Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Berangkat ke Kantor



Pagi hari nya, Ana benar-benar mempersiapkan diri dengan sempurna. Ia bahkan sudah berganti tiga kali baju kerja, dan akhirnya pilihan yang terakhir ini sangat cocok untuk nya.


Semalam sebenarnya Ana tidak bisa tidur karena terus teringat tingkah konyol nya saat Dave mengambilkan ulat hijau yang menempel di pundak nya, tetapi dengan PD nya dia mengira Dave akan mencium nya.


Dan setelah itu, hal tak terduga kembali datang saat dirinya terjatuh dan tanpa sengaja kedua bibir itu saling menempel hingga ia kehilangan first kiss nya.


Ah ... mengingat itu seketika pipi Ana kembali merona, rasa itu terus bergejolak dalam hati nya saat mengingat ia telah kehilangan first kiss. Malu, kesal, senang dan ... ah nano nano pokoknya.


Sekarang jam di dinding kamar Ana menunjukkan pukul 06.07 wib tapi dia sudah siap dari tadi.


"Apa yang harus ku lakukan?" Ana mengetuk-ngetuk jari nya di dagu pertanda berpikir.


Tidak mungkin Ana turun ke bawah se pagi ini karena pasti nya akan mendapat godaan dari Daddy nya. Karena biasa nya Ana selalu berangkat telat, entah itu ke kampus atau pun ke kantor. Jadi lucu sekali jika tiba-tiba Ana berubah.


Tok tok tok


"Sayang ... Bangun!!" Terdengar teriakan cempreng di balik pintu. Siapa lagi kalau bukan mom Jenni.


Memang biasanya jam segini Ana baru bangun, ah ... lebih tepat nya di bangunkan.


Tapi tidak tahu mengapa sekarang dia bisa bangun pagi tanpa di teriaki sang mommy terlebih dahulu.


Ckek


"Sayang, ba_"


"Loh, tumben udah bangun, hem? Anak mommy jam segini udah rapi, cantik lagi. Ada apa? nggak biasa nya Ana pagi-pagi udah bangun, apalagi udah rapi begini?" Tanya mom Jenni penuh selidik.


Benar dugaan Ana, kalau mommy dan Daddy nya tahu dia bangun se pagi ini dan sudah rapi pasti akan di tanyai macam-macam.


Untung saja mommy Jenni yang mengetahui, kalau Daddy yang tahu pasti Ana akan di goda oleh Daddy habis-habisan.


"Nggak apa-apa mom, Ana hanya ingin merubah kebiasaan buruk aja, mom. Dan Ana ingin memulai nya dari bangun pagi. Kalo kata orang, yang kemarin kita nonton video bareng loh mom ..." Ana menatap mom nya sejenak.


"Iya, mom tahu. kenapa?"


"Yaitu, mom. Katanya itu kunci kesuksesan itu ya di mulai dari bangun pagi, mom. Seperti bangun jam 5 pagi misalnya." Jelas nya. Ah ... untung saja Ana baru saja melihat video seseorang yang menjelaskan tentang tips menjadi sukses, dan kebetulan ada yang menyebutkan harus bangun pagi, minimal jam 5 pagi.


"Katanya mom ingin Ana jadi anak hebat, bolehkan Ana mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang dari dulu selalu Ana lakukan?" Imbuh nya.


"Tentu, boleh dong, Sayang. Mommy sangat senang kalau Ana semakin dewasa dan menjadi putri yang baik." Tiba-tiba mom Jenni memeluk tubuh Ana. Tidak tahu kenapa rasanya mom Jenni sangat bersyukur putri nya sudah beranjak dewasa.


Padahal mom Jenni seperti baru kemarin ia menikah dengan dad Alex, seperti baru kemarin mereka menghadapi semua lika-liku rumit nya rumah tangga yang ia jalani.


Dan sekarang, putri nya sudah dewasa. Mom Jenni sangat bersyukur pada Tuhan, akhirnya kehidupan keluarga nya bisa kembali bahagia setelah diterpa badai dan gelombang yang seakan kapal yang di nahkodai dad Alex tidak akan sampai ke dermaga nya.


Tanpa terasa mom Jenni meneteskan air mata, namun segera ia hapus karena tak ingin membuat putri kecil nya yang sekarang sudah dewasa ini mengetahui.


"Terimakasih, Sayang. Sudah hadir diantara kami. Terimakasih, sudah menjadi sumber kebahagiaan daddy dan mommy, sayang. Mommy sangat bahagia memiliki mu." Mengalir sudah air mata nya.


