Mr. Dave, I Love You!

Mr. Dave, I Love You!
Hamil



Sudah dua bulan setelah operasi Dave juga belum sadarkan diri.


Ya, Dave mengalami koma dan sudah dua bulan ini dia tak kunjung membuka mata.


Setiap hari, sepanjang waktu hari-hari Ana hanya digunakan untuk menemani Dave yang masih terbujur lemah di brangkar dengan dilengkapi selang-selang sebagai penunjang hidup.


Mereka masih menunggu mukjizat datang untuk kesembuhan Dave, tetapi itu pun mereka tak berharap lebih karena sesuai perkataan dokter yang menyatakan presentasi kesembuhan Dave hanya 5%.


Tapi dari 5% itu Ana masih saja berharap Dave akan sembuh, setiap hari mengajak nya bicara mulai dari awal pertemuan sampai sekarang, bahkan dia juga menceritakan tentang masa kecilnya, berharap Dave akan membuka mata.


Hampir saja putus asa Ana menjalani nya, tapi sebuah fakta mengejutkan bagi semua orang membuat nya sadar masih ada harapan untuk kesembuhan Dave juga menjadi penguat nya.


Tanpa di duga, saat ini Ana sedang mengandung dan usia kandungan nya sudah berusia 2 bulan 8 hari. Hal itu menjadi sebuah berita yang sangat mengejutkan bagi dua keluarga.


Mom Jenni yang menjadi orang paling terpukul mendengar berita ini. Bukannya dia tak senang mendengar putri nya hamil dan sebentar lagi akan menikah. Tetapi dia kecewa pada diri nya sendiri karena lalai telah gagal menjaga putri nya hingga dia harus hamil di luar nikah. Ironisnya lagi, ayah dari sang cucu itu sedang berjuang melawan maut. Tentu saja hal itu membuat nya begitu kalut akan masalah yang dihadapi.


Akan kah Ana nya melahirkan tanpa menikah? Atau mereka memiliki solusi lain untuk mengatasi nya.


Bila memang putri nya akan mengandung dan melahirkan tanpa sosok suami, tentu saja hal itu akan memunculkan dampak negatif dari keputusan yang diambil. Ana harus mampu melawan diskriminasi dari masyarakat akibat aib yang dia tanggung.


Saat ini dua wanita saling terdiam memandangi Dave yang masih bertahan di atas tidur nya.


"Sayang, makan dulu. Jangan siksa bayi yang ada dalam kandungan mu." Tegur mom Jenni untuk kesekian kali. Karena sudah hampir melewati jam makan siang Ana tak kunjung makan.


Di posisi duduk nya, dia terus melamun sembari memandang wajah Dave yang tak kunjung memberi senyuman. Lebih-lebih sebuah senyuman, membuka mata pun tidak. Tentu saja hal ini membuat beban sendiri bagi ibu hamil yang sangat mengharapkan kesembuhan nya.


"Anak?" Gumam Ana. Tanpa terasa dia mengelus perutnya dengan gerakan pelan dengan mata berkaca-kaca.


Dia baru menyadari bahwa saat ini sedang berbadan dua. Ya, memang beginilah Ana. Bila dia sedang melamun dan memikirkan nasib Dave maka dia tak akan mengingat sekeliling nya, bahkan diri nya sendiri pun tak dia pikirkan.


Ana kemudian bergegas mengambil makanan yang sejak tadi sudah disiapkan sang mommy lalu menyuapkan ke dalam mulut dengan gerakan lambat.


Meksi dia sangat tak berselera makan, tapi saat mengingat ada kehidupan lain dalam dirinya dia kembali bersemangat dan memaksakan untuk tetap makan. Dia tak ingin terhambat perkembangan janin ya akibat kelalaian nya sendiri.


.


.


.


Empat bulan berlalu, Dave masih saja bertahan di posisi nya.


Saat ini di Mansion Keluarga Grey, Empat orang pria sedang berkumpul membahas masalah serius menyangkut kehidupan putra putri mereka.


"Baiklah, Aku setuju. Semoga ini keputusan yang terbaik untuk kita." Dengan sangat terpaksa dan penuh penyesalan Tuan Alex menyetujui usulan dari Tuan Ello.


