
"Sayang ...,"
"Hm ...," Ana hanya bergumam menjawab sapaan seseorang di seberang telepon. Dia benar-benar sangat kesal padanya karena sudah tiga hari ini tak kunjung kembali ke Indonesia, padahal awalnya dia berjanji akan pulang saru hari lagi tapi justru sekarang sudah tiga hari belum sampai di sini.
"Ayo lah, Sayang. Jangan merajuk. Aku janji ini hari terakhir ku disini. Sebenarnya aku pun tak ingin berlama-lama disini karena sudah sangat merindukan mu." Bujuknya penuh kelembutan.
Sudah tiga hari ini Dave masih berada di kota London padahal dia tak lagi di rawat di rumah sakit. Tapi karena ada suatu urusan membuat nya tak langsung meninggalkan tempat itu.
Ya, Dave masih ingin memberikan pelajaran yang layak untuk Edo karena dia sudah dengan berani-beraninya menjebak sang kekasih. Maka sebelum Edo mendapatkan balasan yang setimpal, Dave pun belum ingin pergi dari sana.
Selama tiga hati ini Dave terus mencari celah kelemahan Edo yang dapat dijadikan nya sebagai bukti kejahatan untuk nya.
Ternyata setelah ditelusuri, Edo berasal dari kalangan keluarga besar di kota ini.
Perusahaan ayah nya bahkan menjadi perusahaan mesin terbesar kedua di kotanya.
Dave jelas sangat sulit mendapatkan celah keburukan Edo maupun keluarga nya karena semua informasi tentang mereka tentunya sudah dilindungi.
Dave kembali memutar otak, lalu dia berusaha meretas cctv kampus melalui bantuan Davian di Indonesia tentu nya.
Setelah dua hari dua malam Davian bekerja keras meretas cctv hampir di semua tempat yang disinggahi Edo, seperti kampus, perusahaan, bahkan kediaman yang ditempati Edo, akhirnya mereka mendapatkan titik celah. Di apartemen yang ditempati Edo bisa dilihat dengan jelas bahwa Edo sering mengonsumsi obat-obatan terlarang, bergonta-ganti membawa wanita, dan pesta bersama teman-temannya.
Dan hal itu cukup untuk memberi sedikit pelajaran pada karir sang ayah, dan akhirnya ayahnya sendiri lah yang memberi pelajaran pada Edo.
"I miss you," terdengar suara berat Dave di seberang sana.
"Bohong! Kau tidak merindukan ku!" Sungut Ana. Meski hatinya berbunga-bunga mendengar Dave merindukan nya tetapi Ana tak ingin terbang melayang hingga ke awan dulu karena saat ini belum waktunya tersipu bahagia. Dia masih ingin merajuk pada Dave agar laki-laki itu segera pulang.
"Kenapa kau berkata seperti itu, hm? Aku sudah sangat merindukan mu, itu sebabnya sejak kemarin berusaha tidak menghubungi mu agar fokus menjalankan tugas." Jelas Dave. Karena memang itu lah tujuan nya tak menghubungi Ana selama 2 hari.
Dan setelah semuanya selesai, Dave baru saja berani mengabari sang tambatan hati. Tapi faktanya Ana justru merajuk karena lama tak mengangkat telepon atau bahkan sekedar membalas pesan nya.
"Bohong, aku tahu kau hanya beralaskan." Sangkal Ana masih pura-pura marah. Padahal nyatanya jiwa nya seakan melayang mendapati fakta sebenarnya.
"Dengan apa aku harus membuktikan agar kau tak marah lagi, hm? Kau mau dibelikan oleh-oleh apa?" Bujuk Dave yang tak tahu harus berkata apalagi agar wanita nya tak marah.
"Kalau begitu dalam 3 jam harus sampai di depan ku. Jika tidak, maka aku akan membatalkan rencana pernikahan kita!" Gertak nya yang sungguh tak masuk akal.
Sedang Dave hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tak tahu dengan jalan pikiran wanita nya. Bagaimana mungkin perjalanan London-Indonesia hanya membutuhkan waktu 3 jam?
