
Sesampainya di kantor, Ana langsung di suguhi setumpuk kertas yang diberikan langsung oleh Dave.
Meja kerja Ana berada dalam satu ruangan Dave yang hanya berjarak beberapa meter.
Ana seperti karyawan yang sedang melakukan training kerja dan di bimbing langsung oleh Dave.
Bedanya, jika karyawan training akan lebih banyak serius mengerjakan tugas dan hanya bertanya seperlunya. Tapi Ana bertanya mulai dari a sampai z hingga mau tak mau Dave mengabaikan tugas nya sendiri demi menanggapi celotehan Ana.
Saat Dave menjelaskan, Ana terlihat sangat serius dalam mendengarkan penjelasan Dave.
Namun saat dia di tanya kembali, Ana hanya menjawab dengan gelengan kepala pertanda tidak mengerti. Dan itu cukup membuat Dave frustasi.
"Astaga, Ana! Sebenarnya kamu mendengarkan penjelasan ku tidak?" Dave menyugar rambut nya tampak frustasi.
Dave terlihat gemas, gregetan ingin sekali menggigit pipi Ana.
"Iya, aku mendengarkan, Dave." Sahut Ana dengan ekspresi biasa saja. Wajah nya masih menghadap wajah tampan Dave.
"Lalu kenapa sejak tadi tidak mengerti dengan penjelasan ku?" Tanya Dave tak habis pikir.
Rasanya Dave ingin sekali menarik kedua pipi Ana seperti karet karena begitu menyebalkan.
"Itu karena aku lebih konsentrasi melihat wajah dan bibir mu saat bicara." Kata Ana dengan raut wajah polos nya.
"Memang nya kenapa dengan dengan wajah ku?" Tanya Dave tidak mengerti dengan perkataan Ana.
"Ya ampun, Dave. Apa kamu tidak tahu, kau itu sangat tampan?" Celetuk Ana dengan kedua tangan nya memegang kedua sisi pipi nya membayangkan bagaimana tampan nya Dave saat sedang menjelaskan dengan serius.
"Apalagi bibir mu sangat seksi saat sedang bicara. Rasanya aku jadi ingin dic_"
Tuk tuk tuk.
Dave mengetuk-ngetuk kening Ana, ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan gadis cerewet ini.
"Buang otak kotor mu! dasar gadis me sum! sudah, ayo belajar lagi!"
Ia tidak ingin berlama-lama memberikan kesempatan Ana bicara karena pasti nya gadis di hadapan nya ini akan semakin mengoceh tidak jelas yang membuat telinga nya panas.
"Issh ... kau itu selalu menyebalkan!" Sungut Ana. "Sayangnya kau tampan, dan aku menyukai wajah mu yang tampan apalagi bibir mu itu mem_"
"Masih mau bicara atau pulang?!" Ancam Dave. Ia sengaja memotong pembicaraan Ana karena tahu gadis itu jika sudah di beri kesempatan bicara maka tidak akan bisa menghentikan ocehan nya.
"Iya iya ... kau itu galak sekali seperti serig_"
"Diam Ana!" Dave yang mulai geram, menatap tajam gadis itu. Ia meninggikan sedikit intonasi bicara nya agar Ana takut.
Dan benar saja, Ana langsung diam menurut dan fokus pada buku di depan nya.
Entah memang fokus atau hanya pura-pura fokus karena takut dengan mata tajam Dave.
Akhirnya kedua nya kembali bekerja dengan fokus, lebih tepat nya Dave yang mengerjakan sembari menjelaskan.
Sedangkan Ana hanya diam pura-pura mendengar kan, padahal ia lebih fokus menatap wajah Dave yang begitu dekat dengan nya.
Apalagi bibir nya yang terus bergerak karena bicara membuat pikiran kotor Ana melalang buana.
