Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Menyadari



Mata Dave semakin berkabut gairah saat melihat nya. Tanpa pikir panjang, dia langsung melahap benda di depannya itu dengan begitu rakus. Seakan-akan dia adalah sosok bayi yang sangat kelaparan hingga dia menye-sap buah pir itu dengan ses-apan yang sangat kuat. Membuat Ana semakin tak terkendali, bibir nya terus meracau tak karuan sembari memejamkan mata menikmati setiap ses-apan yang dilakukan Dave.


Tangan Ana meraih benda apapun yang bisa di jadikan pegangan saat tubuhnya seperti tersengat listrik tetapi menimbulkan gelanyar yang begitu nikmat.


Saat tak menemukan sesuatu yang cocok untuk dijadikan pegangan, akhirnya Ana hanya bisa menjambak rambut Dave yang ada di depan dada nya.


"Davee ..." Rengekan manja Ana semakin membuat gai-rah Dave menggila. Dia benar-benar sudah sangat tidak tahan, tetapi dia tak ingin terburu-buru melakukan nya.


Dia harus bersabar sembari bergantian menikmati satu buah pir yang belum sempat dilahap nya. Tangan Dave tak ia biarkan menganggur begitu saja. Dia kembali mere-mas satu buah pir yang menganggur. Hal ini benar-benar membuat Ana semakin dibuat melayang hingga tak sadar dengan apa yang saat ini dia lakukan karena sedang terbuai dengan rasa yang terlampau nikmat.


"Eummh ... Dave ..."


Ahh ... benar-benar semakin dibuat menggila. Sudah kepalang tanggung, mau berhenti pun gai-rah nya sudah tak terkendali. Akan tetapi, kesadaran nya belum sepenuhnya hilang. Akal sehatnya berkata dia harus menghentikan kegiatan ini, tetapi naf-su yang membakar jiwanya mendorong tubuh nya untuk terus melakukan lebih sehingga terjadi pergulatan batin yang tak terelakkan.


Seakan-akan tuli dengan akal sehat yang hampir mendominasi, Dave tak mengindahkan bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk berhenti, apalagi saat melihat Ana begitu pasrah dengan sentuhan nya, semakin mendorong nya untuk maju terus dan pantang mundur.


Setelah melawan semua bisikan-bisikan itu, dengan tidak sabaran Dave membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakainya tanpa menghentikan ses-apan di da-da Ana.


Setelah berhasil membuka seluruh kancing kemejanya, Dave langsung menghempaskan kemeja itu dari tubuhnya lalu membuangnya asal.


Ana sudah membuka matanya kembali, dia dapat melihat dengan jelas tubuh sixpack Dave dan lengan kekar nya yang begitu berotot, membuat otak kotor nya semakin melayang.


Tanpa sadar, jari-jari tangan nya menyentuh perut Dave dan menari-nari di sana. Dave hanya bisa memejamkan mata sembari menikmati rasa geli bercampur nikmat yang diberikan Ana.


Dave semakin menekan tangan nya yang sedang menempel di bulatan kecil pucuk buah pir, Ana semakin menggelinjang hebat. Tangan nya meraih kuat-kuat punggung kokoh Dave sembari memberi usapan dengan gerakan naik-turun.


Tak berhenti sampai disitu, Dave kembali membuka paksa seluruh kain yang melekat di tubuh Ana dengan satu kali tarikan.


"Srekkkk ... " Bunyi sobekan kain terdengar begitu jelas, menyadarkan Ana atas apa yang sedang dilakukan.


Terpampang lah tubuh hampir polos di depan nya. Ana masih menggunakan kain tipis berbentuk segitiga yang menutupi area bawah nya.


Tubuh bagian bawah Dave semakin berkedut nyeri saat menatap tubuh indah di bawah nya.


"Dave ..! Eumhh ..."


Baru saja ingin melayangkan protes bibir nya lebih dulu dibungkam kembali oleh bibir Dave. Deva benar-benar sudah gelap mata, dia seperti singa yang sedang kelaparan dan melahap habis mangsanya dengan nafas tak beraturan.


Bibir Dave begitu brutal mencium bibir sensual Ana hingga gadis itu tak mampu mengimbangi nya.


