
Plakk
Ana menampar keras pipi kiri Dave hingga kepala nya menoleh ke samping kanan.
"Apa yang Anda lakukan?!"
"Lancang sekali Anda mencium saya ?!"
Ana sangat marah dengan perlakuan Dave yang menurut nya sangat keterlaluan. Memperlakukan nya seenak sendiri.
Menolak cinta nya, lalu membawa seorang wanita yang kata nya adalah calon istri Dave.
Kemudian tiba-tiba mencium nya dengan alasan sebuah hukuman.
Sungguh hati nya sangat sakit di perlakukan semau nya sendiri oleh Dave.
"Ana, maaf." Dave kembali memeluk erat tubuh mungil Ana. Ia tak tahan melihat air mata yang mengalir di pipi nya.
Meski pipi nya terasa perih karena bekas tamparan Ana, tapi ia tak merasakan sedikit pun.
"Lepaskan!" Sentak Ana. Tangan dan tubuh nya meronta-ronta meminta agar Dave Meu melepaskan nya. Namun sayang seribu sayang, perlawanan Ana tak merenggangkan sedikit pun pelukan Dave apalagi membuat pelukan itu terlepas.
"Please ... Jangan nangis, maaf kan aku." Kata Dave, namun tangan nya tidak mau melepaskan pelukan itu.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?! Apa salah ku?! Jawab?! Apa salah ku pada mu?!" Kata Ana dengan suara tinggi seperti orang membentak. Kini kata-kata yang di gunakan nya sudah menggunakan bahasa sehari-hari seperti biasa.
Mata sendu dan berair itu menatap Dave penuh kekecewaan.
"Apa salah ku pada mu?? Kenapa kamu senang sekali membuat ku sakit hati??" Tanya Ana lagi dengan nada suara tinggi seperti tadi.
"Kenapa kau jahat, Dave?? Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini?? Apa aalah ku pada mu?? Hiks..." Ana sudah tak tahan lagi, ia menangis dalam pelukan Dave.
Tangan nya memukul-mukul dada bidang Dave yang terbalut jas hitam mahal nya.
"Maaf kan aku, Ana. Aku terlalu pengecut mengatakan yang sebenar nya pada mu." Kata Dave dalam hati. Tentu ia tak mampu mengucapkan nya, terlebih di depan Ana.
"Pertama-tama kau menolak ku, lalu saat aku berusaha untuk melepaskan dan merelakan mu tiba-tiba kau bertindak seolah-olah kau perduli pada ku! Sebenarnya apa salah ku pada mu??! Jawab?? Apa kau sangat senang melihat ku hancur?? iya??" Ana tak berhenti memukul dada Dave, bahkan saat ini ia menambah tenaga supaya lebih keras lagi untuk memukul dada Dave.
"Aku membenci mu, Dave. Sangat membenci mu." Kata Ana yang sudah menurunkan volume suara nya.
Tangan nya sedikit melemah saat memukul dada bidang Dave. Seperti nya ia sudah kelelahan. Lelah hati, lelah pikiran, serta lelah raga nya.
Rasa nya ia tak kuat jika terus-terusan di dekat Dave jika pada akhirnya seperti ini.
"Tapi aku mencintaimu, Ana. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku karena saat ini aku belum bisa jujur pada mu. Tapi setelah semua nya selesai, aku janji! Aku akan datang kepada mu membawa seluruh cinta ku untuk mu. Aku hanya mencintai mu. Hanya kamu, hanya kamu yang mampu membuat hidup ku terasa indah. Hanya kamu tujuan ku kembali, hanya kamu tujuan hidup ku." Batin Dave. Tak terasa ia pun mengeluarkan air mata nya.
Andai saja kejadian itu tak pernah menimpa nya, tentu saat ini dia sedang hidup bahagia bersama Ana, gadis nya yang menggemaskan, manja, cerewet seperti kaleng rombeng serta bodoh, tetapi membuat nya rindu akan kebodohan nya.
