Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Tidak Menerima Penjelasan



"Apa maksudmu berbicara seperti itu?!" Tanya Dad Alex sedikit keras. Dia sangat terkejut mendengar perkataan Dave dengan kalimat nya yang mengatakan selalu menyakiti hatinya dan berkata kasar. Apa maksudnya?


"Maafkan saya, om. Saya tidak memperlakukan anak om dengan baik. Saya selalu membuatnya bersedih." Katanya penuh sesal.


Dad Alex dan mom Jenni semakin tidak mengerti dengan perkataan Dave.


"Maksud kamu menyakiti seperti apa?!" Tanya dad Alex tidak sabaran.


Begitu pula mom Jenni yang ikut menyimak pembicaraan mereka dengan begitu penasaran.


"Saya selalu bersikap dingin dan selalu berkata-kata kasar pada Ana. Saya tidak memperlakukan nya dengan baik. Saya sering menghina dengan mangata-ngatai nya bodoh, tidak berguna. Saya selalu memakinya saat Ana melakukan kesalahan dan-"


Bug ... Bug ... Bug.


"Brengsekk..!! Berani-beraninya kau memperlakukan putriku dengan seperti itu! Aku tidak terima putriku di rendahkan!!"


Bug ... Bug ...Bug.


Dad Alex memukuli wajah Dave dengan membabi buta. Dia tidak membiarkan Dave bangkit dan memiliki celah untuk menghindar dari pukulan nya.


"Daddy ... hentikan!!" Pekik mom Jenni saat menyadari dad Alex sudah kesetanan. Bahkan bola matanya sudah berubah berwarna merah. Menandakan saat ini dad Alex benar-benar sedang marah.


"Stop it, Dad!!!" Mom Jenni berjalan maju dan berusaha menghentikan pukulan-pukulan dad Alex pada Dave.


Bug ... bug ... bug.


"Minggir! Jangan menghalangi ku!! Dia pantas mendapatkan semua ini!!! Tidak akan ku biarkan dia selamat!!"


Bug ... bug ... bug.


"Dad, ku mohon berhenti...! Stop..!" Mom Jenni ketakutan bukan main saat melihat wajah Dave berdarah bahkan sudah tak berbentuk.


Tubuhnya tidak menghindar ataupun melawan dari pukulan dad Alex.


"Ku mohon hentikan, Daddy...! Dia hampir mati...!" Mom Jenni memeluk tubuh suaminya dari belakang dengan erat. Tubuhnya ia sandarkan pada punggung dad Alex membuatnya tersadar dari perlakuannya.


Dad Alex menghentikan pukulannya sejenak sembari mengatur nafas yang naik turun, dia memperhatikan raut wajah kesakitan Dave yang tak melawan atau mencoba bangkit sedikitpun. Sepertinya rasa penyesalan dalam dirinya membuatnya berubah menjadi semakin bodoh dan siap menyerahkan nyawa nya untuk mati sia-sia.


"Lepaskan!" Sentak dad Alex setelah beberapa saat, dia masih belum puas memberi bogem mentah pada Dave. "Biarkan aku memberinya pelajaran! Dia sudah sangat menyakiti putri kita yang baik."


Bruk.


Mom Jenni tersungkur ke lantai saat tiba-tiba dad Alex menyentaknya dengan begitu kuat.


"Hentikan, Dad. Jangan melakukan kekerasan." Kata mom Jenni lirih menatap bola mata suaminya yang terlihat mematung karena begitu terkejut melihat istrinya terjatuh akibat ulahnya.


Matanya kembali berkaca-kaca. Dia sangat sedih dengan situasi kali ini.


"Mom..!" Dad Alex langsung berlari dan membantu istrinya bangkit.


"Please ... Jangan Memukuli Dave lagi. Kita bahkan belum mendengar semua penjelasannya. Tapi Daddy sudah tidak sabar untuk menyerangnya. Beri kesempatan dai untuk berbicara." Kata mom Jenni menasehati. Tangannya terulur mengelus rahang tegas suaminya yang sejak tadi terlihat mengeras akibat kemarahannya. Yang kemudian kembali melembutkan rahangnya setelah mendapatkan sentuhan dari tangan mungil istrinya.


