Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Tamat!



"Aaaa ...! Tidaaaak ..!"


Ana langsung mendorong tubuh Dave hingga terjerambat ke lantai saat menyadari apa yang barusan dia pegang.


"Sayang, Kenapa kau mendorong ku?!"


Dave terlihat begitu kesal saat bokong polosnya mencium lantai dengan kasar.


Dia kembali bangkit dengan aura wajah mencekam, terlihat dingin dan sorot mata tajam tetapi tak bisa diartikan pada Ana. Tangan nya bergerak memelototkan celana yang masih setengah paha, sehingga saat ini keadaan Dave dan Ana sama-sama polos.


"Dave ..." Ana menyadari saat ini Dave sedang dalam mood tidak baik-baik saja, tiba-tiba bulu kuduknya semakin merinding dibuatnya. Terlebih, saat ini tubuh nya masih polos semakin membuat nya merinding tak karuan.


Tanpa berkata sepatah kata pun, sepasang lengan kekar Dave mengangkat tubuh polos Ana ala bridal style.


"Aaaa..! Dave, kau mau membawa ku kemana? Cepat turunkan aku!"


Ana berusaha berontak dari gendongan Dave, tetapi laki-laki itu seakan-akan tuli, tak menghiraukan sedikit pun perkataan Ana.


Dia terus berjalan hingga Ana menyadari kalau Dave membawa nya menuju ranjang berukuran king size tempat tidur nya lalu merebahkan di sana.


"Dave ..." Suara Ana bahkan seperti tercekat saat melihat kilatan mata Dave yang terlihat sangat berbeda.


"Da-emmhh..." Belum sempat melanjutkan perkataannya, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh bibir Dave dengan buas.


Ana tak bisa mengelak dari ciuman itu, tangannya mencengkram erat pinggang kokoh Dave yang sedang mengungkung nya.


Setelah dirasa lama bermain di bibir, Dave berpindah menye-sap leher jenjang wanita nya yang begitu putih dan mulus, sangat menggiurkan. Ada yang terlewat dari Dave, dia belum memainkan telinga wanita nya. Tatapan Dave kembali ke atas, tanpa ba bi bu Dave sudah mengu-lum telinga itu menggunakan bibir, sesekali menjilati menggunakan lidah.


Ana kembali tak sadar atas apa yang mereka lakukan, dia hanya pasrah mendapatkan sentuhan kenikmatan sembari bibirnya terus berkicau memanggil-manggil nama Dave dan bahkan meminta lebih, membuat laki-laki itu semakin bersemangat untuk memberikan sentuhan.


Puas mengu-lum yang diberikan di telinga nya, tatapan Dave langsung tertuju pada tulang selangka, dia tak sabar untuk memberi tanda di sana.


Setelah dirasa cukup, Bibir Dave kembali mengendus-endus turun ke dua buah pir berukuran sedang.


Tanpa menunggu berlama-lama, Dave langsung melahap salah satu buah pir itu, lalu menye-sap bulatan kecil nya kuat-kuat. Sehingga menimbulkan gelanyar aneh yang dirasakan Ana.


Ana tak bisa berbuat apa-apa selain memejamkan mata sembari mengelus rambut Dave seraya menekan kepala nya agar bisa menye-sap lebih dalam lagi.


Tangan Dave tak dibiarkan menganggur begitu saja, satu tangan nya kembali memainkan buah pir Ana sesekali mencubit pucuknya. Percayalah, hal ini semakin membuat Ana tersiksa. Di bawah sana terus saja berdenyut seperti ada sesuatu yang ingin keluar.


Melihat gelagat Ana, serta bagian bawah nya yang terus saja bergerak-gerak, Dave berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang lebih. Satu tangan Dave yang menganggur dia gunakan untuk memainkan bagian bawah wanita nya.


Membuat Ana semakin menggelinjang hebat, bahkan suaranya terus saja mengalun begitu indah dan terdengar sangat sek-si.


"Milik mu sudah sangat basah, sayang. Aku akan segera memasuki mu." Suara Dave terdengar serak, dia sedikit mendongakkan kepala menatap wajah Ana yang sebentar terpejam dan sebentar lagi terbuka. Saat tatapan mata mereka bertemu, Dave seakan meminta izin melalui isyarat mata.


"Boleh?" Setelah beberapa lama mereka saling pandang, namun Ana tak memberikan respon apapun, Deva baru memperjelas menggunakan pertanyaan.


"A-aku takut." Cicit nya seraya menyembunyikan wajah di dada bidang Dave.


"Takut kenapa, hm?" Dave menyeka keringat di pelipis Ana sembari menatap lembut.


"Apa itu sangat sakit?" Tanya nya dengan wajah polos.


Seketika Dave mengembangkan senyum lalu mencium kening dan kedua pipinya.


"Untuk awal akan sedikit sakit, tapi lama-lama akan berubah menjadi enak." Dave berbisik tepat di telinga Ana sembari tersenyum me-sum.


Seketika wajah Ana merona mendengar kata "enak," dari Dave. Karena sejak tadi dia pun sudah merasakan betapa nikmatnya saat tubuhnya di sentuh nakal oleh Dave, membuat nya semakin menginginkan lebih.


