dave masih tak percaya.


"Kenapa seorang CEO muda yang terkenal genius mendadak bodoh seperti ini? Apa karena telah ku pukuli habis-habisan makanya jadi bodoh, huh?!" Gerutu dad Alex.


"Bukan seperti itu, dad. Kami hanya tidak percaya Daddy merestui hubungan kami."Ana ikut mendekati sang Daddy.


"Huh, mau tidak mau Daddy harus merestui hubungan kalian. Jika tidak, maka tidak akan ada laki-laki yang mau menikahi wanita yang sudah kehilangan keperawanan nya dengan laki-laki lain."


Tadinya Ana sangat bahagia mendengar dad Alex merestui hubungan nya, tetapi setelah mendengar penjelasan itu, entah mengapa hatinya merasa tercubit.


Dad Alex benar, pasti tidak akan ada yang mau menikahi ku bila tahu aku sudah tidak perawan.


"Saya bersedia menikahi putri Anda, om."


"Ya, memang seharusnya kau bersedia jika masih ingin bernafas." Sahut dad Alex datar.


"Kalau boleh, saya akan menikahi Ana hari ini juga."


"What??"