Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Lagi dan Lagi



Ana tampak berpikir keras mempertimbangkan tawaran Dave.


Memang benar, dia harus belajar bicara di depan umum, atau setidaknya dia harus memperhatikan orang yang sedang presentasi supaya kedepannya dia bisa melakukan hal serupa.


"Baik lah, Saya akan ikut meeting." Kata Ana setelah terdiam beberapa saat.


"Bagus, ayo. Kita tidak punya banyak waktu lagi." Dave reflek menggenggam tangan Ana namun langsung ditepis pelan oleh nya.


Ana benar-benar tidak ingin bersentuhan fisik dengan laki-laki dingin itu, dia tak ingin memupuk kembali rasa cinta nya yang belum berhasil ia hilang kan.


Sedangkan Dave terlihat geram dengan penolakan Ana, dengan sengaja ia meraih pinggang Ana lalu menekan nya kuat-kuat hingga gadis itu sedikit kesakitan.


"Lepaskan, pak. Saya tidak ingin orang lain salah faham dengan sikap Anda." Kata Ana berusaha melepaskan belitan tangan Dave di pinggang nya.


Dave hanya tersenyum menyeringai melihat Ana terus memberontak meminta di lepaskan.


"Salah faham apa yang kamu maksud?" Tanya Dave sedikit menggoda. Dave begitu menikmati wajah Ana yang sedang terlihat marah karena sikap nya.


"Apa seperti ini?"


Baru saja ingin membuka mulut, tetapi mulut Ana lebih dulu di bungkam oleh Dave.


Dia mencium Ana dengan rakus seakan tak ada hari esok atau nanti.


Ana mencoba melepaskan dan meronta-ronta dalam dekapan Dave, tapi tetap saja tenaga nya tak sebanding dengan tenaga Dave.


"Mmhh ... " Ana terus mencoba melepaskan belitan lidah yang Dave main kan, bukan nya terlepas tapi justru semakin memberikan akses Dave untuk memperdalam ciuman nya.


Tangan Ana tak henti-henti nya memukul dada bidang Dave, tapi sedikit pun laki-laki itu tak berniat melepaskan kaitan bibir nya dengan bibir Ana.


Saat tangan Dave mulai tak bisa di kondisikan, Ana kembali melancarkan aksi nya. Kali ini ia tak boleh gagal, dia harus terlepas dari ciuman paksa Dave.


Dug.


Dave tak bereaksi apapun saat high heels Ana menginjak kaki Dave yang terbalut sepatu pantofel mahal nya. Tentu ia tak merasakan apapun karena sepatu hitam nya bisa melindungi kaki Dave.


Ana tak kehabisan akal, dengan penuh tega ia menekan senjata tempur Dave menggunakan lutut nya dengan begitu keras.


Kali ini Dave terlihat kesakitan, terbukti ciuman itu langsung terlepas saat Ana berhasil melakukan nya.


"Shittt!" Dave mengumpat saat merasakan senjata tempur kebanggaan nya ngilu akibat di tekan Ana dengan begitu keras.


"Kenapa selalu seenaknya sendiri?! Aku bukan wanita murahan yang dengan mudah nya kau perlakukan semau mu!!" Bentak Ana, mata nya terpancar kilatan kebencian pada laki-laki di depan nya.


Ana mendorong keras tubuh Dave hingga sedikit terhuyung ke belakang, namun dengan cepat Dave kembali menarik pinggang Ana sampai kedua nya kembali berpelukan erat.


"Dengar kan aku." Kata Dave sembari menarik dagu Ana hingga dua mata itu kembali bersitatap, masing-masing menatap lawan nya dengan tatapan berbeda. Jika Dave menatap Ana dengan tatapan teduh serta dalam, berbeda dengan Ana yang menatap Dave dengan penuh kebencian.


"Aku tidak mau mendengar!" Kata Ana cepat.


Dave terlihat menghela nafas nya berat, entah bagaimana cara nya agar bisa meyakinkan Ana, tapi dia harus bisa membuat gadis nya kembali ke dalam pelukan nya.


Ia tak ingin terus-terusan di diamkan seperti ini, ternyata itu tak semudah yang di bayangkan.


Katakanlah Dave plin-plan, tapi memang kenyataan nya tak sanggup bila terus-terusan mendapat kan perlakuan dingin dari Ana.


Ia merutuki kebodohan nya karena telah memberikan keputusan yang salah.


Dia salah karena tak berterus-terang dengan keadaan yang menimpa nya.


Tapi saat itu pikiran Dave sedang buntu, jika ia berterus-terang pada Ana pun tak bisa menjamin Ana akan menerima nya setelah mengetahui rahasia yang dia sembunyikan dari orang-orang terdekat nya.


Bukan hanya Ana, bahkan mungkin orang tua Dave pun tak akan mampu mendengar apa yang terjadi pada nya.


Jika boleh memilih Dave tak akan mau berada dalam posisi seperti ini, tapi itu juga bukan pilihan nya.


