
Ana membiarkan laki-laki yang sampai detik ini belum diketahui nama nya itu terus mengoceh sesuka hati.
Dia pura-pura tuli, dan benar-benar tak tertarik sedikit pun untuk menanggapi celotehan manusia yang memiliki kesan buruk untuk pertama kali nya dimata Ana.
"Apa kau tak berniat mengehentikan ocehan mu?" Sindir Ana dengan nada dongkol.
Kalimat yang digunakan bukan lagi menggunakan bahasa formal, melainkan menggunakan bahasa sehari-hari.
Toh juga bukan orang yang perlu dihormati. Batin Ana.
"Apa kau tak berniat menanggapi celotehan ku?" Tanya laki-laki tampan itu untuk menanggapi pertanyaan dari Ana.
Wajah sok yes sok no nya benar-benar membuat Ana mual. Entah mengapa dia menjadi sangat tidak suka dengan laki-laki yang sok welcome terhadap nya, terlebih itu adalah orang asing.
"Come on, baby. Jangan terlalu menunjukkan raut wajah tak suka mu pada ku." Goda pria asing itu lagi.
Hal itu benar-benar membuat Ana semakin memelototkan bola mata nya.
Dia tak habis pikir ada manusia model seperti ini.
Ohhh ... Sungguh luar biasa dunia ini. Ternyata ada juga manusia modelan seperti dia. Sangat jujur dan tak memiliki urat malu.
"Aku tak suka berpura-pura." Kata Ana putus asa. Sungguh, dia tak sabar lagi meladeni tingkah laki-laki asing yang baru ditemui nya.
"Yup, aku lebih suka kau yang jujur. Aku pikir kau sangat menantang." Ujar nya frontal. Membuat Ana semakin membulatkan bola mata nya.
"Hahaha kau sungguh luar biasa, Tuan." Kata Ana menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
Dia masih terus berpikir dengan cara apa lagi dia mengusir laki-laki untuk keluar dari apartemen nya.
"Panggil aku Edo." Katanya sembari menatap Ana dengan senyuman.
Ana tak menanggapi perkataan nya, dia justru terlihat sangat bodo amat dengan nama maupun sebutan untuk nya. Kalau bisa, dia bahkan lebih suka memanggil nya badak bercula satu. Karena menurut nya dia mirip seperti binatang utu, yang spesies nya sama-sama langka dan perlu di lestarikan.
Dilestarikan? Oh god! Apa yang Ana pikiran?!
Sungguh tak masuk di akal!.
Ana menepuk-nepuk keningnya sendiri membayangkan makhluk sejenis nya dilestarikan. Bisa kacau balau dalam sehari mungkin dunia ini bila mendapati spesies seperti nya.
"Apa kau tak memiliki pekerjaan?" Tanya Ana setelah beberapa saat. Dia berusaha untuk menyadarkan laki-laki itu supaya cepat berlalu dari unit nya.
"Ada." jawab nya santai sembari memandangi tiap sudut ruangan.
"Lantas kenapa kau malah disini? Bukankah seharusnya kau melakukan pekerjaan mu dari pada bersantai di apartemen orang asing?" Tanya Ana menggebu-gebu. Dia tak sabar ingin laki-laki itu segera keluar dari apartemen nya, dan dia bisa beristirahat dengan tenang.
"kenapa kau begitu perhatian, hm?" Tanya nya diiringi dengan kekehan.
Hueekk
"Hehehe ... Kau ternyata kau sangat cerdas! Aku memang sangat mengkhawatirkan mu, tidak baik juga kan bila hanya bertemu dengan orang baru membuat mu meninggalkan pekerjaan yang sangat penting?" Tanya Ana penuh dusta. Namun, dibalik tiap kata nya mengandung makna pengusiran.
"Kau memang benar-benar gadis yang manis. Tapi, tenang lah. Kau tak perlu takut aku meninggalkan pekerjaan yang sangat penting. Karena pekerjaan ku kali ini adalah kenemani gadis yang baru saja ku temui." Jelas nya sembari mengedipkan matanya genit.
"What?!" Tentu saja Ana shock mendengarnya.
"Please ... Jangan bercanda. Kita tidak sedekat itu!" Cetus nya dengan hidung yang sudah kembang kempis. Merasa tak sabar dengan orang yang ada di hadapan nya.
"Maka aku yang akan membuat kita menjadi dekat." Kata nya tanpa beban. Bola mata nya tak melepaskan tatapan nya dari wajah Ana. Membuat nya benar-benar risih.
"Hahaha ... Lelucon mu sangat lucu." Kata Ana tertawa sumbang. Dia benar-benar kehilangan kata-kata untuk menghadapi laki-laki di depan nya. "Tapi, bisakah kau keluar dari unit ku? Aku cukup lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan ingin segera istirahat. Ku harap kau bisa mengerti." Kata nya dengan nada memohon.
"It's okey, aku akan keluar. Tapi, ..."
"Berikan nomor ponsel mu, sekaligus nama mu disini." Laki-laki itu kembali menyodorkan ponsel nya di depan Ana. Membuat gadis itu mende-sah berat.
Sepertinya dia memang harus merelakan nomor ponsel nya diberikan pada laki-laki asing itu, dari pada harus meladeni nya terus-terusan yang membuat kepala nya pusing.
Ana menerima ponsel itu dan mulai mengetik nya. Membuat laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya perjuangan untuk mendapatkan nomor ponsel dari gadis cantik yang baru saja ditemui nya berhasil didapatkan. Dalam hati nya dia bersorak gembira, karena ini adalah awal yang baik dari perjuangan nya untuk mendapatkan hati gadis itu.
Cinta memang aneh, datang tiba-tiba pada orang yang baru saja di temui.
Ya, laki-laki itu memang benar-benar mencintai Ana. Buktinya, saat pertama kali melihat wajah cantik gadis itu, hatinya langsung merasakan desiran hebat. Saat didekat nya, jantung nya berdebar-debar hebat seperti ingin loncat dari tempat nya. Itu artinya dia memang memiliki perasaan pada gadis didepannya.
Setelah beberapa detik, Ana kembali menyodorkan ponsel itu pada orang didepannya tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Oh ... Jadi nama mu Cia. Hm, nama yang indah." Kata laki-laki itu sembari mengamati nama yang tertera di ponsel.
Ana memang sengaja memberi nya nama Cia, karena mulai saat ini, ditempat ini, nama panggilan Ana akan berubah menjadi Laurencia atau bisa di sapa Cia.
Itu adalah nama tengah Ana yang merupakan berasal dari keluarga sang Mommy.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, Laki-laki yang katanya bernama Edo itu kembali menggerak-gerakkan ponsel nya.
Dengan gerakan cepat dia memencet tombol telepon nomor yang baru saja diberikan Ana karena tak ingin dibohongi oleh gadis itu.
Saat mendengar deringan ponsel di dekat nya, laki-laki itu langsung tersenyum ke arah Ana.
"Oke, girl. Simpan nomor ponsel ku juga. Siapa tahu kau membutuhkan bantuan ku." Kata nya sembari mengedipkan sebelah mata nya.
"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kau pergi dari sini. Aku lelah sekali." Ana sama sekali tak menggubris perkataan nya, dia lebih dulu berdiri lelu menarik tangan pria itu untuk beranjak dari tempat duduk.
Laki-laki itu pun mau tak mau keluar dari unit apartemen. Namun, sebelum keluar, dia berhasil mencuri kecupan di pipi Ana. Membuat gadis itu memekik keras.
"Kyaaaa ...!"