Meski usianya bertambah, tapi pancaran kecantikan yang dimiliki mom Jenni masih tetap sama. Dia terlihat masih muda bahkan semakin cantik menurut dad Alex.


"Iya, Dad. Mommy mengerti. Tidak boleh ada yang menyakiti putri cantik kita. Kita sudah merawat nya dengan begitu baik." Mom Jenni mengangguk memberi pengertian pada sang suami. "Mommy sedih bila putri kita disakiti orang. Seharusnya mommy saja yang mendapatkan perlakuan seperti itu, jangan anak kita." Mom Jenni kembali menangis. Sungguh hatinya tak sanggup mendapati kenyataan selama ini putri nya menyembunyikan kesedihan darinya.


Tak sekalipun Ana menampilkan raut wajah bersedih dihadapan kedua orang tua nya. Sungguh gadis yang malang.


Tanpa terasa mom Jenni menangis tersedu-sedu di pelukan sang suami.


Begitu pula dengan laki-laki yang sedang terduduk tak berdaya taj jauh ddari mereka.


Dave sangat merasa bersalah, akibat kebodohan yang diperbuatnya membuat hati dua orang tua itu terluka karena telah menyakiti anaknya.


Dia memang tidak pantas mendapatkan maaf dari siapapun. Apa yang diperbuatnya sungguh tak bisa di maafkan.


Dave mencoba bangkit meski tubuhnya terasa begitu sakit, dia mendekati sepasang suami-istri paruh baya yang sedang saling menguatkan dengan memberi pelukan satu sama lain.


"Maafkan saya, om Tante. Perlakuan saya padanya memang tak bisa dimaafkan." Guratan penyesalan itu sangat terlihat di wajah nya. Dia kecewa terhadap keadaan yang menimpanya.


Dad Alex dan mom Jenni terlihat tidak merespon perkataan Dave. Mereka enggan melihat kearahnya. Bila mom Jenni enggan menatap Dave karena masih sangat kecewa pada pemuda itu. Berbeda dengan dad Alex yang enggan menatap kearahnya karena takut tidak bisa mengendalikan diri dan memukuli nya lagi.


"Saya terpaksa memperlakukan buruk agar dia membenci saya." Imbuhnya lagi.


Baik mom Jenni maupun dad Alex terlihat tertarik dengan perkataan Dave kali ini.


"Apa maksudmu?" Tanya dad Alex penasaran.


"Saya sengaja memperlakukan Ana dengan buruk agar dia bisa membenci dan menjauhi saya. Sa-"


"Dan keinginan mu sudah terwujud bukan? Sekarang anak saya sudah pergi jauh darimu! Apa sekarang kamu puas?" Tanya dad Alex memotong perkataan Dave dengan suara dinginnya.


"Saya melakukan hal itu karena ada alasannya."


"Apapun alasannya tetap saja kau sudah sangat mengecewakan saya! Seharusnya bilang dari awal bila memang kau tidak ingin anak saya berada didekat mu."


"Say-"


"Saya pasti akan menerimanya jika alasan mu masuk akal! Saya tidak mengemis meminta bantuan orang untuk menjaga putri saya." Sekali lagi Dad Alex memotong perkataan Dave. Dia tidak membiarkan Dave berkata untuk menjelaskan semuanya.


Dad Alex terlanjur kecewa pada nya. Apapun alasan Dave, tidak seharusnya sampai membuat putri memilih pergi hingga ke luar negeri.


"Dad, berikan dia waktu untuk menjelaskan." Kata mom Jenni menasehati suaminya. Meski dia sangat kecewa tapi mom Jenni dia tidak ingin egois.


"Tidak perlu mendengarkan penjelasan nya! Apapun alasannya, aku tidak pernah membenarkan dia melukai putri kita, apalagi sampai Ana memilih pergi." Kata Dad Alex datar. Dia sudah tidak butuh penjelasan apapun dari Dave karena terlanjur kecewa pada nya.


"Tolong, beri saya kesempatan untuk menjelaskan permasalahan saya." Kata Dave mengiba. Dia sangat ketakutan tidak akan mendapatkan restu dati orang tua Ana.


"Sudahlah! Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kesabaran ku habis dan kembali menyakiti mu."