Ia kembali membayangkan bibir itu menempel pada bibir nya, bahkan sudah dua kali kejadian seperti itu. Andai terulang lagi, maka Ana akan berinisiatif untuk memperdalam bibir nya pada Dave.
Tiba-tiba wajah nya memerah membayangkan hal itu, rasanya ia tidak sabar memiliki kesempatan untuk melakukan nya.
Saking fokus dengan imajinasi kotor nya, sampai Ana tidak memperhatikan Dave yang sejak tadi menjelaskan.
"Ana..?!!" Ana tersentak saat mendengar suara Dave menggelegar memanggil nama nya.
"Ya ampun, Dave. Bisa tidak kau bicara baik-baik? Telinga ku rusak mendengar suara keras mu!" Ana yang kesal dengan suara Dave yang begitu menggelegar di telinga nya hanya bisa mengusap telinga sembari mengerucutkan bibir.
"Memang telinga mu sudah rusak!" Sahut Dave dengan nada jengkel.
"What?!" Mata Ana melotot tajam, sangat tidak terima dengan perkataan Dave.
"Kau mengatakan apa?! Sembarangan kalau ngomong! Telinga ku ini masih normal, kau saja yang memanggil ku terlalu keras!" Sungut Ana berapi-api, seakan muncul dua tanduk di atas telinga kanan dan kiri nya.
"Lalu kenapa kau tidak menjawab saat aku memanggil mu?" Kata Dave menatap jengah Ana.
"Kapan? bukan kah tadi aku menjawab?" Tanya Ana tidak mengerti.
"Itu barusan karena aku sudah memanggil nama mu dengan keras. Sebelumnya aku sudah memanggil mu tiga kali tapi kau tidak menjawab." Kata Dave menjelaskan.
"Tapi kenapa aku tidak mendengar?" Ana memelankan suara nya seperti sedang berbicara sendiri sembari mengetuk-ngetuk dagu nya.
"Itu artinya telinga mu sudah bermasalah karena tidak mendengar panggilan ku." Kata Dave dengan suara datar, pandangan nya sudah beralih ke arah laptop nya.
"Sudah, tidak perlu dipikirkan! Sekarang kamu lanjutkan tugas mu. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku." Kata Dave saat melihat Ana masih berpikir keras.
Dave kembali ke meja kerja nya sembari membawa laptop milik nya ke meja kebesaran Dave.
Akhirnya dengan malas Ana mengerjakan pekerjaan nya tanpa bantuan Dave. Ia tampak serius bekerja, terkadang masih berpikir mengingat-ingat apa yang sudah Dave ajarkan.
"Dave, makan siang dulu, ya. Aku sudah lapar." Kata Ana sembari berdiri melihat ke arah Dave yang masih serius dengan laptop nya.
"Kamu saja duluan yang makan, aku masih banyak pekerjaan." Kata Dave tanpa menoleh ke arah Ana.
"Tidak bisa! kamu harus makan bersama ku, tinggalkan dulu pekerjaan mu sebentar saja." Ana kembali merengek meminta agar makan bersama.
Dave menghela nafas berat, kemudian menatap wajah Ana dari meja nya. " Ana, pekerjaan ku masih banyak, dan harus di selesaikan hari ini juga." Kata Dave memberi pengertian.
"Memang nya tidak bisa di tunda besok? Ya ampun, nanti kamu sakit kalau begini. Kalau kamu sakit berarti kamu tudak bisa berangkat ke kantor, terus kamu tidak bisa meng-handle pekerjaan, dan yang paling penting adalah kamu tidak bisa mengaj_"
"Astaga Ana, kenapa kamu cerewet sekali?! kepala ku pusing mendengar ocehan mu!" Dave terlihat frustasi karena terus-terusan mendengar suara kaleng rombeng Ana.
"Oke, aku berhenti bicara. Asalkan ..."
Dave menaikkan sebelah alisnya menatap sejenak wajah Ana. "Asalkan apa?"
"Asalkan kamu mau makan!"
