
Di tempat yang berbeda, seorang gadis cantik bertubuh indah, hanya bisa berguling-guling di tempat tidur mengubah posisi. Sejak tadi berusaha memejamkan mata, tetapi sedikit pun tak bisa terpejam. Pikiran nya masih sama, yaitu memikirkan sosok laki-laki yang sudah mendapatkan seluruh cintanya sejak pertama kali bertemu.
"Kenapa aku terus memikirkan mu, Dave?" Ana bahkan sampai memijit keningnya yang terasa pusing akibat efek tak bisa tidur.
"Tidak, tidak seharusnya aku memikirkan dia. Bukankah aku jauh-jauh pergi kesini hanya untuk menghindari nya? Lalu apa bedanya jika aku masih terus memikirkan Dave padahal sudah pergi sejauh ini?" Antara hati dan ucapan nya terus saja kontoversi, membuat nya terus berdebat dengan pikiran nya sendiri.
Dia ingin menepis dan membuang jauh-jauh pikiran nya saat terus-terusan memikirkan Dave. Tapi disisi lain, mau sekeras apapun dia berusaha melupakannya, justru itu akan semakin membuat nya terus teringat pada sosok laki-laki itu. Ana benar-benar tersiksa dengan keadaan.
Dia hanya bisa me menjambak rambut nya frustasi. Lalu bangkit dari tidurnya untuk pindah ke sofa sembari menikmati pemandangan indahnya malam kota London. Kelap-kelip sorot lampu-lampu gedung pencakar langit menjadi hiasan tersendiri saat malam hari, berharap hal ini mengalihkan pikirannya.
Ana menghela nafas nya berat sembari memandang indahnya kota London, entah sampai kapan dia akan terbelenggu dalam sebuah rasa, rasa cinta yang belum sempat mendapatkan balasan, namun sudah terpupus oleh keadaan. Di mana dia harus merelakan pergi membawa hati yang kosong, dan meninggalkan hatinya di sana pada laki-laki yang begitu dia harapkan.
Terlalu lama dalam lamunan hingga ia tak menyadari suara berisik di luar ruangan nya. Semakin lama suara derap langkah di luar kamarnya semakin jelas hingga membuat Ana terkesiap dalam lamunannya. Dia memandang ke arah pintu dengan tatapan waspada.
"Kenapa ada suara langkah orang?" Gumam Ana lirih.
Seketika denyut jantung nya berdetak tak karuan, memikirkan sesuatu yang buruk menimpanya. Bagaimana pun, dia adalah orang baru. Tentu saja Ana takut akan ada sosok jahat yang tiba-tiba masuk ke apartemen nya dan berbuat yang tidak diinginkan.
Semakin lama suara itulah semakin jelas, membuat Ana memasang tubuh waspada.
Dia hanya sendiri hidup di negara ini, sungguh dia sangat takut terjadi sesuatu padanya.
Hingga ...
"Cklek."
Pintu kamar nya terbuka lebar, menampilkan sosok laki-laki tegap berwajah datar dan dingin sedang menatap kearah nya dengan tatapan sulit di artikan.
Ana terpaku di tempat, seakan-akan ini adalah sebuah mimpi dan dia benar-benar tak mempercayai bila ini adalah nyata.
Semakin lama tubuh tegap laki-laki itu terus mendekat kearahnya, hingga tanpa sadar Dave sudah berada tepat di hadapan Ana.
"Ana." Suara Dave terdengar lirih dan bergetar, sungguh dia begitu merindukan sosok gadis yang ada dihadapannya saat ini. Ingin sekali rasanya dia merengkuh tubuh nya, lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah, tetapi itu tidak mungkin. Bahkan menyentuh tangan nya pun seakan tak mampu, apalagi memeluk dan memberinya ciuman.
Sedangkan sosok yang dipanggil nya hanya bisa menatap sendu orang yang ada di depan nya sembari memijit kening yang terasa semakin berdenyut. Halusinasi nya semakin tinggi hingga dia dapat melihat sosok laki-laki yang begitu dirindukan ada di depan nya.
"Ya, Tuhan. Aku bisa gila bila terus-terusan seperti ini." Ana menyugar rambut nya frustasi sembari memejamkan mata. Berharap, saat dia membuka mata kembali, maka sosok yang ada dihadapannya sudah tak ada. Namun tidak, kenyataan nya dia masih melihat bayangan itu.
