Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Jebakan Edo



"Tunggu dulu. Karena kamu sudah membantu pekerjaan saya, maka saya akan traktir kamu makan siang." Tawanya.


"Tidak perlu, Mr. Saya akan segera pulang." Tolaknya Halus, tetapi tatapan matanya terlihat jengah.


Berulangkali Ana menolak, berulangkali pula Edo membujuk bahkan terkesan memaksa. Mau tidak mau akhirnya Ana menurutinya dari para terus-terusan berdebat.


.


.


.


Ana kira Edo akan mengajaknya makan siang di kantin atau rumah makan dekat kampus, nyatanya dia membawa nya entah kemana menggunakan mobilnya.


Ana sudah memberi penolakan karena setelah ini masih ada kegiatan lagi, tapi Edo bersikukuh untuk mengajaknya ke suatu tempat yang sudah disiapkan. Ana hanya bisa mendesaah frustasi menghadapi nya.


Dia pun tak bisa menolak atau mendebatnya karena percuma saja, pada akhirnya edo akan tetap memaksanya.


Setelah sampai di depan sebuah rumah makan besar, Edo keluar lebih dulu karena ingin membukakan pintu mobil Ana, tetapi sayangnya Ana lebih dulu membuka nya.


Saat ingin memasuki tempat makan, tangan Edo terlihat ingin menggenggam tangan Ana, tetapi dengan cepat Ana pura-pura mengayunkan tangan nya hingga Edo tak bisa menjangkau.


Namun sepertinya Edo tak mudah menyerah, untuk kedua kalinya Edo akhirnya bisa menggenggam tangan Ana. Tapi dengan cepat Ana menyentaknya.


"Lepas!" Sentak Ana dengan raut wajah tak suka saat menatap Edo.


Sedang Edo terlihat mengehentikan langkah dan membalas tatapan Ana dengan tatapan sulit diartikan, hingga terjadilah adu tatap antara dua manusia itu. Tetapi tak lama setelah nya, Edo memutus kontak mata itu lalu kembali melangkah sembari menuntun Ana.


Tanpa di duga, Edo ternyata sudah memesan private room di restoran itu, dengan suasana romantis, ada banyak lilin serta bunga yang menghiasi ruangan itu.


Bukan nya senang, Ana justru merasa takut karena di ruangan itu hanya berdua, dia dan Edo. Entah mengapa dia memiliki firasat seperti ini, tetapi memang sejak dulu Ana selalu memiliki intuisi dengan hal-hal tak mengenakan yang akan terjadi seperti mom Jenni. Sepertinya memang Ana mewarisi intuisi yang di miliki mom Jenni, dan entah apa yang akan terjadi setelah ini, yang jelas pikiran nya sangat tidak enak dan merasa cemas.


Beberapa saat setelah menunggu, akhirnya makanan yang di pesan mereka tiba. Bukan mereka, lebih tepatnya Edo karena saat Ana ditanya ingin makan apa, dia menjawab terserah hingga akhirnya Edo sendiri yang memesan untuk nya.


Setelah mempersilahkan makan para pelayan keluar dari ruangan lagi, bukan keluar lebih tepat nya menyisih ke tempat yang tak terlihat dua orang itu.


Ana tampak ragu untuk memakan makanan yang di hadapan nya. Bukan karena tidak enak, melainkan dia belum pernah memakan jenis makanan yang terbuat dari daging babi.


Dan bagaimana Ana bisa tahu kalau daging itu terbuat dari daging babi? Karena saat pelayan itu mempersilahkan makan, dia juga memberi tahu jenis makanan itu.


Ana tampak memundurkan piring yang berisi stik babi itu agar tak terlalu dekat dengan nya.


"Apa kau tak suka?" Edo menatap lekat wajah Ana.


"Sorry, aku tak biasa makan daging babi dan juga, aku tak biasa minum alkohol."


"Oh, kalau begitu lebih baik aku pesan kan lagi." Edo memberi isyarat agar pelayan mendekati nya.


"Tidak perlu, lagi pula aku tidak lapar. Lebih baik kau segera habiskan makanan mu dan pulang." Ana benar-benar tak ingin berlama-lama dengan Edo karena setelah ini dia akan mencari tahu di mana tempat tinggal Dave setelah diusir dari apartemen.


Namun, lagi-lagi Edo bersikap egois. Dia tetap memesankan makanan untuk Ana.


Setelah pesanan nya datang, Ana segera menyantap makanan itu agar cepat pulang. Edo memesankan stik yang terbuat dari daging sapi dan juga satu gelas orange juice.


Sesaat setelah semua pelayan disuruh keluar oleh Edo, keduanya makan dengan tenang. Tak ada bunyi sedikit pun kecuali dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Ana mengelap bibirnya setelah menghabiskan makanan, begitu pula dengan Edo yang sudah selesai makan.


"Kalau begitu saya permisi pulang, Mr." Ana berpamitan dengan bahasa formal setelah berdiri dari tempat duduk nya.


"Kenapa terburu-buru pulang?" Edo bertanya dengan senyum penuh arti. Satu tangan nya menyeret tangan Ana hingga terjatuh ke pangkuan nya.


Ana jelas tersentak kaget saat mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Lepas!"


Bukannya melepaskan, Edo justru semakin mencengkram pinggang Ana hingga dia tak bisa berbuat apapun.


Ana terlihat semakin ketakutan saat tatapan Edo berubah menjadi seperti seekor serigala yang siap memangsa buruannya.


Belum hilang keterkejutan itu, Ana kembali merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh nya. Dia merasa sekujur tubuh nya sangat panas seperti terbakar hingga lama-lama merasa bagian bawah sana berkedut seperti ada suatu dorongan yang ingin keluar.


"Apa kau yakin kau minta dilepaskan, baby? Bukankah tubuh mu ini meminta sentuhan ku?"


Tangan Edo berusaha meraih bagian tubuh Ana yang terlarang untuk disentuh, tetapi dengan sigap Ana berhasil menangkis nya. Untung saja meski tubuhnya merasa meminta disentuh, tetapi kesadaran nya masih belum sepenuhnya menghilang hingga dia bisa melawan perlakuan Edo.


"Lepaskan aku! Apa yang kau berikan pada makanan ku?!" Bentak Ana dengan wajah memerah.


Tubuh nya terus-terus bergerak gelisah di pangkuan Edo, dan hal itu semakin membuat Edo merasa terpancing.


"Tidak perlu sok kuah mahal, baby. Aku tahu tubuh mu ini tak se-polos seperti wajah mu. Pasti sudah banyak pria yang menyentuh nya." Edo terkekeh mendapat penolakan dari Ana. Karena yang dia lihat saat di apartemen kemarin, terdapat banyak bekas tanda percintaan di leher dan dadanya. Oleh karena itu, Edo berpikir Ana seperti wanita lain yang sering melakukan one night stand seperti yang sering dia lakukan bersama beberapa wanita nya.


"Apa maksud mu?! Aku bukan Jallang yang menjajakan tubuh ku pada laki-laki sembarangan!"


Sekuat tenaga Ana memberontak, tetapi yang didapat justru sebaliknya. Dia bahkan tak bisa terbebas dari cengkeraman Edo.


"Lepaskan aku, atau aku akan berteriak keras agar semua orang masuk ke sini dan melihat kelakuan mu!"


Mendengar ancaman Ana, tentu Edo tertawa keras. "Silahkan berteriak lah sekeras mungkin karena tak akan ada satu orang pun yang mendengar. Ruangan ini kedap suara, jadi berteriak lah se lantang mungkin sampai ada yang menolong mu.