"Tapi aku tidak bisa. Ya mau bagaimana lagi? ini semua karena kamu." Kata Dave santai masih menghadap laptop.
"Gara-gara aku?! Kenapa gara-gara aku?!" Tanya Ana tak terima.
"Ya ini semua gara-gara kamu. Kalau kamu tidak terus bertanya-tanya maka waktu ku tidak akan habis untuk menjelaskan pada mu sejak tadi."
Memang benar, sejak tadi bahkan Dave tidak konsentrasi dengan kerjaan nya karena Ana terus bertanya. Alhasil, Dave mengesampingkan pekerjaan nya untuk mengajari Ana. Dan sekarang giliran pekerjaan nya yang terbengkalai.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menebus rasa bersalah ku padamu." Ana tersenyum sendiri karena telah mendapatkan ide agar Dave tetap makan meski sambil bekerja.
Dave menaikkan sebelah alisnya pertanda bertanya.
"Tunggu disini, aku akan mengambil makanan yang sudah ku pesan tadi."
"Kamu sudah pesan makanan?" Tanya Dave mengerutkan dahi.
"Iya, tadi aku langsung memesan makanan saat kamu bilang tidak ingin makan." Jawab Ana sembari berjalan keluar untuk mengambil delivery.
Dave memang tidak tahu kalau Ana sudah memesan makanan. Karena yang dia lihat, Ana hanya sibuk mengoceh tak melakukan apapun.
Tapi ternyata gadis itu lebih dulu memesan makanan.
Tak lama kemudian Ana sudah masuk membawa dua box makanan.
Ia menggeser kursi yang ada di depan meja Dave, kemudian di seret tepat ke samping meja.
Dave hanya memperhatikan apa yang dilakukan Ana tanpa mau bertanya atau menegur nya.
"Aku akan menyuapi mu. Sekarang kamu bisa makan sambil bekerja." Kata Ana sembari tersenyum lebar.
"Tidak perlu! Nanti aku bisa makan sendiri!" Tolak Dave halus.
Tentu Dave tidak mau, mau di taruh di mana muka nya kalau sampai ada orang yang tahu seorang David Sanjaya Grey makan di suapi oleh seorang gadis.
"Bukan nanti, Dave.Tapi sekarang!" Tekan Ana.
Namun Dave masih terus mengelak agar Ana tak menyuapi dirinya.
Tetapi Ana tak menyerah begitu saja, ia terus membujuk Dave. Hingga akhirnya Dave pun menyerah dan menerima Ana menyuapi nya.
Hati Ana sangat senang saat Dave benar-benar menerima suapan nya.
Setelah Ana menyuapkan satu sendok ke mulut Dave, kini gantian dia yang makan menggunakan sendok bekas Dave.
"Ana?!" Mata Dave mendelik melihat Ana. "Kenapa kau menggunakan sendok bekas ku?" Tanya Dave tak habis pikir dengan kelakuan Ana.
"Memang nya kenapa? lagian kau dan aku tidak memiliki penyakit menular, jadi tidak masalah." Kata Ana sembari menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.
Dave menyugar rambut nya frustasi dengan tingkah. "Astaga, Ana ... Apa kau tahu artinya berbagi bekas mulut dengan lawan jenis?"
"Itu artinya kita ciuman secara tidak langsung." Kata Ana santai sembari mengunyah makanan nya.
"Lalu kenapa kau masih melakukan itu?" Tanya Dave tak habis pikir karena ternyata Ana sengaja melakukan ini.
"Ya, tidak apa-apa. Lagian juga kita sudah dua kali ciuman. Jadi tidak apa-apa kalau mengulangi lagi." Kata Ana dengan senyum tengil nya.
"Anaaaa!!"
"Aaaaa sakit, Dave...!"
Apa ya kira-kira yang dilakukan Dave ke Ana?🙈
...💙💙💙...
...TBC...
See you next chapter 👋🙂