
Papi Ello dan Mommy Bulan bersiap untuk pergi ke kediaman Tuan Alex, tunggal menunggu Dave yang sejak tadi belum keluar kamar.
Sesuai kesepakatan, menjelang pukul tujuh malam papi Ello dan mom Bu sudah berkumpul di ruang tamu, bahkan Davian serta Davio pun ikut berada di sana.
Papi Ello sengaja meminta anak-anak nya berkumpul di ruang tamu, guna meminta keterangan dari para anak nya, apakah selama ini memiliki musuh atau tidak, dia harus bergerak cepat.
Bila memang musuh itu datang dari masa lalu nya, maka papi Ello akan segera menuntaskan nya sendiri.
Tetapi bila musuh yang saat ini menyerang keluarga nya bukan lah berasal dari masa lalu nya, itu berarti orang yang sedang menjadi rivel nya kali ini pasti datang dari lingkup bisnis yang mereka jalani.
Dan setelah mengintrogasi anak-anak nya beberapa saat, ternyata kedua anak nya tak memiliki musuh yang nampak.
Mereka pun bingung dengan skandal yang baru saja menimpa saudara tertuanya karena disangkut pautkan dengan Sonya.
"Atau jangan-jangan mereka ingin agar kerja sama kita dengan suami Sonya berhenti ya, Pi?" Tanya Vio setelah berpikir cukup keras.
Saat papi nya ingin menjawab, Dave tiba-tiba saja membuyarkan perhatian orang-orang yang sedang berkumpul di sana.
"Aku sudah siap, Pi." Kata Dave setelah berada di dekat mereka.
Papi nya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya. Ternyata sudah tak bisa menunda untuk datang ke sana karena dikhawatirkan akan terlalu malam sampai ke mansion Alexander.
"Pembicaraan ini kita tunda dulu. Sebaiknya kita segera berangkat." Ujar papi Ello yang langsung di angguki oleh Dave dan mom Buu.
Mereka berjalan keluar mansion, Papi Ello dan mom Buu menuju ke mobil yang sudah di kendarai oleh seorang supir. Sedangkan Dave memilih untuk membawa mobil sendiri karena menurut nya lebih nyaman.
.
.
.
Di tempat lain, tepat nya di negeri yang memiliki kota terkenal dengan julukan the black country, seorang gadis berjalan menuju mobil jemputan yang memang sudah ditugaskan untuk menjemput nya.
Dia melihat seluruh penjuru dan memandang nya sembari menghirup udara dalam-dalam.
Dia harus bisa hidup disini demi kebaikan nya. Meski tanpa orang-orang yang begitu berarti dalam hidup nya.
Ana melangkah kan kaki nya untuk masuk ke dalam mobil, dan sang driver mulai melajukan mobil nya pelan.
Ana mulai memejamkan mata, pikiran nya terus berkelana ke mana-mana. Mengingat tentang semua yang telah ditinggalkan nya di Indonesia, menyisakan memori indah dalam benak nya.
Sangat terlihat guratan kesedihan di wajah nya. Walau bagaimana pun, sebenarnya dia sangat berat meninggalkan semua kenangan di negeri kelahiran nya.
Tentang mommy dan daddy nya yang terus melimpahkan dengan seluruh kasih sayang mereka. Ana jadi merasa bersalah pada kedua orang tua nya karena telah tega membohongi alasan pergi dari negara nya.
Saat ini, yang bisa dia lakukan hanya lah berdoa untuk kebahagiaan laki-laki itu yang sebentar lagi akan dikaruniai seorang anak.
Jujur saja, bila untuk melupakan sangat lah sulit. Tetapi sekuat mungkin dia harus beisa mengikhlaskan.
"Selamat atas kehidupan mu yang baru, Dave. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Aku harap kau akan selalu bahagia, meski bukan aku yang menjadi sumber kebahagiaan mu." Ana tersenyum pilu yang begitu menyayat hati.
Yah, meski hati nya sakit tapi dia tetap harus memaksakan senyum karena akhirnya, orang yang begitu di cintai telah menemukan kebahagiaan nya. Bukan kah puncak dari mencintai adalah mengikhlaskan?
Dan itulah yang dilakukan Ana saat ini, dia berusaha merelakan Dave seikhlas-ikhlas nya yang sudah bahagia bersama wanita pilihan nya.
"Selamat juga, kau telah terbebas dari semua tingkah ku, Dave. Kau pasti senang aku tak lagi mengganggu mu karena sekarang aku sudah pergi jauh dari mu." Gumam Ana sembari tersenyum ceria seakan-akan tak terjadi apapun pada nya. Tetapi mata nya tak bisa di bohongi, lelehan bening itu terus saja membludak dari sumber nya.
Sesaat kemudian, Ana menangis tergugu di dalam mobil. Membuat sang Driver menatap cemas pada nya.
Driver itu merupakan anak buah Dad Alex yang sengaja dipekerjakan disini untuk menjaga sang putri.
"Anda baik-baik saja, nona?" Tanya sang driver pada Ana. Driver itu tak tega melihat anak majikan nya menangis begitu pilu.
"Ya, aku baik-baik saja. Sebaiknya kau fokus mengemudi saja, jangan hiraukan aku." Sahut Ana sembari mengusap air mata serta ingus yang mulai keluar akibat terlalu lama menangis.
Driver itu hanya bisa mengangguk, sesekali melihat Ana melalui kaca spion yang menggantung di mobil bagian depan.
Ana masih saja terlihat menangis, padahal sudah sangat lama. Meski dia menelungkup kan tangan nya, tetapi sang driver tahu kalau anak dari majikan nya ini sedang menangis. Terlihat dari bahu nya yang terus saja bergetar dan itu sangat terlihat melalu laca spion.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari bandara menuju apartemen, akhirnya mobil itu telah sampai di depan lobby apartemen.
Sang driver sudah menghentikan mobil nya. Dia melihat ke arah belakang karena sejak tadi tak mendengar pergerakan dari sana. Saat kepala nya menoleh ke belakang, ternyata Ana sudah terlelap dalam posisi kaki menekuk dengan kepala nya di sandarkan pada sandaran kursi.
Driver itu bingung ingin melakukan apa. Apakah dia harus mengangkat tubuh Ana ke apartemen?
Ah tidak tidak! Itu adalah ide yang buruk. Dia tak ingin anak majikan nya berpikiran yang tidak-tidak bila sampai berani membopong tubuh nya.
Dia takut bila hal itu sampai dia lakukan maka akan berdampak buruk pada pekerjaan nya. Dan dia tak ingin kehilangan pekerjaan ini karena membutuhkan uang.
Sang driver itu memutuskan untuk menunggu anak majikan nya sampai terbangun saja kalau begitu. Driver yang masih terlihat mudah itu mencoba untuk sedikit membenarkan posisi tubuh Ana agar lebih nyaman.
Kaki Ana dijulurkan ke bawah, lalu kepala nya di beri bantal mobil agar tubuh nya terlalu sakit bila bangun.
Setelah itu, dia ikut terlelap di kursi kemudi. Karena sebenernya dia pun sangat lelah setelah selama seharian ini benar-benar bekerja keras dan belum istirahat sama sekali.
Setelah putri dari tuan Alex memutuskan untuk pergi ke London, di malam itu juga dia dikirim untuk pergi ke sini bersama teman-teman lain untuk mengurus segala perlengkapan dan kebutuhan anak majikan nya. Hingga mendaftarkan nya ke sekolah pun dilakukan oleh nya bersama teman-teman yang lain.