Dia tak pernah menyangka kejadian serumit ini menimpa nya, dan Dave belum siap membagi nya dengan orang-orang terdekat.


Dave akan mengatasi sendiri masalah nya, dan bila sudah menyelesaikan permasalahan rumit yang dia hadapi, maka Dave akan segera melamar gadis yang di cintai nya.


"Ana, dengar kan aku. Aku ..."


"Sudah ku bilang, Aku tidak mau mendengar kan apapun dari mu!" Potong nya.


Ana terlanjur kecewa pada Dave, sudah memiliki calon istri tetapi dia masih berani mencium nya, memperlakukan Ana seenaknya sendiri.


Bukan hanya sekali atau dua kali Dave melakukan itu, tapi hampir setiap hari Dave mencium Ana tanpa seizin nya.


Bahkan waktu itu saat Sonya datang ke kantor Dave, tanpa merasa canggung atau apapun, Dave menahan tubuh Ana yang ingin menjauh dari nya.


Dia bahkan mengangkat tubuh Ana hingga terduduk di pangkuan nya saat Ana terus memberontak meminta di lepaskan.


Bahkan saat Ana ingin memberikan ruang berdua pada calon istri nya, Dave justru mengusir Sonya untuk pergi lebih dulu dan mengatakan tidak perlu datang ke kantor bila dia sedang bekerja.


Aneh nya, Sonya hanya mengangguk patuh tanpa protes dengan perlakuan dingin Dave.


Padahal Sonya melihat perlakuan Dave pada Ana yang tak wajar di depan mata kepala nya sendiri. Tapi Sonya tak mencegah perlakuan Dave itu.


Bahkan dia seakan mengerti apa yang di inginkan Dave, hingga dengan cepat wanita itu berlalu dari ruangan Dave dan menyisakan dua manusia lawan jenis yang bersitegang.


"Tapi kau harus mendengarkan penjelasan ku!" Dave sedikit meninggikan nada suara nya. Bahkan cengkraman tangan di pinggang Ana semakin kuat.


Mata nya menatap tajam Ana, pertanda ia tak suka dengan perlawanan Ana.


"Terserah! Aku tidak akan mendengar apapun yang kau bicarakan!" Ana masih bersikeras melepaskan tubuh nya dari rengkuhan Dave, tapi sulit sekali.


"Ana, sebenarnya aku ..."


Tok ... tok ... tok ...,


Terdengar ketukan pintu yang begitu keras dari luar sana.


Baik Ana maupun Dave, perhatian mereka teralihkan ke arah sumber suara.


Tok ... tok ... tok.


Ana dan Dave sama-sama menatap ke arah pintu yang kembali di ketuk.


"Lepas!" Ana kembali memberontak meminta di lepaskan.


Dave menyunggingkan senyum menatap Ana, dia masih belum melepaskan tangan nya di pinggang gadis itu.


Dave malah terlihat mendekat kan wajah nya kembali sembari memiringkan kepala.


Tanpa aba-aba, bibir kedua nya kembali menyatu. Kali ini Dave mencium bibir Ana dengan lembut, tak seperti tadi.


Hingga tanpa sadar, Ana terhanyut dalam kelembutan Dave. Dia ikut membalas ciuman Dave, sedangkan laki-laki itu sedikit menyunggingkan senyum saat gadis nya ikut membalas nya.


Setelah beberapa saat, Dave mengakhiri permainan itu. Dia menjauhkan wajah nya dari Ana.


Bola mata nya menatap lekat wajah Ana tang terlihat memerah dengan nafas masih memburu, bibir nya sedikit terbuka dan terlihat sedikit bengkak akibat ulah nya hingga terlihat semakin seksi.


Dave mengusap sisa saliva nya di bibir sensual Ana dengan ibu jari nya.


"Ini, hanya aku yang boleh menikmati nya."


"Ini juga."


"Ini."


"Apalagi ini."


"Ahh ..." Tanpa sengaja Ana mengeluarkan suara aneh saat tiba-tiba Dave menyentuh bagian tubuh nya yang terlihat menonjol lalu sedikit meremas nya.


"Semua yang ada di tubuh mu, hanya aku yang boleh menyentuh nya." Bisik Dave tepat di depan telinga kiri Ana.


Sedangkan gadis itu masih mencoba mencerna kejadian-kejadian ini, otak nya seperti di buat blank saat tiba-tiba Dave menyentuh bagian demi bagian tubuh nya lalu berkata semua yang ada di tubuh nya hanya Dave yang boleh menyentuh nya.


"Ayo kita berangkat." Dave kembali mencium bibir nya setelah mengatakan nya.


Lalu ia melepaskan satu tangan nya yang berada di pinggang Ana, namun satu tangan nya lagi masih tetap di posisi nya.


Tanpa menunggu banyak waktu, Dave menarik pinggang Ana untuk keluar dari ruangan dengan wajah tersenyum cerah.


Rasanya seperti bukan Dave saat melihat wajah dingin nya tiba-tiba mencair, memperlihatkan senyuman yang tak pernah di berikan pada siapapun.