Sungguh Dave merindukan gadis nya yang seperti beberapa lalu. Tapi sekarang gadis nya sudah berubah menjadi gadis bersikap dingin dan tak tersentuh namun itu hanya berlaku pada nya bukan pada orang lain.
"Permisi, pak. Saya mau keluar." Kata Ana masih berusaha melepaskan tangan Dave.
Karena biasa nya Ana pergi bersama saudara kembar nya jika ingin kemana-mana.
"Itu bukan urusan bapak! Yang penting saya tidak di sini bersama laki-laki egois yang hanya bisa menyakiti perempuan!" Sindir Ana tanpa melihat ke arah Dave karena fokus nya saat ini pada pintu lift yang sebentar lagi akan segera terbuka setelah sampai pada lantai yang di tuju.
"Pergi dengan siapa?" Tanya nya lagi, mata tajam nya tak bisa ia alihkan dari gadis yang sedang di peluk erat hingga dua tubuh itu saling berdempetan.
"Bukan urusan Anda!" Kata Ana sarkas. Tentu saja Ana tidak mengatakan ingin pergi kemana, dengan siapa ia pergi. Karena memang biasa nya Dave tidak pernah peduli dengan nya. Tapi sekarang tiba-tiba Dave berubah menjadi orang sok peduli pada nya.
"Jawab aku!! Kau ingin pergi dengan siapa??" Tanya Dave sedikit membentak. Tangan nya beralih mencengkeram kuat bahu Ana.
Ana sedikit meringis saat Dave menggoncang bahu nya sedikit keras dan terasa sakit.
"Maaf." Dave yang menyadari Ana meringis kesakitan akibat ulah nya langsung sedikit melonggarkan cengkraman nya.
Ana tidak menjawab, namun bersamaan dengan itu pintu lift terbuka.
Ting.
Ana segera melepaskan cengkraman tangan Dave yang kebetulan sudah sedikit longgar, ia terus berusaha dan akhirnya bisa terlepas.
Setelah melihat pintu lift terbuka sempurna, Ana mendorong tubuh Dave hingga terjerambat di lantai lalu berlari keluar.
"Shitt." Umpat Dave saat dirinya terjatuh ke lantai dan melihat Ana berlari dari jangkauan nya.
Dave dapat melihat Ana kembali turun ke bawah menggunakan lift satu nya, lift yang memang di khususkan untuk umum atau karyawan biasa.
Sedangkan sejak tadi, mereka menggunakan lift khusus CEO yang hanya bisa di masuki Dave atau pun keluarga nya.
Tetapi meski Ana bukan lah keluarga dari penerus Sanjaya Grey, dia tetap di perbolehkan menggunakan lift CEO, terlebih saat dia selalu bersama Dave.
Seperti nya hal itu berlaku untuk kemarin-kemarin, mulai sekarang Ana harus terbiasa untuk menggunakan fasilitas umum seperti karyawan lain.
Bukan hanya itu, dia juga harus lebih profesional dalam bekerja agar bisa meraih prestasi.
Dan jika Ana sudah bisa bekerja dengan baik, maka segera mungkin ia harus meninggalkan kantor ini.
Di sini bukan tempat Ana, kantor ini hanya mengingatkan setiap kenangan nya bersama Dave, si laki-laki dingin berwajah kaku seperti kanebo kering yang sudah membuat hati nya seperti roller coaster.
Ana memang merasa betapa hati nya di buat seperti wahana roller coaster oleh Dave, terkadang di buat terbang dengan perhatian-perhatian kecil nya.
Namun dalam sekejap ia di buat jatuh se jatuh jatuh nya oleh Dave.
Dan mulai saat ini Ana berjanji pada diri nya sendiri untuk bisa mengatur hidup nya.
Dia ingin menjadi wanita hebat dan kuat, tidak mudah tumbang oleh pengaruh lingkungan.
Semua keyakinan itu sudah di sematkan pada diri Ana mulai detik ini juga.