Mereka tak akan membiarkan Ana hamil tanpa status pernikahan. Sedangkan Dave, semua orang sudah tak banyak berharap Dave akan sembuh setelah mendengar penjelasan dari dokter.


Sampai detik ini Dave memang dinyatakan masih hidup, tapi itu semata-mata karena bantuan dari alat-alat medis yang masih melekat di tubuh nya. Jika saja alat itu dilepas, maka kemungkinan besar Dave sudah tak bisa bernafas.


Namun kejadian satu bulan yang lalu, saat keluarga Dave sudah merelakan kepergian Dave dengan melepaskan semua alat bantu seperti yang diarahkan dokter, tiba-tiba saja Ana berteriak histeris dan mengancam akan bunuh diri bila alat penopang hidup Dave dilepas.


Tentu saja semua orang sangat terpukul melihat nya, bukan hanya terpukul akan kepergian Dave, namun mereka juga terpukul karena Ana yang tak bisa merelakan ayah dari bayi yang dikandung nya. Dia bahkan masih sangat berharap Dave akan sembuh, bahkan dia meyakinkan semua orang kalau Dave sebentar lagi akan siuman.


Sedangkan dokter dengan jelas menjelaskan bahwa pasien justru akan lebih tersiksa bila terlalu lama hidup hanya karena bantuan semua alat yang menempel di tubuh nya.


Tak ada yang tidak menangis melihat betapa pilu nya Ana saat itu. Bahkan dokter pria yang menangani Dave pun ikut meneteskan air mata saat melihat perjuangan Ana meyakinkan semua orang bahwa Dave nya akan segera sembuh, dengan bercucuran air mata dan bersimpuh di lantai memohon kepada semua orang agar memberikan waktu sebentar lagi untuk kesembuhan Dave.


Dan akhirnya semua orang kalah, mereka memilih menuruti kemauan Ana dan menunggu mukjizat itu datang pada Dave.


Dan setelah kejadian itu, Ana benar-benar tak keluar sedetik pun dari ruangan Dave. Dia takut bila dia lengah maka akan ada orang yang melepaskan alat medis Dave.


Sudah satu bulan ini Ana hanya berjalan mengelilingi ruangan, duduk, bercerita di depan Dave dan tidur di sebelah nya.


Sudah satu bulan ini mereka membiarkan Ana melakukan keinginan nya karena tak ingin membuat nya stres, tapi mereka juga tetap memikirkan masa depan nya bila Dave benar-benar sudah tak ada harapan.


"Aku harap keputusan yang kita ambil ini sudah benar." Tuan Ello mendesaah sembari menyandarkan tubuhnya di kursi dengan tangan kanan nya yang menyugar rambut.


"Tapi, Pi. Bagaimana kalau Ana tidak mau?" Vio yang sejak tadi diam hanya mendengarkan pembicaraan dua pria paruh baya itu ikut menimpali.


Meski Vio juga mencintai Ana, tapi bila disuruh memilih dia akan lebih memilih patah hati menyaksikan Dave menikah dengan wanita yang dicintainya dibanding harus menikahi wanita yang tidak mencintai nya ditambah harus kehilangan kakak kembarnya. Vio tak pernah memikirkan sebelum nya jika kehidupan nya akan se tragis ini.


Vio bukanlah orang egois, walau dia terkenal playboy tetapi bukan berarti dia tidak mempunyai hati juga. Dia tetap memikirkan perasaan orang-orang yang juga mencintai nya.


Tuan Alex yang sejak tadi masih terdiam dengan raut wajah bersedih sedang pandangan nya tak menerawang jauh.


"Itulah yang ku pikirkan sejak awal. Putri ku sangat keras kepala. Dia tak akan menyerah begitu saja, aku takut hal ini justru akan menambah beban untuk nya." Tuan Alex kembali berujar.


Semua orang kembali merenung, memikirkan hal ini.


...👑👑👑...


...TBC...


Mungkin dua atau tiga bab lagi aku tamatin, jadi pantengin terus cerita nya ya...


Terimakasih sudah mengikuti cerita ku sampai disini.


Semoga kalian tidak bosan membaca cerita yang masih sangat payah dinikmati.🙏