"Hahahaha ... Aku benar-benar sudah gila karena mu, Dave." Tanpa sadar, Ana tertawa dan menangis di saat bersamaan. Bibir itu tertawa, tetapi air matanya mengalir di pipi.
Hal itu benar-benar membuat Dave menatap nya pilu. Merasa tak berguna sebagai laki-laki karena sudah menyakiti hati orang yang sangat dia cintai.
"Kenapa kamu selalu ada di mana-mana? Bahkan aku sudah berusaha menjauh dari mu, tetapi bayangan mu selalu ada di dekat ku. Ini sangat menyiksa batin ku."
Tangan Ana menyentuh wajah sosok dihadapan nya, wajah yang selalu di rindukannya. Air matanya terus membasahi pipi merasakan saat tangan nya seperti menyentuh nyata wajah itu.
Cukup, Dave sudah tak tahan lagi melihat nya. Di rengkuh nya tubuh mungil itu untuk mengobati rasa rindu di hatinya. Dave pun tak kuasa menahan tangis, melihat betapa hancur nya hati yang sudah sangat disakiti nya.
"Sayang ..."
Deg.
"Suara itu?"
Aneh!
Ana bisa merasakan sentuhan tangan Dave, dia juga bisa merasakan rengkuhan dan aromanya, apakah ini benar-benar nyata?
Ana kembali mendongak, menatap wajah yang begitu dia rindukan.
"Ya, ini memang nyata. Kamu tidak sedang berhalusinasi. Kamu juga tidak gila. Aku ada disini untuk mu. Aku, David Sanjaya Grey ada disini, dihadapan mu."
Ana hanya bisa memejamkan mata sembari menangis mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut laki-laki dihadapannya.
"Maafkan aku, sayang. Sungguh, maafkan aku. Jangan pergi lagi, aku tak sanggup hidup jauh dari mu, benar-benar tak sanggup. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Kamu berhasil, kamu berhasil membawa seluruh jiwa ku, sampai aku sendiri tak bisa mengendalikan raga ku, karena aku bukanlah pemilik jiwa ini."
Masih belum berhenti keterkejutan nya akan kedatangan sosok itu, kembali dikejutkan dengan kata-kata yang terlontar dari mulut nya.
Ana hanya bis terkekeh dalam hati mendengar semua bualan Dave.
Lalu apa katanya tadi?
Sayang?
Ya, Dave memanggil nya sayang. Dia tidak sedang salah dengar, dan dia juga tidak sedang berhalusinasi. Dave benar-benar memanggil nya sayang.
Andai dia belum mengetahui fakta tentang nya, mungkin Ana akan begitu bahagia mendengar panggilan itu.
Andai dia tidak mengingat bahwa Dave sudah memiliki anak dari wanita lain, maka Ana akan sangat percaya Dave mengatakan cinta padanya. Apalagi dia sampai mengejar dirinya hingga kesini. Tetapi kalimat pernyataan cinta nya itu l justru menyadarkan Ana kalau Dave sudah memiliki hubungan dengan wanita lain.
"Sudah?" Ana menatap lekat manik mata Dave dengan tatapan datar, dan sebisa mungkin menyembunyikan ras rindu nya yang begitu dalam.
"Sayang, Ak-"
"Sssttt ... " Satu jaru telunjuk Ana diletakkan di depan bibir Dave, hingga laki-laki itu menghentikan ucapan nya.
"Sudah cukup kau membuat ku menjadi orang bodoh, tolong jangan tambah lagi. Sudah cukup aku menderita karena kebodohan ku sendiri, jangan tambah lagi penderitaan ini dengan bualan kata-kata manis mu ini. Biarkan aku hidup dengan tenang, dan aku tak akan menggangu hidup mu lagi. Aku janji."
Ana berbicara dengan tenang tetapi serius. Nada bicara nya halus dan lembut, tetapi mampu membuat Dave terdiam kaku seperti orang yang baru saja tersambar petir.
Ya, kata-kata yang terlontar dari mulut Ana seperti sebuah sayatan pisau yang begitu dalam. Sakit dan perih, itu lah yang dirasakan Dave kali ini.