"Ta-tapi, bagaimana kalau aku hamil?" Elaknya lagi. Sejujurnya dia masih sangat ragu untuk melakukan nya, tetapi saat menyadari kalau melakukan hubungan itu ternyata sangat mengenakan membuat menginginkan lebih jauh lagi, terlebih dia melakukan nya dengan Dave.


"Kenapa harus takut hamil? Bukankah itu lebih bagus, karena kita akan memiliki baby yang menggemaskan?" Selorohnya.


"Ta-tapi, apa kau akan tanggung jawab?" Tanya Ana dengan tatapan sedikit ragu.


"Hei, omong kosong apa yang sedang kau tanyakan? Tentu saja aku akan menikahi mu. Memangnya siapa lagi yang mau menjadi istri ku jika sudah tahu aku tak lagi perjaka kalau bukan kau?" Dave menarik gemas ujung hidung Ana tetapi tidak terlalu keras.


Seketika Ana mengembangkan senyum. "Apa itu artinya aku harus tanggung jawab karena sudah mengambil keperjakaan mu?"


Pertanyaan yang sangat tidak berbobot itu keluar begitu saja dari tenggorokan gadis bodoh di bawah Dave.


"Tidak, tidak! Aku ini orang yang sangat bertanggung jawab, dan Tantu saja aku tidak akan lari dari tanggung jawab.


"Apakah itu artinya kau mau menikah dengan ku setelah kita melakukan nya?"


Bodoh!


Ana berhasil dikibuli, dan Dave berhasil membalikkan pertanyaan yang tadi dilontarkan Ana tanpa disadari oleh gadis itu.


"Ya, tentu aku akan menikahi mu setelah ku ambil keperjakaan ku."


Ana sangat yakin dengan apa yang dikatakan nya, tanpa menyadari kalau pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Dave adalah pertanyaan bodoh yang tak berguna sama sekali.


"Oh, terimakasih, Sayang. Aku kira kau tak akan bertanggung jawab setelah kau melihat semua lekuk tubuh ku." Dave berkata dengan nada suara yang sangat dibuat-buat.


Untuk kali ini saja, author percaya kalau Ana benar-benar bodoh!


"Kalau begitu, apakah kita bisa melakukan nya?" Tanya Dave lagi sembari menaik-turunkan alisnya.


Ana mengangguk setuju sembari menampilkan senyum cantiknya seperti biasa.


"Terimakasih, sayang." Dave mendaratkan kecupan di wajah hingga bertubi-tubi.


Setelah puas menciumi wajah Ana, tanpa menunggu waktu lagi, Dave langsung mengarahkan senj-ata tem-pur nya ke dalam lub-ang sur-gawi Ana. Karena saat ini kedua keduanya sudah sama-sama basah, jadi tak perlu melakukan pemanasan lagi.


Dave mulai mendorong senj-ata tem-pur nya ke lub-ang sur-gawi dengan susah payah.


"Dave, sakiiiitttt...!" Pekik Ana keras sembari menjambak rambut Dave dengan begitu keras saat merasakan senj-ata tem-pur nya menerobos lub-ang sur-gawi nya.


Jlepp.


Hah, akhirnya Dave berhasil memasukkan senj-ata tem-pur nya kedalam lub-ang kenikmatan itu hingga terbenam sempurna.


Dave dapat merasakan miliknya dijepit ketat oleh lubang itu dan terasa sangat nikmat.


Ohhh ... Dave baru merasakan, ternyata seperti ini nikmat nya ketika miliknya dijepit oleh penjepit sesungguhnya.


Begitu nikmat, Dave tak kuasa untuk tidak menggerakkan pinggul agar kenikmatan itu semakin bertambah, tetapi dia masih harus bersabar menunggu wanita nya sampai benar-benar tenang.


Diusapnya lelehan bening yang mengalir di kedua sudut matanya, lalu mengecup kening bertubi-tubi sembari mengucapkan kata cinta.


"Terimakasih, sayang. Kamu milikku seutuhnya. I love you, ibu dari calon-calon ku."


"I love you to, Mr. Dave. Ayah dari calon anakku." Sahut Ana sembari mengulas senyum.


"Apa aku sudah bisa menggerakkan tubuh?" Tanya Dave hati-hati.


Ana hanya mengangguk sembari tersenyum menangkup wajah Dave.


Dengan rak sabaran, Dave langsung menggerakkan pinggul nya dengan ritme sedang karena takut wanita nya merasakan sakit.


Akhirnya, setelah sekian lama mereka saling mengungkapkan cinta. Dua jiwa yang melebar jadi satu, saling berbagi keringat dalam indahnya percintaan.


Suara-suara dari kedua nya mengalun begitu indah, saling mengucapkan, saling mengagumi, dan saling memuja satu sama lain.


Kamar apartemen yang baru dihuni beberapa hari, ikut menjadi saksi bisu percintaan panas dan menggelora diantara keduanya.


...TAMAT...


Tapi, boong.


Tapi ... kalau kalian nggak mau kasih jejak lagi disini, serius aku mau tamatin dini.😁


Lumayan jenuh sih, kalau lapaknya nggak laris, yang baca nggak kasih jejak, benar-benar mau up aja males bukan main.😁


Terimakasih buat teman-teman yang masih hargai karya ku dengan kasih like, komen, lebih-lebih vote & gift.


See you next chapter.👋