Tangan nya bergerak mere-mas dua buah pir yang sejak tadi dinikmati, sesekali memelintir pucuknya membuat Ana kembali mengejang.


Tak berhenti disitu saja, tangan Dave kembali turun ke bawah mengusap dan menyapu seluruh permukaan kulit, lama kelamaan sapuan tangan Dave mulai turun hingga berada di atas lub-ang sur-gawi yang Ana yang masih terhalang oleh sehelai kain tipis berbentuk segitiga.


Jari-jari nya mulai mengelus di area itu. Ana semakin melayang dibuat nya.


"Ahh ... Dave ..." Ana tak kuat dengan rasa ini, rasa nikmat tetapi bercampur tak karuan. Dan dia tak tahu harus menjabarkan nikmat yang sedang dua rasakan.


"Eummh ... Aaahhh ..." Ana tak kuasa untuk tidak menjerit saat tiba-tiba jari-jari Dave mengobrak-abrik sesuatu di dalam sana hingga membuat nya seperti tersengat listrik berjuta-juta volt.


Ana bahkan sampai membungkukkan badan saat tiba-tiba dirinya merasakan gelanyar aneh itu, sedang Dave semakin terobsesi untuk memberikan lebih pada wanita nya.


Dengan nafas memburu, satu tangan Dave mencoba melepaskan ikat pinggang lalu membuka kancing celananya. Dengan tak sabaran dia melorotkan celana panjang serta bokser yang dipakai hingga setengah paha.


Saat ini terpampang lah benda berbentuk panjang dan besar yang sudah tegak tanpa terhalang apapun. Ana tak menyadari bahwa Dave sudah membuka celana nya karena saat ini dia masih memejamkan mata sembari menikmati sentuhan jari Dave yang belum berhenti mengobrak-abrik area bawahnya.


Tak ingin terburu-buru, Dave kembali mencium bibir sensual Ana yang sudah membuat nya candu.


Ciuman yang dilakukan Dave otomatis menghentikan kegiatan jarinya di bawah sana, membuat Ana sedikit kecewa karena dia belum mencapai pele-pasan. Tetapi dia tetap menikmati ciuman memabukkan yang diberikan Dave karena sama-sama membuat nya melayang.


Kedua tangan Dave kembali berpindah mere-mas dua buah pir yang menjadi kesukaan nya.


Semakin lama, semakin tak tahan pula gelora yang secepatnya meminta dikeluarkan.


Tangan Dave kembali mer-aba-raba kain tipis berbentuk segitiga yang sudah tak menutupi sempurna milik wanita nya karena tadi sempat tersingkap.


Dengan satu kali tarikan, kain itu sudah terkoyak tak berbentuk.


"Dave ...!" Ana kembali memekik menyadari kain yang melekat ditubuhnya lagi-lagi di tarik oleh Dave.


Dengan gerakan spontan, Ana mendorong tubuh Dave yang ada di atasnya.


"Apa, sayang?" Suara Dave terdengar serak dan frustasi karena kesenangan nya tiba-tiba dihentikan.


"Ya ampun..!!" Ana melebarkan mata sembari menutup mulut nya rapat-rapat saat melihat benda tegak yang sedang berdiri di hadapan nya tanpa terbungkus apapun.


"Dave..?! Apa itu?!" Tangan Ana pindah menutupi wajah, tetapi jari-jari nya sedikit dia renggang kan hingga dia bisa mengintip dibalik celah-celah itu.


Dave yang tadinya ingin marah, tentu saja terkekeh melihat tingkah nya.


"Pegang ini, sayang." Tangan Dave mengarahkan kedua tangan Ana untuk memegang benda panjang dan besar miliknya.


"Eummh ... Ya, remas dia, Sayang." Mata Dave terpejam saat merasakan tangan lembut Ana menyentuh benda itu. Saat ini Ana belum sadar dengan apa yang dipegangnya, hingga dia menuruti perintah Dave.


"Aaaa ...! Tidaaaak ..!"


Ana langsung mendorong tubuh Dave hingga terjerambat ke lantai saat menyadari apa yang barusan dia pegang.