"Sayang, apa aku tidak salah dengar?" Tanya Dave lagi.
Tut.
Ana mematikan ponsel nya secara sepihak, lalu tak lama kemudian terdengar kembali tetapi Ana tak kunjung mengangkat nya tetapi terus memperhatikan ponselnya. Saat dia sudah tak tahan lagi untuk tak mengangkat panggilan Dave, tiba-tiba saja suara ketukan pintu mengagetkan nya.
"Masuk!" Sahut Ana sedikit keras agar orang di luar kamarnya bisa mendengar.
"Sayang, Ada mom bulan. Cepat salim dulu, nak." Mom Jenni menemani mom Buu yang sengaja berkunjung ke tempat calon menantu nya.
Memang rencana pernikahan Ana dan Dave sudah dibicarakan oleh kedua belah pihak. Mereka terlihat sangat bahagia mendengar berita bahagia itu, karena memang sebelumnya mereka berencana ingin menjodohkan Ana dan Dave. Tapi ternyata rencana Tuhan lebih indah, tanpa menjodohkan mereka ternyata sudah saling cinta.
Tak ada yang tidak bahagia mendengar berita itu, meski Vio sedikit merasa sakit saat saat pertama kali, tapi setelah mendengar semua cerita yang mereka alami akhirnya dia memahami dan mencoba ikhlas, walau nyatanya tak semudah itu.
"Halo, mom." Sapa Ana sembari mendekat kearah calon mertua serta mami nya yang juga sedang berjalan kearah nya.
"Halo, juga. Apakabar, sayang?" Mom Buu mengelus puncak kepala Ana penuh sayang saat Ana mencium punggung tangan nya.
Mom bulan merasa sangat bahagia karena akhirnya Dave mendapatkan menantu yang sesuai kriteria nya, yaitu baik hati juga hormat pada orang tua.
Mom Jenni dan Dad Alex telah berhasil mendidik putri nya hingga Ana tumbuh dan besar menjadi gadis manis dan baik hati yang tentu nya sangat disukai semua orang. Terlebih sifat ceria serta periang nya yang memberikan energi positif pada orang disekitarnya.
"Bagaimana keadaan mu? Apa kau baik-baik saja?" Mom Bu terlihat mengamati seluruh tubuh Ana, dia memastikan calon menantu nya tak mendapatkan luka fisik dari laki-laki yang menjebaknya.
"Aku baik-baik saja mom." Ana tersenyum tulus melihat perhatian mom Buu. "terimakasih, sudah mengkhawatirkan Ana." sahut nya lagi.
"Tentu saja mommy sangat mengkhawatirkan mu, sayang. Sebelumnya mommy sudah menganggap mu sebagai putri sendiri. Dan sekarang kau juga calon menantu mom, mana mungkin mom tak khawatir pada mu, hm?" Mom bu mengelus pipi Ana sembari menatap manik mata itu dengan intens.
Ana dan mom Jenni terkekeh kecil mendengar perkataan mom Buu.
"Oh iya, sampai lupa dengan kedatangan ku kemari." Kini giliran mom Buu yang terkekeh karena melupakan sesuatu. "kedatangan ku kemari karena ingin menjemput menantu ku untuk mencoba gaun pengantin yang sudah ku siapkan di butik." Jelas mom Buu.
Rencana pernikahan nya adalah lusa, jadi semuanya memang sedang dipersiapkan termasuk undangan yang sudah disebar ke seluruh kolega bisnis maupun keluarga dan teman-teman dari dua keluarga yang akan dilangsungkan di hotel X.
"Baik, mom. Ana ganti baju dulu." Sahut Ana.
"Baiklah, sayang. Kalau begitu mom tunggu di luar bersama mom Jenni. Kau siap-siap lah." Pamit nya yang langsung di angguki Ana.
Setelah dua wanita setengah baya itu keluar, Ana kembali mengecek ponsel yang ternyata sudah tak ada lagi panggilan masuk. Ana hanya bisa menghela nafas nya pasrah lalu masuk ke walk in closet.