Padahal tadi sudah berusaha ia sembunyikan, namun kini tetap saja putri nya mengetahui. Ini bukan air mata sedih, melainkan air mata kebahagiaan.


"Mommy, why are you crying?" Tangan Ana terulur menyentuh wajah mommy nya kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipi.


daddy. Terus lah menjadi putri cantik mommy dan daddy yang baik dan menggemaskan." Mom Jenni menangkup wajah putri nya kemudian menatap lekat manik mata Ana.


Tak terasa Ana juga ikut mengeluarkan air mata, ia tahu bagaimana perjuangan mommy dan daddy membesarkan dia, sering di landa musibah namun mereka tetap bertahan untuk membahagiakan dia, putri satu-satunya.


Mengingat itu semua, mana mungkin Ana tega melukai hati mom dan daddy. Dia selalu berusaha untuk mengiyakan setiap keinginan daddy dan mommy nya karena Ana juga percaya, apapun yang di pilihkan daddy dan mommy adalah yang terbaik untuk nya.


Mana mungkin Ana menjadi anak nakal? Pernah beberapa kali Ana di ajak teman-teman nya bermain layak nya anak zaman sekarang yang tidak tahu norma, tidak menjaga batasan, tapi Ana dengan tegas menolak karena dia tidak ingin mengecewakan mommy dan daddy.


"Mommy, jangan melow gitu dong. Ana jadi ikutan mewek ini." Kelakar nya, namun tak ayal Ana juga mengeluarkan air mata meski tetap disertai senyuman untuk mengalihkan tangisan nya.


"Kamu jangan ikutan nangis, sayang. Nanti bedak nya luntur. Kalau udah luntur nanti harus di benerin lagi. Terus saat Dave kesini, kamu malah belum selesai dandan." Kata mom Jenni yang dibuat-buat seakan sedang mengomeli Ana.


"Iya, mom. Ini nggak nangis lagi." Kata Ana sembari mengusap air mata nya kemudian melihat layar hp untuk dibuat bercermin.


"Sudah cantik, sayang. Ayo kita ke bawah. Daddy pasti sudah menunggu." Mom Jenni bangkit dari kasur karena tadi saat mengobrol dengan Ana, mom Jenni ikut duduk di samping Ana yang sedang ada di tepi kasur.


"Oke, mom."


"Sekalian bawa tas nya, sayang. Biar tidak perlu naik turun lagi." Perintah Mommy.


"Iya, mom ... bawel." Kata Ana sembari mengambil tas.


"Apa kamu bilang?" Mata mom mendelik saat mendengar Ana mengatainya bawel.


"Mom bawel." Kata Ana mengulangi tanpa rasa bersalah. Raut wajah nya sengaja dibuat-buat untuk meledek mommy Jenni.


"Anak nakal, ngatain mommy bawel. Sini mommy hukum biar nggak berani lagi." Mom Jenni tiba-tiba menarik satu telinga Ana sedikit kencang hingga membuat Ana menengadah kesakitan.


"Aduh mom! udah! sakit ... " Mom Jenni tidak melepaskan begitu saja, ia masih ingin menikmati ekspresi wajah anak nya yang sedang menyengir kesakitan.


"Mom ... sakit ... tega banget sama anak sendiri!" Sungut Ana masih merintih karena sakit.


"Salah send_"


"Ada apa ini?" Suara bariton itu berhasil melepaskan jepitan tangan mom Jenni di telinga Ana. Kedua perempuan beda usia itu pun melihat ke arah pintu dimana datang nya sumber suara.


"Ini, dad. Mommy jewer telinga Ana." Adu nya sembari mengusap-usap telinga nya yang sudah berubah merah.


Sedangkan Daddy Alex hanya menggelengkan kepala saat melihat istri nya mengacungkan jari telunjuk dan tengah nya membentuk peace sembari tersenyum canggung. Seperti anak kecil! Batin dad Alex.


Padahal umur nya sudah tidak lagi muda, tapi tingkah nya masih seperti anak remaja seperti awal pertama dad Alex bertemu mom Jenni.


"Ayo kebawah. Sudah di tunggu Dave di bawah, sayang." Kata dad Alex. Dan itu berhasil membuat Ana gugup setengah hidup. Padahal tadi ia biasa-biasa saja, tapi entah mengapa saat Daddy Alex menyebutkan nama Dave tiba-tiba jantung nya berdetak tidak karuan, tidak seperti biasanya.


...💙💙💙...


...TBC...


See you next chapter 👋🙂